Almaira meraba gaun putih berhias bunga-bunga kecil biru langit di bagian bawahnya. Senada dengan sepatu kaca yang begitu cantik. Mahal adalah kesan yang dilancarkan oleh dua benda itu. "Aku merasakan nafsu bejad menyelimuti robekan kain ini. Iblis durjana. Kau akan kubuat sakit sesakit-sakitnya. Kau hanya belum sadar, cinta adalah pembunuh utama. Ciiih... " Almaira meraih gaun itu lalu menginjaknya. "Posisimu tak lebih tinggi dari telapak kakiku ini, " gumamnya perlahan. Gadis itu lalu memungut kembali gaun itu lalu memakainya. Ia merias dirinya sebaik mungkin. Rambut indahnya sengaja digerai dengan sedikit hiasan bunga hutan yang Anggara petikkan untuknya tadi pagi. "Menjadi pengantinmu?? Lebih baik aku mati. Dasar bodoh! Kalau tanpa restu ayahku, bagaimana bisa dia menikahiku

