Bab. 30 Hanya Kau Yang Kuinginkan

1367 Kata
"Anita!" teriak Nando saat melihat Anita tengah berjalan di koridor Rutan Bina Warga. Mendengar namanya dipanggil. Anita pun langsung menoleh. Dan menatap sosok lelaki itu sedang berlari kecil ke arahnya. "Ada apa, Nando?" tanya Anita bingung. "Aku punya sesuatu untuk kamu," jawab lelaki itu seraya menyembunyikan tangannya di belakang punggung. "Apa?" tanya Anita lagi semakin bingung. "Ini," kata Nando sambil mengeluarkan tangan kanannya itu. "Coklat," timpal Anita seraya menatap benda yang ada di tangan Nando. "Iya. Aku liat akhir-akhir ini kamu terlihat sangat sibuk. Jadi, aku pengen kamu makan coklat ini biar kamu nggak stres. Nih!" kata Nando sambil menyodorkan benda itu. "Tap… tapi, Nando–" Belum sempat kalimat Anita berakhir. Mendadak Nando mencegatnya dengan menutup mulut Anita dengan telunjuknya. "Hust. Aku nggak mau kamu sakit karena kecapaian. Jadi, aku mohon sama kamu. Kamu makan coklat ini ya! Biar kamu sedikit rileks dan nggak tertekan oleh pekerjaan," ujar Nando setengah memaksa. "Tap… tapi, Nando." "Hust…. Please, Anita! Aku tau kamu tidak bisa membalas cintaku. Tapi, aku harap kamu jangan menolak coklatku juga ya. Ini aku memberikannya dengan setulus hatiku. Bukan karena ingin dipuji atau mendapat perhatian dari kamu," jelas Nando. Anita pun hanya terdiam. Ia jadi teringat akan kejadian kemarin di kantin Rutan saat ia hendak istirahat makan siang bersama yang beberapa rekan kerjanya. Flashback. Hari ini Anita cukup banyak pasien. Entah kenapa banyak sekali para narapidana yang yang mengalami demam cukup tinggi. Bahkan, beberapa diantaranya harus dilarikan ke rumah sakit. Anita pun sedang meneliti tentang keadaan sel para napi. Ia takut mereka terjangkit malaria atau virus berbahaya lainnya. Maklum, keadaan di dalam sel tentunya tidak bisa sebersih diluar. Selain karena banyaknya penghuni rutan, mereka pun tak jarang banyaknya yang tidak bisa merawat kebersihan tempat mereka dengan baik dan benar. Jadi, sangat mungkin tempat itu akan menjadi sarang penyakit dari flu biasa sampai penyakit-penyakit bahaya lainnya. Brak! Anita melempar buku catatan yang berisi tentang hasil pengamatannya di dalam sel. Setelah itu, salah satu tangannya memegang keningnya sambil memijatnya sedikit. Sungguh, keadaan ini membuat otaknya bekerja ekstra. Sehingga menimbulkan rasa nyut-nyutan di bagian yang sedang di pijatnya. "Andai Mulin masih ada disini. Dia pasti sudah datang untuk memijat kepala gue," gumam Anita tanpa sadar. Memang dulu Mulin sering sekali menyelinap masuk ke dalam ruang kesehatan hanya untuk bertemu Anita. Kadang juga ia berpura-pura sakit agar bisa seharian bertemu Anita di ruangan ini. Sayangnya, hal itu sudah berakhir sejak beberapa bulan yang lalu. Anita pun segera sadar dari lamunannya tadi. "Ish. Apaan sih gue? Ngapain coba gue mikirin orang yang udah nggak mikirin Gue sama sekali. Padahal, sejak dulu perasaan gue masih sama. Tapi, kenapa dia langsung menghilang begitu saja? Apa karena dia sakit hati dengan omongan Papa sama Mama?" tambah Anita terus bergumam. Tiba-tiba Anita pun teringat sesuatu. Ia baru ingat kalau dia menyimpan foto Mulin di galeri ponselnya. Anita pun segera mencari benda pipih itu di laci mejanya. Nihil. Ternyata benda itu sudah tidak ada lagi di tempatnya terakhir melihat. Anita pun tampak kaget. Ia segera berdiri untuk mencari di bawah kolong meja. Namun, baru saja menegakkan badannya. Mendadak terdengar sebuah benda terjatuh. Brakkk!! Smartphone Anita terjaruh begitu saja di atas lantai yang cukup keras. Ternyata sedari tadi benda itu sudah berada di pangkuannya tanpa ia ingat sedari kapan. "Aduh. Ponsel gue!" pekiknya sambil membungkukkan badannya dan memasukkan sebagian tubuhnya ke dalam kolong meja kerjanya. Takut terjadi apa-apa dengan ponselnya yang bisa membuat gambar-gambar Mulin menghilang. Anita pun langsung mengecek ponselnya tanpa ia keluar dari tempat itu terlebih dahulu. "Anita. Ayo, ke kantin!" ajak seorang wanita berseragam sipir sambil melongokkan kepalanya ke dalam ruangan Anita. Mendengar ucapan itu Anita pun langsung beranjak dari tempatnya jongkok. Dug!!! "Aw," pekiknya lebih keras sambil mengusap ujung kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Dia lupa jika masih ada di bawah meja. Makanya, kepalanya langsung terbentur saat dia dengan cepat berusaha keluar. "Anita! Loe nggak papa?" tanya wanita itu dengan nada cemas. Ia pun berlari kecil ke arah Anita yang kini sedang berusaha untuk berdiri. "Enggak. Enggak papa kok. Tadi ponsel gue jatuh dan gue berusaha untuk mengambil. Tapi, gue malah kaget pas loe dateng tadi." "Oh, gitu. Sorry deh. Gue nggak