"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu alergi coklat?" tanya Nando dengan nada tak enak. Anita pun tersenyum lemah. Sekarang ia memang sedang terbaring di atas ranjang pasien sebuah klinik paling dekat dengan Rutan Bina Warga.
"Aku sebenarnya udah mau bilang. Cuma kamu terus minta aku makan. Jadi, ya udah. Aku makan aja," jawab Anita sambil terus tersenyum.
"Maafin aku ya. Aku bener-bener nggak tau kalau kamu alergi coklat," kata Nando sambil meraih tangan Anita dan menggenggamnya dengan erat. Lagi-lagi Anita hanya bisa membalasnya dengan senyuman manis.
"Nggak papa kok. Aku ngerti."
"Kenapa sih? Kamu selalu memikirkan perasaan orang lain? Kenapa kamu nggak marahin aku aja tadi? Karena udah memaksa kamu makan coklat itu." Anita tak langsung menjawab. Ia menghela nafas panjang terlebih dahulu.
"Karena aku tahu. Menjadi orang yang tidak dihargai itu rasanya sangat sakit," kata Anita lirih. Dengan pandangan yang menerawang jauh entah kemana.
"Kamu itu bijak banget ya. Aku jadi semakin terpesona deh," ucap Nando dengan senyumannya yang tak mau luntur.
"Sebenarnya aku tau hal ini dari seseorang. Dia yang mengajari aku arti dari sebuah kata dihargai," ujar Anita sambil mengingat wajah Mulin, senyum Mulin dan semua tingkah konyolnya.
"Pasti orang itu adalah orang yang berpengaruh ya di hidup kamu. Iya, kan?" tanya Nando lagi. Anita pun akhirnya menoleh ke arah lelaki itu. Sambil tersenyum ia pun mengangguk lemah. Tak lama kemudian seorang wanita setengah baya yang memakai jas Dokter masuk ke dalam ruangan itu.
"Anita. Kamu sudah sadar ya?" sapa wanita itu dengan ramah. Mereka memang sudah saling kenal. Karena Dokter Yuni sering membantu Anita di Rutan. Jika dia kewalahan mengobati penyakit para napi.
"Sudah, Dok. Baru beberapa menit yang lalu," timpal Nando yang lebih tau.
"Oke. Kalau begitu kamu harus lebih hati-hati ya, An. Kamu kan tau reaksi tubuh kamu akan alergi ini yang bersifat berat, yaitu berupa syok anafilaksis atau sesak nafas. Kalau kamu tidak segera ditangani. Maka akibatnya akan sangat fatal. Untungnya aku sudah tahu akan hal itu sehingga selalu menyediakan obat kortikosteroid di klinik kecil ini dan langsung menyuntikkan obat pemicu adrenalin itu ke tubuh kamu," jelas Dokter Yuni yang membuat Nando semakin merasa bersalah.
"Ini semua salah saya, Dok. Saya yang memaksa dia untuk makan coklat itu. Tapi, sumpah Dok. Saya benar-benar tidak tau kalau Anita punya riwayat alergi coklat seperti ini," sela Nando dengan nada tidak enak.
"Oh, begitu. Ya, kamu kan sekarang sudah tau. Jadi, kamu harus bisa lebih menjaga Anita lagi. Jangan sampai hal ini terulang kembali."
"Baik, Dok. Pasti. Saya berjanji. Saya akan lebih mendengarkan keinginan Anita lagi. Saya tidak akan memaksakan kehendak kepadanya lagi."
"Bagus. Saya harap kamu benar-benar bisa menjaga Anita."
"Heh? Emang aku anak kecil apa harus benar-benar dijagain?" sindir Anita sambil mencibir pada rekan sesama Dokternya itu. Dokter Yuni pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kamu ini selalu saja ngeyel kalau dibilangin. Persis kayak anak kecil," balas Dokter Yuni malah meledek.
"Ih, Dokter mah gitu. Ngeledekin aku terus. Jadi , kapan aku bisa pulang nih, Dok. Rasanya aku udah lama meninggalkan tugas dari Rutan." Anita pun langsung to the point. Kalau sedari tadi ia terus kepikiran ruang kerjanya di rutan Bina Warga.
"Tenang saja. Aku tidak akan menahanmu disini kok. Jadi, kamu boleh pergi sekarang juga."
"Syukurlah. Kalau begitu aku pergi sekarang juga," kata Anita sambil turun dari atas ranjang pasien itu. "Makasih ya Dokter Yuni. Aku pergi dulu."
"Sama-sama. Hati-hati di jalan," timpal Dokter Yuni. Anita pun langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. Lalu ia melanjutkan langkahnya keluar dari dalam klinik itu. Meninggalkan Nando yang masih duduk di tempatnya tadi. Hingga saat Anita melewati pintu keluar. Nando baru sadar.
"Anita tunggu!!" teriaknya. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya. "Saya permisi dulu, Dok," kata Nando ketika melewati Dokter Yuni.
"Iya. Silahkan," balas Dokter Yuni seraya menganggukkan kepalanya.
"Anita tunggu!!" teriak Nando sambil berlari mengejar Anita. Nando pun segera meraih tangan Anita. Sebelum wanita itu berjalan lebih jauh. "Tunggu Anita," ujarnya.
"Ada apa Nando? Aku harus cepat kembali ke Rutan. Bagaimana kalau ada orang yang membutuhkan bantuan."
"Kamu tenang saja Anita. Semua petugas yang ada rutan sudah tau kalau kamu disini. Jadi, bersantailah sedikit. Kamu juga perlu memikirkan kesehatanmu."
"Tapi aku sudah sehat, Nando. Dan aku sudah bisa bertugas lagi."
"Ini sudah jam makan siang, Anita. Bagaimana kalau kita sekalian saja cari makan disekitar sini."
"Daripada makan diluar bikin aku kepikiran rutan. Mending kita makan di kantin Rutan saja gimana?"
"Ayolah, Anita. Jangan terlalu memaksakan diri. Makanan di rutan hanya itu-itu saja. Kita juga butuh asupan gizi yang lain. Apalagi mumpung kita hanya berdua begini," kata Nando kekeh. Anita pun akhirnya terdiam.
'Nando ini keras kepala banget sih. Katanya dia nggak mau maksain kehendaknya lagi. Capek gue debat terus sama dia,' pikir Anita dengan kening yang berkerut sempurna.
"Jadi, gimana? Mau kan?" tanya Nando penuh harap.
"Ya, udah deh ayo! Tapi, setelah makan kita langsung balik ke rutan ya."
"Siap, Tuan Putri. Kalau gitu aku ambil mobil sebentar ya," pamit Nando. Anita pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tak butuh waktu lama Nando kembali dengan mobil kebanggaannya. Ia pun keluar dan langsung mempersilahkan Anita masuk dengan membukakan pintu mobilnya. Sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa saat berputar-putar mencari restoran yang cocok menurut Nando. Akhirnya mereka pun tiba di restoran Amerta. Salah satu restoran mewah yang memiliki harga makanan fantastis. Anita yang sedari sudah merasa kesal. Lebih memilih tak banyak bicara sepanjang perjalanan sampai mereka menemukan tempat untuk makan. Seorang pelayan pun langsung menghampiri meja mereka dan memberikan buku menu.
"Mau pesan apa Tuan dan Nona?" tanya si pelayan dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Saya pesan Chicken Piccata Milenesse dan orange juice saja," ujar Anita memilih menu yang paling sedikit isinya. Si pelayan pun langsung mencatat apa yang barusan Anita katakan.
"Lalu untuk Tuan?"
"Saya pesan package seafood saus Padang komplit ya sama minumannya Mojitos Squash Lychee," ujar Nando yang membuat Anita langsung membulatkan matanya.
'Hah? Apa-apaan ini? Kenapa dia pesan segitu banyak? Emang dia pikir kita punya waktu istirahat berapa lama?' batin Anita kesal.
Sementara itu di ruang kerja Julian. Mulin pun keluar dari dalam toilet di ruangan itu. Ia pun langsung memeluk tubuh Aqila dari belakang. Saat wanita itu sedang sibuk memperhatikan gambar ornamen yang ada di dinding ruangan itu. Lalu ia pun menyusupkan ujung hidungnya ke sela-sela rambut. Hingga menyentuh kulit tengkuknya.
"Ah…. Geli," ujar Aqila saat menahan Mulin mengecup tengkuknya.
"Hahaha." Mulin pun tertawa lepas sambil mempererat pelukannya.
"Ehms… kamu suka kuenya?" tanya Aqila kemudian. Mulin pun tak langsung menjawab. Ia melirik ke arah kue tart tadi yang sudah dicongkel kecil. Pertanda Aqila juga sudah mencicipinya juga.
"Aku nggak punya alasan untuk menjelekkan surprise kamu yang sangat manis. Apalagi aku yakin kamu pasti sudah membuatnya dengan sudah payah," jawab Mulin. Aqila pun tersenyum sekilas.
"Kamu tau. Aku selalu berusaha membuat yang terbaik untuk kamu. Tapi, hasilnya selalu saja gagal."
"Makanya, mulai hari ini. Jangan suka melakukan yang terbaik untuk siapapun. Lakukan saja sebisa yang kamu lakukan. Pasangan itu diciptakan untuk saling melengkapi, bukan untuk saling mendominasi," kata Mulin sambil meletakkan dagunya di pundak Aqila. Mendengar ucapan Mulin tadi Aqila pun langsung memutar badannya seratus delapan puluh derajat hingga mereka berhadapan. Aqila terus menatap manik mata Mulin yang tampak menunjukkan ketulusan. Meskipun ia tak menemukan sorot mata penuh cinta di dalamnya. Mendadak kedua tangan Aqila pun melingkar di leher Mulin.
'Siapapun kamu. Mau kamu adalah Julian atau bukan. Yang pasti, aku ingin terus bersama kamu,' batin Aqila. Kemudian ia pun langsung memeluk tubuh jangkung itu dengan erat. 'Karena aku merasa nyaman dan sangat bahagia. Ada di pelukanmu,' tambah Aqila.
Awalnya Mulin kaget dengan tindakan Aqila saat itu. Namun, sesaat kemudian ia pun membalas pelukan sang istri pura-puranya.
'Kasihan Aqila. Dia pasti sangat menyayangi si b******k Julian,' ujar Mulin dalam hati.
"Sayang," panggil Mulin lembut.
"Iya," jawab Aqila sambil melonggarkan pelukannya.
"Kita makan di luar yuk! Tadi kan kamu udah bikin surprise buat aku. Sebagai gantinya kita lunch bareng di tempat yang indah. Kamu mau?" tanya Mulin. Aqila pun langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Heeh," gumamnya.
"Ya, udah. Ayo, berangkat!" ajak Mulin. Lalu mereka berdua pun langsung keluar dari ruangan itu dengan tangan Mulin yang terus memeluk pinggang Aqila. Mereka pun berjalan sambil bercengkrama. Bahkan, tak sekali dua kali. Aqila harus mencubit pinggang Mulin karena gemas. Saking asyiknya mereka berdua. Sampai-sampai membuat Grace yang sedang bersembunyi di balik tanaman dengan membawa kue ulang tahun untuk Julian pun langsung menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Ish. Julian apa-apaan sih? Pakai mesra-mesraan sama si cewek gila di depan umum," gerutu Grace.
Mulin dan Aqila pun sampai di parkiran. Bak memperlakukan seorang Tuan Putri Mulin segera membukakan pintu untuk Aqila. Bahkan, memasangkan sabuk pengaman di badannya. Setelah itu ia pun segera berlari ke sisi mobil yang lain. Tak sampai lima menit kemudian mobil pun berjalan pergi. Meninggalkan Grace yang sedang berlari untuk mengejar mereka.
"Mau kemana mereka?" tanya gadis pada dirinya sendiri. Lalu dengan nafas yang ngos-ngosan gadis itu segera berlari ke arah mobilnya. Ia segera masuk ke dalam mobil mini Cooper itu untuk segera menyusul kepergian Mulin. Namun, dari kaca spion. Mulin tau jika Grace mengikutinya.
'Maaf Grace. Tapi hari ini gue pengen nyenengin hati Aqila dulu,' batin Mulin. Ia pun langsung menekan pedal gas tepat di saat ia hampir sampai di depan rambu-rambu lalu lintas. Ia tau betul, lampu merah akan segera menyala. Makanya tanpa pikir panjang. Mulin langsung tancap gas. Alhasil ia pun lolos dari kemacetan lalu lintas tadi. Sementara mobil Grace harus berhenti bersama mobil-mobil lain. Mulin pun langsung tersenyum puas saat menyaksikan hal itu. Ia sangat yakin. Di dalam mobil itu Grace pasti sedang marah-marah tak jelas.
"Julian. Kamu mau bikin aku jantungan ya!" protes Aqila sambil memegang sabuk pengaman itu erat-erat.
"Hehe. Maafkan aku, Sayang. Abis aku kesal pada lampu lalu lintas itu. Udah tau aku mau makan siang sama istri tercinta. Eh, dia malah nongol lampu merah," gerutu Mulin dengan bibir yang dimonyongkan beberapa sentimeter. Aqila pun tersenyum melihat Julian cemberut karena tak ingin diganggu saat sedang dekat dengannya.
"Kamu ini. Ada-ada saja," ujar Aqila sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Hehe." Sementara Mulin hanya membalas dengan cengiran khasnya. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di parkiran Amerta Resto yang sudah penuh. "Wah. Kita nggak dapet tempat parkir lagi," ujar Mulin sambil terus menatap ke arah depan.
"Ya, udah. Cari restoran lain aja."
"Enggak-enggak. Aku nggak mau buang-buang waktu untuk cari restoran lain. Karena di restoran ini mempunyai ruang VVIP khusus buat tamu honeymoon. Resto lain jarang ada yang begitu," tolak Mulin. Kedua pipi Aqila pun langsung bersemu merah.
"Emang kamu mau ngapain pesen ruangan yang kayak gitu?"
"Yang pasti aku mau romantis-romantisan sama kamu dong," timpal Mulin dengan senyum penuh arti. Aqila pun semakin tersipu malu. "Ya udah. Kamu tunggu sini ya. Aku cari tukang parkirnya dulu," pamit Mulin sambil melepaskan sabuk pengaman yang mengikat di badannya.
"Iya," jawab Aqila singkat.
"Kalau kangen nelfon ya," gombal Mulin sebelum keluar. Sambil menyodorkan tubuhnya ke arah Aqila.
"Iya. Udah sana cari tukang parkirnya." Aqila mendorong tubuh Mulin agar menjauh.
"Hahaha. Mukamu merah banget," ledek Mulin sambil membuka pintu mobil itu.
Blak!
Mulin sedikit membanting pintu mobil itu sambil celingukan mencari sosok si tukang parkir.
"Woi, Mas!" teriaknya sambil berjalan menjauhi mobil itu. Melihat sosok sang suami menjauh. Aqila pun mengenbangkan senyumnya.
"Kamu memang orang baik," gumam Aqila. Baru saja gadis itu hendak membenarkan posisi duduknya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu mobilnya dari luar.
Tok. Tok. Tok.
Aqila pun langsung menoleh lalu membuka kaca film mobil di sampingnya.
"Tolong! Tolong saya! Saya sedang dikejar seseorang!" ujar Anita dengan wajah yang terlihat panik.
"Ya, sudah. Ayo naik!" ujar Aqila. Ia pun segera menekan central lock agar gadis asing itu bisa masuk ke dalam jok belakang mobilnya.