Seperti yang sudah direncanakan oleh anak buah Hitman Abraham tadi. Malam ini Operasi gelap mereka segera dilakukan. Setelah mengumpulkan ratusan kubik kayu yang sudah berhasil mereka jarah dari hutan-hutan Lindung di kawasan Kalimantan. Mereka pun sudah menyiapkan puluhan kontainer yang akan mengangkut barang-barang itu menuju pelabuhan Tanjung Priok. Dengan dokumen palsu yang mengklaim isi kontainer mereka adalah batu bata serta adanya kesepakatan dengan orang dari pihak dalam. Anak buah Hitman Abraham pun merasa percaya diri muatannya akan lolos di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.
Setelah menutupi barang-barang hasil curian mereka dengan tatanan batu bata merah. Hingga tak tampak lagi isi kontainer itu yang sebenarnya. Mereka pun segera mengunci kontainer dan melakukannya ke arah pelabuhan Dwikora Pontianak. Perjalanan mereka hingga sampai ke pelabuhan Dwikora Pontianak pun berjalan dengan lancar. Semua masih berjalan seperti yang mereka rencanakan hingga puluhan kontainer itu naik ke atas kapal raksasa yang akan mengarungi Laut Jawa menuju Tanjung Priok. Merasa tugas mereka tak akan memiliki kendala seperti biasanya. Para anak buah Hitman yang ikut dalam pelayaran itu pun memilih untuk menikmati waktu itu dengan bersantai sambil minum minuman keras dan bermain kartu Remi. Mereka memang sengaja di selipkan ke dalam ABK kapal untuk memastikan barang yang mereka kirim akan sampai tujuan dengan aman.
"Hahaha. Udah. Nggak udah banyak cingcong. Lihat deh kartu yang ada di tangan gue," ujar seorang lelaki berbadan kekar dengan rambut panjang sepundak dan sedikit ikal. Ia pun tertawa puas. Karena yakin dialah pemenang dari permainan kartu itu. "Hahaha. Mau ngomong apa kalian, hah? Udah. Nggak usah banyak mikir. Lebih baik kalian sungkem aja nih sama gue. Sang Master Remi. Siapa tau ntar loe ketularan ilmu kepintaran gue. Hahaha," tambahnya menyombongkan diri. Teman-temannya yang lain pun hanya bisa berdecak sebal. Kecuali pada sosok lelaki berbadan kerempeng yang duduk di bangku paling pojok dari segerombolan orang itu.
Blak!
Si kerempeng membuang kartunya di hadapan semua pemain.
"Jangan sombong dulu loe," ujarnya pada si lelaki kekar tadi. Lalu tangannya pun langsung mengusap tumpukkan kartu itu hingga berjajar rapi seperti barisan pasukan pengibar bendera. Saat semua orang melihat gambar-gambar yang tercetak di pojokan kartu. Semua orang itu pun langsung membulatkan matanya lebar-lebar. "Hahaha." Kini giliran si kerempeng yang tertawa lepas melihat teman-temannya melongo dengan kartu-kartu yang dipegangnya. "Hahahaha. Sorry, Bro. Loe belum bisa mengalahkan gue untuk kesekian kalinya. Hahahaha." Tawanya pun semakin lebar melihat wajah si kekar semakin pucat pasi menahan malu.
"Ah. Loe lagi beruntung aja. Cepetan! Kocok lagi kartunya," kata si kekar dengan nada kesal.
"Hahahaha." Si kerempeng pun langsung meraih kartu-kartu itu dan segera mengocoknya dengan kedua tangan. Mendengar keasyikan semua anak buah Hitman Abraham. Si para ABK asli kapal itu pun hanya bisa menoleh sesaat.
"Lihat mereka. Jadi penjahat aja girang banget. Apalagi jadi pejabat," sindir salah satu ABK seraya terus menatap ke arah beberapa orang itu.
"Udahlah. Biarin aja. Yang penting kan nggak gangguin kita," timpal ABK lain.
"Iya, bener tuh. Cuma nantinya kita juga yang repot bersihin kapal yang sudah mereka berantakin," sahut lelaki yang paling dekat dengan jendela kapal.
"Udah. Ikhlas aja. Ntar juga dibalas sama Yang Maha Kuasa," ujar si ABK kedua.
Di saat mereka sedang bersantai di dalam kapal. Tanpa mereka sadari di dek belakang kapal tempat para kontainer itu berjajaran. Ada sekelompok orang keluar dari tempat persembunyian mereka. Melalui salah satu kontainer yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Sehingga tak hanya bisa diisi oleh beberapa orang itu, tapi juga bisa dibuka dari dalam.
Sebelum meninggalkan tempat itu. Salah satu diantara mereka tampak menghidupkan drone. Lalu membiarkan satu orang yang tersisa di dalam kontainer untuk mengoperasikan arah penerbangan kamera terbang yang sudah ditambah alat sensor itu. Setelah menutup kontainer itu kembali, mereka pun segera berjalan mengendap-endap untuk mencari kontainer yang digunakan oleh Hitman Abraham. Sementara satu orang lain yang mereka tinggalkan di dalam kontainer. Langsung mengoperasikan gerakan drone tadi ke beberapa tempat di atas kumpulan kontainer itu.
Ketiga orang lelaki itu pun terus berjalan dengan cepat dan juga hati-hati. Tentunya mereka tidak ingin sampai tertangkap anak buah Hitman Abraham ataupun sampai kecolongan karena kapal sudah sampai di pelabuhan tujuan. Mereka berjalan dengan penuh taktik dan perhitungan. Sementara di atas sana drone mereka terus mengitari kapal untuk mencari kontainer yang tepat berisi kayu-kayu curian itu.
"Gimana? Udah ketemu belum?" tanya Faisal lewat earpiece yang digunakan di telinga kanannya.
"Bentar, Bang. Nggak keliatan dari atas. Coba gue cari sedikit mendekat," ujar Didit yang masih berada di dalam kontainer sambil menatap layar komputer di depannya yang menunjukkan gambar hasil tangkapan drone yang dioperasikannya. "Eh, bentar-bentar, Bang. Gue udah liat ada sekumpulan orang yang ngejagain beberapa kontainer. Kayaknya itu deh kontainer yang kita cari," tambah Didit.
"Ada disebelah mana? Jangan gampang menyimpulkan. Kita harus cari kebenarannya dulu. Apakah kontainer itu yang kita cari atau bukan? Nggak lucu juga kalau kita sudah bongkar kontainer itu, tapi isinya nggak sesuai dengan apa yang kita cari."
"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Bang?" tanya Didit lagi.
"Kita harus mengecoh mereka. Agar loe bisa mengarahkan drone mendekati kontainer-kontainer itu."
"Siap, Bang." Tut. Sambungan dengan Didit pun terputus.
"Kalian udah dengar semuanya, kan?" tanya Faisal pada Mulin dan juga Andro.
"Udah, Bang," balas keduanya dengan cepat.
"Kalau gitu kita harus cari cara. Untuk menarik perhatian mereka," sahut Faisal.
"Gue punya ide, Bang," ujar Mulin cepat.
"Apa itu?" sergah Faisal.
"Ayo, ikut gue!" ajak Mulin. Mereka pun segera mengikuti langkah Mulin berlari. "Didit! Pandu kita ke lokasi mereka berkumpul sekarang!" titah Mulin seraya memencet tombol di earpiece itu.
"Siap, Bro!" timpal Didit dari tempatnya bersembunyi. Ia pun langsung mengabarkan arah mana yang harus mereka ambil untuk mendekati orang-orang itu. Maklum, kapal kontainer ini sangat besar dan dipenuhi oleh susunan kontainer yang bertumpuk-tumpuk. Jadi, mereka harus tau pasti dimana posisi pasti tujuan mereka. Sebelum mereka kehabisan tenaga untuk berputar-putar di tempat itu. Tak butuh waktu lama mereka pun bisa melihat sekumpulan orang berdiri di atas tatanan kontainer. Tak tanggung-tanggung. Mereka pun di dilengkapi dengan senjata api Laras panjang yang kalibernya 22 yang bisa menembak dari jarak jauh karena dilengkapi dengan teropong.
"Kita harus berhati-hati. Senjata mereka bukan kaleng-kaleng," pesan Faisal.
"Siap, Bang. Ayo, kita mulai pesta ini," ujar Mulin. Faisal dan Andro pun langsung mengangguk dengan kompak. Kemudian mereka bertiga langsung bergegas mendekati orang-orang itu.