Tak sampai dua puluh menit kemudian mobil Aqila sudah sampai di kantornya. Ia segera turun dari mobil lalu berjalan masuk menuju ruang kerja Julian. Jantungnya berdegup kencang sambil terus melangkah mendekati ruang kerja sang suami. Hingga saat tangannya sampai meraih gagang pintu ruangan itu. Aqila langsung membukanya dengan cepat. Dan seketika matanya membulat sempurna.
"Grace?" ujar Aqila cukup keras. Grace dan Mulin pun langsung menoleh. Tetapi, untungnya Mulin teringat dengan janjinya pada Faisal semalam. Bila dia tak akan mengunjungi Anita ataupun Abimana lagi. Sehingga Mulin pun segera mengambil jalan pintas untuk segera sampai di kantor ini. Di depan kantor ia malah bertemu Grace yang hendak menghubunginya. Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan Julian. Namun, tak berapa lama Julian mendapatkan kabar dari Faisal. Jika Aqila sedang menuju kantornya. Belum sempat masuk tiba-tiba ponsel Mulin kembali berdering.
Flashback.
"Sebentar," kata Mulin pada Grace yang sudah menggandeng tangannya. Mulin pun kembali meraih ponselnya. Lalu ia menerima panggilan dari Security rumahnya.
"Halo, Ada apa, Pak?" tanya Mulin.
"Halo, Tuan Julian. Nyonya kabur dengan menggunakan mobil, Tuan. Kita sudah berusaha mencegah tapi Nyonya lolos," kata si Security.
"Jangan khawatir. Dia ada disini sekarang," jawab Mulin.
"Benarkah, Tuan?"
"Iya. Makanya kalian jangan khawatir. Datang saja segera kesini dan jemput dia pulang," titah Mulin.
"Baik, Tuan," timpal Security rumah Aqila sebelum Mulin menutup teleponnya.
"Ada apa?" tanya Grace penasaran.
"Si Aqila ngikutin gue. Dan sekarang dia sedang menuju kesini."
"Ya, udah. Gue sembunyi aja dulu."
"Ngapain harus sembunyi sih. Kita hadapi saja berdua," kata Mulin sambil merangkul pundak Grace.
"Beneran? Kamu sudah siap sekarang?" tanya Aqila dengan mata berbinar-binar. Namun, Mulin tak membalasnya. Ia hanya tersenyum sekilas sambil mengajak wanita itu masuk ke dalam gedung pencakar langit itu.
Tak lama kemudian Aqila benar-benar sampai di ruangan Mulin, tapi mereka sudah mensetting pertemuan mereka. Sehingga, sekarang kedua orang itu pun tak tampak mencurigakan. Mereka duduk berhadapan dengan sebuah berkas yang membuka di atas meja. Hanya saja, Aqila sempat terkejut melihat sahabatnya itu tiba-tiba ada di kantor sang suami. Di saat ia tengah membuntutinya.
.
"Aqila," ujar kedua orang itu pura-pura kaget. Mulin pun langsung berdiri.
"Sayang. Tumben kamu ada disini?" tanya Mulin sambil beranjak dari duduknya. Aqila pun seakan tersadar akan sesuatu.
'Heh. Nggak mungkin lelaki yang sangat mencintai aku ini akan berkhianat di belakangku,' batin Aqila. Kemudian ia pun tersenyum.
"Nggak. Tadi aku lagi jalan-jalan di sekitar sini. Jadi, aku putuskan untuk mampir sebentar," jawab Aqila berbohong.
"Kamu… sendirian?" tanya Mulin sambil celingukan di belakang Aqila. Dia pun tak menemukan siapa-siapa di sana.
"Iy… iya," balas Aqila setelah beberapa saat.
"Kenapa kamu pergi sendiri? Memang Mbak Winarti kemana?" cerca Mulin.
"Mbak Winarti ada di bawah. Aku hanya ingin melihatmu sebentar. Jadi, aku minta dia menunggu saja di mobil," kata Aqila kembali berbohong. Mulin yang lebih pandai soal tipu menipu pun tau kalau apa yang diucapkan Aqila tidak benar. Namun, ia tak mau mempermasalahkan hal itu. Sehingga Mulin pun hanya tersenyum sekilas.
"Baiklah. Kamu sekarang sudah ada disini. Jadi, ayo duduk dulu! Kebetulan disini juga ada Grace. Dia sedang berkonsultasi beberapa hal untuk kemajuan bisnis Papanya yang berniat bermitra dengan perusahaan kita," jelas Mulin juga berbohong.
"Oh, begitu," ujar Aqila canggung.
"Ayo, Aqila sini! Loe pasti seneng deh denger perkembangan bisnis Papa loe dibawah kendali Julian. Dia benar-benar mahir menjalankan bisnis ini," puji Grace selangit. Sambil menatap ke arah Aqila dari kursinya.
"Heh? Sejak kapan loe jadi tertarik dengan bisnis Papa loe? Bukankah selama ini loe selalu menghindar tiap kali Papa loe ngomongin bisnisnya?" sindir Aqila sambil tersenyum mengejek.
"Hehe. Sejak gue sadar kalau bokap gue sudah semakin tua. Jadi, gue pengen mengabdikan diri sama dia sebelum akhir hayatnya. Hehe," jawab Grace sambil nyengir kuda.
"Heh. Jangan cuma bisnisnya yang dipikirkan. Jodoh loe juga dipikirkan. Biar Bokap loe nggak jantungan liat anak gadisnya yang cantik. Kelamaan melajang," sindir Aqila lagi. Grace membalas dengan senyum tak kalah sinis.
"Sebenarnya gue udah dapet jodoh gue. Tapi, sedang gue pinjemin ke orang lain," timpal Grace sambil melirik ke arah Mulin. Diam-diam Mulin pun membalas senyuman licik juga ke arah Grace. Tanpa sepengetahuan Aqila tentunya.
"Oh, iya. Siapa?" tanya Aqila mulai kepo.
"Ada deh. Ntar juga loe tau."
"Heh. Oke. Gue tunggu tanggal mainnya," kata Aqila polos. "Kalau begitu aku pulang dulu ya. Kasihan Mbak Winarti yang masih menunggu di bawah."
"Lho? Kenapa cepet banget? Kan kamu bisa menemani aku disini."
"Kamu kan lagi bekerja. Nanti aku malah gangguin kamu lagi."
"Enggaklah. Nggak mungkin. Justru aku makin semangat," timpal Mulin yang langsung mendapat pelototan dari Grace. Seakan menolak ucapan Mulin barusan.
"Enggaklah. Kapan-kapan saja deh. Aku juga nggak pakai pakaian yang pantas. Aku pulang dulu ya, Mas," pamit Aqila.
"Iya, Sayang. Hati-hati ya di jalan." Chup! Mulin mencium ujung kepala Aqila yang membuat Grace semakin cemburu.
"Iya. Terima kasih," ujar Aqila kemudian ia pun segera meninggalkan tempat itu. Setelah Aqila benar-benar pergi Mulin berjalan mendekati Grace lagi. Ia pun langsung berjalan mendekat sambil tersenyum manis. Grace langsung membuang wajahnya saat Mulin datang dan memeluk tubuh Grace dari belakang.
"Ish. Apaan sih kamu? Pakai cium-cium dia segala. Di depan wajahku lagi. Kamu nggak sayang lagi sama aku ya?" protes Grace sambil memanyunkan bibirnya.
"Aduh, Sayang. Jangan manyun begitu dong. Jadi nggak cantik lagi, kan? Tadi, itu aku cuma pura-pura. Biar keliatan real aja dipandang Aqila. Kalau ini baru ciuman aku yang sebenarnya," kata Mulin lalu ia pun langsung mencium bibir Grace dengan penuh gelora. Awalnya Grace tak membalasnya. Namun, beberapa menit kemudian Grace pun aktif larut dalam adu bibir itu. Beberapa saat kemudian mereka pun melepaskan bibir masing-masing.
"Gimana? Masih marah dengan yang pura-pura tadi?" ujar Mulin menyakinkan. Grace pun tersipu malu. Kemudian tangannya meraih tengkuk Mulin lagi untuk meminta kecupan hangat lelaki itu. Mulin yang mulai tergoda pun menggunakan tangan nakalnya untuk menerobos masuk ke dalam dress ketat yang dipakai Grace. Kedua tangan kekar itu pun menggenggam sebongkah daging hangat yang semakin memacu adrenalinnya. Saat mereka sedang asyik b******u. Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan itu diketuk dari luar.
Tok. Tok. Tok.
Mulin dan Grace langsung menjauhkan diri mereka masing-masing. Lalu mereka berdua pun segera merapikan pakaian mereka berdua.
Tok. Tok. Tok.
Pintu kembali berbunyi hingga akhirnya membuat mereka berdua semakin panik. Tak lama kemudian Mulin dan Grace pun sudah kembali rapi. Setelah melihat keadaan yang memungkinkan untuk bertemu dengan sosok yang mengetuk pintu tadi. Mulin segera duduk di kursi kekuasaannya sambil bersikap seperti biasa.
"Masuk!" kata Mulin pada orang itu. Tak lama berselang orang itu pun langsung membuka pintu ruangan Mulin.
"Selamat siang, Pak!" ujar lelaki itu yang ternyata adalah Faisal. Mendadak Mulin pun langsung membulatkan matanya melihat sosok sang Bos ada disana.