Malam yang ditunggu Faisal pun tiba. Setelah mendapatkan informasi tentang tempat yang digunakan Abraham untuk melancarkan bisnis ilegalnya. Ia segera menyusun rencana untuk menggagalkan kegiatan Abraham dan berusaha untuk mengungkapkannya ke publik.
Tepat pukul sepuluh malam. Faisal dan anak buahnya tiba di lokasi.
"Ayo!" ujar Faisal memberikan komando pada anak buahnya agar segera beraksi. Mulin dan Andro hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap. Pintu mobil pun langsung dibuka lewat central lock oleh Sam. Kemudian ketiga manusia itu segera turun dari dalam mobil. Meninggalkan Sam dan Didit yang masih fokus dengan layar komputer di depannya.
Ketiga manusia itu berjalan berpencar. Sesuai dengan apa yang sudah Faisal arahkan. Sementara Didit menerbangkan dronnya untuk memantau situasinya. Mereka terus menyusupkan badan mereka melewati semak belukar yang mengelilingi tempat itu. Jika dilihat sekilas dari luar. Memang tempat itu terlihat seperti sebidang tanah yang terbengkalai. Namun, setelah berjalan lebih dalam. Ternyata lapangan itu sudah dipagari cukup tinggi dan ujung dari tembok itu terlihat ada pecahan kaca yang dipasang. Tak hanya itu, di sepanjang tembok sudah dijaga ketat oleh puluhan orang bersenjata lengkap. Sepertinya mereka sudah berjaga-jaga untuk mengamankan tempat itu. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kemarin. Tiba-tiba radio Walkie Talkie yang ada di dalam saku baju mereka pun terdengar mengeluarkan sebuah suara.
"Cek. Kelinci empat. Kelinci empat masuk. Ganti," bunyi suara yang terdengar dari benda yang besarnya satu genggam tangan itu.
"Kelinci empat diterima. Ada info apa? Ganti," balas Faisal yang masih terdengar di benda itu.
"Lokasi dijaga ketat. Ratusan penjaga disiapkan hampir di seluruh penjuru lokasi. Ganti," ujar Didit dari seberang sana.
"Baik. Kami akan berhati-hati. Ganti," balas Faisal. Akhirnya suara Didit pun menghilang. Pertanda alat komunikasinya sudah dinonaktifkan. Namun, tidak bagi Faisal, Mulin dan Andro. "Kalian berdua sudah dengar, kan? Ganti," ujar Faisal bertanya.
"Sudah, Bos," jawab Andro tegas.
"Tetap waspada dan jangan lupa jaga diri baik-baik," titah Faisal.
"Siap, Bos," jawab keduanya dengan kompak. Kemudian mereka segera melanjutkan pengintaian dari tempat persembunyian masing-masing.
Tepat pukul sebelas malam. Puluhan kontainer mulai berdatangan. Box-box raksasa itu berisi ribuan furniture yang menggunakan bahan kayu-kayu terlarang di Indonesia. Orang-orang yang menjaga pintu gerbang pun langsung memeriksa setiap supir dan kendaraan besar itu dengan sangat teliti. Sebelum mengizinkan mereka masuk ke dalam area itu.
Faisal dan kedua anak buahnya pun langsung mencari celah untuk bisa menyusup ke dalam area itu.
"Kelinci empat. Kelinci empat. Ganti," ujar Faisal kembali menghubungi Didit yang berada di dalam mobil.
"Kelinci satu. Kelinci satu masuk," timpalnya setelah menerima panggilan itu.
"Cari celah untuk kita masuk! Ganti."
"Baiklah tunggu sebentar."
Di dalam mobil Didit segera mengarahkan drone nya ke beberapa tempat. Dengan kedua matanya yang jeli. Ia terus mengawasi setiap lokasi yang ada di bawah sana. Berusaha mencari titik paling aman untuk melakukan penyusupan oleh teman-temannya. Setelah beberapa saat meneliti. Akhirnya ia menemukan satu tempat. Meskipun tempat itu tidak begitu aman. Namun, cukup memungkinkan untuk melakukan penyusupan.
"Lokasi sudah ditemukan. Ganti."
"Di bagian mana? Ganti."
"Titik cukup jauh. Sekitar dua puluh meter dari titik Mulin berdiri. Ganti."
"Berarti titik paling dekat dengan Mulin? Ganti."
"Benar sekali. Satu-satunya harapan untuk bisa membuka akses kalian. Dengan Mulin yang sudah menyelinap masuk duluan. Ganti."
"Baiklah. Gue mengerti. Ganti," timpal Mulin yang sedari tadi hanya diam. Mereka pun segera mengakhiri percakapan.
Seperti yang sudah dikatakan oleh Didit tadi. Mulin pun bergerak ke samping kiri. Ia terus berjalan mengendap-endap menuju lokasi yang sudah dibagikan oleh Didit. Sampai di sebuah titik yang sama dengan lokasi yang ditandai oleh Didit. Ia berhenti. Mulin memandang tembok di depannya dengan tinggi dua setengah meter.
'Bagaimana cara gue buat naik ke atas ya?' tanya Mulin dalam hati. Seraya terus mengawasi tempat yang memang nggak dijaga di bagian luar itu. Setelah beberapa kali menengok kiri dan kanannya. Akhirnya Mulin melihat sebuah akar menggantung di pohon beringin tak jauh dari tempatnya berdiri. Mulin pun langsung menemukan sebuah ide brilian. Ia segera meraih ujung akar pohon lalu ia bawa naik ke dahan terjauh dari tempat itu. Setelah berdiri di dahan pohon. Ia pun menggenggam ujung akar menggantung itu. Kemudian ia gunakan untuk meluncur dari tempatnya berdiri.
Bak seorang Tarzan yang ahli bergelantungan. Ia pun berusaha meraih ujung tembok dengan menjulurkan salah satu tangannya. Perkiraan Mulin pun tepat sasaran. Sayangnya….
Jleb!
Ia tak mengira kalau di ujung atas tembok itu ditancapi pecahan kaca. Tangannya pun langsung tertancap dengan sempurna di salah satu pecahan yang sangat tajam itu. Mulin terus meringis. Ingin rasanya ia menjerit menahan rasa sakit dan nyeri yang teramat sangat. Namun, ia tau jika hal itu terjadi. Maka tak hanya tangannya saja yang sakit, tapi juga sekujur tubuhnya. Bahkan, nyawanya pun bisa saja melayang karena ketahuan oleh anak buah Hitman Abraham.
Untuk itu Mulin terus berusaha menahan rasa sakitnya. Bahkan, satu tangannya yang lain ikut menahan badannya di atas tembok itu dengan memegangi pecahan kaca yang yang begitu tajam. Perlahan namun pasti Mulin mengangkat badannya naik hingga akhirnya ia bisa bermain ke atas tembok itu. Kakinya pun mencari celah yang sangat sempit agar tidiak terluka seperti kedua tangannya.
Mulin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sambil menarik tangannya yang masih tertancap di pecahan kaca itu.
"Ishhh…. Aduh," rintih Mulin sambil menahan tangannya yang semakin sakit. Kemudian Mulin pun langsung menatap ke bawah. Usaha dan pengorbanan tangannya yang terluka akan menjadi sia-sia belaka. Jika dia ia sampai terjatuh lagi ke bawah tempatnya berdiri tadi. Mulin pun segera membuat ancang-ancang. Hingga pada hitungan ketiga. Mulin segera mendarat di permukaan tanah yang berada di dalam tembok itu. Mulin segera mencari tempat sembunyi sebelum ada yang melihatnya di tempat itu.
Di tempat persembunyian itu Mulin pun langsung merobek bajunya. Untuk mengikat luka di tangannya agar darahnya tidak terus menerus mengucur keluar. Sayangnya, di dalam luka itu terdapat sebuah serpihan kaca yang masih menancap. Mulin pun meringis saat tangannya mencabut benda itu dari dalam telapak tangannya.
"Iisssh…. Aduh," rintihnya tak kuasa menahan rasa sakit. Tak di di saat yang sama salah satu anak buah Hitman sedang menyisir lokasi. Ia pun mendengar rintihan yang lolos dari bibir Mulin.
"Siapa itu?" tanyanya dengan nada yang kian meninggi. Mulin pun langsung membulatkan matanya.
'Sialan! Gue bisa ketahuan,' batin Mulin sambil terus memepetkan tubuhnya ke tembok tempat ia bersembunyi. Orang itu pun langsung berjalan mendekat. Sebab, ia pun penasaran dengan suara siapa yang didengarnya tadi.