tau. Hehe. Ya, udah. Kita ke kantin yuk! Gue udah laper nih!" ujar wanita itu sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit. "Ehms…. Ternyata bumil gue kelaparan. Ayo! Ayo! Kita ke kantin segera!" balas Anita sambil merangkul lengan wanita tadi. Kemudian mereka pun segera berjalan beriringan sambil melipat canda satu sama lain. Gelak tawa mereka pun tak bisa dihindarkan lagi. Namun, saat mereka berdua memasuki area kantin. Tiba-tiba semua orang yang ada di tempat itu langsung terdiam sambil menoleh ke arah Anita dan rekan kerjanya itu. Anita yang merasa curiga pun langsung menghentikan gerakannya. "Ada apa?" tanya wanita tadi. "Lihat deh mereka. Ada yang aneh nggak sih? Ngapain mereka liatin kita kayak gitu," kata Anita sambil menatap ke arah puluhan sipir dan petugas Rutan lainnya yang sedang menatap ke arah mereka sambil senyam-senyum tak jelas. Belum sempat si wanita tadi menjawab pertanyaan Anita, Nando datang dengan mendadak dari sisi kiri Anita. "Hai, Anita," ujar Nando sambil membawakan sebuket bunga mawar merah di tangannya. Tentu saja hal itu membuat Anita menjadi gelagapan. Dia pun langsung mengira-ngira apa yang sebenarnya akan Nando lakukan setelah itu. "Ha… hai, Nando," jawab Anita terbata. Setelah mendapat jawaban dari Anita. Nando malah langsung bersimpuh di depan Anita sambil menunjukkan buket bunga itu pada gadis pujaannya. Anita yang kaget pun langsung menoleh ke arah temannya yang juga terlihat bingung. "Anita. Dengan bunga ini. Aku ingin menyampaikan perasaan suka, sayang dan cinta aku padamu," ujar Nando. Seketika semua orang yang ada di tempat itu pun langsung bergemuruh. "Ciyeee!" ujar semua orang kecuali Nando, Anita dan sahabat dekat Anita yang masih mengetahui isi hati Dokter cantik itu. "Anita. Jika kamu mau menerima cinta aku. Kamu ambil bunga ini. Tapi, jika kamu menolak aku. Aku ingin kamu abaikan saja bunga ini," kata Nando yang membuat Anita semakin bingung. "Terima!! Terima! Terima! Terima!" teriak orang-orang itu dengan kompak. Anita pun semakin kebingungan harus menjawab apa. Sebab, ia tak bisa menerima cinta lelaki itu, tapi dia juga tidak mau mempermalukannya. Anita pun menoleh ke arah sahabatnya. Wanita itu pun tampak bingung. "Jadi, bagaimana Anita?" tanya Nando menuntut jawaban Anita. Ruangan itu pun seketika berubah menjadi hening. Tak ada yang bersuara sedikitpun. "A… aku… aku ambil bunga ini," ujar Anita sambil meraih bunga itu dari tangan Nando. "Horeee!!!" seketika mereka pun langsung bersorak kegirangan. Waktu pun cepat berlalu. Sepulang kerja Nando memaksa mengantar pulang Anita seperti biasa. Namun, sebelum Anita turun dari mobil Nando. Anita juga mengembalikan bunga tadi. "Kenapa Anita? Apa gara-gara napi itu?" tanya Nando dengan nada kecewa. Wajahnya pun terlihat suram, berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya beberapa saat yang lalu. "Bukan. Bukan, Nando. Ini karena aku. Aku memang belum bisa jatuh cinta pada siapapun akhir-akhir ini. Aku ingin sendiri dan menikmati pekerjaanku. Tolong! Kamu bisa mengerti itu," ujar Anita. "Baiklah, Anita. Tapi, berikan aku kesempatan itu sampai kamu benar-benar siap. Oke?" "Tidak, Nando. Maaf. Aku nggak mau kasih harapan palsu sama kamu. Aku yakin kamu pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku," kata Anita yang membuat Nando terdiam. "Kalau begitu. Aku keluar dulu. Terima kasih sudah mengantarku pulang," tambah Anita sambil melepaskan seat belt yang melingkar di badannya. . Anita menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan itu. "Tapi, Nando." "Ayolah Anita. Makanlah sedikit saja," pinta Nando setengah memaksa. "Baiklah." Dengan terpaksa Anita pun langsung meraih coklat itu. Ia membuka ujungnya sedikit. Lalu memotong ujungnya. Anita pun segera memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Kemudian ia pun menguyah dan menelannya. "Nah, begitu kan aku jadi senang," kata Nando. Namun, tak la setelah Nando berucap tiba-tiba…. Brukkk! Anita terjatuh ke lantai. "Anita! Anita! Kamu kenapa?!" ujarnya panik. "Tolong!!! Tolong!!!" Sementara itu di ruangan Mulin. "Aqila," gumam Mulin sambil beranjak dari duduknya. "Siapa wanita ini?!" ulang Aqila dengan nada yang sama. "Ehms…. Ini adalah Dokter muda yang sudah terkenal kompeten menangani kasus seperti kamu. Aku lihat akhir-akhir ini kamu sering mengeluh sakit kepala, kan? Jadi, aku berpikir untuk mencarikan referensi Dokter yang bagus untuk kamu," jawab Mulin sambil berusaha tersenyum lebar. "Wow. Kamu bener-bener so sweet deh. Kalau begitu kontak dia sekarang!" titah Aqila dengan antusias. "Hah?!" balas Mulin sambil menunjukkan wajah bodohnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN