Anita masih menangis, meratapi dirinya. Haryanto yang selalu menemaninya merasa kebingungan. Solusi seperti apa yang bisa ia tawarkan untuk menenangkan hati istrinya. "Kamu jangan terlalu pikirkan. Anggara hanya sedang emosi, " hibur Haryanto. Anita menggeleng keras. "Aku harus gimana, Pa? Dia pasti benci sekali sama Mama." "Aku yakin, kamu pasti sudah siap dengan datangnya hari ini. Kamu sudah tau dia anak Ratih, harusnya kamu bisa tahu juga cara menghadapi saat dia tahu, kita ada hubungan dengan ibunya. " Haryanto menatap istrinya lekat-lekat. Dalam hatinya, ia menyesali, mengapa Ratih harus bertemu dengannya sehingga harus berakhir tragis. Anita tak merespon kecuali hanya terus menangis. Aderena tiba-tiba muncul, rupanya sedari tadi dia mengintip. "Rahasia apa yang mama sama

