Mulin akhirnya sampai juga di depan kantor seperti yang diucapkan oleh wanita itu. Sayangnya, Mulin tak kunjung menemukan sosok wanita yang tadi sempat menelponnya. Padahal, Didit sudah mengirimkan informasi lengkap beserta gambar wanita itu, tapi tetap saja Mulin tak bisa mengenali gadis itu ada di tempat ini. Mulin pun kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. Segera ia membuka panggilan terakhir dan menghubunginya balik.
Tuuutt…. Tuuuttt…. Tuuuttt….
Telepon Mulin pun tak kunjung diangkat oleh wanita itu. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian. Akhirnya Si Graciela menerima panggilannya.
"Halo," ujar wanita itu dengan nada yang dibuat sok lembut.
"Sayang dimana? Sayang sudah sampai di depan kantor nih," ujar Mulin tanpa basa-basi.
"Gue ada di restoran depan kantor loe. Cepetan kesini saja. Gue punya kejutan buat loe," balas wanita itu yang membuat kening Mulin berkerut sempurna.
'Tadi aja gue panggil dia loe gue diomelin. Kenapa sekarang dia malah ngomong gitu tanpa dosa,' batin Mulin merasa heran.
"Gimana? Loe nggak bisa ya?" tanya Grace dengan nada kecewa.
"Gue bisa kok. Tunggu aja. Gue akan segera datang," jawab Mulin akhirnya.
"Oke. Gue tunggu sekarang. Jadi, cepetan datang ya."
"Iya." Tut! Sambungan terputus. Mulin celingukan mencari restoran yang dimaksud oleh cewek itu. Tak lama kemudian, matanya pun menangkap sebuah bangunan restoran yang tampak cukup mewah. Mulin menghidupkan mesin mobilnya lagi. Kemudian melajukan mobilnya masuk ke dalam area parkiran. Ia segera memarkirkan mobil itu di tempat strategis, sebelum ia keluar dan meninggalkan kendaraan keluaran Jerman itu. Mulin bergegas berjalan menuju pintu masuk restoran itu. Sampai di dalam Mulin kembali celingukan mencari Graciela. Tak mau terlihat seperti orang bodoh. Ia pun segera mengeluarkan ponselnya lagi untuk menghubungi Graciela. Belum sempat menghidupkan layar ponselnya yang masih gelap mendadak terdengar seseorang memanggil nama Julian.
"Julian!" teriak seorang wanita dari sisi kirinya. Mulin yang sedang fokus menatap layar gawainya pun seketika itu langsung menoleh. Ia melambaikan tangannya ke udara untuk membalas lambaian tangan seorang gadis cantik yang sangat mirip dengan foto yang dikirimkan oleh Didit. Mulin pun langsung mengarahkan langkahnya menuju meja gadis yang ternyata kini duduk bersama temannya itu.
"Halo, Sayang," sapa Mulin saat jaraknya sudah hampir sampai ke meja yang dipesan Graciela. Kedua tangannya pun terlentang untuk menyambut pelukan gadis itu. Mendengar ucapannya di telepon tadi, Mulin dapat menyimpulkan jika Graciela sedang rindu berat pada Julian. Meskipun, Faisal sendiri tak menjelaskan apa hubungan antara Julian dan Graciela. Namun, Mulin curiga mereka punya hubungan spesial yang entah diketahui oleh Aqila atau tidak. Mendengar sapaan Mulin wanita yang duduk bersama Graciela dan membelakangi Mulin tiba-tiba berdiri. Sepersekian detik berikutnya ia memutar badannya seratus delapan puluh derajat. Kemudian berhambur ke pelukan Mulin.
"Kok kamu tau sih ini aku? Kamu pasti udah hapal banget dengan body ku ya," ujar wanita itu yang ternyata adalah Aqila. Mulin pun langsung salah tingkah. Tak menyangka Aqila ada di sana. Ia menatap Graciela menuntut jawaban. Namun, Graciela malah mengangkat kedua pundaknya secara bersamaan sambil memutar bola matanya. "Sayang. Kok kamu diem? Pertanyaan aku salah ya?" tanya Aqila yang membuat lamunan Mulin langsung buyar.
"Oh, enggak dong. Masak sih aku nggak bisa mengenali bidadariku sendiri. Jangankan badan kamu. Kuku kamu yang abis dipotong aja. Aku tau itu milik kamu apa bukan," ujar Mulin menggombal.
"Ih, kamu bisa aja deh. Jadi, makin cinta deh sama kamu," kata Aqila sambil mempererat pelukannya di pinggang Mulin. Mulin pun melirik ke arah Graciela yang sedang memalingkan wajahnya dengan raut wajah tak suka.
'Tuh, kan bener. Si Graciela pasti punya hubungan spesial sama Julian. Liat aja wajahnya yang cemberut saat melihat Aqila memeluk gue. Tapi, apa hubungannya dengan Aqila ya. Kenapa mereka bisa duduk bersama gini,' ujar Mulin dalam hati.
"Ya, udah. Yuk, duduk!" ajak Aqila sambil menarik tangan Mulin untuk segera mengikutinya duduk di meja itu. Mulin pun hanya menurut. Meskipun sesekali ia melempar pandang ke arah Aqila yang terlihat sangat tidak nyaman. "Sayang mau pesen apa?" tanya Aqila sambil menyodorkan sebuah buku menu.
"Apa aja deh? Sama kayak kalian aja," ujar Mulin berusaha menarik reaksi dari mereka berdua.
"Oh, gitu ya. Loe mau pesen apa, Grac?" tanya Aqila dengan nada akrabnya.
"Seperti biasa aja menu kesukaan kita bertiga. Pizza dengan Pinggiran Stuffed Crust Dimsum topping Super Supreme Chicken," jawab Graciela yang membuat kening Mulin berkerut sempurna.
'Kesukaan kita bertiga? Maksudnya mereka memang sering jalan bareng begini? Ck. Sebenarnya, apa sih hubungan yang mereka jalin. Bikin pusing deh,' kata Mulin dalam hati. Mendadak keningnya pun nyut-nyutan hingga tak sadar Mulin langsung memijatnya.
"Kamu nggak papa?"
"Loe nggak papa?" tanya kedua wanita itu bersamaan. Mulin pun langsung menurunkan tangannya. Dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Enggak. Enggak kenapa-napa kok. Tadi, cuma teringat kerjaan di kantor yang bikin pusing."
"Kalau gitu biar gue pijitin ya. Kan pijitan gue enak dan loe paling suka," tawar Graciela dengan nada menggebu-gebu. Mulin tak langsung menjawab. Ia malah menoleh ke arah Aqila terlebih dahulu.
"Udah nggak papa. Aku ngerti kok kalau persahabatan kalian itu udah sangat erat. Dan aku percaya kalau kamu tuh nggak akan pernah menduakan aku. Iya, kan?" kata Aqila yang membuat hati Mulin langsung merasa bimbang, tapi mulai mendapatkan pencerahan atas hubungan mereka yang cukup rumit itu.
'Oh, gue mulai mengerti apa yang terjadi pada mereka bertiga,' kata Mulin masih membatin.
"Kamu yakin nggak papa aku dipijat sama Graciela?" tanya Mulin dengan hati-hati. Ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Aqila pun menahan senyumnya sambil mengangguk mantap.
"Iya, Sayang. Biasanya juga gitu kan? Kamu kalau nggak enak badan langsung dateng ke apartemen Graciela untuk dipijit dia. Bahkan, kamu sering tidak pulang karena ketiduran di sana." Aqila bercerita sambil menahan tawa gelinya.
'Oke. Jelas sudah semuanya. Apa yang sedang terjadi di antara mereka bertiga,' batin Mulin mantap. Sambil melirik ke arah Graciela yang terlihat bahagia dengan ucapan Aqila barusan.
"Baiklah. Nanti pulang kerja. Aku izin mampir ke Apartemen Graciela ya," ujar Mulin sambil menggenggam tangan Aqila. Melihat hal itu Graciela pun langsung mengerutkan keningnya seketika.
'Ish. Apaan sih si Julian! Biasanya dia juga cuek-cuek aja sama cewek gila ini. Kenapa sekarang jadi sok manis segala,' batin Graciela kesal. Namun, bukan Mulin namanya kalau tidak bisa menguasai semua wanita. Di bawah meja ia menggunakan kakinya yang masih bersepatu pantofel berbahan kulit asli dengan warna hitam mengkilap untuk menggesek betis Graciela yang mulus dan jenjang itu. Sehingga mau tak mau Graciela pun langsung tersenyum manis. Merasa dibuai oleh Mulin secara diam-diam.