"Masuk!" kata Mulin pada orang itu. Tak lama berselang orang itu pun langsung membuka pintu ruangan Mulin.
"Selamat siang, Pak!" ujar lelaki itu yang ternyata adalah Faisal. Mendadak Mulin pun langsung membulatkan matanya melihat sosok sang Bos ada disana. Namun, ia berusaha tenang dan tidak bersikap mencurigakan di hadapan Grace. Makanya, dengan grogi Mulin pun mempersilahkan lelaki itu untuk duduk.
"Iy… iya. Silahkan duduk," ujar Mulin sedikit terbata.
"Terima kasih," ujar Faisal. Kemudian ia pun berjalan mendekat dan langsung duduk di samping Grace. Wajah Grace pun tampak tak suka melihat kedatangan lelaki tua yang tampak seperti karyawan biasa itu. Sehingga membuat kesenangannya dengan sang pacar terganggu. "Ini berkas yang harus Bapak tanda tangani!" kata Faisal sambil menyodorkan sebuah berkas dalam map kuning. Mulin pun masih bingung dengan apa sebenarnya yang direncanakan oleh Faisal. Namun, ia tak mau memperlihatkan kebohongannya di depan Grace. Makanya, dengan tampang santai Mulin meraih berkas itu.
"Oke," balasnya. Mulin meraih berkas itu lalu membukanya dengan sedikit terangkat. Ternyata isi dari berkas itu ada beberapa keinginan Grace yang selama ini tak berani ia bicarakan pada siapapun. Termasuk Papanya. Sehingga Faisal meminta Mulin mewujudkan keinginan Grace. Seraya mencari informasi lebih dalam mengenai produk ilegal Hitman Abraham yang hendak keluar melalui jalur udara.
"Oh, oke-oke. Baiklah. Saya memutuskan untuk setuju," ujar Mulin sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Faisal. "Kalau begitu saya tanda tangani semua berkas ini ya!" kata Mulin cukup norak. Sebab, seorang CEO seperti dia tak perlu banyak bicara untuk menentukan pilihannya. Dan seperti layaknya seorang pemimpin perusahaan di Drama-drama Korea, seharusnya Mulin cukup bertindak angkuh pada Faisal. Meskipun, ia juga hanya pura-pura menjadi karyawannya. "Ini dia berkasnya!" kata Mulin sambil menyerahkan berkas yang sudah ditandatangani sesuai bentuk coretan tangan milik Julian.
"Terima kasih," balas Faisal sambil meraih berkas itu lagi. "Kalau begitu saya permisi dulu," tambah Faisal sambil berdiri dari duduknya.
"Iya. Silahkan!" balas Mulin.
Sepeninggal Faisal, Grace tertawa kecil melihat sikap terlalu ramah Mulin tadi pada orang yang dianggapnya hanya karyawan biasa.
"Kamu kenapa?" tanya Mulin bingung. Melihat sikap Grace yang malah menertawakannya.
"Hahaha. Kamu lucu deh. Polos banget sih jadi CEO. Kamu terlalu baik tau nggak sama dia. Harusnya kamu tunjukkin wajah seram kamu. Biar para karyawan pada tunduk," celoteh Grace sambil berusaha menahan tawa gelinya.
"Hehe." Mulin hanya terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Maklum, aku kan dulu karyawan. Asal kamu tau ya. Menghadap pemimpin kayak gitu tuh harus mengumpulkan nyali besar dulu. Walaupun dia menghadap bukan untuk main-main. Kalau buat aku sih. Nggak suka aja sok galak di hadapan mereka. Toh, kita juga nggak bisa jalanin perusahaan ini sendiri tanpa adanya mereka. Iya, kan?" ujar Mulin ngeles. Namun, hal itu justru membuat Grace semakin tertarik padanya.
"Ehms…. Sayang. Sayang jadi tambah sayang deh sama sayang," ujar Grace dengan logat manjanya yang dulu.
"Eits! Bukannya kemarin kamu udah janji. Buat ganti panggilan itu. Lagian emang kamu nggak merasa ribet. Mengulangi kata yang sama hanya untuk menggantikan kata aku dan kamu. Aku udah bilang, kan? Sekarang aku udah semakin sibuk dengan urusan kantor. Jadi, kalau mau sedetail itu cuma untuk memikirkan kata ganti aku dan kamu. Rasanya hal itu akan menguras tenaga dan pikiran aku deh. Jadi, nggak fokus jatuhnya. Apalagi saat aku sedang mikirin kamu. Kan ribet jadinya kalau sayang mikirin sayang," oceh Mulin panjang lebar. Namun, hal itu justru membuat Grace yang sudah lebih bucin padanya ketimbang pada Julian dulu. Hanya bisa mengangguk mantap.
"Iya, deh. Sayang ngerti. Eh, aku ngerti kok. Kalau kamu itu masih suka sakit kepala kalau terlalu stres."
"Nah, itu juga akibatnya." Mulin pun beranjak lalu duduk sudut meja dekat Grace duduk. "Selain itu, tanpa kita ulang ucapan sayang. Aku akan selalu sayang sama kamu kok. Nggak peduli seberapa lama kita akan terus begini," ujar Mulin mengeluarkan jurus gombalannya. Tak lupa ia meraih tangan Grace kemudian ia kecup punggung tangan Grace yang halus dan wangi.
"Ehms…. So sweet," gumam Grace terpesona. Dulu sikap Julian memang tak semanis ini. Makanya baik Grace ataupun Aqila semua langsung pada bucin sama Mulin. Karena, dia tau bagaimana cara menyenangkan hati perempuannya.
"Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat," ujar Mulin lirih.
"Kemana?" tanya Grace cepat. Matanya pun terus berbinar-binar.
"Pokoknya aku jamin kamu pasti suka," jawab Mulin mantap.
"Oh, ya? Benarkah?" timpal Grace penuh semangat.
"Heeh. Makanya! Ayo! Kita berangkat sekarang!" ajak Mulin.
"Heeh." Grace mengangguk mantap kemudian ia pun segera berdiri dengan penuh semangat.
Mereka berdua pun keluar sambil bergandengan tangan tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Meskipun banyak yang sudah tau hubungan terlarang mereka dan banyak yang merasa iba dengan Aqila yang hanya dimanfaatkan oleh Julian. Namun, mereka tidak ada yang berani untuk mengungkapkan kejadian itu pada Hartawan. Padahal, Mulin ingin Aqila ataupun Papanya segera tau. Tindakan yang dilakukan oleh Julian di belakang mereka berdua. Tentunya tanpa ia yang memberitahu. Karena posisinya pun serba salah sekarang. Dia merasa kasihan dengan Aqila dan keluarganya. Namun, ia tak bisa berbuat banyak demi melindungi keluarga itu dari serangan Hitman dan juga demi melindungi keluarga Abimana dari musuh yang sama. Makanya, Mulin tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti skenario yang sudah Faisal tentukan.
'Andai gue bisa memilih. Gue hanya ingin hidup tenang bareng Anita. Menjalani kehidupan selayaknya orang-orang biasa dan membina keluarga kecil yang bahagia,' batin Mulin sambil berjalan menuju lift. Sesekali ia melempar senyum pada Grace yang terus menggandeng tangannya dengan erat.
Mulin segera memencet tombol buka di lift itu dan tak berselang lama pintu pun terbuka lebar. Mereka segera masuk ke dalam ruangan sempit itu. Sebelum pintu itu kembali tertutup. Lagi-lagi Mulin yang memencet tombol lift. Agar benda itu berjalan turun ke lantai dasar. Sementara sejak tadi, Grace hanya bisa mengelendot manja di lengan Mulin. Ia pun terus tersenyum sambil menjatuhkan kepalanya di atas pundak Mulin. Sementara itu Mulin mempererat genggaman tangannya. Lalu mengecup punggung tangan Aqila dengan mesra. Hati Aqila pun semakin terbang tinggi diperlakukan seperti itu.
Pintu pun akhirnya terbuka di lantai dasar. Mereka berdua segera berlalu dengan senyum yang terus mengembang di wajah keduanya. Tak tampak raut wajah malu sedikit pun di wajah mereka berdua. Karena Grace sangat yakin tidak ada yang berani melaporkannya ke keluarga Aqila meskipun ia datang dan pergi sesuka hati di perusahaan ini.
Sampai di parkiran mereka segera masuk ke dalam mobil. Mulin segera melajukan mobil itu dengan kecepatan konstan menuju sebuah tempat yang sudah di share located oleh Faisal. Jadi, dia hanya mengikuti arahannya saja.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Grace Mai penasaran.
"Hahaha. Nanti juga kamu tau. Dan disaat kamu tau. Kamu akan sangat bahagia," kata Mulin dengan senyum yang terus mengembang.
"Ih…. Kamu gitu deh. Bikin aku tambah penasaran aja," balas Grace.
"Hahaha. Aku janji kamu nggak akan nyesel aku ajak ke tempat ini," ujar Mulin. Kemudian…. Chup! Ia kemudian mencium punggung tangan Grace dengan penuh perasaan. Grace pun kembali tersipu malu.
Tak terasa waktu sudah tiga puluh menit berlalu. Grace dan Mulin pun hampir sampai di tempat yang akan dituju mereka. Mulin pun menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.
"Kita sudah sampai?" tanya Grace sambil celingukan ke kiri dan kanan memandangi daerah sekitar yang hanya terdapat jalanan sepi dengan semak belukar di pinggir kedua sisi jalan. "Ngapain kamu ajak aku kesini?" tanya Grace semakin bingung. Hingga saat ia memutar kepalanya. Tiba-tiba Mulin sudah menggenggam sebuah kain cukup panjang. "Kamu mau ngapain?" tanya Grace semakin ketakutan. Bahkan, seketika ia langsung meringkukkan tubuhnya di pintu mobil.
"Hahaha. Kamu ini mikirin apa sih? Aku cuma mau mengikat kain ini untuk menutupi mata kamu. Ini bukan tujuan kita. Tapi, tempat itu sudah dekat dari sini."
"Tapi, ngapain kamu pakai tali segala?"
"Ini bukan tali, Sayang. Ini cuma kain untuk nutupi mata kamu. Sini gih maju. Biar surprise gitu."
"Beneran, kan?"
"Iya, dong. Untuk apa juga sih aku bohong," kata Mulin dengan senyum yang terus mengembang. "Ayo, sini!" pinta Mulin. Akhirnya Grace pun memajukan wajahnya. Sehingga Mulin bisa mengikat kain itu menutupi mata Grace. "Kamu sudah siap?" tanya Marvel.
"Iya," jawab Grace sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap. Setelah itu Mulin pun segera keluar dari mobilnya. Kemudian ia mengarahkan Grace untuk mengikuti langkahnya. Dalam kegelapan Grace merasa ia sedang berjalan diantara semak-semak yang cukup tinggi, tapi membelainya dengan lembut.
"Dimana ini?" tanya Grace.
"Sebentar lagi juga kamu tau," balas Mulin. Hingga tak lama kemudian Mulin pun menghentikan langkahnya. "Kamu sudah siap?" tanya lelaki itu dengan lembut.
"Heeh," jawab Grace sambil mengangguk mantap.
"Dalam hitungan ketiga aku buka matanya ya. Satu…. Dua…. Tiga!" tepat di hitungan ketiga Mulin membuka penutup mata Grace.
"Wow," gumam Grace takjub melihat pemandangan di sekitarnya.