Bab. 24 Siapa Hero Kita

1108 Kata
Kinan membawa sepiring besar roti bolu kukus pelangi menuju ke arah balkon rumah Abimana. Dimana Wira dan Daffa sedang berbincang berdua mengenai siapa dalang yang hendak menjebak perusahaan Daffa kemarin. Namun, perbincangan mereka pun langsung terhenti saat melihat Kinan datang bersama Anjani di belakangnya. Mereka berdua masing-masing membawa sepiring besar bolu kukus pelangi yang tampak masih mengeluarkan asap. "Bolu kukus pelangi datang," ujar Kinan yang seketika itu membuat Daffa dan Wira menoleh. "Hems…. Kayaknya enak tuh," puji Daffa setelah menghirup aroma wangi makanan yang baru saja selesai di buat Kinan dan Anjani itu. "Jelas dong. Nih, dimakan." Kinan meletakkan sepiring bolu kukusnya ke atas meja yang ada di depan Daffa dan Wira. Jadi, di balkon itu terdapat satu set sofa yang digunakan untuk bersantai seraya memandangi sunrise atau pun sunset di atas taman depan dan belakang rumahnya yang cukup luas. "Lagi ngomongin apa sih? Kayaknya serius banget?" tanya Kinan seraya duduk di samping Daffa. Anjani pun segera mengikuti gerakan Kinan. Lalu ia pun duduk di samping Wira. "Iya, dari jauh aja. Kalian terlihat sedang membicarakan sesuatu hal yang sangat serius. Apa itu?" ujar Anjani ikutan kepo. "Ehms…. Membicarakan apa ya?" ujar Daffa bingung. Ia takut jika ia ceritakan kejadian kemarin bisa membuat Kinan dan juga Anjani kaget. 'Bukankah hal itu sangat berbaya,' ujar Daffa dalam hati. Ia pun sempat melirik ke arah Wira untuk meminta bantuan. Namun, Wira pun tampak bingung harus menjawabnya apa. "Ehms…. Biasa urusan bisnis. Pokoknya kalian nggak bakalan paham deh," timpal Wira seraya merangkul pundak Anjani agar wanitanya itu tak curiga lagi. "Oh, ya. Kok malah jadi didiemin sih. Ini pasti enak, kan?" ujar Daffa mengalihkan pembicaraan mereka berempat. Namun, tampaknya Anjani dan Kinan sudah tidak peduli lagi. Yang mereka inginkan hanyalah perkataan jujur tanpa adanya hal yang ditutupi keluar dari mulut sang suami masing-masing. Namun, Daffa tetap saja meraih salah satu bolu itu dan memakannya dengan lahap. "Hemms… ini enak sekali lho Wir. Cepetan deh loe cobain!" ajak Daffa agar kedua wanita di depannya bisa terkecoh. Sayangnya, Anjani dan Kinan sudah mantap ingin tau apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Makanya, dengan kompak mereka pun langsung melipat kedua tangannya di depan d**a sambil menunjukkan wajah cemberutnya. "Beneran. Sini gue cobain dulu," timpal Wira seraya mengulurkan tangannya untuk meraih benda di atas piring ovel itu. Namun, belum sempat tangannya berhasil mengambil salah satu bolu kukus. Mendadak Anjani menangkap tangannya. Tentu saja hal itu langsung membuat perhatian semua orang yang ada di tempat itu mengarah pada Anjani. "Jangan coba-coba bohongi kami. Kalian pasti mau selingkuh, kan? Setelah perut kita besar dan badan kita bengkak kayak gajah," tuduh Anjani sambil menggenggam erat tangan sang suami. "Hah? Kok jadi selingkuh sih?" ujar Wira dan Daffa berbarengan. Mereka pun saling melempar pandang satu sama lain. "Iya, emang apalagi cerita yang kalian sembunyikan dari kita?!" Nada bicara Kinan pun semakin meninggi. Karena kesal pertanyaannya tak kunjung mendapatkan jawaban. "Oke. Oke. Kami akan jelaskan semua. Tapi, kalian harus berjanji agar tidak syok mendengar berita ini apalagi sampai terus kepikiran yang berkibat fatal untuk kandungan kalian. Mengerti?" ujar Daffa dengan nada yang penuh penekanan. "Iya. Mengerti," jawab Anjani dan Kinan secara bersamaan. "Jadi begini. Kemarin ada salah satu karyawan di perusahaan Abimana yang ditembak mati oleh seseorang. Nah, si karyawan ini berdiri tepat di samping aku berdiri. Jadi kayak dilakukan oleh seorang sniper profesional gitu. Karena jika tembakan itu meleset. Bukan tidak mungkin aku yang terkena timah panas itu," cerita Daffa panjang lebar. "Apa?!" ujar Anjani dan Kinan setengah berteriak. Mereka berdua tidak menyangka akan ada kejadian sebesar itu di perusahaan Abimana yang terkenal paling terkenal dermawan dan ramah tamah dengan siapa saja itu "Kok bisa?! Tapi kamu tidak apa-apa, kan?" ujar Kinan dengan nada khawatir. Ia pun segera memeriksakan badan Daffa. Takut ada luka yang juga disembunyikan oleh lelaki itu. "Aku tidak kenapa-napa kok, Sayang. Aku sehat walafiat," timpal Daffa seraya menunjukkan tubuhnya yang tidak terluka sedikitpun itu. "Syukurlah. Tapi, kenapa ada kejadian pembunuhan di perusahaan kita? Apa kalian sudah lapor polisi? Lalu bagaimana dengan media? Kalau sampai mereka meliput perusahaan kita. Aku yakin klien kita bakal nggak percaya lagi sama kita, Daf? Padahal, beberapa tahun terakhir ini kan. Kamu sangat keras memperjuangkan mereka di perusahaan kita," cerocos Kinan. "Jadi, bagaimana kalau–" Ucapan Kinan mendadak berhenti saat jari telunjuk Daffa menempel di bibirnya. "Sebenarnya kamu pengen dengerin aku cerita nggak sih? Kalau enggak juga nggak papa nih?" "Heeh-heeh. Aku janji aku diem dan dengerin kamu ceritain semuanya," ujar Kinan sambil cepat. "Baiklah. Dengerin baik-baik ya. Jangan sampai kamu salah paham lagi. Jadi, begini. Kemarin saat aku hendak ke kantor polisi untuk mencari tau perkembangan pencarian Mulin. Salah seorang polisi memberikan sebuah surat penggeledahan gudang untuk memastikan ketidakterlibatan perusahaan kita dengan kasus ilegal logging yang terjadi di tanah hutan lindung Kalimantan dan Sumatera. Awalnya aku sangat excited. Aku yakin kalau perusahaan kita pasti akan bersih dari tuduhan itu. Sayangnya, ternyata ada seseorang yang berniat tidak baik dengan perusahaan kita. Dia meminta salah satu karyawan kita yang membelot dari perusahaan untuk menyelundupkan kayu Kalimantan itu ke dalam gudang kita." "Hah?! Kok bisa?" celetuk Anjani setelah sedari tadi hanya diam. "Iya. Jadi, orang yang berniat jahat pada perusahaan kita membayar orang dalam untuk melancarkan aksinya. Namun, entah kenapa justru operasi itu gagal. Bahkan, karyawan yang berkhianat itu sudah terikat di lantai gudang dengan semua barang bukti kejahatannya. Nah, saat si karyawan ini hampir mengakui siapa dalang dari kejahatan ini. Tiba-tiba seseorang menembak dia tepat di kening orang itu. Jelas dong dia langsung mati di tempat," lanjut Daffa mengakhiri ceritanya. "Ngeri juga ya. Tapi, kalau dipikir-pikir. Kenapa karyawan loe itu bisa ada di dalam gudang beserta barang bukti kejahatannya dan menurut kabar yang beredar. Truk-truk besar yang membawa kayu Kalimantan itu menuju ke dalam perusahaan loe. Justru salah sasaran hingga ke dalam area kantor polisi. Apa menurut loe itu nggak aneh, Daf?" tanya Wira yang langsung membuat Daffa berpikir sejenak. "Bener juga loe. Gue juga sempet mikir gitu sih. Tapi, kira-kira kenapa ya hal itu sampai terjadi?" "Kalau dilihat-lihat. Kayaknya ada seseorang yang berniat menggagalkan upaya orang jahat itu dari perusahaan elo Daf." "Iya. Persis seperti film-film action Korea yang biasa aku tonton. Jadi, kayak ada Hero di balik ini semua," timpal Anjani. "Iya juga sih. Tapi, siapa yang mau melindungi perusahaan kita?" gumam Daffa dengan kening yang berkerut sempurna. Di saat Daffa sedang berpikir keras tentang siapa kiranya orang yang sudah membantu mereka tiba-tiba Bu Jum datang dengan wajah sumringah. "Halo, semua. Ibu datang dengan membawa kabar baik. Jadi, setelah kita pikirkan matang-matang. Gimana kalau acara empat bulanan kalian dilangsungkan di ballroom hotel bintang lima. Ibu sudah mendapatkan EO yang siap membantu kita" ujarnya dengan senyum yang terus mengembang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN