Bab. 40 Kebahagiaan Ini Hanya Tipuan

1656 Kata
"Wow," gumam Grace takjub melihat pemandangan di sekitarnya. Sebuah Padang ilalang yang sudah lama ia impikan. Kini tampak nyata di depan mata. Grace pun langsung berlari di antara rumput-rumput liar yang menyuguhkan pemandangan cantik itu. "Grace kamu mau kemana?" tanya Mulin saat melihat Grace malah masuk ke dalam rimbunan pohon ilalang yang lebih tinggi darinya. Mulin yang tak mau terjadi apa-apa dengan gadis itu pun segera mengejarnya masuk ke dalam rerumputan liar itu. "Grace tunggu!" teriak Mulin lagi. "Ayo! Kejar aku cepetan!" balas Grace yang terdengar diantara rumput-rumput yang tumbuh dengan subur itu. "Hahahaha." Ia pun tertawa lepas melihat tingkah Mulin yang kewalahan mengejarnya. Sebenarnya sejak kecil Grace hidup seperti di dalam penjara. Meskipun semua yang dia butuhkan sudah ada di depan mata. Semua yang dia inginkan tinggal tunjuk dan para ART rumahnya akan siap sedia untuk menuruti semua kemauannya. Namun, jauh di dasar hati Grace dia ingin sebuah kebebasan. Ia ingin hidup seperti anak-anak lain. Punya teman banyak, bermain dengan bebas dan melakukan apapun sesuai keinginannya. Tetapi sayangnya, Hitman terlalu over protective. Dia yang sangat sayang pada anaknya dan tidak mau terjadi apa-apa pada sang anak. Terlalu mengekang kebebasan Grace untuk mengekspresikan dirinya. Jadwal kegiatan sampai circle pertemanan pun sudah dibatasi oleh standar-standar yang sudah Hitman tetapkan. "Grace!!! Kau dimana?!" teriak Mulin sambil terus mencari Grace yang sudah semakin berjalan ke dalam. "Aku disini Julian! Cepatlah! Cari aku!" teriak Grace. Namun, kali ini Mulin tak mau menjawab. Ia memiliki sebuah rencana yang tepat untuk menemukan gadis itu. Sedangkan Grace yang tidak mendapatkan jawaban dari Mulin pun mulai merasa cemas. "Julian! Julian aku disini! Julian!" teriak Grace mulai panik. Namun, Mulin memang sengaja tidak menjawab. Ia malah berjalan pelan-pelan menuju sumber suara. "Julian!! Kamu kemana?! Kamu nggak ninggalin aku, kan?!" teriak Grace lagi. Dia pun mulai panik. Grace berputar-putar di tempat dan bingung jalan masuknya yang mana. Akhirnya ia pun memutuskan untuk berjalan ke arah kiri. Berharap ia akan segera menemukan jalan masuknya kembali. Namun, belum sempat melangkah pergi. Mendadak tangannya langsung ditarik oleh seseorang. "Aku disini. Weeek," ujar Mulin sambil menjulurkan lidahnya. "Ih…. Kamu bikin aku jantungan deh. Aku kira kamu udah pergi," kata Grace sambil memukuli d**a bidang Mulin beberapa kali. "Hehe. Maaf deh, maaf. Aku kan cuma mau kasih surprise," kata Mulin sambil menangkap kedua tangan Grace dan menahannya segera. Akhirnya Grace pun mulai tenang setelah ia menatap mata Mulin yang begitu meneduhkan. Ia malah tersenyum lalu memeluk lelaki itu dengan erat. "Thanks ya. Kamu selalu bisa membuat aku bahagia," kata Grace sambil memeluk tubuh Mulin semakin kencang. Sebenarnya, Mulin kesulitan bernafas. Namun, dia juga maklum dengan sikap emosional Grace itu. Seperti wacana yang dibawa Faisal barusan. Grace memang tidak pernah merasakan kebahagiaan yang alami. Sejak ia kecil. Hidupnya yang bergelimang harta justru membuatnya sengsara dengan kekangan dan larangan yang macam-macam dari Hitman Abraham. "Iya. Sama-sama, Sayang." Chup! Mulin pun mengecup ujung kepala Grace. Sehingga membuat hati Grace semakin berbunga-bunga. Grace pun tersenyum bahagia. Sungguh, ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Tetapi, tak lama kemudian Mulin melepaskan pelukan Grace. "Ada apa?" tanya Grace bingung. "Ikut aku! Ada yang ingin aku tunjukkin lagi," jawab Mulin sambil meraih tangan Grace. Lalu ia pun segera menariknya ke suatu tempat. "Kita mau kemana?" tanya Grace bingung. "Udah ikut saja," timpal Mulin. Mereka berdua pun melewati padang ilalang dengan bergandengan tangan. Mungkin bagi Grace hal ini sungguh sangat membahagiakan. Namun, bagi Mulin hal ini hanyalah sebuah tipuan belaka. Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan sebuah batu besar. Mulin melepaskan genggaman tangannya. Kemudian ia pun segera naik ke atas batu itu. "Ayo, naik! Pemandangannya sangat indah!" ajak Mulin sambil mengulurkan tangannya. "Nggak ah. Nanti aku jatuh gimana?" timpal Grace sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Jangan khawatir. Kan disini ada aku. Aku yang akan menyangka kamu. Kalau kamu jatuh. Ayo!" kata Mulin menyakinkan. "Ya, udah deh," balas Grace. Ia pun meraih tangan Mulin yang segera mengangkatnya ke atas. "Lihat deh!" kata Mulin sambil menunjuk ke arah Padang ilalang Yanga ada di depan mereka. "Wow! Bagus banget!" gumam Grace takjub. Meskipun tak begitu luas, tapi padang itu memang menyajikan pemandangan yang luar biasa. "Duduk yuk!" ajak Mulin. Kemudian mereka berdua pun langsung duduk bersebelahan. "Wah, indahnya," gumam Grace. Tak henti-hentinya terpukau. Mulin menoleh ke arah Grace sesaat. 'Ini dia saat yang tepat untuk mengulik rahasia Hitman,' batin Mulin. "Sayang," panggil Mulin. "Heh. Iya," timpal Grace sambil menoleh ke arah Mulin. "Emang kamu beneran suka ya tempat ini?" tanya Mulin penuh selidik. "Iya," jawabnya mantap. "Kenapa?" tanya Mulin lagi. "Karena sejak kecil. Aku nggak pernah diizinkan untuk datang ke tempat seperti ini. Padahal, aku sangat ingin menikmati setiap pemandangan alam yang tersaji di bumi Pertiwi. Sayangnya, Papa selalu melarangku. Melarang aku naik gunung. Pergi liburan dengan teman. Pokoknya aku cuma dibolehin hidup di rumah. Kalaupun diajak keluar itu pun sama Papa. Dikawal ketat dan jauh dari orang-orang," jelas Grace sambil tersenyum kecut. Membayangkan masa kecilnya dulu. "Itu juga yang membuat kamu bercita-cita menjadi host tv acara traveling?" tanya Mulin. "Kok kamu tau sih?" "Lho? Kan kamu yang kasih tau aku dulu," kata Mulin tak mau kalah. "Oh, ya. Kapan ya? Perasaan dulu kamu sama Papa itu sama deh. Yang ada di otak kalian itu cuma. Bisnis. Bisnis. Bisnis. Jangankan ngajak aku jalan-jalan santai kayak gini. Kalau ngantar aku shopping aja ujung-ujungnya kamu ketemu sama klien. Pokoknya, kamu sama Papa tu satu frekuensi deh," ujar Grace menggebu-gebu. "Beneran?" tanya Mulin setengah tidak sadar. Dia pun tak menyangka. Jika hidup Julian ternyata lebih mengerikan daripada hidupnya dulu. 'Ya, setidaknya gue nggak searogan dan seserakah Hitman Abraham,' batin Mulin. "Iya lah. Masak kamu lupa sih?" ujar Grace yang langsung membuat Mulin tersadar. "Eh, ya nggak lupa. Cuma aku nggak merasa begitu. Kan kamu tau. Dulu aku belum kayak sekarang. Kalau sekarang aku kan udah punya semua yang aku mau. Jadi, boleh dong aku bersenang-senang sedikit," elak Mulin sambil mencolek dagu Grace dengan gemas. Grace pun langsung tersipu malu. "Ish. Kamu tuh ya. Pandai berakting tau nggak?" kata Grace yang langsung membuat mata Mulin terbelalak dan menoleh cepat. Takut Grace sudah mengetahui identitasnya yang sebenarnya. "Di depan Papa kamu jadi persis kayak dia. Tapi, ternyata dibelakangnya. Kamu bisa santai kayak gini. Kamu memang hebat," tambah Grace yang langsung membuat Mulin bisa bernafas lega. "Hahaha. Itu belum seberapa. Kalau aku udah ada niat. Aktor berkelas seperti Reza Rahadian pasti kalah," timpal Mulin dengan bangganya. "Masak sih?" ujar Grace setengah tidak percaya. "Hahaha. Lihat nanti. Kamu pasti kaget," ujar Mulin dengan nada menantang. "Oke. Kita liat saja nanti. Seberapa hebat kamu," balas Grace. "Heh." Mulin pun hanya tersenyum sekilas. Sejenak keduanya pun terdiam. "Sebenarnya kamu dan Papa kamu itu seberapa dekat sih?" tanya Mulin mulai mengorek informasi. "Sangat dekatlah. Semua yang aku alami. Papa tau. Begitu pula sebaliknya. Kita nggak pernah menyembunyikan sesuatu. Sebab, bagi kami membohongi satu sama lain adalah hal yang sangat menyakiti satu sama lain," ujar Grace sambil melempar pandangannya ke arah lautan ilalang di depan sana. Mulin menatap Grace dengan tatapan iba. 'Andai loe tau seperti apa bokap loe? Dan seberapa banyak kebohongannya? Loe pasti akan sakit hati banget,' batin Mulin. Grace pun menoleh. "Kenapa?" tanyanya. "Enggak." Mulin menjawab cepat sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku cuma salut aja sama kamu dan Papa kamu. Kalian keliatan kompak banget. Oh, ya. Kalau masalah bisnis Papamu. Apa kamu beneran nggak tertarik? Seperti kata Aqila kemarin?" "Yah. Sebenarnya sih aku malas bahas ini. Tapi, karena kamu yang tanya. Ya, udah aku jelasin." "Eh, kalau emang berat buat kamu. Mending nggak usah deh." Mulin pura-pura tidak tertarik. "Nggak papa kok. Santai saja. Bukan sesuatu yang rahasia juga. Jadi, seperti yang kamu tau. Aku emang nggak suka dunia bisnis. Apalagi bisnis yang Papa pegang itu termasuk besar dan sangat merepotkan. Tapi, aku nggak punya pilihan lain. Aku adalah anak satu-satunya Papa. Jadi, mau tidak mau dan suka tidak suka. Aku harus mau belajar bisnis Papa agar kelak bisa mewarisinya. Meskipun dalam hati aku merasa sangat terpaksa." Grace menghela nafas cukup panjang. Seakan ceritanya akan lebih panjang. "Aku belajar pelan-pelan untuk bisa mengerti bisnis Papa. Meskipun sampai sekarang masih banyak yang belum aku mengerti. Karena aku bener-bener tidak menyukai hal ini. Namun, sedikit banyak aku bisa tau bagaimana cara kerja perusahaan Papa. Mulai dari barang mentah yang datang dari Kalimantan. Kemudian ditimbun di gudang-gudang produksi. Kemudian masuk ke perusahaan sebagai barang jadi. Lalu diekspor keluar negeri. Yah, setidaknya hanya itu yang aku pahami." Grace menoleh ke arah Mulin sambil tersenyum. "Berarti kamu juga tau. Kapan produk-produk itu mulai dikeluarkan dari gudang perusahaan?" "Tau. Karena kami lebih memilih menggunakan air freight. Jadi, kami lebih memilih waktu malam hari. Nggak terlalu panaskan. Jadi, enak gitu kalau mau memuat barang-barang," ujar Grace. 'Heh. Sebenarnya itu barang ilegal. Makanya perusahaan loe milih jalur udara dan malam hari,' batin Mulin. Semakin kasihan pada Grace yang ternyata banyak sekali dibohongi oleh Papanya. "Oh, ya. Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Grace tiba-tiba curiga. "Ehms…. Gini aku udah denger sih. Kalau perusahaan Papa kamu emang pakai jasa Air Freight untuk angkut barang keluar negeri. Makanya, setelah aku kalkulasikan. Ternyata memang lebih menguntungkan gitu kan, dan pengangkutan malam juga lebih hemat beberapa persen dibandingkan kalau kita angkut barang siang. Makanya, aku kayak kepikiran untuk ngikutin jejak Papa kamu. Cuma aku belum ketemu sama perusahaan Jasa Pengiriman Kargo yang tepat," pancing Mulin. "Ya, udah. Kamu pakai Jasa partner Papaku aja. Pemiliknya friendly kok. Kalian pasti cocok." "Nah, itu dia. Tapi, aku juga harus mempertimbangkan tempat keberangkatannya? Biar sesuai dengan budget perusahaan. Kan nggak mungkin juga aku ngeluarin banyak modal untuk sampai ke tujuan pengangkutan." "Ah, Deket kok. Biasanya kita angkut di lapangan basket Cendrawasih." "Lapangan basket Cendrawasih? Bukannya itu sudah nggak kepakai ya?" "Maka dari itu. Daripada tempat sebagus dan sestrategis itu dibiarkan nganggur. Papa beli tempat itu untuk pengembangan usahanya," kata Grace dengan polos. "Oh, gitu," jawab Mulin sambil manggut-manggut tanda mengerti. 'Yes! Semua informasi yang dibutuhkan sudah gue rekam,' batin Mulin sambil memencet tombol pause di alat perekam suara yang disembunyikan di dalam saku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN