Bab. 33 Mungkinkah Ini Takdir?

1052 Kata
Tok. Tok. Tok. Aqila pun langsung menoleh lalu membuka kaca film mobil di sampingnya. "Tolong! Tolong saya! Saya sedang dikejar seseorang!" ujar Anita dengan wajah yang terlihat panik. "Ya, sudah. Ayo naik!" ujar Aqila. Ia pun segera menekan central lock agar gadis asing itu bisa masuk ke dalam jok belakang mobilnya. Tanpa membuang waktu lebih lama yang hanya akan membuat Nando melihatnya. Cepat-cepat Anita masuk ke dalam mobil itu dan segera menutupnya. Benar saja beberapa detik kemudian Nando datang dan celingukan mencari Anita. "Kemana di Anita? Larinya ceper banget," gumam lelaki itu sambil terus celingukan. Flashback. Setelah pelayan selesai mengantarkan pesanan Nando dan Anita. Meja mereka pun langsung dipenuhi dengan makanan. Gluk! Anita hanya menelan ludahnya sendiri sambil menatap makanan yang tampak enak itu. Bukan karena dia tak sabar untuk menyantapnya. Melainkan ia berpikir berapa lama Nando akan menghabiskan semua makanan itu. "Anita!" panggil Nando sambil memegang punggung tangan Anita. Tentu saja hal itu membuat Anita terkejut dan membuyarkan lamunannya. "Iya," balas Anita sambil mengalihkan perhatiannya ke arah wajah Nando. "Ada apa? Ayo, kita makan!" "Nando. Sebenarnya aku sedikit bingung dengan semua makanan ini. Apa kamu bisa menghabiskannya dalam waktu singkat?" tanya Anita to the point. "Heh." Nando malah tersenyum sekilas. "Emang siapa bilang kalau aku mau memakan semua makanan ini sendirian?" "Maksudmu?" tanya Anita dengan raut wajah yang tampak semakin bingung. "Ya-iya. Kita akan makan semua makanan ini bersama. Bukankah ini hal yang sangat menyenangkan?" Anita tak langsung menjawab. Ia malah memalingkan wajahnya sekilas sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Nando. Aku sudah bilang, kan? Aku terus kepikiran pekerjaanku di rutan. Bagaimana jika ternyata ada orang yang membutuhkan bantuan." "Jika memang itu terjadi. Seseorang akan menelpon Dokter Yuni atau membawanya langsung ke rumah sakit. Kamu kan tau kalau kita keluar sudah izin untuk mengobati alergimu yang kambuh karena coklat itu. Jadi, mereka nggak akan gangguin kita. Meskipun kita tidak langsung kembali ke rutan sekarang." "Tap… tapi, Nan–" Nando kembali memotong kalimat Anita. "Please, Anita. Kali ini saja. Sedikit bersantailah. Jangan terlalu fokus pada pekerjaanmu." Akhirnya Anita tak mampu membalasnya lagi. Wanita itu pun hanya terdiam sambil menundukkan pandangannya. 'Rasanya baru saja beberapa menit yang lalu dia berjanji tidak akan memaksaku. Tapi, apa? Sekarang dia malah kembali memintaku melakukan apa yang dia inginkan,' batin Anita kesal. "Ayo, makan!" kata Nando sambil menunjukkan potongan capit kepiting yang baru saja dipotongnya menggunakan gunting khusus. Anita pun perlahan menggerakkan tangannya. Kemudian ia segera meraih sendok yang ada di atas piring makanan yang ia pesan. Pelan-pelan Anita menyendok isinya dan memasukkan ke dalam mulut. Masih dengan tidak bersemangat. Ia mengunyah makanan itu beberapa kali. Sambil terus memikirkan pekerjaan yang ditinggalkannya di rutan. Beberapa saat kemudian Anita benar-benar sudah tidak tahan lagi. Ia pun segera mencari ide agar bisa segera pergi dari tempat itu. Akhirnya Anita pun mendapatkan sebuah ide. Ia segera meletakkan kedua sendok di tangannya. "Nando. Aku ke toilet bentar ya," pamit Anita. Nando yang sedang menikmati makanannya pun tak mau mengangkat kepalanya. "Iya,'' balas Nando sambil terus memakan isi piringnya yang berukuran besar. Anita pun beranjak secara perlahan dengan tatapan mata terus menatap Nando yang tak henti memakan makanannya itu. Anita berjalan menjauh dengan tatapan mata yang tak lepas dari sosok rekan kerjanya itu. Anita terus berjalan meskipun langkahnya tidak mengarah pada toilet melainkan pintu keluar. Saat ia hampir sampai pintu itu. Tanpa sengaja Anita malah menabrak seseorang. Bruk! "Aw!" pekik wanita itu cukup keras. Hingga menarik perhatian seluruh pengunjung yang datang. Tak terkecuali pada Nando. Anita pun membulatkan matanya saat matanya bertemu pandang dengan Nando. "Maaf-maaf. Saya tidak sengaja," kata Anita. Kemudian ia pun segera kabur dari tempat itu. "Anita!!!" panggil Nando. Ia pun langsung beranjak dan berlari mengejar Anita. Anita terus berlari tanpa arah yang jelas. Namun, akhirnya ia malah sampai di tempat parkir. "Anita tunggu!!" teriak Nando sambil terus mengejarnya. Anita yang sudah merasa kecapekan pun berhenti sejenak. Kemudian sambil menghela nafas ia menatap mobil yang kini berhadapan dengannya. Anita pun memiliki rencana. Ia segera berlari mendekat lalu mengetuk pintu mobil itu. Tok. Tok. Tok. Tak lama kemudian seseorang di dalam mobil itu pun segera membuka. "Tolong! Tolong saya! Saya sedang dikejar seseorang," ujar Anita. "Ya, sudah. Ayo naik!" Anita segera naik ke dalam mobil itu. Dan sedetik kemudian Nando datang. . "Tuan! Tunggu Tuan!" panggil seorang pelayan yang berlari mengejar Nando. Mendengar namanya dipanggil Nando pun langsung tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan menatap sosok wanita muda yang tergopoh-gopoh mendekatinya. "Ada apa?" tanya Nando innocent. "Jangan pergi! Anda belum membayar billnya," ujar si wanita tadi sambil menunjukkan sebuah bill. "Simpan dulu billnya. Sama masih ingin melanjutkan makanannya," balas Nando. Sambil sesekali celingukan ke sekitar tempat itu. Nando pun akhirnya berjalan masuk kembali ke dalam restoran. Di dalam mobil itu Anita bernafas lega melihat kepergian Nando. Aqila yang duduk di jok depan pun terus menatap wajah Anita dari pantulan kaca spion yang menggantung di depannya dengan kening yang berkerut sempurna. "Hei! Bukannya kamu ini seorang Dokter?" tanya Aqila teringat pada foto yang tadi ia lihat di layar komputer sang suami. "Iya. Dari mana kami tau?" tanya Anita balik. "Aku pernah melihat kamu di suatu tempat," balas Aqila tak mau jujur. Lima menit kemudian Mulin pun berjalan mendekati mobil yang di parkirannya sembarangan bersama seorang juru parkir tempat itu. "Kalau begitu Bapak maju saja sampai tiang itu," kata si petugas parkir pada Mulin. Ia memang sudah mencarikan tempat parkir untuk mobil Mulin setelah menunggu salah satu mobil pelanggan meninggalkan tempat itu. "Baiklah!" jawab Mulin. Ia pun segera masuk ke dalam mobil itu dan menemukan Aqila masih menghadap ke belakang. "Ada apa?" tanya Mulin sambil menoleh ke belakang. Namun, ia tidak menemukan siapa-siapa di sana. "Oh, tidak ada. Tadi aku hanya bertemu teman baru," jawab Aqila dengan senyum yang bahagia. "Oh, ya?" ujar Mulin sambil menghidupkan mesin mobilnya. Keningnya pun berkerut seketika mendengar jawaban dari Aqila. "Bukankah aku sudah sering bilang. Kalau kamu jangan terlalu dekat dengan orang yang belum kamu kenal benar-benar." "Iya. Tapi, kali ini berbeda. Aku yakin kamu pun akan suka. Kalau aku berteman dengannya." Aqila menjawab tanpa melunturkan senyumannya. Mulin melirik ke arah wanita itu sekilas. "Benarkah? Memang siapa namanya? Apa kalian sudah berkenalan?" tanya Mulin mulai penasaran. Sementara tangannya mulai menggerakkan mesin mobilnya sesuai arahan dari si tukang parkir. "Sudah. Namanya Dokter Anita," jawab Aqila mantap. Chittt!!! Mendadak Mulin pun langsung menekan pedal remnya seketika. "Anita," gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN