Bab. 28 Hitman Abraham Kebakaran Jenggot

1050 Kata
Malam itu Hitman sedang tidur dengan nyenyak di tempat peraduannya. Namun, pada tengah-tengah malam. Mendadak ponselnya berdering cukup kencang. Kring!!! Kring!!! Kring!!! Bunyi ponsel itu seraya bergetar puluhan kali. Hitman yang masih terlelap pun enggan untuk menerima panggilan itu. Dia berpikir jika anak buahnya hanya ingin mengabarkan. Bila operasi mereka telah berhasil seperti biasa. Makanya, Hitman malas mengangkat benda itu. Ia lebih memilih untuk menggeser badannya ke sisi ranjang yang lain. Kemudian menutupi telinganya dengan bantal. Kring!! Kring!!! Kring!!! Bukannya berhenti, benda itu justru berdering semakin kencang saja. Hingga akhirnya membuat Grace terganggu. Gadis cantik itu pun masuk ke kamar sang Papa yang tidak pernah dikunci. Dengan menggunakan baju tidur toska berbahan satin premium berlengan pendek dan panjangnya hanya sampai atas lutut. Grace berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Sebenarnya ia ingin sekali marah-marah. Sayangnya, wajahnya masih menggunakan masker wajah yang belum kering benar. Jadi, dia tidak mau wajahnya bermasalah hanya karena marah-marah hal sepele seperti ini. Grace pun menggelengkan kepalanya beberapa kali saat melihat tingkah sang Papa yang lebih memilih untuk tidur di tepian ranjang yang lain seraya menutup telinganya dengan bantal. 'Ish. Si Papa bukannya angkat telpon malah telinganya ditutupi. Gimana sih?" ujar Grace sambil menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali. Grace pun mengalihkan perhatiannya ke arah benda pipih yang terus berisik itu. Kemudian ia segera memencet tombol tolak. 'Malem-malem gangguin aja!' batin Grace lagi sambil meletakkan benda itu kembali ke tempatnya. Grace segera balik badan dan hendak berjalan pergi. Namun, belum sampai ia benar-benar meninggalkan tempat itu. Gawai Papanya kembali berdering kencang lagi. Kring!!! Kring!!! Kring!!! Grace yang geram sampai langsung menghentakkan kakinya ke atas lantai puluhan kali. 'Iiiihhhh! Siapa sih malem-malem gangguin orang tidur. Nih, rasain akibatnya!" kata Grace sambil membuka tempat penyimpanan SIM card dalam ponsel pintarnya itu. Lalu ia ambil dan diletakkan secara terpisah. "Telpon aja nih! Kalau bisa!" gumam Grace tanpa sadar. Sedetik kemudian ia merasa masker di wajahnya yang sudah kering retak. Karena gumamannya itu. Sehingga membuat Grace reflek menyentuhnya. 'Ah, jadi retak. Ih, awas ya! Kalau sampai wajah gue nggak semulus biasanya. Papa yang harus tanggung jawab!' ujar Grace dalam hati sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah sang Papa. Setelah itu ia pun melenggang pergi. Waktu pun terus berlalu. Sinar bulan pun kini sudah berganti dengan matahari. Hitman yang tak tau dengan berita kegagalan Operasi anak buahnya semalam masih bisa tersenyum sambil menikmati secangkir kopi panas dan koran pagi langganannya. "Pagi, Pa!!" sapa Grace sembari menuruni anak tangga. Setelah kakinya sampai di lantai bawah. Ia pun segera berlari kecil. Lalu memeluk tubuh Papanya dari belakang. "Pagi, Sayang! Lho tumben kamu sudah bangun. Sudah wangi lagi. Pasti mau ketemu sama Julian ya!" tebak Hitman Abraham. "Hehe. Papa berhenti jadi pebisnis aja deh," kata Grace yang langsung membuat Hitman mengerutkan keningnya seketika. Takut Grace mengetahui bisnis haramnya selama ini. "Kok gitu?" tanya Hitman dengan penuh rasa ketakutan. "Iya. Abis Papa lebih cocok jadi paranormal. Suka tepat deh kalau nebak-nebak aku. Hehe," timpal Grace sambil tersenyum lebar. "Hahahaha." Hitman tak kuasa menahan tawa gelinya. "Kamu ini bisa-bisa saja deh. Papa kan orang paling dekat sama kamu. Jadi, Papa paling mengerti kamu. Melebihi siapapun." "Iya, deh. Aku ngerti," kata Grace sambil melepaskan pelukannya. Kemudian ia pun segera menarik kursi di samping Hitman lalu mendudukinya. "Bagus. Pokoknya sekarang kamu harus sarapan dulu. Biar badan fresh dan pertemuan dengan Julian pun lancar?" kata Hitman sambil mengacak rambut anak semata wayangnya itu. "Aduh, Papa. Apa-apaan sih? Rambut aku kan jadi lepek lagi ntar. Kalau aku nggak cantik mana mungkin Julian mau," ujar Grace dengan nada manjanya. "Ih, maaf deh maaf. Ya, udah. Cepet sarapan sana. Papa mau lanjut baca koran!" ujar Hitman dengan santainya. Grace pun segera mengangguk sambil menarik piring Hermes Asli berbentuk oval yang terkelungkup di depannya. Saat Grace meraih roti dan mengoleskannya dengan selai. Hitman dengan santai dan perasaan bahagia membuka koran pada halaman selanjutnya. Sepersekian detik berikutnya matanya pun langsung membulat sempurna membaca tajuk utama di halaman itu. "Polisi gagalkan penyeludupan kayu Kalimantan di pelabuhan Tanjung Priok Semalam!" gumam Hitman Abraham dengan wajah syok berat. 'Jangan-jangan yang menelpon tadi malam para kacung itu!' batin Hitman dengan panik ia segera membuka ponselnya. Lalu ia pun mencari data panggilan masuk semalam. Benar saja! Orang yang menelponnya semalam adalah Yohanes. Orang kepercayaannya yang bertugas untuk mengawasi kinerja anak buahnya di dermaga. Dengan tangan yang bergetar hebat dan detak jantung yang berdegup kencang Hitman segera mengontak balik tangan kanannya itu. "Kenapa dia nggak nelpon lagi semalem," gumam Hitman yang ternyata didengar oleh Grace disebelahnya. Grace pun menoleh ke arah sang Papa seraya menikmati roti selai nanas kesukaannya. "Ish. Ini telpon kenapa sih nggak bisa-bisa!" kata Hitman dengan kesal. "Emang Papa sudah masukin SIM cardnya lagi?" tanya Grace dengan mulut penuh. Wajahnya pun tampak tak memiliki dosa. "SIM card? Perasaan Papa tidak pernah main-main sama benda begituan setelah Yohanes yang pasang di ponsel Papa," jawab Hitman dengan tampang bodohnya. "Emang bukan Papa, tapi aku. Hehe," jawab Grace sambil nyengir kuda. "Apa?!" Suara Hitman pun menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Bahkan, ia yang mendadak berdiri sampai membuat kursi di belakangnya terjungkal. Grace pun kaget dengan reaksi sang Papa. Tak biasa-biasanya ia terlihat semarah ini. "Ma… maaf, Pa. Abis semaleman ponsel Papa berisik banget. Sampai bikin aku nggak bisa tidur. Makanya, karena aku geram SIM card ponsel Papa aku keluarin deh," gumam Grace semakin lirih. "Papa marah ya?" tanya Grace sambil melirik Hitman yang kini terlihat sedang menahan emosinya. Ia memang tak bisa memarahi Grace. Sebab, anak itu adalah nyawa bagi Hitman Abraham. Jadi, lelaki yang biasanya selalu terlihat galak dan suka memaki itu hanya bisa mengatur nafasnya yang terasa sesak hingga dadanya terlihat kembang kempis tak beraturan dan kedua tangannya mengepal kuat. "Ma… maafin Grace ya, Pa?" ujar Grace dengan raut wajah yang penuh penyesalan. "Tidak apa-apa, Nak! Sekarang kamu ambil benda itu dan pasang lagi ke ponsel Papa!" titah Hitman dengan wajah datar. Seakan ia belum benar-benar memaafkan Grace. "Iya, Pa. Aku ambil dulu di atas," kara Grace sambil segera beranjak dari duduknya. Meskipun Hitman bukanlah orang baik. Namun, ia selalu mengajarkan kebaikan pada putrinya. Termasuk rasa tanggung jawab atas segala tindakan yang pernah dia lakukan. Hitman pun berjanji pada dirinya sendiri. Jika kejahatannya diketahui oleh polisi. Maka secara kooperatif dia akan menyerahkan diri dan mengakui segala kelakuannya. Namun, dia tidak menyangka. Jika kejadian mengerikan itu akan terjadi secepat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN