"Perahu kertas yang cantik," gumam Taguchi seraya menatap arus sungai.
Sedangkan Haruka, remaja itu hanya terdiam. Usai melepaskan perahu kertas, ia hanya menatap tanpa kata. Lagipula, bukan keinginannya melakukan hal tersebut bersama lelaki yang kini bersamanya.
Taguchi menoleh, menatap sang anak dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau mengingatkanku pada masa lalu, Haruka," ucap lelaki itu.
Haruka masih bergeming. Ia memang sedikit menepikan perasaan dendam. Namun bukan berarti lelaki di sampingnya bisa berinteraksi dengannya seperti biasa. Sepertinya itu akan sangat sulit dilakukan.
"Apa kau ingat dulu ayah, maksudmu aku yang menceritakan tentang perahu kertas padamu?" tanya Taguchi setelah tidak ada jawaban apapun dari Haruka.
Namun tak ada jawaban apapun selain suara angin yang terdengar semakin memilukan. Haruka terus diam, meski di sampingnya seorang lelaki tengah mencoba mengambil perhatian sedari tadi.
Mendapati sang anak sama sekali tidak menjawab, Taguchi hanya bisa menghela napas berat. Ia tersenyum, walau jelas sekali ada garis kekecewaan di sana. Ya, dia tidak boleh serakah. Melihat Haruka baik-baik saja sudah cukup, tanpa ingin lebih untuk berbicara dengannya.
Perahu kertas yang dihanyutkan sudah melenggang pergi tak terlihat. Kabut pagi masih tersisa meski sedikit, dan itu mendukung penglihatan di sungai sedikit kabur. Bukan Haruka ingin duduk berlama-lama di sana, hanya saja ia ingin memastikan jika titipan Sakura pergi dengan baik.
Usai perahu tidak terlihat, Haruka memutuskan untuk beranjak. Ia berdiri, membersihkan pakaian dari rumput yang menempel, lalu berbalik tanpa berniat pamit.
Tidak menunggu putranya berkata, Taguchi segera mengikuti. Ia ikut berdiri. Berbalik dan menatap punggung Haruka yang terlihat semakin besar semenjak ia melihatnya delapan tahun lalu. Seorang anak yang sudah tumbuh dengan baik.
Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Haruka berhenti. Wajahnya menoleh sekilas. Dengan nada datar ia berujar, "Terima kasih untuk bantuannya."
Mendengar itu, Taguchi sedikit terkejut. Ia hanya bisa mengeluarkan satu kata tanya. Memastikan jika apa yang ia dengar tidaklah salah.
Akan tetapi, memang Haruka mengatakannya. Sebab setelahnya remaja itu melanjutkan, "Aku akan kembali ke rumah sakit. Tolong jangan mengikutiku lagi. Untuk masalah delapan tahun lalu, kuharap kau tidak lagi mengungkitnya." Setelah mengatakan itu, ia benar-benar pergi.
Taguchi yang masih terkesima dengan kalimat sang anak hanya bisa mematung di tempat. Lelaki itu mencoba mencerna tiap kata yang putranya sampaikan. Mengira maksud dari apa yang belum bisa ia pahami.
Namun setelah beberapa saat terdiam, lelaki itu memasang senyum yang hangat. Sebuah senyum yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ayah terhadap putranya.
"Baiklah jika itu yang kamu mau, Haruka. Hiduplah dengan baik," ujar lelaki itu lirih. Meski ia yakin, remaja yang sudah menjauh tidak mungkin bisa mendengar perkataannya.
Sementara langkah yang terus berjalan, mengantar Haruka kembali ke tempat tujuan. Sebuah gedung besar dengan banyak ruang perawatan.
Haruka menarik napas dalam, sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menggeser pintu ruangan di mana Sakura dirawat.
Dengan perasaan bersalah yang mendominasi, pria itu akhirnya membuka pintu. Ia tersenyum canggung saat melihat gadis yang juga tersenyum.
"Haruka," pekik Sakura senang. Sedangkan wanita paruh baya di samping gadis itu hanya tersenyum.
Hal yang pertama kali Haruka lakukan adalah memberi salam. Membungkuk sopan pada wanita di sana.
"Mama akan keluar sebentar, " ucap Hana pada sang anak. Mengelus puncak kepala Sakura pelan sembari tersenyum.
Haruka mendekat ke ranjang di mana seorang gadis tengah duduk dengan tenang.
"Kenapa kamu baru datang?" protes Sakura begitu Haruka tiba.
"Ah, itu ... apa kau baik-baik saja?" Namun itulah yang dikatakan oleh Haruka. Ia tidak mungkin mengatakan bagaimana perasaannya semalaman. Terlebih tentang rasa takutnya kepada ibu dari gadis itu.
Satu detik setelah pertanyaan selesai, Sakura mengangguk. "Ya. Aku sangat baik," ucapnya dengan senyum cerah di wajah.
Tak lama setelah terdiam, gadis itu melanjutkan, "Kata dokter aku boleh keluar sore ini."
Mendengarnya membuat Haruka membulatkan mata. Bukan terkejut, mungkin akan lebih tepat jika ia merasa senang. "Sungguh? Syukurlah kalau begitu," ungkap pria itu girang.
Sakura mengangguk, ia juga nampak senang. Namun sepertinya ada yang tengah ia pikirkan. Senyum di wajah gadis itu perlahan memudar, terganti dengan garis ragu, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan.
"Haruka," panggil Sakura ragu. Setelah pria di hadapannya menoleh, ia melanjutkan, "apa aku boleh minta tolong sekali lagi padamu?" Ia menatap Haruka dengan penuh harap.
Beberapa detik Haruka terdiam. Meski setelahnya ia tetap bertanya tentang apa bantuan yang Sakura maksud.
"Begini ... sepertinya aku akan pulang dengan mama. Tapi barang-barang ku masih tertinggal di penginapan. Jadi, apa boleh jika aku minta tolong padamu untuk membawakannya pulang?" tanyanya dengan hati-hati, "maaf soal itu jika merepotkan. Sebenarnya aku ingin mampir untuk mengambil barang-barang, tapi mama tidak mengizinkan," lanjut gadis itu menjelaskan.
Sakura khawatir jika Haruka akan sangat kerepotan dengan permintaannya. Namun yang terjadi justeru sebaliknya, pria di hadapannya tersenyum dan segera mengangguk mengiyakan dengan sangat ringan.
"Tentu. Aku akan membawakannya untukmu," ujar Haruka.
Mendengar itu, senyum senang di wajah Sakura kembali mengembang. "Terima kasih, Haruka. Ah iya, aku ingin meminta maaf soal semalam," ujar gadis itu lagi penuh dengan penyesalan.
Namun lagi-lagi Haruka tersenyum dan mengangguk. "Lupakan saja. Tidak masalah sekarang."
Hari berlalu sangat cepat. Matahari yang awalnya masih malu menampakkan diri, kini sudah hampir pergi menggantung di langit jingga. Ya, itu berarti sudah saatnya Sakura untuk pulang.
Sementara Haruka, ia sudah kembali ke penginapan sejak siang tadi. Pria itu ingin mengejar kereta sore, takut terlalu larut jika pulang setelah malam.
Di dalam penginapan, pria itu mengemasi barang-barang yang tersisa. Beberapa berserak sebab ia tak sengaja menendangnya semalam. Di antara benda yang terlihat, ada sekotak obat yang membuat Haruka seketika mematung.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Sakura mengkonsumsi obat semasa hidup. Tak hanya kapsul, bahkan beberapa suntikan juga masih terlihat penuh. Sepertinya gadis itu sengaja mempersiapkan untuk berjaga-jaga.
"Dia gadis yang penuh dengan kebohongan," gumam Haruka, "tapi di saat yang sama ia adalah gadis terkuat di dunia," lanjutnya. Setelah itu, ia mengemas setiap barang tanpa meninggalkan satupun.
Haruka sudah siap untuk meninggalkan penginapan. Namun begitu ia keluar kamar, seorang wanita yang kemarin menyambutnya menghampiri.
"Kau sudah mau pergi?" tanya wanita itu ramah.
Menjawab pernyataan itu, Haruka mengangguk.
Wanita itu tersenyum. "Baiklah. Hati-hati di jalan. Mampirlah lain kali. Jika kau ingin bertemu dengan lelaki itu, ia akan selalu berada di sini," lanjutnya.
Haruka hanya mengangguk. Ia tidak mengambil pusing perkataan yang baru saja didengar. Tentang lelaki yang dimaksud, ia sangat paham jika itu adalah sang ayah. Meski sampai sekarang ia masih belum mau mengatakan sapaan itu.
"Jadi ayah sudah menikah dan mendirikan penginapan ini," gumam Haruka saat kereta mulai melaju meninggalkan stasiun.