Bab. 20 Demi Kamu dan Perusahaan

1073 Kata
Pagi ini Mulin terbangun karena mencium aroma bunga Lavender yang tiba-tiba muncul di depan rongga hidungnya. Ia pun langsung mengerutkan keningnya sambil menghirup aroma itu kuat-kuat. Agar bisa terus menikmati keharuman bunga itu yang begitu menenangkan. Namun, dengan jahil Aqila malah menjauhkan bunga itu dari hidung Mulin. Hingga lelaki itu pun sedikit mengendus-endus ke beberapa sisi untuk mencari aroma itu lagi. "Hahaha." Aqila langsung tertawa lepas melihat tingkah laku sang suami yang terlihat sangat lucu itu. Mendengar ada suara tawa yang cukup kencang. Mulin pun langsung membuka matanya lebar-lebar. "Oh, jadi kamu ya yang ngerjain aku," ujar Mulin kesal saat melihat tangan Aqila membawa seikat bunga lavender segar yang baru saja ia petik dari taman belakang rumah itu. Mulin pun langsung meraih pinggang Aqila. Lalu menariknya hingga jatuh di samping tubuhnya. Tak hanya itu, ia juga langsung menggelitiki pinggang Aqila dengan begitu semangat. Sehingga membuat wanita itu langsung menggeliatkan tubuhnya sambil berusaha menepis tangan Mulin. "Rasakan ini. Rasakan pembalasanku ini. Hahahaha." "Hahaha. Ampun. Ampun. Aku nggak ulangi lagi deh. Ampun. Udah. Udah geli. Hahaha." Aqila pun tak bisa menahan tawanya sendiri saat Mulin terus menggelitik pinggangnya yang ramping. Ia sangat bahagia dengan sikap sang suaminya sekarang. Dulu Julian selalu ketus, bahkan tak jarang ia membentak Aqila. Jika merasa diganggu seperti ini. Namun, sekarang ia merasakan perbedaan yang sangat kentara dengan sikap Julian. Meskipun kadang ia sampai merasa asing dengan perubahan drastis ini, tapi Aqila sangat bersyukur Julian bisa bersikap sangat baik seperti ini. "Ampun. Ampun. Hahaha. Iya aku nggak lagi-lagi deh gangguin kamu. Hahaha." Akhirnya Mulin pun menghentikan kejahilannya. Tatkala melihat Aqila tampak kelelahan terus tertawa. "Jail ya ternyata istriku ini," kata Mulin sambil menoel ujung hidungnya. Aqila pun hanya tertawa kecil sambil mengalungkan tangannya ke leher Mulin. "Abis tidur kamu semalam kayak nggak nyenyak gitu. Kamu lagi mikirin apa sih?" ujar Aqila dengan wajah yang tampak khawatir. "Masak sih tidurku nggak nyenyak. Perasaan aku nyaman banget deh tidur semalam?" "Iya. Kamu tuh kayak orang nggak tenang gitu. Wajah kamu kadang tampak bahagia. Terus tiba-tiba kelihatan sedih banget. Aneh deh pokoknya," kata Aqila. "Oh, ya? Masak sih? Emang aku mimpi apa ya?" ujar Mulin sambil terus memutar otaknya. Mendadak ia pun teringat akan kelebat mimpinya yang menggambarkan kejadian saat Mulin bertemu Anita. Mulin sangat merasa bahagia, tapi Anita tak mau lagi bertemu dengan Mulin serta lebih memilih lelaki yang bersamanya semalam untuk dijadikan pasangan hidupnya. Karena Anita sudah sangat kecewa dengan sikap Mulin yang lagi-lagi jadi seorang penipu dan terus berhubungan dengan wanita lain. "Jangan sampai itu terjadi," gumam Mulin tanpa sadar. "Hah?" Aqila yang tak sengaja mendengar gumaman Mulin pun langsung merespon. "Kamu bilang apa sih?" tanya Aqila penasaran. "Ah, enggak. Aku cuma teringat pada mimpiku soal perusahaan Papa kamu. Aku bermimpi kalau ada seseorang yang pura-pura baik pada kamu, tapi ternyata ia ingin memanfaatkan kekayaan keluarga kamu untuk kesenangannya sendiri," ujar Mulin akhirnya. "Benarkah? Ih, kayak di film aja deh. Kamu pasti sebelum tidur nonton sinetron dulu ya? Makanya sampai kebawa mimpi," sahut Aqila polos. 'Sayangnya, itu bukan hanya ada di cerita fiktif Aqila. Suami yang kamu cintai selama ini adalah orang yang aku maksud tadi,' batin Mulin. "Udah nggak usah terlalu dipikirin. Aku yakin nggak ada orang kayak gitu di hidup aku. Apalagi saat ada kamu yang akan selalu melindungi aku dan perusahaan. Iya, kan?" kata Aqila sambil menyandarkan kepalanya di d**a bidang Mulin. Mulin pun langsung tersenyum. 'Loe orang baik Aqila. Begitu pula dengan keluarga loe. Gue tau sekarang ke apa Allah pertemukan gue dan Faisal. Mungkin dengan begini. Gue tak hanya akan melindungi keluarga Abimana, tapi juga keluarga Hartawan yang memiliki sifat tak jauh beda,' batin Mulin sambil menatap langit-langit kamar itu. "Iya. Aku janji. Aku akan selalu menjaga kamu dan perusahaan yang sudah Papa titipkan sama aku. Sampai titik darah penghabisan," ujar Mulin mantap. "Ehms…. So sweet…." Aqila berucap. Lalu ia pun langsung mempererat pelukannya di badan Mulin. *** Siang ini Mulin sedang bekerja di kantornya. Ia terlihat sibuk mengamati layar komputer iMac di depannya. Meskipun tak begitu mengerti dengan apa yang sedang ditampilkan layar itu. Hanya saja sebuah earpiece canggih terpasang di telinga kanannya. Mungkin bagi sebagian orang tak ada yang aneh dari benda itu. Kecuali sebagai alat penyambung suara atau headset bluetooth untuk mendengarkan suara orang yang menelpon di seberang sana. Padahal, pada kenyataannya alat sebesar ibu jari itu juga dilengkapi kamera dan sensor guna menangkap gambar dan mendeteksi sebuah jaringan. Sehingga membuat Didit dan Faisal Arkani yang berada jauh di seberang sana bisa mengetahui apa yang terjadi di depan Mulin. Tak terkecuali data-data penting perusahaan yang selama ini banyak terjadi manipulasi. "Apa maksud dari semua ini?" tanya Mulin pada Arkani lewat earpiece yang digunakannya. "Sepertinya ada penyusup lain di perusahaan ini selain Julian," jawab Faisal mantap. "Apa dia anak buah langsung Hitman Abraham atau dia hanya anak buah dari Julian?" "Entahlah. Itu yang harus kita selidiki selanjutnya," timpal sang Bos Agen Rahasia itu. Di saat Mulin sedang asyik dengan komputer di depannya. Mendadak seseorang datang ke dalam ruangan itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Seorang wanita itu pun berjalan mengendap-endap mendekati Mulin yang masih sibuk menatap layar komputer di depannya. Tangan Mulin sesekali memencet tombol keyboard sesuai arahan dari Faisal. Namun, saat ia hendak mengakses data yang lebih detail tiba-tiba saja wanita itu mengejutkannya dari belakang. "Dorrr!!" ujarnya sambil menepuk pundak Mulin dengan cukup keras. Tentu saja hal itu langsung membuat Mulin sontak kaget bahkan sampai sedikit mengangkat badannya. "Hahahaha. Surprise!" ujar Wanita itu yang ternyata adalah Grace. "Sayang! Kenapa kamu ada disini?!" tanya Mulin kembali terkejut melihat sosok wanita selingkuhan Julian ada di ruangan itu. Ia pun segera menarik tangan gadis itu ke tempat yang tempat yang terhindar dari cctv. "Ish. Sayang gimana sih? Nggak liat apa disini banyak cctv. Ntar kalau kita ketahuan gimana?" kata Mulin seperti kebakaran jenggot. Ia pun tak mau jika sampai Aqila menyadari kedekatannya dengan sang sahabat sebelum ia tau banyak tentang informasi Hitman Abraham dari si Grace. "Hehe. Maaf deh, Sayang. Abis aku kangen berat sama kamu," jawab Grace sambil merangkul pundak Mulin dengan mesranya. Mulin pun langsung melepaskan pelukan gadis itu. "Tapi ini terlalu berbahaya, Grace. Gimana kalau ada yang liat. Atau ada yang melaporkan kita dari tangkapan cctv." "Kamu lupa ya. Kan semua cctv di ruang ini sudah dinonaktifkan sama kamu dulu. Buat kita bisa leluasa bertemu." "Benarkah? Kenapa aku bisa lupa ya?" "Iya, Sayang. Kamu jangan khawatir lagi ya. Banyak kok orang yang mendukung kita di kantor ini," ujar Grace sambil ngelendot manja. "Maksud kamu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN