Bab. 29 Siapa Wanita Ini

1114 Kata
Siang ini Mulin masih sangat mengantuk. Sebab, semalam dia hanya tidur beberapa jam saja sebelum akhirnya Aqila membangunkannya tadi pagi. Maklum, misi semalam memang cukup menguras waktu dan tenaganya. Sehingga, ia pun kini merasa sangat lelah dan juga ingin beristirahat sejenak. "Ish. Sialan! Yang lain sekarang masih bisa tidur nyenyak. Sementara gue harus pergi ke kantor. Mana Aqila bangunin gue pagi-pagi banget lagi. Ish! Sialan!" gerutu Mulin yang hanya bergumam. Mulin yang sudah sampai di ruangannya pun kini hendak mencoba tidur sejenak dengan meletakkan kedua tangannya di atas meja sebagai alas untuk tidur. Namun, baru saja ia hendak meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya itu. Tiba-tiba saja terdengar seseorang mengetuk pintunya dari luar. Mau tidak mau Mulin pun kembali mengangkat badannya dengan sedikit bergetar. Karena menahan kantuk yang sangat besar. "Masuk!" teriaknya tak bersemangat dengan suara bergetar dan sedikit serak. Tak butuh waktu lama. Seseorang terlihat muncul dari balik pintu kaca itu. "Selamat siang, Pak," ujar lelaki muda itu sambil membungkukkan badannya. Mulin tak langsung menjawab. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Untuk mengembalikan kesadarannya. "Siang," jawab Mulin singkat seraya menegakkan badannya. "Ada apa?" tanya Mulin saat lelaki itu sudah berada di depannya. "Maaf, Pak. Sekarang Bapak sedang ditunggu di ruang rapat untuk membahas kinerja marketing perusahaan," jelasnya yang membuat Mulin menganggukkan kepalanya beberapa kali. Padahal, ia tak tau pasti apa yang sedang anak buahnya itu bicarakan. "Baiklah, saya akan datang sekarang," jawab Mulin mantap. Lelaki itu pun sedikit terkejut melihat mata Mulin yang sangat merah dengan lengkungan hitam di bawah kelopak mata sang bos besarnya. Sekilas ia pun membayangkan apa yang sudah dilakukan Julian dan istrinya yang cantik semalaman ini. Makanya Sang bos muda itu tak bisa tidur dan kini sangat mengantuk. "Ada hal lain?" tanya Mulin yang langsung menyadarkan lelaki itu. "Oh, tidak Pak. Tidak. Saya hanya ingin menyampaikan perihal itu saja. Kalau begitu saya pamit permisi dulu. Selamat siang," kata anak buah Mulin itu sambil membungkukkan badannya. Setelah itu ia pun segera keluar dari ruangan Mulin dan bergegas menuju ruang rapat. Sampai di tempat yang sudah diisi oleh semua orang penting di perusahaan itu. Lelaki muda itu pun tampak menahan tawa gelinya. Sehingga membuat orang-orang di ruangan itu. Langsung mengerutkan keningnya seketika. "Ada apa?" tanya salah seorang yang duduk paling dekat dengannya. "Enggak. Hihihi," jawabnya sambil tertawa kecil. "Kalau nggak apa-apa. Kenapa loe ketawa sendiri?" tanya yang lain. "Hihihi. Jadi gini, tadi saat saya menemui Pak Julian saya liat matanya sangat merah dan kantung matanya sangat jelas. Gue jadi berpikir. Apa saja yang sudah ia dan Bu Aqila lakukan semalaman. Sehingga membuat lelaki setangguh Pak Julian loyo begitu. Karena kurang tidur. Hahaha," jelas lelaki itu yang disambut oleh yang lainnya. "Dasar otak m***m. Makanya nikah. Biar tau rasanya belaian wanita," ledek salah satu diantara mereka. "Hehehe. Gue belum ketemu cewek yang tepat aja," timpalnya mengeles. "Ya, udah. Loe minta dijodohin aja. Liat tuh Pak Julian. Dulunya ia nggak mau dinikahkan dengan Bu Aqila karena mereka dijodohkan. Sekarang, bercintanya nggak tau waktu. Sampai semalaman. Hahahaha." Semua orang yang ada di ruangan itu pun tertawa lepas hingga suara mereka menggelar di di seluruh penjuru ruangan. Hingga beberapa menit kemudian. Julian pun masuk ke dalam ruangan itu. Dan seketika mereka pun terdiam. Krik. Krik. Krik. Mendadak tempat itu berubah sangat sepi dan tak ada suara orang sama sekali. Melihat hal itu Mulin pun tampak curiga hingga ia mengerutkan keningnya dengan sempurna. "Ada apa dengan kalian semua?' tanya Mulin yang tidak langsung mendapat jawaban. Waktu pun cepat berlalu. Setelah mengikuti rapat yang cukup membosankan dan sebenarnya kata-kata formal mereka yang tidak dimengerti Mulin membuatnya merasa pusing. Rasanya ia ingin muntah mendengar ocehan mereka tadi. Sayangnya, Mulin tak mungkin meninggalkan ruang rapat. Ia harus tetap disana hingga rapat selesai. Dan kini Mulin kembali ke ruang kerjanya. Mulin sudah beberapa kali berusaha untuk fokus pada pekerjaannya. Bahkan, air putih dalam gelasnya sudah habis untuk diminum sejak tadi untuk mengembalikan tingkat kesadarannya. Sayangnya, hal itu tak berpengaruh lama. Sebab, ia kembali mengantuk dan mengantuk lagi. Akhirnya Mulin pun berpikir untuk mencari sosial media Anita. Berharap dengan memandangi foto wanita pujaannya itu. Ia bisa sedikit berkonsentrasi lagi. Setelah masuk ke dalam sebuah laman sosial media. Mulin segera mengetik nama sang pujaan hati yang dia yakini pasti benar adanya. Sebab, dulu Anita sering membuka akun media sosialnya di hadapan Mulin. Saat pura-pura sakit di dalam tahanan hanya untuk bertemu Anita. Tak berselang lama, foto profil Anita pun langsung tergambar di layar iMac generasi terbaru itu. Senyum Mulin pun langsung mengembang saat ia melihat gadis cantik itu selalu tersenyum manis berbalut jas putih ala seorang Dokter. Meskipun banyak masalah yang sedang menimpanya memang tak segan untuk terus tersenyum pada siapa pun. Hal itu pun mengundang senyum di bibir Mulin. Sambil terus menatap wajah Anita yang sangat cantik. Ia pun berpikir sejenak, 'Anita Sayang. Apa kamu masih ingat sama aku? Atau kamu malah udah bahagia dengan laki-laki itu?' tanya Mulin dalam hati. Tangan Mulin pun terjulur untuk menyentuh wajah cantik Anita. 'Aku harap. Kamu akan terus ingat dengan cinta kita Anita. Karena sampai detik ini. Aku tak bisa melupakan cinta itu. Aku benar-benar mencintai kamu. Sampai-sampai hal itu membuat aku sangat tersiksa. Apalagi dengan keadaan gila yang sedang aku jalani. Sungguh, aku benar-benar stres menghadapinya,' tambah Mulin masih membatin. Mulin pun meletakkan kepalanya yang terasa berat di atas meja kerjanya. Sedang tangannya masih terjulur untuk menyentuh layar bergambar Anita di depannya. Ia terus menatap gadis itu sambil tersenyum manis. Namun, beberapa menit pun berlalu. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian tak sadar ia pun memejamkan matanya. Tidur. Mulin tak sadar sama sekali dengan apa yang dia lakukan sekarang. Tidurnya terlihat pulas. Meskipun posisi tidurnya sama sekali tidak nyaman. Namun, Mulin seakan tak memperdulikan hal itu lagi. Sebab, ia sudah sangat mengantuk. Sehingga ia hanya ingin menutup kedua matanya rapat-rapat dan beristirahat sejenak. Cekrek! Tiba-tiba pintu ruangan Mulin dibuka sedikit demi sedikit oleh Aqila. Ia yang hendak memberikan surprise pada Julian di hari ulang tahunnya kini. Berpikir untuk memberikan kejutan di ruang kerjanya saja. Aqila sangat yakin Julian pasti tidak akan menyangka dia akan memberikan kejutan seromantis itu. 'Hihihi. Julian pasti seneng gue kasih kejutan seperti ini,' kata Aqila sambil mengangkat kotak kue ulang tahun yang sudah ia buat sendiri itu. Sambil berjalan mengendap-endap. Aqila menahan mulutnya agar tidak bersuara. Hingga akhirnya tak lama ia pun sampai di samping Mulin. Saat ia hendak mengejutkan Mulin. Ia justru terkejut melihat Mulin tertidur pulas dengan tangan yang mengarah ke layar komputer bergambar seorang Dokter cantik. "Siapa wanita ini?!" kata Aqila setengah berteriak. Mendengar suara Aqila yang cukup lantang Mulin pun tersadar. Ia pun terkejut melihat ada sosok wanita itu di hadapannya. "Aqila," gumam Mulin sambil beranjak dari duduknya. "Siapa wanita ini?!" ulang Aqila dengan nada yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN