"Wow. Kamu bener-bener so sweet deh. Kalau begitu kontak dia sekarang!" titah Aqila dengan antusias.
"Hah?!" balas Mulin sambil menunjukkan wajah bodohnya. Ia pun langsung berpikir bagaimana bisa keluar dari pembicaraan ini. Hingga tak lama matanya tertuju pada kotak yang ada di tangan Aqila. "Itu kotak apa?" tanya Mulin. Aqila ikutan tersadar jika dia datang kesini untuk memberikan surprise ulang tahun Julian.
"Oh, iya aku hampir lupa. Coba tebak dong isinya apa?" ujar Aqila sambil jingkrak-jingkrak kegirangan. Melihat hal itu Mulin pun langsung menelan ludahnya sendiri.
'Gini banget sih tingkahnya? Udah kayak anak TK aja. Kira-kira sebelum stres dia udah kayak gini nggak ya?' pikir Mulin. Namun, meskipun dalam hati ia mencibir Aqila. Bibirnya tetap berusaha menyunggingkan senyum manisnya.
"Ehms…. Isinya apa ya? Roti ulang tahun?" tebak Mulin asal. Sebab, dia pikir yang besarnya segini ya benda itu.
"Wow. Kamu benar!" ujar Aqila dengan mata yang berbinar-binar. Bahkan, ia langsung meletakkan kotak itu ke meja kerja Mulin. Kemudian ia bertepuk tangan dengan cukup kencang. "Wah. Kamu jenius banget sih. Atau kamu punya bakat meramal?" tanya Aqila sambil memeluk kepala Mulin. Mulin pun tak tau harus menjawab apa. Ia hanya bisa tertawa kecil dengan suara sumbang.
"Ha-ha-ha," tawa Mulin yang terdengar sangat terpaksa.
"Ya, sudah. Kalau begitu kita nyalakan lilinnya dulu ya. Sebelum kamu potong," kata Aqila sambil melepaskan pelukannya. Ia pun segera meraih kotak itu. Membuka kotak itu lebar-lebar. Kemudian ia menancapkan dua buah lilin dengan angka tiga dan kosong di atas kue tart itu. "Make a wish dulu ya," kata Aqila dengan lembutnya. Mulin pun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Meskipun ia tau ini bukan untuknya. Kemudian Mulin segera menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. Lalu ia menundukkan kepala dalam-dalam.
'Gue berdoa untuk elo Julian. Semoga, entah dimana elo sekarang. Entah loe masih hidup atau emang udah mati. Gue harap loe tau. Betapa Aqila sangat mencintai elo. Dia benar-benar wanita yang sangat tulus dan baik. Loe pasti akan menyesal kalau sampai menyakiti hati gadis seperti ini,' batin Mulin jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Aqila yang ikut melakukan hal yang sama pun beberapa kali mengintip ke arah wajah Mulin yang masih terpejam. Ia kemudian tersenyum geli membayangkan apa saja yang sebenarnya sedang Mulin ucapkan di dalam doanya. Namun, mendadak senyum Aqila meredup saat tak melihat tai lalat kecil di kelopak mata Julian. Padahal, ia sangat yakin. Dulu Julian memilikinya di tempat itu. Meskipun, tak cukup besar dan tidak terlalu jelas. Aqila yang dulu sering menatap Julian saat tertidur selalu melihat tanda lahir itu. Aqila pun memusatkan pandangannya ke arah mata Mulin. Bahkan, tanpa ia sadari. Ia mendekatkan badannya sedikit ke arah Mulin.
'Hah? Kenapa tai lalat Julian menghilang?' tanya Aqila kebingungan. Di saat itu Mulin membuka kedua matanya. Ia pun terkejut melihat ekspresi wajah Aqila yang tampak kebingungan.
"Ada apa?" tanya Mulin ikutan bingung. Aqila pun langsung menggeleng cepat.
"Enggak. Enggak.ada apa-apa kok?" ujar wanita itu. "Ayo! Kita potong rotinya," lanjut Aqila sambil meraih pisau roti yang ada di samping roti itu. Mulin tak yakin Aqila berkata jujur. Sebab, ia melihat raut wajah gadis itu tidak sesumringah biasanya.
'Ada apa dengan Aqila? Kenapa raut wajahnya tiba-tiba berubah?' pikir Mulin cepat. Seraya terus menatap ke arah Aqila yang sedang memotong kue itu.
"Ini cobain. Aku buat sendiri lho!" Aqila menyerahkan potongan kue di atas lepek kertas. Dengan senyum yang terus mengembang Mulin meraih benda itu.
"Wah. Jadi nggak sabar deh mau nyobain. Kue spesial yang dibuat oleh orang yang spesial. Udah pasti enak banget," cerocos Mulin sambil mengambil satu potong kue itu. Ia pun langsung memasukkan potongan kue itu ke dalam mulutnya. Setelah itu ia segera mengunyahnya dengan pelan.
"Gimana?" tanya Aqila penasaran.
"Kenapa kamu masih tanya? Jelas enak dong. Ini sih aku bisa habisin semuanya sekaligus," puji Mulin yang membuat Aqila kembali tersenyum. Apalagi saat melihat Mulin langsung menahap potongan kue itu dengan sekali makan. "Oh, ya. Aku ke toilet sebentar ya, Sayang," ujar Mulin sambil memegang lengan kanan Aqila sekilas.
"Heeh," balas Aqila sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat. Setelah Mulin menghilang di balik pintu kamar mandi. Aqila pun memotong kue itu sedikit. Ia memang belum sempat mencobanya tadi. Karena tak sabar ingin memberikan kejutan itu pada Mulin. Kemudian ia langsung memasukkan potongan roti itu ke dalam mulut. Baru saja kue itu mendarat di lidahnya. Rasa asin pun langsung menyerang. Seketika itu Aqila langsung meraih tissue dan mengeluarkan isi mulutnya. "Sepertinya aku salah memasukkan gula halus deh," gumam Aqila. Sedetik kemudian ia pun segera menoleh ke arah toilet. 'Benar. Dia bukan Julian,' pikir Aqila cepat. Aqila pun teringat pada sebuah kejadian yang tak pernah ia lupakan sejak dulu.
Flashback.
Hari masih sangat pagi. Sang mentari pun belum masih enggan menunjukkan sinar terangnya. Namun, Aqila sudah berkutat di dalam dapur. Dia tengah membuatkan sarapan spesial untuk sang suami tercinta. Julian Prasetya. Dengan mengandalkan video di layar ponselnya. Ia terus melakukan step demi step yang diarahkan oleh si Chef terkenal itu.
"Tambah irisan pala, cengkeh dan daun bawang serta seledri yang sudah disiapkan," kata Aqila sambil melakukan apa yang diarahkan oleh Chef Ronald dalam layar gawainya. "Tambahkan juga garam dan penyedap rasa secukupnya." Aqila langsung meraih kedua benda itu dan menaburkannya di atas masakannya beberapa kali. "Sudah cukup belum ya?" gumam Aqila. Lalu ia pun meraih spatula dan mencicipi masakannya. "Eh, masih kurang garam deh," gumam Aqila. Kemudian ia pun menambah satu sendok teh garam lagi ke atasnya. Setelah itu, ia pun kembali mengikuti langkah-langkah yang dilakukan oleh Chef Ronald hingga selesai. "Wah. Harumnya. Julian pasti suka," gumam Aqila sambil mengibaskan tangannya di atas masakan itu untuk menghirup aromanya yang sangat enak.
Karena hari sudah menjelang siang. Dengan sedikit terburu-buru Aqila mengambil beberapa sendok sup itu ke dalam mangkuk. Lalu ia berlari kecil ke arah ruang makan untuk dihidangkan pada Julian.
Benar saja. Tepat saat ia sampai di ruangan itu Julian baru saja turun dari lantai dua rumahnya.
"Julian! Julian tunggu!" teriak Aqila sambil tergopoh-gopoh mendekati lelaki tercintanya itu. Julian yang terlihat ntak bersemangat melihat sang istri hanya menoleh dengan wajah malasnya.
"Ada apalagi? Udah siang nih? Kalau aku telat ke kantor bisa-bisa Papamu marah. Aku kan cuma jadi bawahannya," ujar Julian dengan nada menyindir.
"Tapi, kan kamu belum sarapan. Nih, aku sudah buatkan kamu Sup buntut spesial. Rasanya nggak kalah sama restoran bintang lima. Ayo, Cobain!" kata Aqila sambil menyodorkan mangkuk itu pada Julian. Julian pun terlihat ogah-ogahan untuk meraih sendok di mangkuk itu. "Ayo!" desak Aqila. Akhirnya Julian pun meraih sendok dan mengisinya dengan kuah sup itu. Baru saja sendok itu masuk ke dalam mulutnya. Wajah Julian langsung memerah.
Prang! Julian bahkan melempar mangkuk itu hingga terjatuh dan isinya tumpah berserakan di atas lantai yang cukup keras.
"Apa-apaan ini? Kamu bilang seperti masakan restoran bintang lima?!! Hah! Kalau kamu pengen meracuniku! Tinggal bilang saja!!!" ujar Julian dengan nada tinggi. Setelah itu ia pun segera meninggalkan Aqila yang hanya bisa menangis sesenggukan.
.
"Heh. Saat masakanku sedikit keasinan saja. Kamu udah marah besar. Kenapa saat kue ini rasa garam kamu malah memujinya?" gumam Aqila tanpa mengubah pandangannya dari pintu toilet itu.
Sementara itu di dalam toilet Mulin langsung berkumur berkali- kali. Untuk menghilangkan rasa asin dari kue itu.
"Ish. Kasihan juga si Aqila. Demi sang suami tercinta. Ia rela memaksakan diri untuk belajar memasak. Meskipun, dia tidak ahli dalam hal itu," gumam Mulin sambil mengelap lidahnya berkali-kali.