RB - DELAPAN BELAS part 2

1701 Kata
"Aku tidak bisa diam saja," kata Regulus lagi. Masih menatap kakaknya, Sirius yang masih terbaring dengan satu anak panah di lengan kirinya.  "Kita tidak bisa melakukan apapun, Regulus. Tidakkah kau lihat Boss pucat itu masih bersamanya?" Nara mulai kesal.  "Dan tidakkah kau dengar kata Biru? Panah itu bisa membunuhnya?" Regulus membentak.  Sementara Nara dan Regulus yang terus berdebat, Rembulan malah merasakan dadanya yang mulai sesak. Dia mengeratkan genggamannya pada Biru. Membuat Biru menoleh.  "Kau tak apa?" tanya Biru khawatir.  "Aku merasa sesak. Biru kita harus menolong kakaknya Regulus. Aku.. Aku merasakan sesak," ceracau Rembulan.  "Kita pasti akan menolongnya. Untuk saat ini, kita tidak bisa. Boss masih bersama Sirius. Kita tunggu Segara dan Nala," kata Biru menenangkan.  Tepat setelahnya, Nala terlihat mengarahkan archery-nya ke angkasa. Dan butiran putih seperti salju mulai turun. Membekukan puluhan destroyer.  "It's amazing!" Nara tanpa sadar memekik. Meski pelan. Buru-buru dia menutup mulutnya. Sedang Regulus masih menatap Sirius. Air matanya benar-benar luruh sekarang, melihat kakaknya terkulai lemah.  Ya Tuhan. Beri dia waktu lebih lama. Aku bahkan belum minta maaf pasa Sirius karena perkataanku tadi. Regulus kembali menggeleng pelan. Mencoba menepis ingatannya akan tadi siang. Saat dirinya bertengkar dengan Sirius.  "Aku tidak bisa hanya berdiri disini dan melihat kakakku meregang nyawa," putus Regulus. Mulai melangkah, hendak menuju Sirius, yang kini tengah dibaringkan pada pohon oleh Boss.  "Regulus, wait!!" Nala menarik kuat lengan Regulus. "Tunggulah sebentar lagi," pinta Rembulan.  Regulus berhenti, memandang Rembulan yang menatapnya teduh. "Tolong..." pinta Rembulan lagi. Lalu tangan Rembulan menggenggam satu tangan Regulus. "We'll heal him," lanjutnya.  Regulus mengangguk. Bersamaan dengan itu, kedua matanya menangkap anggukan dari Segara. Regulus balas mengangguk.  Bersama Nara, Regulus mulai menyerang musuh dengan belati dan anak panah.  Setelah itu, Regulus melihat Boss yang mulai menjauh dari Sirius. Regulus menoleh pada Rembulan dan Biru.  "Kita masih menunggu?" tanyanya.  "Tetaplah menggenggam tangan Rembulan. Kita akan menghampiri Sirius," kata Biru. Regulus mengangguk patuh, tangannya yang bebas meraih tangan Nara. Menggenggamnya. Lalu keempat remaja ini mulai melangkah mendekati Sirius. Tanpa mempedulikan jika ada yang melihat, karena mereka sungguh yakin jika barikade yang mereka buat benar-benar tidak terlihat.  Memang, hingga mereka berhasil membawa Sirius masuk ke dalam barikade, Boss dan pengikutnya tidak melihat.  Namun, tanpa mereka tahu, ada sosok lain yang melihat setiap gerak-gerik Rembulan, Biru, Regulus, dan Nala.  Semuanya. Bahkan dari sebelum perang ini dimulai.  Sosok yang kini mulai bersiap dengan crossbow-nya. Seakan sudah siap untuk menembak.  *** *** Nala kembali membuat pasukan destroyer membeku. Namun, musuh mereka sebenarnya adalah Boss. Dan sudah jelas Boss bukan tipe makhluk yang bodoh.  Dengan segala kekuatan yang dia miliki, sudah pasti Boss tidak akan tinggal diam dengan keadaan seperti ini.  Dengan puluhan pengikutnya yang mematung tak berdaya, Boss yang kedua tangannya ber-api, menatap marah pada Nala dan Segara.  Nala dapat mendengar dengan jelas jika pria pucat itu mengaum. Bukan auman seperti Biru. Tapi auman seperti makhluk aneh.  Auman makhluk buas.  Dan..  Boss Dixon kini berubah menjadi makhluk buas itu. Menjadi wildest beast. Dengan tubuh hitam dan wajah yang menyeramkan. Jangan lupakan kedua tangannya yang mengeluarkan api.  Boss kembali mengaum. Melemparkan api di tangannya dan membentuk lingkaran yang mengepung suatu tempat kosong.  Oh tidak.  Itu tempat barikade Rembulan Biru.  Segara dan Nala kembali melesatkan s*****a mereka pada Boss. Sekalipun mereka tahu, Boss kebal pada s*****a apapun.  Tapi mereka hanya ingin menyudahi ini. Mereka hanya ingin Boss mengeluarkan segala amarahnya, agar Biru lekas bisa melenyapkan makhluk mengerikan ini.  "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku buta dan tidak tahu jika serigala kecilmu itu sudah menjadi manusia? Kau pikir aku tidak tahu seperti apa rupanya dan apa saja yang bisa dia lakukan padaku?" geram Boss dengan suara besarnya.  Dan itu sungguh membuat Nala ketakutan.  "Kau kira aku tidak tahu jika teman-teman kecilmu juga ada disini dan membuat benteng penghalang bersama gadis berusia 16 tahun, sehingga aku tidak bisa menjangkau serigalamu itu?" Boss masih bersuara dengan seram. melangkah santai mendekati Segara dan Nala yang mulai melangkah mundur.  "Apa kalian berdua sungguh mengira aku tidak tahu jika ada sesuatu yang lain yang membantu kalian untuk melenyapkanku?" Boss melirik sinis ke arah Nala.  Nala sungguh merasakan susah bernapas. Hingga tangan hangat Segara menggenggam tangannya. Nala menoleh, meski Segara tidak menatap Nala, tapi Nala bisa merasakan jika Segara berusaha setengah mati untuk mencegah ketakutannya menguasai dirinya.  "Aku tahu semua rencanamu, Segara. Aku bukan hanya Boss Dixon yang lemah. Ada banshee, koyote, werewolf, kitsune, hellhound, darach, bahkan yang paling kuat dan mematikan, wildest beast... Ada dalam diriku. Kalian tidak hanya melawanku, tapi puluhan kekuatan dalam diriku. "Selama apapun kau menyembunyikan serigalamu itu dalam benteng untuk bisa melawanku nanti, aku akan tetap menang." "We call it barricade. And we're not going to fight you. We're going to destroy you. The way you destroy my family," ucap Segara tanpa takut. Satu tangannya yang bebas meraih sesuatu dalam saku jaketnya.  Kemudian dengan sekali gerakan Segara menarik Nala dalam peluknya dan melemparkan sesuatu berbentuk serbuk ke atas.  Abu gunung.  Abu gunung itu membentuk lingkaran dimana Segara dan Nala berada dalam lingkaran itu.  Segara melepas peluknya pada Nala.  "Apapun yang terjadi jangan keluar dari lingkaran ini," perintah Segara. Nala hanya mengangguk. Segara baru akan berkata lagi, namun auman buas dari Boss menghentikannya.  Terlebih setelah auman itu berhenti, mulai berdatangan orang-orang dari segala penjuru hutan.  Yang sudah dipastikan adalah pengikut Boss. Destroyer. "Sekarang apa?" tanya Nala panik.  "We keep fighting!!" *** ** Regulus segera memeluk Sirius setelah barikade berhasil menyembunyikan Sirius. Regulus berusaha melepas panah di tangan Sirius.  Namun tangan lemah Sirius menahan tangan Regulus. Sirius membuka kedua matanya. Mengulas senyum tipis pada adiknya.  "Kau tidak akan bisa menariknya," kata Sirius lemah.  "Well, aku tidak akan membiarkan dirimu mati Sirius," Regulus menepis tangan kakaknya.  Berusaha menarik anak panah itu. Dan itu sungguh berat. Panah itu seakan dilesatkan memang untuk berada pada tangan Sirius.  "Kenapa susah sekali?" keluh Regulus.  "Karena panah ini memang dibuat untukku. Dilesatkan untuk membunuhku." Sirius kembali mengulas senyum.  "No Sirius. I'm not gonna let you die like this." "You have to. Bahkan aku pantas menerima yang lebih buruk dari kematian ini, bro. Aku.. Aku minta maaf atas ucapanku tadi siang," lirih Sirius. Mengusap kepala Regulus. "Kau benar.  Aku berada di jalan yang salah selama ini. Aku.. Bukan hanya seorang pembunuh, aku juga melindungi pembunuh. Mengabdi padanya.. Membiarkannya membunuh kedua orang tuamu.. I'm sorry." "It's not your fault, Sirius." "It's my fault. Aku seharusnya bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Aku telah mengecewakanmu, ayah, dan ibu," lirih Sirius. Matanya terlihat begitu sayu.  Seakan dirinya sudah menyerah. Menyerah pada hidupnya.  "Kau bisa melakukan yang lebih baik setelah ini." Regulus masih belum menyerah. Dia kembali menarik anak panah itu. "You can't. It's okay." Sirius kembali menepis tangan adiknya. "Butuh kekuatanmu dan lelaki ini untuk menarik panah ini. Dan aku tidak akan mengijinkan lelaki ini melepas tangan Rembulan," lanjut Sirius, melirik Biru.  Regulus kontan menoleh pada Biru dengan tatapan meminta. Biru sungguh ingin menolong Regulus, tapi tidak dengan Sirius. Sirius pernah menghajar Segara habis-habisan. Bahkan Sirius ada disana. Disaat kedua orang tua Biru dihancurkan.  "Jangan pernah berpikir untuk mengajak Biru menarik panah ini. Kalian butuh barikade untuk berlindung. Dengan berada dalam barikade ini, rasa sakitku sedikit berkurang. Dan itu sungguh cukup. Setidaknya aku masih punya waktu untuk minta maaf padamu, Regulus. "Maafkan aku, aku belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Aku.." "Stop!" pekik Regulus, "Kau sudah menjadi yang terbaik Sirius, kau mengurusku. Kau.. Kau menjagaku dengan baik. Kau menyayangiku seperti adikmu sendir--" "Kau memang adikku, Regulus. Siapapun yang melahirkanmu, kau tetap adikku," potong Sirius. "Dan aku mengecewakanmu." "Aku tidak akan memaafkanmu jika kau mati." "It's okay. Aku layak menerima kebencianmu." Lagi, Sirius tersenyum simpul. "Tapi aku mohon satu hal, jangan kecewakan ayah dan ibu, seperti aku mengecewakan mereka. Dan ini.." Sirius merogoh saku celananya. Mengambil kunci motornya. "It is yours now." "I don't need your f*****g motorcycle! Aku butuh kau tetap hidup untuk menebus semua kesalahanmu padaku!!" bentak Regulus.  "Akan aku tebus semuanya di kehidupan yang akan datang. Semoga Tuhan memberiku kesempatan lagi untuk menjadi kakakmu," Sirius menyelipkan kunci itu pada saku hoodie yang dikenakan Regulus. "Terima kasih." Kini pandangan Sirius beralih pada Rembulan, Biru, dan Nara. "Kalian sudah menjaga Regulus, memberikan kembali ingatannya yang dicuri. Mengajarinya untuk menjadi manusia yang lebih berguna. Dan aku mohon, setelah ini, terus jagalah Regulus. Aku tahu,  aku sudah begitu jahat, tapi aku tidak ingin adikku terluka kemudian menjadi jahat sepertiku. Tolong lindungi Regulus," pinta Sirius.  Sementara yang lain diam, Rembulan mengangguk mantap.  "Regulus!!" pekik Nara. Menunjuk pada Boss yang mulai menembak kekuatan apinya ke arah mereka.  "Go!!" suruh Sirius. Mendorong tubuh Regulus agar menjauh darinya.  "I'm not leaving you behind." Regulus menarik tangan Sirius. Namun lagi-lagi Sirius menepisnya.  "you have to. Just go. RUN!!" Tanpa pikir panjang, Rembulan menarik tangan Regulus. Menggenggam erat tangan Regulus dan mengajaknya berlari menghindari lemparan api itu. "Nara," panggil Sirius saat Nara hendak melangkah. "Jaga Regulus untukku. Jaga teman-temanmu. Kaulah satu-satunya manusia seutuhnya disini. Satu-satunya yang memiliki hati baik tanpa kenangan buruk, di masa lalu, masa sekarang, dan mungkin masa depan."  Nara terlihat ragu. Tapi akhirnya kepalanya terangguk. Kemudian berlari mengikuti Rembulan, Biru, dan Regulus. Tepat saat api itu menimpa Sirius, Nara dan yang lain sudah berada beberapa meter dari api itu.  "SIRIUS!! NOOO!!" teriak Regulus. Air matanya luruh. Melihat kakaknya terbakar. "Noooo!!" It may be over for now. But I am sure I'll see you again. One day my friend. When the lights fade away. The memory remains. Time may take us take us far away. Surely time time can bring us back together Like an old school reunion. I'll be standing at the door. And you'll still look the same. One heart with a million voices One day it could all be gone Hold on to the words they told us Hold on to it all my son It may be over for us. But seasons change oh they change for a reason. With the autumn leaves that fall down. I wrote your name across them all So you know that I'm here with you. And the spring is coming soon my friend Rembulan pun tak kuasa menahan tangisnya. Dia memeluk Regulus sejenak. Mengusap punggung Regulus naik-turun.  "Kita bisa menyelamatkannya," lirih Regulus.  "Kita bisa. Tapi dia tidak mau. And we can't save people that doesn't wanted to be saved." Biru berujar marah.  "Kenapa kau marah?"  *** ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN