Mulin kini baru tau kalau banyak juga orang yang ada di perusahaan Hartawan yang sebenarnya sudah mengetahui hubungan Julian dan juga Grace secara diam-diam. Bahkan, ada yang sengaja mematikan kamera cctv di ruangan Julian sendiri. Hal itu justru membuat Mulin merasa semakin curiga dengan Julian dan keterlibatannya dalam rencana jahat Hitman Abraham. Akhirnya Mulin pun meminta Didit untuk membobol keamanan perusahaan itu dan mencari tau lebih dalam. Tentang apa saja yang sebenarnya sudah terjadi, siapa saja yang memihak pada Julian dan seberapa jauh mereka sudah melangkah.
Mulin tau betul tujuan utama Julian adalah menguasai perusahaan Hartawan. Namun, dia sungguh tak menyangka. Jika rencana Grace dan sang ayah jauh lebih besar daripada itu. Hitman adalah seorang pendendam. Dia berniat ingin menghancurkan kehidupan keluarga Hartawan yang pernah membuat Hitman malu di depan para kolega bisnisnya. Dan satu-satunya hal yang membuat Mulin nggak habis pikir dengan pikiran Julian. Kenapa dia mau-mau saja melakukan hal selicik itu. Baiklah, ia tak bisa menyalahkan Julian begitu saja. Sebab, Mulin pun sadar. Jika sebenarnya Julian juga hanya dijadikan alat untuk menuntaskan balas dendam Hitman pada keluarga Hartawan. Seperti dia dulu yang selalu diperalat neneknya untuk membalaskan dendam pada Abimana.
Dengan wajah sok polos saat ini Mulin mendengar setiap ucapan yang sedang Grace ceritakan mengenai rencana jahat Papanya. Sementara, di bawah meja tanpa Grace sadari Mulin langsung merekam pembicaraan itu. Untuk ia tunjukkan pada Faisal.
"Semua ini gara-gara si Hartawan sendiri sih. Jadi, Sayang nggak perlu merasa bersalah," ujar Grace sambil memegang punggung tangan Mulin yang berada di atas meja. Mereka yang sedang makan siang bersama di sebuah ruangan VIP restoran mewah milik Papa Grace pun bisa leluasa bercerita tentang apapun yang mereka mau. Tanpa harus takut ada orang lain yang akan menguping. Sebab, di depan area itu sudah dijaga dengan cukup ketat.
Mulin menghirup nafas dalam-dalam lalu ia keluarkan secara perlahan.
"Iya deh. Apapun demi Sayang," gombal Mulin sambil meraih dagu Grace.
"Ah, Sayang. Bisa aja sih," timpal Grace dengan wajah tersipu.
"Terus apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Mulin. Untuk pertanyaan ini. Dia pun sangat penasaran akan jawabannya.
"Emang Sayang udah lupa?" tanya Grace balik dengan kening yang berkerut sempurna.
"Emang apa yang kita rencanakan setelah ini?" Min yang memang benar-benar tidak tau apa-apa. Kembali menunjukkan wajah polosnya.
"Lho. Setelah ini kan tinggal rencana kita berdua, Sayang? Rencana yang sudah lama kita tunggu-tunggu." Grace berusaha membuat Julian teringat akan apa yang sudah mereka susun untuk menghancurkan kehidupan keluarga Hartawan. Namun sayangnya, ia tak tau benar kalau orang yang ada di hadapannya ini. Bukanlah sosok Julian seperti yang dia kira. Melainkan sosok laki-laki lain yang bermuka cukup mirip dan dipermak sedemikian rupa agar semakin mirip dengan sosok lelaki yang menjadi pujaan hatinya.
Mulin yang tidak mau terlihat mencurigakan. Langsung pura-pura berpikir dengan cukup keras. Setelah beberapa saat lagi-lagi ia pura-pura menahan sakit kepalanya.
"Aduh," ujar Mulin sambil memegang keningnya yang tak begitu lebar.
"Sayang. Sayang kenapa? Kepala Sayang sakit?" ucap Grace dengan nada penuh kekhawatiran.
"Iya, Sayang. Ish…. Sayang masih suka sakit kepala kalau harus mengingat-ingat kejadian dulu-dulu. Ini pasti karena kecelakaan pesawat saat itu."
"Aduh. Kasihan. Ya, udah deh. Sayang jangan terlalu banyak mikir ya. Sayang tidak mau kalau sampai Sayang kenapa-napa. Okey?" Perlahan Mulin pun menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Iya. Makasih ya. Maafin Sayang yang belum bisa memastikan apa yang sudah kita rencanakan dulu dan juga apa yang sudah kita lalui kemarin. Kepala Sayang masih sangat sukar mengingat semua itu," ujar Mulin penuh tipu daya.
"Iya, Sayang. Nggak papa kok. Ada Sayang disini yang akan selalu membantu Sayang untuk mengingat kembali kejadian demi kejadian yang dulu pernah kita lalui."
"Terima kasih ya, Sayang. Sayang adalah orang yang paling mengerti Sayang selama ini. Sayang sangat beruntung memiliki wanita cantik dan baik hati seperti Sayang," kata Mulin terus menggombal. Cup! Kemudian Mulin pun mendaratkan sebuah kecupan mesra di atas permukaan kulit punggung tangan Grace yang sama halusnya dengan kulit Aqila.
'Cih. Keren juga gue. Nggak belibet sama sekali ngucapin panggilan untuk si wanita ribet ini. Hehe,' cibir Mulin dalam hati. 'Huh. Bisa-bisanya si Julian punya selingkuhan cewek banyak tingkah kayak gini. Padahal, istrinya aja udah cantik dan baik banget,' tambah Mulin dalam hati. Matanya pun masih menatap Grace yang tersipu. Karena punggung tangannya dikecup lama eh Mulin.
Tok. Tok. Tok.
Mendadak sebuah ketukan pintu ruangan itu terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan. Hal itu juga yang seketika membuat Mulin langsung menghentikan ciumannya serta langsung menegakkan badannya kembali.
"Kenapa berhenti? Kan Sayang lagi menikmati ciuman kamu," kata Grace dengan manjanya. Di saat yang sama dua waitress pun berjalan masuk. Dimana salah satunya mendorong troli makanan yang berisi penuh makanan yang dipesan Mulin dan Grace.
"Kan ada mereka nggak enak dong," timpal Mulin jujur.
"Selamat siang, Tuan Julian dan Nona Grace. Ini pesanannya," ujar waitress yang berada di depan troli. Dengan sigap ia pun memindah satu per satu makanan itu ke atas meja yang ada di depan Mulin dan Grace. Bukannya malu dengan adanya kedua orang itu. Grace malah memutar duduknya hingga berhadapan dengan Mulin.
"Sejak kapan Sayang peduli sama orang-orang di lingkungan sekitar. Mereka juga sudah terbiasa melihat kita berciuman disini," sahut Grace yang seketika membuat kening Mulin berkerut sempurna.
"Hah? Maksudnya?" Mulin tampak bingung dengan pernyataan Grace barusan. Namun, bukannya menjawab pertanyaan tersebut. Grace malah meraih tengkuk Mulin. Hingga sepersekian detik berikutnya bibir wanita itu sudah menempel di bibir Mulin. Padahal, kedua waitress masih berdiri di belakang Grace.
'Dasar nggak sopan. Minta ciuman di depan orang. Niat pamer banget sih ni cewek,' sungut Mulin dalam hati. Sayangnya, Mulin adalah laki-laki biasanya yang tidak tahan mendapatkan godaan sebesar ini. Makanya dia pun langsung membalas ciuman Grace dengan sangat epik. Keduanya tampak saling mengecup dan memainkan bibir lawannya. Hingga untuk beberapa menit. Kedua waitress itu tampak terdiam sambil memandang aktivitas sensual mereka berdua. Sayangnya, tak la kemudian mereka sadar akan tugas lain yang masih menunggu. Sehingga mereka pun segera berpamitan. Meskipun tak direspon sama sekali. Kemudian mereka segera pergi dari tempat itu. Meninggalkan Mulin dan Grace yang sudah tidak tahan untuk menaikkan level permainan.
Mulin menjatuhkan badan Grace ke atas lantai yang sudah di alasi karpet tebal. Untung saja tempat itu bergaya lesehan Jepang. Sehingga mereka bisa leluasa menggelorakan hasrat mereka saat itu. Bibir Grace terus berdesis seperti ular. Saat bagian-bagian sensitifnya dipermainkan oleh Mulin. Ia pun kemudian merancau saat Mulin mulai menembus lubang kehormatannya. Mereka seakan lupa daratan. Sehingga mereka hanya ingin saling memuaskan satu sama lain.