Sebelumnya.
"Sakura!"
Hana tergopoh-gopoh memasuki ruang perawatan. Kabar jika putrinya masuk rumah sakit di tempat yang cukup jauh membuatnya hampir tak bisa berpikir. Dengan kereta cepat, beruntung ia bisa datang dengan waktu yang lebih singkat. Meski begitu ia sampai, Sakura sudah selesai ditangani.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" ucap Hana dengan nada panik. Padahal gadis yang terbaring sudah melewati masa kritis, tapi ia tetap tidak bisa tenang. Terlebih selama perjalanan wanita itu hampir pasrah memikirkan kemungkinan terburuk.
Namun Sakura tersenyum dari balik selang oksigen yang terpasang. Gadis itu mengangguk. "Aku baik-baik saja, Ma," ucapnya dengan sangat tenang.
Hana belum sepenuhnya percaya. Ia yakin jika Sakura hanya berusaha menutupi rasa sakit, seperti biasanya.
"Katakan saja, Sakura. Apa ada yang masih sakit? Dadamu masih sesak?" tanya sang ibu memeriksa secara detail.
Sakura segera menggeleng. "Aku baik. Mama tenang saja," ungkapnya meyakinkan, "lagipula, bagaimana Mama bisa berada di sini," tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Beberapa saat Hana terdiam, ia menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Hingga saat semuanya terlihat baik, tubuh wanita itu terjatuh, ia lemas di antara kelegaan.
Diraihnya tangan sang anak. "Seseorang menelepon mama. Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Mama hampir kehilangan pikiran saat di perjalanan tadi," ujar Hana. Ia tak henti-hentinya mengucap rasa syukur.
Sakura tersenyum. Ia mengangguk. "Aku tahu. Maaf telah membuat Mama khawatir dan hampir kehilangan pikiran," ucapnya diakhiri dengan tawa kecil.
Mendengar itu, Hana semakin lega. Setidaknya putrinya sudah bisa tertawa. Meski ia paham betul, jika kondisi Sakura belum sepenuhnya pulih.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi, Sakura?" Hana mulai serius. Ia menatap gadis di atas ranjang dengan tatapan menuntut penjelasan. Ia harus tahu kenapa Sakura bisa berakhir di rumah sakit, meski obat yang ia bawakan sudah lengkap. Harusnya bisa membantu putrinya menunda sakit meski sesaat.
Sakura tak langsung menjawab, ia terdiam. Lebih tepatnya memikirkan darimana ia harus menceritakan kejadian yang cukup pelik. Terutama tentang Haruka dan sang ayah.
Akan tetapi, akhirnya gadis itu tetap menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Menceritakan dari awal, bagaimana ia bertemu dengan Taguchi, dan membantu lelaki itu menemui Haruka.
"Aku merasa bersalah dengan Haruka, Ma," ungkapnya dengan menyesal.
Hana mengerti, ia mengelus punggung tangan Sakura pelan.
"Aku pikir bisa membantu ayah Haruka. Tapi sepertinya aku hanya membuat keadaan semakin runyam," ujar Sakura melanjutkan, "menurut Mama, aku pantas disalahkan?" tanyanya meminta pendapat.
Sesaat setelah pertanyaan terlontar, Hana segera menggeleng. "Tidak, Sayang. Apa yang kamu lakukan tidak salah." Wanita itu mencoba menenangkan putrinya.
Mendengarnya, membuat Sakura sedikit merasa tenang. Ya, ia tidak sepenuhnya bersalah.
Setelah beberapa saat, sang ibu kembali memastikan. Ia bertanya, "Apa itu yang membuatmu sampai dilarikan ke rumah sakit seperti ini?"
Sakura menggeleng cepat. "Tentu tidak, Ma. Aku hanya sedikit telat meminum obat," ungkapnya.
Hana tidak sepenuhnya percaya. Ia yakin, Sakura mengatakan hal itu hanya untuk membuatnya tenang. Namun perasaan seorang ibu terlalu peka.
Hingga sepertinya sadar dengan ekspresi sang ibu, Sakura kembali melanjutkan, "Kumohon jangan salahkan Haruka, Ma. Dia temanku yang sangat berharga." Gadis itu memohon.
Namun Hana masih berada di antara kebimbangan. Terakhir saat bersama Haruka, Sakura mengalami kejadian yang sama. Lalu sekarang terjadi lagi. Bisakah ia mempercayai teman putrinya itu?
"Mama harus berjanji padaku." Sakura kembali menyela sebelum sang ibu menanggapi. "Dia adalah salah satu teman yang membuatku kuat bertahan," lanjutnya dengan ketulusan penuh.
Mendengar itu, Hana menatap sang anak dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia bisa melihat ucapan tulus dari Sakura, tapi ia juga sedih di saat yang sama.
Akhirnya, setelah beberapa saat memandang wajah Sakura dengan lekat, Hana mengangguk. Ia sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan menolak apapun yang sang anak katakan.
Anggukan Hana seolah membawa kegembiraan bagi Sakura. Gadis itu tersenyum. "Mama janji, kan?" tanyanya memastikan.
Dengan mata yang mulai basah, Hana kembali mengangguk.
Sakura semakin senang. "Kalau begitu, boleh aku minta tolong sampaikan ini pada Haruka, Ma? Dia sedari tadi belum datang," ucapnya kemudian.
Hana menerima sesuatu dari tangan sang anak, lalu mengiyakan dan berkata akan menyampaikannya pada Haruka.
*
Setelah menemui Haruka di lobi, Hana mengajak remaja itu untuk menepi.
"Sakura meminta saya untuk menyampaikan ini padamu." Hana menyerahkan sebuah kertas yang sudah dibentuk, seperti biasa itu perahu.
Tanpa banyak tanya, Haruka segera menerima perahu kertas pemberian ibu Sakura.
"Gadis itu juga meminta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya. Sakura tidak tahu dengan permasalahan yang terjadi. Jadi saya memintamu untuk maklum dengan sikapnya," lanjut Hana.
Mendengar itu Haruka segera teringat tentang kejadian semalam. Ia memang sangat marah dengan Sakura saat itu, bahkan sudah berniat meninggalkan temannya di penginapan. Namun sekarang, seolah perasaan kesal memudar. Ia sama sekali tidak bisa menyalahkan Sakura.
"Saya mengerti," ucap Haruka seraya mengangguk kecil.
Melihat respon Haruka yang tenang, Hana semakin merasa lega.
Haruka melihat perahu kertas yang terlipat sedikit kusut, seperti sudah digenggam untuk waktu yang cukup lama. "Apa Sakura meminta saya menghanyutkan ini?" tanyanya.
Hana mengangguk. "Kau benar. Dia memintamu untuk melakukan itu. Apa itu memberatkan?"
Dengan cepat Haruka menggeleng. "Tidak. Sama sekali tidak," tegasnya, "tolong sampaikan pada Sakura jika saya akan melakukanya, dan datang menemuinya," lanjut pria itu.
Usai merajut perbincangan dengan Hana, Haruka memutuskan untuk segera keluar. Ia akan mencari sungai terdekat. Jika tidak ada, mungkin laut menjadi satu-satunya pilihan untuknya.
Awalnya, Haruka mengira jika lelaki yang menemani sudah kembali setelah ia pergi. Akan tetapi Taguchi masih duduk di tempat yang sama. Menunggunya dan langsung berdiri ketika Haruka tiba.
"Bagaimana keadaan gadis itu? Dia baik-baik saja?" tanya Taguchi dengan cemas.
Haruka hanya mengangguk sekilas. "Kenapa kau belum juga pergi?" tanyanya ketus.
Namun Taguchi sudah tidak peduli dengan apa saja yang akan Haruka katakan. Semakin memikirkannya, ia semakin ingin melindungi putranya.
Hingga pandangan lelaki itu beralih pada kertas merah yang dipegang sang anak. "Kau akan menghanyutkannya?" tanyanya dengan mata berbinar.
Haruka yang mendengar itu sedikit terkejut. Bagaimana lelaki di depannya bisa tahu.
Tetapi belum sempat menjawab, Taguchi sudah lebih dulu menyela. "Ikut aku. Aku akan mengantarmu ke sungai di sekitar sini." Tanpa menunggu persetujuan dari sang anak, lelaki itu sudah lebih dulu beranjak.
Sementara pria remaja di belakang masih bergeming menimbang. Meski akhirnya ia tetap mengekor. Haruka sadar, akan sangat merepotkan untuknya jika mencarinya seorang diri. Pikirkan tentang Sakura, maka ia akan menepikan perasaan sesaat.
Di dalam mobil, Haruka lebih banyak diam. Sedangkan Taguchi juga tak banyak bertanya. Bagaimanapun, sekat yang tercipta di antara keduanya masih sangat kuat. Sulit untuk dihilangkan.
Namun setelah beberapa saat, Taguchi menoleh sekilas. Ia tersenyum. "Kau masih melakukan itu rupanya."