Bab. 18 Bersamamu Bikin Candu

1548 Kata
Seperti yang sudah direncanakan tadi siang. Sepulang ngantor Mulin datang ke Apartemen Graciela. Sambil berjalan melewati lobi Apartemen Mulin tampak kesal mengingat sikap Faisal yang tak sepenuhnya jujur padanya. Sungguh, ia benar-benar tidak menyangka. Jika Faisal sudah menutupi informasi sebesar ini. Flashback. "Apa?! Jadi si Graciela anak Hitman Abraham?" ujar Mulin dengan nada tinggi. Ia benar-benar syok mendengar informasi itu. Ia yang sedang berdiri di samping kaca jendela besar di ruang kerjanya pun langsung memutar badannya hingga seratus delapan puluh derajat. "Ya. Dunia memang sempit, bukan?" balas Faisal entheng. "Sialan! Kenapa loe nggak bilang dari kemarin? Didit juga nggak kasih tau gue soal ini. Pasti loe yang udah merencanakan sesuatu di belakang gue ya?" "Hahahaha. Buat apa juga gue harus jelasin itu semua. Kalau loe jeli. Loe udah bisa menebak itu dari nama belakang si Graciela." "Bener juga. Kenapa gue nggak kepikiran sampai di sana?" "Nah, itu dia salah loe. Kenapa loe nggak mikir kesitu pas tau nama belakang cewek itu Abraham. Loe pikir ada berapa banyak Abraham di muka bumi ini?" Mulin berdecak sebal. Ia selalu pandai bersilat lidah saat bicara dengan orang lain, tapi pada Faisal. Ia tampak dungu. Bahkan, untuk hal kecil semacam ini. 'Ck. Sebenarnya siapa Faisal ini? Apa dia mantan penjahat kelas kakap?' pikir Mulin bingung. "Ya, udahlah. Persetan dengan anak siapa dia. Cuma, gue pikir apa hubungan ketiga manusia ini sebenarnya? Kenapa mereka bisa sangat dekat, lebih-lebih si Julian dan Graciela?" "Jadi begini. Sesungguhnya, Graciela dan Aqila adalah sahabat dekat. Mereka berteman sudah sejak lama. Mungkin sejak masuk bangku Sekolah Menengah Pertama. Mereka sangat akrab dan selalu satu hati di berbagai bidang. Termasuk menempuh pendidikan di Fakultas dan Universitas yang sama pula. Hingga saat hampir kelulusan. Tiba-tiba anak rekan Abraham pulang dari Australia. Dia adalah Julian. Sejak pertama kali bertemu. Aqila sudah menaruh hati pada Julian. Ia pun meminta pada Grace untuk membantu mendapatkan lelaki itu. Sayangnya, diam-diam Grace dan Julian juga saling mencintai. Mereka pun pacaran di belakang Aqila. Namun, gue juga baru tau informasi ini. Ternyata saat berada di sebuah acara pertemuan antar pebisnis. Hartawan yang juga mengenal Papa Julian yang bernama Prasetya. Melihat kedua anak mereka tampak akrab di acara itu. Prasetya dan Hartawan pun berniat untuk menjodohkan mereka. Sayangnya, beberapa bulan setelah pernikahan itu. Prasetya jatuh sakit hingga akhirnya meninggal. Sementara Julian yang sudah berhasil dihasut oleh Abraham dan Grace. Berencana untuk menguasai perusahaan Hartawan. Lalu meninggalkan Aqila begitu saja," jelas Faisal panjang lebar. "Oh, jadi seperti itu. Oke. Gue jadi paham. Pantas saja kemarin Hartawan ngotot ngasih perusahaan dia ke gue. Jadi, Julian yang minta?" "Pastinya iya." "Kalau tidak salah syarat dari Hartawan. Julian hanya diminta mencintai Aqila dengan tulus. Berarti bisa jadi sikap Julian memang sangat dingin dan terlihat jelas tak mencintai Aqila." "Iya. Seperti yang pernah loe ceritakan kemarin. Kalau keluarga Aqila sampai heran melihat sikap loe yang sangat manis pada Aqila. Berbeda dengan sikap Julian sebelumnya." "Terus, sekarang apa yang harus gue lakuin?" "Apalagi? Lanjutkan misi loe jadi Julian. Sejak dulu gue memang tau kalau Julian dekat dengan anak Abraham. Makanya, gue pengen loe memata-matai Abraham lewat anak tunggalnya itu. Gue yakin. Dari si Grace kita bisa cari titik kelemahan Abraham yang bisa meruntuhkan tembok kelicikan yang selama ini dia bangun dengan kokoh," kata Faisal dengan berapi-api. "Jadi, apa loe udah siap?" "Bukankah, gue emang dibayar untuk ini?" balas Mulin sambil tersenyum penuh arti. . Kembali pada Mulin yang terus berjalan mantap menuju pintu lift di depan sana. Ia pun segera mempercepat langkahnya saat pintu plat aluminium itu sudah tidak jauh lagi. Mulin segera memencet sebuah tombol Hingga berbunyi 'Ting' saat terbuka lebar. Mulin pun segera masuk lalu memencet tombol tutup sebelum tombol lantai yang ia tuju. 'Ting.' Lima menit berlalu. Pintu kembali berbunyi hingga akhirnya terbuka lebar. Mulin pun segera keluar sambil mencari nomor unit yang sudah diberikan oleh Didit kemarin. Tak butuh waktu lama Mulin pun sampai di depan pintu unit Apartemen A16. Ia segera memencet tombol bel yang ada di panel sebelah pintu. Ting. Tong. Ting. Tong. Bunyi pintu bel saat dipencet Mulin beberapa kali. "Sebentar!" teriak seseorang dari dalam ruangan itu. Cekrek! Tak lama kemudian pintu pun terbuka lebar dan menampakkan wajah Grace yang baru mandi. Tampak dari kimono handuk yang menutupi tubuhnya dan sebuah handuk yang kini melilit di rambutnya. "Sayang," ujar Grace saat melihat sosok Mulin ada di depan pintu masuk Apartemennya. "Ayo, masuk! Kenapa pakai pencet bel segala sih? Kan Sayang udah sayang kasih smart key nya," tambah Grace sambil menarik tangan Mulin agar segera masuk ke dalam ruangannya. Mulin pun tak menolak. Ia segera masuk ke dalam Apartemen itu tanpa banyak basa-basi. "Sayang lupa ya. Kan Smart key itu jatuh bareng koper aku saat kecelakaan pesawat terbang kemarin. Mana sempet aku menyelamatkan benda itu dari dalam koperku," kata Mulin dengan akting yang sangat sempurna. "Hahaha. Bener juga ya. Ya, udah. Ayo masuk. Sayang mau sayang buatin minum apa?" tanya Grace sambil mengelendot manja di lengan Mulin. "Air putih aja deh." "Beneran air putih aja? Sayang udah siapin sayang white wine kesukaan Sayang lho?" Grace berkata sambil menunjukkan wajah yang menggoda Mulin. 'White wine? Enak juga tuh. Tapi, kalau gue minum terus mabok. Bisa-bisa ambyar deh semua rencana gue. Mending gue tolak dulu deh. Lain kali gue bisa minum sepuasnya,' batin Mulin sambil terdiam sesaat. "Emhs…. Enggak dulu deh. Sayangkan mau nyetir ntar. Bahaya dong kalau sayang sampai mabok," elak Mulin dengan nada halus. "Sayang mau pulang ntar. Emang Sayang nggak kangen sama Sayang," ujarnya dengan nada tak bersemangat dan wajah yang dibuat cemberut. "Iya dong, Sayang. Kan kamu tau sendiri Sayang baru dapat perusahaan Hartawan karena Sayang sudah terlihat mencintai Aqila dengan tulus. Kalau malam ini Sayang nggak pulang. Sementara Aqila tau Sayang kemari. Apa nggak menimbulkan rasa curiga ntar di hati Hartawan?" ujar Mulin penuh tipu daya. "Iya juga sih. Cuma kan biasanya juga Aqila diem aja Sayang nginep disini. Dia mah terlalu bodoh untuk punya rasa curiga. Hahahaha." Keduanya pun tertawa bersama-sama setelah Grace mengucapkan kalimat itu. "Iya. Sayang bener. Sayang memang bener," ujar Mulin sambil pura-pura menahan tawa gelinya. Pokoknya untuk urusan akting jangan ragukan kemampuan Mulin. Artis profesional sekelas Reza Rahadian saja kalah jika beradu akting dengan Mulin. "Cuma kali ini berbeda. Sebab, Hartawan sudah percaya kalau aku begitu mencintai Aqila. Masak iya Sayang udah bikin kesalahan lagi dengan ninggalin Aqila malam ini. Gimana kalau tiba-tiba Hartawan datang ke rumah atau menelpon si Aqila buat nanyain Sayang. Apa nggak jadi runyam tuh urusannya," ujar Mulin berusaha menyakinkan Grace. Mereka pun berjalan sambil terus memeluk pinggang satu sama lain. "Iya juga sih. Ya, udah deh. Kalau begitu kita nggak boleh menyia-nyiakan momen ini untuk melepas rindu. Iya kan, Sayang?" ucap Grace sambil berjalan ke hadapan Mulin. Kedua tangan Grace pun langsung dikalungkan di leher tanpa minta izin terlebih dahulu. Mereka pun saling menatap untuk beberapa saat. Kemudian perlahan, tapi pasti mereka saling mencium. Mempermainkan bibir lawan. Lalu secara bertahap mereka melakukan permainan panas yang lebih hebat dari apa yang dulu dilakukan dengan Julian yang asli. Grace pun melenguh panjang dan dengan suara cukup keras hingga menggema di seluruh penjuru ruangan Apartemennya. Bukan karena sudah lama ia tak disentuh lelaki yang ia cintai ini. Tetapi permainan Mulin memang telah sukses menembus fantasi liar yang biasanya Julian berikan. Brukkk! Mulin menjatuhkan badannya di samping Grace yang masih menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru ia rasakan. Sambil mengatur nafasnya lagi. Mulin kembali teringat pada Anita. 'Maafin gue Anita. Maafin gue. Lagi-lagi gue nggak bisa memenuhi janji gue sama elo,' ujar Mulin sambil menatap ke langit-langit kamar mewah di Apartemen itu. Setelah semua rasa nikmat yang menerbangkan perasaannya ke awang-awang selesai. Grace membalikkan badannya hingga menghadap ke arah Mulin. Ia menyentuh d**a bidang Mulin yang sedikit berotot hingga lelaki itu sedikit tersentak kaget. Karena dia sedang melamun. "Kenapa? Kok kayak kaget gitu?" tanya Grace dengan kening yang berkerut sempurna. Mulin langsung memiringkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Grace. "Hehe. Sayang hebat banget. Sampai-sampai bikin Sayang keingetan terus sama permainan tadi," kata Mulin kembali berbohong. "Hahaha. Benarkah? Justru harusnya Sayang yang tanya. Kok Sayang bisa kuat dan bikin Sayang klepek-klepek berkali-kali sih. Padahal, biasa nggak sampai selama dan sehebat itu." 'Haha. Ternyata benar dugaan gue kemarin. Si Julian memang cuma modal tampang doang kece. Tapi, goyangannya nggak oke,' batin Mulin meremehkan Julian. "Ehms…. Mungkin karena Sayang udah rindu… banget sama Sayang. Makanya, Sayang nggak bisa menahan diri buat main kayak gitu sama Sayang," rayu Mulin sambil mencolek dagu Grace yang lumayan lancip. Seketika hal itu pun membuat Grace senyam-senyum sendiri. "Ah, Sayang sekarang pinter deh bikin sayang seneng. Eh, tapi lain kali jangan terlalu manis sama si Aqila ya. Apalagi kalau di depan Sayang. Jujur saja, Sayang jealous berat tau?" Lagi-lagi Grace pura-pura ngambek sambil memanyunkan bibirnya. "Hehehe. Iya deh. Maaf, abis Sayang masih suka kelupaan kalau lagi akting. Tapi, Sayang jangan takut dong. Kan cinta dan sayang, Sayang. Cuma buat Sayang," kata Mulin yang langsung membuat Grace semakin tersipu-sipu. Kedua pipinya pun kini bersemu merah menahan malu. Padahal, di dalam hati Mulin ingin muntah sendiri mengucapkan kalimat alay itu. "Aaah, Sayang. Bikin tambah cinta aja deh," kata Grace lalu ia mengelendot manja di lengan Mulin. Mulin pun membalasnya dengan senyuman kecil. Sungguh, ia sudah tidak nyaman diperlakukan seperti ini oleh wanita yang bukan Anita. 'Wah. Kenapa makin dia nempel. Makin gue keinget sama Anita ya?' gumam Mulin dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN