Haru & Saku

1061 Kata
Hari ke-185 Musim panas berlangsung bagai anak panah melesat dari busurnya. Sangat cepat. Menyisakan beberapa kenangan yang mungkin tidak akan mudah untuk dilupakan. Terutama bagi Sakura dan Haruka. Daun-daun musim panas perlahan mulai menguning, beberapa berganti warna menjadi jingga, dan sebagian sudah mulai rapuh dari tangkainya. Awal musim gugur sudah dimulai. Di sebuah sungai di bawah pohon plum, dua remaja tengah duduk sembari melipat kertas. Tentu saja, siapa lagi jika bukan Haruka dan teman gadisnya, Sakura. "Hei. Lipat dengan benar, Haruka!" Sakura menepuk lengan pria di sampingnya. Haruka yang terkejut segera menoleh. "Apa yang salah?" tanyanya, sedangkan matanya tidak memperhatikan kertas yang harusnya dilipat menyerupai perahu, malah berganti menjadi pesawat. Sakura membuang napas panjang. "Kau yakin bentuk seperti itu bisa dihanyutkan?" tanyanya, menyuruh Haruka untuk melihat sendiri apa yang dibuat. Tak mau berdebat, Haruka segera mengalihkan pandangan pada kertas di tangan. "Memangnya apa yang sal--" Namun seketika matanya membulat. "Astaga! Kenapa aku melipatnya seperti ini?" Ia terkejut sendiri. Melihat temannya kehilangan fokus, Sakura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Sebenarnya kau sedang memikirkan apa?" tanyanya, yang kemudian mencoba mengalihkan perhatian. Haruka bergeming. Ia sendiri bahkan tidak tahu kenapa bisa hilang fokus seperti ini. Apa karena ayahnya yang menghubunginya semalam? Tidak, ia segera menggeleng. Meski lelaki itu tengah berada di kota ini, Haruka sama sekali tidak berniat menemuinya. Berniat mengalihkan pikirannya, Haruka segera merombak sebuah pesawat menjadi perahu kertas. Benar, ia harus hidup dengan keadaan yang sekarang. "Aku sudah selesai!" pekik Haruka setelah beberapa saat. Di detik berikutnya pria itu bangkit. Namun belum sempat melangkah, ia sudah lebih dulu terhenti. "Kau tidak mau menghanyutkan perahu itu?" tanya pria itu pada gadis yang masih duduk di tempat. "Apa kau merasa sakit?" Sadar akan satu hal, Haruka kembali merendahkan badan, memeriksa keadaan Sakura. Akan tetapi, seperti biasa gadis di sana hanya tersenyum dan menggeleng. "Aku baik-baik saja," ucapnya ringan, tapi jelas ada sesuatu yang tengah dipikirkan. "Kalau begitu, kenapa kau masih duduk? Bukankah kita harus segera menyelesaikan misi pengiriman pesan ini?" tanya Haruka lagi. Mendengarnya membuat bibir Sakura tersenyum simpul. Wajahnya menunduk menatap kertas perahu berwarna kuning di tangan. "Kau benar. Kita harus menyelesaikannya," gumam gadis itu pelan. Namun untuk Haruka, sikap Sakura kali ini cukup berbeda. Biasanya gadis itu akan bersemangat dalam hal apapun. Tetapi sekarang, kenapa menjadi murung. Belum usai Haruka menyimpulkan pendapat di kepala, Sakura sudah lebih dulu menyela. "Haruka." Gadis itu menoleh, menatap serius pria yang kini memasang wajah tidak mengerti. Tak lama Sakura melanjutkan, "Jika suatu saat aku tidak bisa menyelesaikannya, maukah kau menuntaskan satu tahun perahu kertas untukku?" tanyanya terdengar penuh dengan ketulusan. Mendengar itu, Haruka terpaku. Ia paham betul dengan maksud yang Sakura sampaikan. Sebenarnya pria ini juga khawatir tentang musim dingin yang akan tiba setelah musim gugur beralih. Seperti sebelumnya, gadis itu tidak terlalu akur dengan suhu yang rendah. Namun apapun yang nanti terjadi, ia tidak boleh mengkhawatirkannya sekarang. Dengan alis tertaut, Haruka berujar, "Apa maksudmu? Kau yang memulai, itu berarti kau juga yang harus menyelesaikannya." Tidak menunggu jawaban dari Sakura, pria itu kembali bangkit. Pandangannya dialihkan pada sungai yang membentang, daripada melihat tatapan gadis yang membuat perasaanya jadi tidak menentu. "Cepatlah. Aku lapas," ucap Haruka. Setelahnya melangkah meninggalkan Sakura. Sementara gadis yang masih duduk hanya bisa tersenyum menatap punggung seorang pria yang menjauh. Ia bersyukur, bahkan jika setelah ini harus segera pergi. Setidaknya waktu yang dijalani terasa sangat berarti dengan keberadaan Haruka. "Kau meninggalkanku?" teriak Sakura mencoba kembali mencairkan keadaan. "Kau lambat!" timpal Haruka dari jauh. Tak lama, Sakura berhasil menyusul Haruka. Di tepi sungai yang tidak terlalu deras, keduanya berjongkok dengan perahu kertas yang siap dihanyutkan. Satu, dua, tiga. Dua perahu kertas berwarna kuning dan merah muda melenggang tanpa batas. Mengikuti arus dengan segenggam harapan yang tertulis di dalam. "Bukankah perahu-perahu itu sangat menggambarkan kita?" ujar Sakura tiba-tiba. Haruka yang sudah terbiasa dengan perkataan random gadis di sebelahnya hanya bisa bertanya apa maksudnya. Sakura menoleh. "Kuning dan merah muda. Musim semi dan bunga sakura," lanjut gadis itu. Dahi Haruka mengerut. "Lalu apa hubungannya denganku?" Gadis di samping Haruka menghela napas panjang. Setelahnya menjelaskan, "Haruka, berarti musim semi. Serta Sakura, bukankah bunga yang hanya mekar di musim semi?" "Lalu?" Haruka masih tidak paham, atau berpura-pura tidak mengerti. Sakura terdiam sejenak. Pandangannya beralih pada dua perahu yang semakin jauh. "Itu seperti takdir. Kita adalah takdir. Haru dan Sakura," lirih gadis itu. Meski pada awalnya Haruka nampak tidak peduli, tetapi entah kenapa ia tersentuh dengan pernyataan yang baru saja Sakura lontarkan. Apakah benar jika mereka adalah sebuah takdir? Lantas bagaimana jika musim semi datang tanpa bunga sakura yang mekar? Haruka terdiam. Meski perkataan Skaura terdengar seperti gurauan, akan tetapi ia paham jika ada sesuatu yang ingin gadis itu sampaikan. Entah apa, pria ini yang harus memikirkannya. Tak lama setelah dua perahu kertas benar-benar hilang dari pandangan, Sakura bangkit. "Ayo pergi. Kau bilang lapar tadi," ajak gadis itu. Namun Haruka bergeming. Ia masih memikirkan apa maksud tersembunyi dari perkataan dan sikap Sakura hari ini. Ia tidak mudah paham, meski sudah memikirkannya hingga ke akar. Sedangkan Sakura yang merasa diabaikan segera memukul pundak Haruka. "Kau melamun lagi," ucapnya. Segera sadar, Haruka menoleh lalu bangkit. "Tidak," kilahnya, "jadi kau mau makan apa?" Pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan. Akan tetapi berhasil, Sakura segera berpikir setelah mendapatkan pertanyaan terakhir. Dengan mudahnya ia melupakan apa yang barusan mengganggunya. Sesaat gadis itu menopang dagu, meski pada akhirnya tetap menggeleng tidak tahu. "Entahlah. Tidak ada makanan yang benar-benar ingin aku makan hari ini," ujarnya. Haruka terdiam sejenak. "Kalau begitu, aku akan membelanjakan taman katsu," usulnya. Mata Sakura berbinar. "Yang berada di ujung jalan?" "Baiklah." Seketika Sakura berteriak girang. Gadis itu bilang jika tidak ada yang benar-benar ingin dimakan. Namun saat mendengar tawaran Haruka, ia menjadi sangat bersemangat. Sangat bertolak belakang dengan ucapannya barusan. Merasa lebih bersemangat dari Haruka, Sakura Sakura melangkah lebih dulu. Ia memimpin di depan, sedangkan pria yang akan membayar masih tertinggal. Hingga tak lama, Haruka menghentikan langkah. Mendapati pria di belakangnya berhenti, Sakura segera menoleh. Haruka menarik napas dalam, sebelum akhirnya berkata, "Menurutmu, apa jadinya jika musim semi tanpa bunga sakura?" Seketika Sakura terdiam. Ia mencoba mencerna pertanyaan yang Haruka berikan. Belum menanggapi serius, gadis itu menimpali, "Bukan musim semi namanya jika tidak ada bunga sakura yang mekar. Kenapa tanya seperti itu tiba-tiba?" Dengan cepat pria itu menggeleng. "Tidak. Aku hanya berharap pohon sakura tetap bertahan meski saat salju datang." Setelahnya Haruka melangkah, menyamai Sakura bahkan perlahan mendahului gadis yang masih mencerna kalimat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN