RB - DELAPAN BELAS part 1

1615 Kata
Segara dan Nala menatap tajam pada lebih dari 5 lusin pasang mata di depannya. Pada para pengikut Boss Dixon yang menatap lapar pada Segara dan Nala.  Sedangkan Boss sendiri hanya menatap datar pada Segara dan Nala. Mata biru pucatnya seakan meremehkan Segara dan Nala.  "It's really brave," kata Boss datar. "The two of you, against us?" Boss tersenyum picik. "Bahkan dulu aku hanya bertujuh, dan ada keluargamu dan Gaillard. Kami tidak membutuhkan waktu lama untuk menghancurkan mereka." "Ya. Berbanggalah karena kami hanya berdua dan kau dengan puluhan pengikutmu," kata Segara, balas tersenyum meremehkan. "Sekarang aku tahu, kalau memang benar Destroyer hanya berani jika berkelompok." Nala dapat melihay rahang Boss yang mengeras. Juga tangannya yang terkepal.  "Aku hanya butuh diriku untuk menghabisi kalian berdua. Dan setelahnya kaum Destroyer akan meghancurkan kalian," geram boss. Mengalihkan tatapannya pada Nala. "Dan kalian hanyalag dua orang manusia. Sendirian." Ke-optimis-an yang tadi menguasai diri Nala mendadak lenyap.  Sungguh tatapan menusuk pria pucat di depan itu benar-benar menghilangkan kepercayaan. Benar kata Segara.  Boss Dixon menyerap segala energi positif dalam diri orang yang melihatnya. Termasuk Nala.  Maka, Nala mengalihkan pandangan pada Segara yang sungguh terlihat tidak takut.  Dan senyum di wajah Nala terukhir begitu saja saat dia merasakan hembusan angin kuat menerpa wajahnya.  Juga saat sosok itu berdiri tepat di samping Segara. Sosok itu menoleh pada Nala dan tersenyum. Kepalanya terangguk mantap. Sorotnya yang teduh, seakan kembali membawa kepercayaan dalam diri Nala.  "Siapa yang bilang kami sendirian?" ucap Nala lantang. Balik menatap Boss. "Kami tidak pernah sendirian. Dan kami bukan hanya dua orang manusia biasa. Kami bersama segala jiwa yang pernah kalian hancurkan. Bersama segala kekuatan yang pernah kau hancurkan," lanjut Nala dingin. Menatap marah pada Boss.  Segara menoleh pada Nala, seakan merasa butuh penjelasan dari gadis yang dicintainya. Namun Nala tidak peduli pada Segara pada saat ini.  Dia hanya perlu segera menghabisi pria congkak di depannya ini. Memberikan kembali kepercayaan puluhan orang-orang pengikut Boss Dixon. Tapi Segara mencegahnya. Segara menggenggam erat tangan Nala yg mulai membeku. Nala menoleh untuk protes. Namun Segara hanya menggeleng. Memohon.  "Remember the plan," bisik Segara. "Biru bukan satu-satunya yang harus aku lindungi, tapi kau juga." Nala ingin tetap memprotes, tapi sekali lagi sosok di samping Segara mengangguk. Seakan menyetujui ucapan Segara.  Baiklah, Nala. Menyerah. Dengan pasti dia mengangkat archery bow miliknya.  "Ini hanya kami berdua, maka biarkan kami yang memulainya," kata Nala, memasang anak panahnya.  Boss terkekeh pelan melihat Nala. Dia malah bertepuk tangan.  "Tidak perlu ada yang memulai. Kalian hanya perlu menyerahkan Serigala itu pada kami. Dan kami akan melupakan semuanya," titah Boss.  "In your dream," kata Segara, memberi penekanan dalam setiap kata.  "Kenapa kau begitu keras kepala melindungi serigala itu?" tanya Sirius. Yang baru saja Segara sadari, wajahnya terlihat berbeda.  Tidak seperti saat Sirius menghajar Segara beberapa bulan yang lalu. Sirius terlihat... Seperti sedang mencari jawaban.  "Karena itulah yang kami lakukan. Protecting the innocent people," jawab Segara.  "That wolf is animal." "Lalu kenapa, Sirius? I'm a druid, remember?" kata Segara. Menatap Sirius tajam. "Oh yeah, right. You don't remember anything, do you? Kau tidak mengingat apapun," lanjut Segara, tersenyum tipis.  Sirius ingin bergerak maju untuk menendang tubuh kurus Segara, namun dicegah oleh Boss.  "Aku tidak punya waktu untuk ber-chit chat. Jadi, serahkan Serigala itu. Atau kami akan menghancurkan kalian," desis Boss.  "Seperti yang tadi kubilang, kau mau serigala? IN YOUR DREAM!!" Segara berujar mantap.  Dirinya sudah siap dengan dua belati di tangannya. Nala sudah mengarahkan panahnya pada sasaran. Dan angin kembali berhembus kuat.  Kali ini sungguh kuat, hingga beberapa orang menutup mata karena terpaan angin.  Termasuk Nala. Dan Nala terpaksa membuka bola mata birunya saat mendengar suara Sirius.  Lelaki itu kini sudah tergeletak di tanah. Dengan panah yang menancap pada kedua lengannya.  Nala menatap panah keunguan di lengan kanan Sirius. Itu panah Nara. Nala menghela napas. Lega. Tapi hanya untuk beberapa saat, karena saat Nala melihat warna panah satunya yang kebiruan, kedua bola mata Nala terbuka lebar.  "It's poisoned arrow," pekik Nala lirih. Segara menoleh pada lengan kiri Sirius.  "He'll die." Segara menatap Sirius. Kemudian kepalanya bergerak mencari sumber panah itu.  Karena itu bukan panah Nara maupun Regulus.  Itu panah yang sama yang pernah nyaris membunuhnya hampir 2 tahun lalu. ** ** "Ingat Nara. Lengan kanan," Regulus kembali mengingatkan. Nara mengangguk.  Karena Regulus tidak tega memanah kakaknya, maka Nara yang mengambil alih.  "Lengan kanan, ingat." "Astaga Regulus, diamlah. Aku tidak tuli dan aku juga tidak pikun. Aku tidak buta. Jadi aku akan menembak tangan kanan. Dan setelah itu mungkin aku akan memanah jantungmu," sahut Nara kesal. "Guys, fokus," suruh Rembulan. Menatap Nara dan Regulus kesal.  "Siap komandan," sahut Biru. Dan malah membuat Rembulan tersipu.  "Sekarang?" tanya Nara.  "Sekarang." Wuss..  Dan anak panah itu melesat dengan tepat ke arah lengan Sirius.  Nara sampai bersorak gembira.  Hanya untuk beberapa detik. Karena detik selanjutnya, Nara mendelik pada lengan kiri Sirius.  Dimana ada panah lain yang menancap pada lengan kiri Sirius.  "WHAT??" pekik Regulus.  ******* Sirius terlihat sangat kesakitan. Dan kesakitan itu membawa kepalanya mengingat sesuatu.  Sesuatu di masa lalu.  Sedangkan Boss berlutut membantu Sirius. Menarik anak panah di lengan kanan Sirius. Membuang anak panah itu ke sembarang arah.  Boss menatap Nala dan Segara sejenak. Kemudian sorot matanya terlihat sedang mencari.  Ah, mencari keberadaan barikade dimana Segara menyembunyikan Biru.  Sebelum kepalanya menoleh pada pengikutnya dan memerintah, "Destroy 'em." Sontak saja puluhan orang pengikutnya lantas menyerang Nala dan Segara.  Nala dan Segara, yang memang sudah bersiap, kini mengarahkan panahnya pada puluhan orang yang mulai maju dengan segala s*****a di tangan mereka.  *Yang harus kau lakukan hanyalah mengarahkan archery-mu ke angkasa. Biarkan anak panahmu melesat ke angkasa. Kami yang akan mengurus sisanya. Don't forget your power.* Nala mengangguk mendengar bisikan itu. Nala menuruti saja perintah suara yang dia rindu itu.  Mengabaikan Segara yang memekik karena Nala melepaskan panahnya ke angkasa.  "Nala.. Your arrow!!" Wusss..  Anak panah Nala melesat jauh ke angkasa. Seakan membelah gelapnya langit malam ini.  Untuk beberapa saat Segara tidak mengerti, kenapa Nala melesatkan panahnya ke angkasa. Namun saat sesuatu berwarna putih, satu persatu mulai turun.  Berjatuhan tepat diantara pengikut Boss, barulah Segara mengerti.  Sesuatu seperti salju yang turun di musim dingin, namun tajam dan membekukan.  Seperti kekuatan Nala sebenarnya.  Puluhan pengikut Boss, seakan benar-benar langsung membeku terkena rintik salju. Mereka masih sadar, mereka hanya tidak bisa bergerak sama sekali. Membuat Nala tanpa sadar bersorak pelan. Senyumnya merekah dan kepalanya tertoleh ke samping. Pada sosok yang juga tersenyum melihat Nala.  Bukan Segara. Tapi sosok lain yang Nala rindu. Setelah menyadari bahwa Segara menatap Nala bingung, senyum Nala menghilang.  "Aku bisa jelaskan," lirih Nala.  Segara mengulas senyum. Mengusap pipi Nala. "Kau bisa jelaskan nanti. We have to do, what we have to do," balas Segara, kembali mengarahkan belatinya pada puluhan orang yang mematung di depannya.  Segara menoleh ke kanan, kepalanya terangguk sebentar. Kemudian dengan sekali gerakan, Segara melesatkan belati di tangannya ke arah puluhan destroyer. Ajaibnya, belati itu bisa dengan pas mengarah pada lengan kanan beberapa destroyer di barisan depan.  Pun dengan Nala yang ikut melesatkan panahnya. Dalam beberapa detik saja sekitar 20 orang sudah dikalahkan oleh Segara dan Nala.  "Berapa lama mereka akan mematung seperti ini?" tanya Segara lirih, dengan tangannya yang masih sibuk melesatkan belatinya pada musuh.  "Aku tidak tahu. Mungkin tidak akan lama," jawab Nala. Juga sambil masih memanah satu persatu musuh pada lengan mereka.  "Sudah pasti tidak akan lama." Segara menghentikan lemparan belatinya saat melihat Boss Dixon yang sudah berdiri, setelah menyandarkan Sirius pada sebuah pohon besar.  Boss jelas terlihat marah. Terbukti dengan kedua mata birunya yang menatap tajam pada Segara dan Nala.  Meski begitu, Boss melangkah santai.  Berhenti tepat di depan pengikutnya.  Kedua tangannya terangkat. Mengeluarkan api dan mengibaskannya pada pengikutnya.  Segara dan Nala sampai melotot. Tidak percaya dengan apa yang Boss lakukan.  "Dia bisa berubah menjadi api seperti itu?" tanya Nala tidak percaya.  "Ya, dia pernah membunuh Galwyn," jawab Segara, kembali mengarahkan belatinya.  "Kukira itu kekuatan hellhound." "Well, Galwyn was a hellhound. He died about a hundred years ago." "A hundred years ago? Boss setua itu? Dia kelihatan seperti berumur 20 tahunan." "He's going to be an immortal Nala. Kan sudah ku katakan. Umurnya akan bertambah setelah dia menghancurkan makhluk supernatural. Dan jika Boss bisa menghancurkan Biru, dia akan benar-benar menjadi immortal." Segara menghela napas sebelum dengan mantap mengarahkan belatinya pada lengan Boss.  Ah, Segara tau Boss tidak bisa terluka. Dia tidak bodoh. Dia hanya ingin mencoba. Kerana sungguh, saat ini Segara sangat takut. Segala rasa optimis yang sedari tadi dia tahan, mulai memudar. Boss benar-benar menyerap segala energi positif di dalam dirinya.  Segara sungguh takut, jika Boss mengetahui Nala memiliki kekuatan membekukan, maka Boss akan mengincar Nala juga.  Lalu apa jadinya jika seorang yang memiliki kekuatan hellhound, werewolf, banshee, kitsune, wendigo, dan wildest beast, kini mendapatkan kekuatan membekukan, dan menguasai dunia?  Tidak tidak. Segara tidak bisa kehilangan Nala. Sudah cukup dia merasakan kehilangan. Segara harus melakukan sesuatu.  Boss hanya melirik sekilas belati yang tadi Segara arahkan pada kakinya. Belati itu mental dan terjatuh di kakinya. Tapi tidak mengenainya.  "Kau tahu aku anti s*****a apapun Segara." Boss Dixon terderngar meremehkan. Menatap Segara dengan tatapan menghina.  Segara hanya membalasnya dengan senyum tipis.  "Tentu aku tahu. And that's why I have plan b." Segara menoleh pada Nala, lalu Nala mengangguk. Dia melesatkan anak archery-nya mengenai belati Segara.  Dimana anak panahnya itu sudah membeku. Dan saat mengenai belati Segara, tanah dan rerumputan dibawah Boss membeku.  Meluas hingga membuat pengikut Boss yang hendak kembali menyerang, tergelincir karena permukaan tanak yang mendadak licin.  "Oh.." Boss bersuara. Menatap Nala dengan lapar. Senyum liciknya kembali terukir. "Jadi benar, killer Elsa benar-benar ada." "It's Nala," ucap Nala tajam. "And I'm not a killer," lanjutnya.  "Well, prove it," tantang Boss dingin.  Dengan geram Nala kembali melepaskan anak panahnya kembali ke angkasa. Saat angin berhembus dengan kuat.  Kembali menjatuhkan salju membekukan seperti tadi.  *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN