Bab. 22 Mengendus Kejahatan Hitman Abraham

1283 Kata
Di sebuah hanger garden bernuansa tropis dengan kolam renang cukup luas berada di tengah-tengahnya. Seorang lelaki paruh baya berdiri di tepian kolam renang sambil mengomel pada seseorang yang sedang di teleponnya. "Heh. Jangan banyak bicara! Kau lupa dengan kegagalanmu tempo hari?! Menyingkirkan perusahaan Abimana saja nggak becus. Untung saja aku punya seribu anak buah untuk menutup mulut lelaki bayaranmu yang tak berfaedah itu!" bentak lelaki berbadan tegap dengan tinggi seratus delapan puluh derajat itu. Wajahnya yang oval berahang tegas dan sorot mata tajam. Membuatnya semakin terlihat garang. "Maaf, Bos. Tapi, kita sudah melakukan yang terbaik. Seperti apa yang diarahkan Bos. Hanya saja, gue rasa ada pihak lain yang ingin bermain-main sama kita, Bos," jawab seorang lelaki dari seberang sana. "Heh." Lelaki paruh baya itu pun menyunggingkan senyum liciknya. Namun, hanya sebentar. Karena beberapa detik kemudian wajahnya kembali terlihat serius. "Jadi ada yang ingin sok jadi pahlawan disini," gumamnya dengan wajah menahan amarah. "Sepertinya begitu, Bos. Tapi, gue sendiri belum tau betul siapa orang itu." "Cari tau secepatnya. Gue nggak mau. Kalau sampai operasi kita selanjutnya gagal lagi kayak kemarin. Pokoknya. Kejar terus perusahaan Abimana. Jangan biarkan Daffa tersenyum sedikit saja." "Baik, Bos. Gue pasti akan pastikan. Operasi kita selanjutnya akan berjalan sesuai rencana." Tut. Lelaki itu segera memutuskan sambungan teleponnya. Tangan kirinya pun langsung mengepal erat. Pandangannya yang tajam dan penuh amarah menatap lurus ke depan dengan rahang yang saling bergesekan. Ingin rasanya ia mengumpat dengan keras andai saja lamunannya tak buyar karena suara seorang gadis. "Papa," panggil gadis itu seraya berlari mendekat. Seketika wajah lelaki tadi pun langsung berubah sumringah. "Halo, Grace Sayang," ujarnya sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan dari gadis itu. Lalu hingga beberapa saat kemudian mereka berdua saling berpelukan dengan penuh perasaan. Meskipun Hitman bukan orang baik, tapi ia selalu menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Bahkan, tak jarang ia selalu memberikan apapun yang Grace inginkan. Maklum, mereka sudah terbiasa hidup bersama sejak Grace masih kecil. Sementara, Mama Grace sudah meninggal dunia. Setelah melahirkan Grace. Hitman juga sangat mencintai istrinya. Makanya dia tidak pernah berniat untuk mencari calon istri baru setelah kepergian sang kekasih hatinya. Dulu Hitman pernah berjanji pada almarhum sang istri sebelum meninggal. Bila ia akan selalu membahagiakan anaknya apapun yang terjadi. Dan benar saja. Meskipun Hitman adalah seorang lelaki yang sangat ambisius dan pendendam hebat. Ia tetap saja tidak pernah bisa menunjukkan kejelekannya di hadapan sang putri tercinta. "Papa lagi ngapain?" tanya Grace. Dan, tak perlu ditebak lagi. Lelaki yang bersamanya itu tidak lain adalah Hitman Abraham. "Biasa menghandle bisnis baru Papa," jawab Hitman sambil melepas pelukannya. "Oh, ya. Kamu kelihatan seneng banget. Jangan-jangan kamu sudah bertemu dengan Julian ya," tambah Hitman sambil merangkul pundak anak semata wayangnya itu dan berjalan menuju sofa yang berada di teras lantai dua itu. "Ehms…. Kalau menurut Papa gimana?" tanya Grace balik sambil melengkungkan bibirnya dengan lebar. "Ehms…. Kalau menurut, Papa sih…." Hitman pura-pura berpikir sambil menatap wajah sang putri tercinta dengan tatapan penuh selidik. Padahal, dari awal ia melihat wajah Grace yang berseri-seri. Hitman langsung tau jawabannya. "Udah," lanjutnya dengan mantap. "Iya. Hahahaha. Aku udah ketemu dengan Julian, Pa. Sejak beberapa hari yang lalu." Grace tampak girang saat menceritakannya. "Dia terlihat semakin tampan dan sema… kin sayang sama aku," tambah Grace seraya mengelendot manja di lengan atas sang Papa. "Syukurlah. Papa seneng mendengarnya. Lalu bagaimana dengan rencana kalian berdua selanjutnya. Bukankah dia sudah mendapatkan perusahaan Hartawan?" "Iya, Pa. Cuma dia bilang. Nggak mungkin dia langsung ninggalin si cewek gila gitu aja. Apalagi kan dia juga baru balik setelah insiden kecelakaan pesawat jatuh itu." "Emang beneran dia ikut di pesawat itu. Jangan-jangan dia juga berniat menipu kita," kata Hitman penuh kecurigaan. Mendengar ucapan sang Papa yang terdengar tidak mengenakkan di hatinya. Grace pun langsung mengangkat kepalanya yang sedang bersandar di pundak Hitman. "Kok Papa bilang gitu sih? Mana Mungkinlah Julian kayak gitu. Kan dia sayang banget sama aku." "Ya. Mana kita tau. Liat aja penampakannya kemarin. Saat pelantikan jadi pengganti Hartawan di perusahaan Hartawan Group. Dia tampak seger-buger aja tuh. Nggak kayak orang sakit. Apalagi abis kena musibah sebesar kecelakaan pesawat terbang." "Papa dateng di acara itu?" tanya Grace setengah tidak percaya. "Enggak dong, Sayang. Perusahaan mereka kan sekarang jadi rival bisnis Papa. Mana mungkin Papa diundang." "Bener juga. Lalu Papa tau penampilan Julian saat itu dari mana?" "Lho! Kamu lupa ya? Kan banyak karyawan Hartawan yang sudah menjadi anak buah Papa. Gimana sih? Masak gitu aja kamu lupa." "Oh, ya bener. Kenapa aku tidak kepikiran sampai disana?" ujar Grace sambil manggut-manggut tak jelas. "Nah, makanya Papa tau kalau rencana awal Julian untuk menguasainya perusahaan Hartawan sudah selesai. Jadi, apa dia akan segera melanjutkan rencananya selanjutnya, yaitu meninggalkan anak Hartawan untuk menikah dengan kamu. Bukannya itu tujuan dia menikahi Aqila. Hanya agar dia bisa mendapatkan perusahaan besar Hartawan Group untuk bisa hidup bahagia sama kamu." Sebenarnya itu adalah syarat yang harus dilakukan Julian. Jika ia benar-benar ingin bersama dengan Grace. Jadi, dulu sebelum Julian menikahi Aqila. Ia sudah menjalin hubungan asmara dengan Grace. Namun, saat Hitman tau hubungan itu dan ia juga tau kalau Julian hendak dijodohkan dengan anak dari rival bisnisnya. Makanya, secara cepat ia memiliki ide gila sekaligus tantangan untuk Julian. Dimana jika Julian berhasil merebut kekuasaan di perusahaan Hartawan. Maka dia akan memberikan izin pada Julian untuk hidup bersama Anaknya, tapi jika ia gagal. Maka, sebaiknya Julian melupakan Grace dan tidak perlu menunjukkan wajahnya lagi dihadapan Hitman Abraham. Dan karena kesungguhan hati Julian untuk mendapatkan cinta Grace dan Papanya. Ia pun segera mengiyakan permintaan Hitman yang sangat konyol itu. "Aku yakin sebentar lagi hal itu akan dia lakukan, Pa. Cuma, kali ini gantian aku yang harus sabar menunggu waktu itu terjadi. Sebab, kekuasaan Julian di perusahaan itu juga masih seumur jagung. Semua berkas pemindahan kekuasaan juga belum sepenuhnya beralih padanya. Jadi, aku rasa ini belum waktunya aku dan Julian bersenang-senang. Sebab, Hartawan masih bisa mengambil perusahaannya balik dengan mudah sekarang," jelas Grace sambil membuang pandangannya ke depan. Menerawang. "Kalau gitu desak Julian agar dia segera melakukan pemindahan aset perusahaan Hartawan atas nama dirinya. Dengan begitu semuanya akan berjalan dengan lancar." "Iya, Pa. Julian juga tau akan hal itu. Cuma dia butuh sedikit waktu untuk mengambil hati Hartawan. Supaya lelaki paruh baya itu percaya seratus persen sama dia dan mau menyerahkan perusahaannya secara legal pada Julian. Itu kan yang Papa inginkan?" "Iya, Sayang. Benar," jawab Hitman sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Ya, sudah. Papa tenang saja. Julian pasti akan segera melakukannya. Beri dia sedikit waktu untuk menyelesaikan permainan ini. Oke?" kata Grace sambil beranjak dari duduknya. Kemudian ia pun berjalan meninggalkan Hitman tanpa membawa Sling bagnya. "Kamu mau kemana, Sayang? Papa kan belum selesai bicara sama kamu!" ujar Hitman setengah berteriak. "Ke toilet. Kebelet!" jawab Grace dengan nada yang sama. Setelah kepergian sang anak Hitman pun menyunggingkan sebuah senyuman penuh kemenangan. 'Heh. Sebentar lagi kau akan hancur Hartawan,' batin Hitman Abraham. Kring. Kring. Kring. Tiba-tiba terdengar sebuah dering ponsel miliknya. Hitman pun segera membuyarkan lamunannya. Kemudian perhatiannya beralih ke ponsel yang sempat ia masukkan ke dalam saku celananya. "Bagaimana?" ujar Hitman tanpa basa-basi. Setelah ia menerima panggilan itu. "Aman, Bos. Semua beres. Operasi akan segera dilakukan malam ini," jawab lelaki di seberang sana yang terdengar berbeda dengan suara laki-laki yang sempat berbincang di telepon Hitman beberapa saat yang lalu. "Bagus. Lakukan dengan halus. Jangan sampai pergerakan kita diketahui oleh aparat yang berjaga di sana." "Siap, Bos." Tut. Lagi-lagi Hitman memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Kemudian ia pun kembali menyunggingkan sebuah senyuman licik seraya melempar pandangannya jauh ke depan sana. Di saat yang sama, sebuah klip kecil yang berada di dalam tas Anita berhasil merekam semua suara yang dibicarakan oleh Hitman sejak tadi. Sebenarnya, tanpa Grace sadari Mulin telah memasang benda itu saat mereka sedang bercinta di restoran tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN