RB - TUJUH BELAS

1337 Kata
Everybody gets high sometimes, you know  What else can we do when we're feeling low?  So take a deep breath and let it go  You shouldn't be drowning on your own  And if you feel you're sinking, I will jump right over  Into cold, cold water for you  And although time may take us into different places  I will still be patient with you  And I hope you know  I won't let go  I'll be your lifeline tonight  I won't let go  I'll be your lifeline tonight  Rembulan masih terus berjalan. Dengan satu telinganya tersumpal dengan earphone Regulus.  Dimana Regulus memutar lagu Cold Water.  Sesekali Regulus menoleh pada Rembulan. Memastikan gadis cantik di sampingnya baik-baik saja.  Keduanya diam sepanjang perjalanan ke hutan. Tidak ada yang bersuara.  Tapi keduanya merasakan sesuatu yang bergemuruh dengan sangat keras di hati mereka.  Regulus tanpa sadar menggenggam tangan Rembulan. Bukan untuk menenangkan Rembulan, tapi untuk menenangkan dirinya sendiri.  Ya. Kepalanya mulai merasakan sesak saat teringat jika nanti dirinya akan berhadapan dengan Sirius.  Harus berperang melawan Sirius.  Kakaknya. Meski hanya kakak tiri, tapi Sirius sangat menyayangi dirinya.  Dan tibalah mereka di hutan. Dimana Nara tengah menunggu Rembulan dan Regulus.  Nara bergegas bergabung dengan kedua temannya itu. Berusaha mengabaikan genggaman erat tangan Regulus.  Yang mana menciptakan barikade.  "How are you guys?" tanya Nara. Berjalan di samping Rembulan.  "I'm.. Suddenly feeling so nervous. You?" tanya Regulus balik.  "Optimis," jawab Nara mantap.  "Kenapa optimis?" tanya Rembulan. Melepaskan genggaman Regulus karena ponselnya berdering.  "Kita harus optimis. Kita bukan hanya berperang melawan yang jahat. Tapi kita juga akan membawa dunia menjadi lebih baik, Rembulan. Percayalah, we can make it." Nara berujar serius.  Satu pesan dari ibunya.  Jangan pulang lebih dari jam 10 sayang. Ibu dan ayah akan pulang sekitar jam setengah 10. Jangan lupa makan. We love you.  Rembulan menghela napas. Baru akan membalas pesan ibunya. Saat kedua telinganya mendengar auman itu.  Auman yang dia rindukan.  Rembulan hampir saja menjatuhkan ponselnya, jika saja Nara tidak cekatan menangkapnya.  "Kau kenapa?" tanya Nara panik.  Namun diabaikan oleh Rembulan. Rembulan menoleh. Mencari sumber suara.  Auman itu terdengar lagi. Refleks Rembulan menoleh ke belakang.  Kakinya seakan tersetting otomatis untuk bergerak ke arah auman itu.  Sungguh mengabaikan Nara dan Regulus yang memandangnya heran.  Rembulan terus melangkah, semakin dalam ke arah hutan.  Langkahnya terhenti. Saat kedua manik hitamnya menangkap sosok itu.  Sedang mengaum lagi.  Tidak.  Tapi itu bukan seekor serigala. Bukan serigala besarnya dulu.  Itu..  Biru.  Yah. Biru yang mengaum.  Rembulan menelan salivanya susah payah. Terlebih saat sosok itu menoleh padanya.  Jantungnya seakan enggan berdetak. Melihat bagaimana Biru sekarang.  Dengan tatapan dari bola matanya yang Biru. Namun wajahnya yang trtutup oleh bulu dibeberapa bagian.  Juga taringnya yang sama persis dengan taring Serigala Rembulan.  Entah sadar atau tidak, Rembulan melangkah mendekat pada Biru. Pandangannya fokus pada Biru yang  bertelanjang d**a.  Biru hanya diam. Karena demi senja yang mulai menghilang, Biru sungguh merasa semua organ tubuhnya menegang.  Berasa kayak maling kegep gitu hahaha.  Namun langkah Rembulan semakin dekat. Sungguh semakin dekat.  Hingga kini Rembulan berdiri tepat di depan Biru.  Dengan kedua mata Rembulan yang menyiratkan kerinduan.  "Kau.. Kau.." gagap Rembulan. "Kau.. Kau.. Biruku?" tanya Rembulan. Menatap Biru yang kini mulai menatap Rembulan.  Sungguh bukan main senangnya hati Biru. Saat dengan jelas kedua telinganya mendengar Rembulan mengatakan 'biruku'.  Biru mengangguk pelan. Dan dia harus menutup kedua matanya saat tangan Rembulan terangkat dan menyentuh bulu-bulu hitam di wajahnya.  "Ya.. Kau adalah biruku," kata Rembulan. Saat Biru membuka mata, dia menemukan senyum Rembulan.  Senyum yang setengah mati dia rindu. Senyum yang selalu terbit di wajah Rembulan saat dirinya masih terjebak dalam wujud Serigala.  Karena setelah Biru kembali pada wujud aslinya sebagai manusia, senyum itu sudah tidak pernah terbit lagi untuknya.  Tangan Rembulan masih disana. Keduaya masih berada di atas bulu wajah Biru.  Dan sungguh tanpa ada yang menyangka.  Setelahnya dan tanpa aba-aba, Rembulan berhamburan memeluk Biru.  Erat. Membuat semua yang ada disana terbengong.  Termasuk Biru. Namun toh akhirnya Biru membalas pelukan Rembulan.  "Aku sungguh merindukanmu Biru," lirih Rembulan. Semakin mengeratkan pelukannya.  Hingga gelap benar-benar sudah menggantikan senja.  Juga saat telinganya mendengar langkah kaki yang mulai mendekat.  Apakah ini saatnya?  Ya.. Sepertinya, inilah saatnya.  Perang itu.  Dengan cepat Biru menarik Rembulan menjauh. Biru menggenggam erat tangan Rembulan menuju tempat yang tadi sudah ditunjukkan Segara.  Nara dan Regulus mengikuti Biru. Sedangkan Nala dan Segara sudah bersiap.  Nala melepas sarung tangannya. Sedangkan Biru sudah siap dengan busur dan pedang.  Segara dan Nala dengan mantap melangkah mendekat pada suara langkah kaki yang terdengar lumayan banyak.  Tangan Segara bergerak menggenggam tangan Nala yang mulai terasa dingin.  "Hey," panggil Segara pelan. Nala menoleh. "We can do this," lanjutnya, seakan menenangkan Nala.  "We have to do this," balas Nala optimis.  ***  ***  Sirius merasakan sesuatu yang aneh pada dalam dirinya. Dia seperti merasakan suara kecil dalam hatinya.  Yang menyuruhnya untuk berhenti. Berhenti mengikuti langkah pria dingin di depannya.  Berhenti untuk mengikuti Boss Dixon. Pemimpin kaum Destroyer.  Ada sesuatu yang membisikkan pada Sirius, bahwa langkah yang dia ambil salah.  Tapi tidak. Dia tidak bisa berhenti.  Bahkan setelah dirinya mengetahui gadis yang dia cintai, ternyata meninggalkannya dan mengatakan lebih mencintai Boss daripada dirinya.  Sungguh Sirius ingin marah. Tapi dia menyadari amarahnya tidak berguna.  Lagipula, siapa yang bisa menolak pesona Boss Dixon? Pria dingin itu sungguh tampan. Dengan kulit putih pucat dan mata biru. Dan suara yang menenangkan bagi siapapun yang mendengarnya.  Termasuk Sirius.  Bahkan kini, Sirius mulai berusaha mengingat, kapan dan bagaimana dia bisa bertemu dan bergabung bersama Boss dalam pasukan Destroyer.  Sirius memaksa pikirannya untuk mengingat hari itu. Hari dimana pertama kali dia bertemu pria di depannya ini.  Tapi tidak bisa. Dia sungguh tidak pandai dalam mengingat.  "Something's bothering your mind?" tanya Boss. Menoleh pada Sirius.  Sirius menghentikan langkahnya. Menatap pria di depannya ini. Kemudian menggeleng.  "Just remember one thing, We have to kill them all," perintah Boss. Matanya mengedar pandang pasa 5 lusin manusia di belakangnya.  Dan deretan manusia berjumlah 5 lusin itu serentak mengangkat tangan kiri mereka.  "WE DESTROY EVERYTHING THAT DOESN'T MAKE SENSE!" seru semuanya bersamaan.  Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya terdengar mengerikan di telinga Serius.  Dulu, dia juga sangat semangat mengucapkan kalimat itu.  Tapi malam ini, bibirnya terasa seperti ada yang membungkamnya.  "Sirius?" panggil Boss. Menyelidik pada Sirius. "What do we do?"  "We destroy everything that doesn't make sense," jawab Sirius. Melihat senyum tipis di wajah Boss.  ***  ***  "Tenanglah, Regulus. Kita tidak akan membunuh kakakmu," ucap Nara lagi. Tangan Nara dengan cekatan membidik dengan crossbow.  "Bagaimana kalau kita harus?" tanya Regulus, memasukkan beberapa pisau pada saku-saku di celananya.  "Kita tidak harus. Karena kita punya rencana," kata Biru. Tangannya masih menggenggam erat tangan Rembulan.  Membentuk barikade.  "Rencana?" ulang Regulus.  "Ya, Segara dan kak Nala akan menyerang separuh dari mereka. Dan selama itu berlangsung, kau akan membidik kakakmu. Usahakan kena tangannya, setelah itu, kau dan Nara akan menyembunyikan kakakmu di dalam tenda. Pokoknya kita akan menyelamatkan kakakmu lebih dahulu," jelas Biru.  Regulus hanya mengangguk. Sedangkan Rembulan masih dengan seksama menatap wajah Biru yang berubah menjadi setengah serigala.  Biru sungguh menyadari tatapan itu.  "Tenanglah, setelah ini semua berakhir," jeda sejenak. Biru mulai menatap Rembulan lekat. "Aku akan kembali berubah menjadi Serigala seutuhnya. Kalau kau mau.. Mungkin selamanya."  Rembulan tercekat mendengarnya. Terlebih saat Biru menyambung kalimatnya.  "Karena sepertinya kau lebih bahagia saat aku menjadi serigala daripada menjadi manusia. Dan sungguh, tidak ada lagi di dunia ini yang lebih aku inginkan, selain melihatmu bahagia," lanjut Biru. Masih menatap lekat kedua mata Rembulan.  "Kau tidak harus menjadi Serigala, Biru. Karena kau sudah tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya," jawab Rembulan. Ikut menatap lekat pada mata Biru.  Seakan mengingatkan lelaki tampan itu tentang takdir yang pernah dia tunjukkan.  "And you shouldn't be fighting on your own," kata Biru mantap. "And if you feel you're sinking I will jump right over into cold water for you," lanjut Biru. Menatap sendu pada Rembulan.  Dan sungguh tatapan itu membuat relung hati Rembulan merasakan ngilu.  "I'll be your lifeline tonight," kata Biru lagi.  Sedetik setelahnya, dia mulai mendengar suara gaduh itu.  Pertempuran itu.  ***  ***  **  See you in the battle. Maaf baru up..  Aku sibuk pindahan Bener2 sibuk pokoknya titik. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN