"Jadi, bagaimana Daf? Apa loe udah dapet informasi dari pihak kepolisian?" tanya Wira saat ia berkunjung ke rumah Abimana. Ia dan Anjani memang sengaja datang ke rumah mantan majikannya itu untuk bersilaturahmi seperti biasa. Sekaligus untuk mengabarkan kegembiraan mereka karena Anjani kini tengah berbadan dua. Akhirnya setelah beberapa tahun menikah. Anjani dan Wira baru saja hendak memiliki momongan. Padahal, mereka sudah berusaha kesana-kemari untuk mendapatkannya. Namun, Tuhan baru saja memberikan kepercayaan kepada mereka berdua. Sementara, bagi Daffa dan Kinan yang belum genap setahun menikah. Mereka sudah mendapatkan hasil dua garis biru sejak satu bulan yang lalu. Jadi, umur kehamilan Kinan dan Anjani hanya terpaut usia satu bulan. Sehingga dapat dipastikan. Kelak anak-anak mereka akan lahir bersama dan bisa menjadi teman akrab selayaknya Dafa dan Wira.
"Belum, Wir. Gue juga udah nggak sabar nungguin hasil penyelidikan itu keluar. Karena, jujur aja. Gue juga penasaran banget dengan dalang di balik semua kejadian ini," jawab Daffa. Mereka yang sedang duduk di balkon rumah Utama Daffa. Tampak santai menikmati secangkir kopi ditemani kelap-kelip bintang di atas sana.
"Kira-kira siapa ya? Loe punya gambaran tentang orang itu atau orang yang mungkin menyimpan dendam sama loe atau keluarga loe?" ujar Wira lagi. Daffa terdiam sambil berpikir keras. Hingga tak lama kemudian ia pun menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kayaknya enggak deh. Gue rasa gue nggak pernah berurusan sama siapa pun akhir-akhir ini. Kecuali…." Tiba-tiba Daffa teringat sebuah kejadian yang baru saja ia lewati beberapa bulan yang lalu. Di saat ia melangsungkan pesta pernikahan dan berakhir berantakan, karena ulah Hitman Abraham. Sementara itu belum lama ini ia dan Hitman Abraham kembali bertemu di sebuah pintu restoran setelah ia selesai menemui klien baru.
Flashback.
Daffa menjabat tangan klien barunya sebagai tanda mereka sepakat hendak melakukan sebuah kerjasama. Bagi Daffa presentasi hari ini cukup nekad. Sebab, ia tau betul jika kliennya itu adalah pelanggan setia PT. Abraham Furniture Corporation. Namun, apa salahnya. Kan dia yang dikontak oleh lelaki paruh baya itu duluan. Bukannya Daffa yang berusaha untuk menemuinya dan mempengaruhi pikirannya untuk membeli produk perusahaannya. Jadi, bukan salah dia dong kalau ternyata diam-diam kliennya itu meminta untuk bertemu dan mengadakan kerjasama dengannya. Hanya saja, meskipun Daffa tau ia tidak bersalah dalam hal ini. Ia harap-harap cemas akan kepergok oleh Hitman Abraham di restoran ini. Sebab, entah mengapa hari ini semua restoran yang hendak di bookingnya sudah penuh dan hanya ada restoran ini yang notabene berada tak jauh dari perusahaan Hitman Abraham. Hal itulah yang membuat Daffa ketar-ketir. Takut tiba-tiba teman bisnisnya itu muncul dan salah paham dengan apa yang sedang ia lakukan di sana.
Daffa pun berniat melakukannya dengan secepat mungkin. Hanya saja, sejak tadi klien barunya itu terus saja berceloteh ria tentang banyak hal yang tidak lain. Rasa tak puasnya dengan produk Hitman Abraham yang memiliki barang dari bahan yang bagus tapi pengerjaan tidak maksimal. Berbeda dengan produk Daffa yang hanya menggunakan kayu-kayu jati atau mahoni tapi memiliki kualitas pengrajin yang bagus dan desain yang selalu baru. Hal itu yang membuat klien itu merasa tertarik untuk membeli barang dari perusahaan Daffa dan menghentikan pembelian di perusahaan Hitman Abraham. Bukannya senang mendengar cerita klien barunya. Daffa malah semakin tidak tenang. Sebab, ia menyimpulkan jika lelaki itu bisa saja membuat hubungan pertemanannya dengan Hitman Abraham berantakan. Bilamana Hitman mengetahui kerjasama mereka saat ini.
"Terima kasih atas kepercayaannya pada perusahaan kami. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk kepuasan kita bersama," ujar Daffa dengan tulus.
"Iya, Pak Daffa. Sama-sama. Saya pun berharap demikian," ujarnya sambil terus menjabat tangan Daffa dan menggerakkannya ke atas dan bawah beberapa kali. Daffa pun berniat ingin segera melepaskan genggaman tangan lelaki itu. Kemudian ia ingin segera pergi. Sayangnya, hal itu tak kunjung terjadi. Sebab, hingga beberapa saat berlalu klien barunya itu tak kunjung melepaskan genggaman tangannya.
"Ehms…. Kalau begitu sampai jumpa lain waktu. Saya masih ada urusan lain," ujar Daffa akhirnya. Lelaki itu pun akhirnya sadar jika mereka masih bersalaman.
"Oh, ya. Iya. Kalau begitu sampai jumpa lain waktu. Saya pun masih ada urusan lain," timpalnya seraya melepaskan tangan Daffa dari genggaman tangannya. "Kalau begitu mari kita berjalan keluar bersama. Seraya kita berbincang kecil untuk meningkatkan chemistry antar perusahaan kita," tambahnya yang membuat Daffa nyaris saja tepok jidat.
'Aduh. Kalau begini sih sama aja. Gimana kalau misalnya ntar malah Hitman ngeliat kita keluar barengan dari restoran ini. Bisa berabe deh urusannya,' batin Daffa kebingungan. Namun, ia tak punya pilihan lain. Sebab, lelaki itu sudah menarik tas kantornya lalu berdiri untuk menunggu Daffa berjalan. Akhirnya Maya tidak mau mereka pun berjalan beriringan seraya membicarakan urusan bisnis mereka. Sebenarnya, ucapan lelaki itu ada benarnya juga. Dengan perbincangan singkat itu mereka semakin akrab dan saling mengerti misi perusahaan mereka masing-masing. Daffa pun semakin tertarik dengan pembicaraan itu. Sebab, perusahaan mereka ternyata memiliki visi dan misi yang sama.
"Hahaha. Iya-iya benar. Saya pun diajarkan sejak kecil oleh Papa saya untuk melakukan hal serupa. Sebab, kejujuran adalah kunci dari sebuah kepercayaan. Bukan begitu, Pak?" ujar Daffa yang kini telah lupa dengan apa yang sejak tadi ia khawatirkan.
"Betul sekali. Wah, saya tidak menyangka akan bertemu dengan penerus Abimana yang sejak lama saya cari. Terakhir saya dengar perusahaan kamu sempat dijual oleh orang yang tidak bertanggung jawab?" tanya Klien baru Daffa.
"Iya, benar. Biasalah dia hanya orang yang salah paham dengan sikap kami. Makanya dia sampai nekat berbuat seperti itu," jawab Daffa jujur. Setelah kejadian itu mang banyak klien Daffa yang mengundurkan diri satu per satu. Sebab, mereka takut tiba-tiba Daffa akan menjual perusahaannya lagi tanpa sepengetahuan mereka. Sehingga nasib hasil kerjasama mereka pun akan menjadi taruhannya.
"Tapi, sekarang sudah aman?"
"Sudah dong. Bapak percaya saja sama saya. Saya jamin. Bapak tidak akan kecewa," ujar Daffa sambil terus berjalan. Saking asyiknya mereka ngobrol. Sampai-sampai mereka tak sadar ada dua pasang mata yang tengah mengawasi mereka dari dalam sebuah mobil mewah. Daffa yang sudah semakin dekat dengan mobilnya pun segera membuka kunci mobil itu. Tak lupa ia melambaikan tangannya ke arah lelaki tadi sebelum masuk ke dalam kendaraan kebanggaannya itu. Namun, saat Daffa hendak duduk di jok mobilnya. Matanya tak sengaja melihat mobil Hitman Abraham melintas di depannya.
"Hitman. Jangan-jangan dia liat gue sama klien tadi," gumam Daffa panik.
.
"Kecuali siapa?" tanya Wira yang langsung membuyarkan lamunan Daffa.
"Hah?" gumam Daffa yang baru sadar dari lamunannya.
"Kue bolu kukus pelangi segera datang!" ujar Kinan setengah berteriak. Di tangannya pun tampak membawa sebuah piring berisi kue yang disebutkannya tadi. Sementara di belakangnya Anjani segera menyusul dengan piring dan isi yang sama.