Daun yang menguning, perlahan gugur tertiup angin. Ranting yang biasanya merasa hangat diselimuti, kini satu persatu dahannya tandus di makan waktu. Musim semi, adalah saat di mana langit terasa oranye, bersama jalanan yang dipenuhi warna-warni dedaunan.
Musim semi datang sebagai semester baru bagi anak sekolah. Usai musim panas berakhir, mereka harus melewati beberapa bulan yang lain untuk naik ke bangku selanjutnya. Tidak terkecuali untuk dua remaja yang masih terikat dengan daftar permintaan selama satu tahun.
Sudahkah mencapai setengah? Ya. Keduanya sudah menghabiskan 190 hari dari 365.
"Sakura!"
Seorang gadis berteriak dari ujung lorong. Nami, siswi yang terlihat lebih bersemangat setelah liburan berakhir.
"Ah, Nami," sapa Sakura begitu temuannya mendekat.
Nami tersenyum. "Apa kau bersenang-senang selama liburan?" tanya gadis itu.
Mengingat liburan musim panas yang singkat, Sakura segera mengiyakan. "Tentu. Kami pergi berlibur ke pantai, dan itu sangat menyenangkan," ucapnya.
"Baguslah. Kau tahu, aku pergi ke luar negeri selama beberapa hari!" pekik Nami nampak sangat senang. Wajar saja jika ia terus tersenyum sepanjang pagi.
Mendengar liburan temannya yang terdengar sangat menyenangkan, membuat Sakura turut bersemangat. Kedua matanya berbinar. "Benarkah? Ke mana kau pergi?"
"Negara tetangga. Tempat pria-pria tampan idolaku berkumpul," ujar Nami sembari meletakkan kedua tangan di pipi. Menunjukkan jika ia benar-benar senang bisa mengunjungi negara impian.
"Ah, maksudmu tempat para pria yang sering kamu ceritakan itu?" tanya Sakura menanggapi. Ia cukup senang melihat bagaimana temannya sangat antusias ketika menceritakan beberapa idol tampan yang katanya sangat Nami kagumi.
Dengan cepat Nami mengangguk. "Ya. Tapi sayang sekali, aku tidak bisa bertemu satupun dari mereka." Wajah gadis itu berubah kusut sedetik setelah mengatakannya. Ia kecewa.
Namun Sakura yang mendengar kekecewaan dari seorang teman justeru terkekeh. Bukan ia senang, tapi lebih merasa betapa temannya ini sangat menggemaskan.
"Setidaknya kau sudah berhasil datang ke sana," hibur Sakura.
Mendengar itu, Nami mengangguk lemas. "Kau benar," ucapnya, "ah, aku baru ingat. Aku membeli ini untukmu," lanjutnya seraya menyerahkan bingkisan kecil pada Sakura.
"Apa ini?" tanya Sakura memastikan, meski ia tetap menerima bingkisan.
"Hadiah kecil. Aku harap kamu mau menyimpannya untukku," ujar Nami sedikit memberitahu.
Tanpa banyak tanya, Sakura segera mengangguk. Tentu ia akan menjaganya apapun bentuk hadiah yang Nami berikan. Untuknya, apapun yang diterima dari seorang teman adalah sesuatu yang sangat berharga.
Bel masuk berbunyi sesaat setelah Nami dan Sakura sampai ke dalam kelas. Teman-teman masih sama, wajah-wajah mereka juga tak banyak berubah. Juga dengan tempat duduk, agaknya setiap siswa memilih tempat yang sama seperti semula.
Sakura mengamati sekeliling. Bel sudah berbunyi, tapi ada satu siswa yang belum nampak batang hidungnya. Seseorang yang duduk di depannya, Haruka.
Merasa tak bisa menemukan pria itu di sekitar kelas, Sakura menoleh. "Nami. Kau lihat Haruka pagi ini?" tanyanya.
Beberapa detik Nami menyapu seisi kelas, jendela dan pintu barangkali Haruka terlambat. Namun hasilnya nihil. Gadis itu menggeleng. "Dia tidak memberimu kabar?" Ia malah balik bertanya.
Sakura menggeleng tanpa semangat. Ya, ia memang belum bertukar kabar dengan Haruka sejak kemarin. Pesan terakhir hanya tentang janjian di tepi sungai. Setelahnya tidak ada.
Dialihkan pandangannya pada luar jendela. Sakura berharap bisa menemukan Haruka walaupun mendapatinya di barisan siswa yang sedang dihukum karena terlambat. Gadis itu masih berharap banyak.
Namun pengamatannya segera berakhir ketika seorang guru datang memasuki kelas.
Kursi di depan Sakura benar-benar kosong hingga pelajaran ketiga. Itu berarti, satu sesi belajar lagi kelas akan segera selesai.
Sakura menarik napas dalam, lalu membuangnya dengan pelan. Materi yang masuk tidak ada yang benar-benar ia pahami. Haruka, adalah bagian terbesar yang menyita perhatiannya.
Dilihatnya ponsel sebelum pelajaran terakhir dimulai. Pesan yang ia kirimkan pagi tadi masih sama, hanya terkirim tanpa dibaca. Hal itu membuat Sakura semakin meras khawatir.
"Seharusnya dia memberiku kabar jika tidak masuk. Dasar!" gumam Sakura lirih. Ia kesal, tapi lebih pada rasa khawatir.
Benar saja, bahkan hingga bel pulang sekolah berakhir, kursi yang kosong tetap seperti itu.
Sakura mengemas buku ke dalam tas dengan sedikit kasar. "Awas saja kalau aku menemukanmu!" ucapnya dengan nada kesal. Sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu, hanya wujud dari perhatian.
Setelah semua buku masuk, gadis itu melempar tas cukup keras ke atas meja. Pandangannya menerawang ke luar jendela, lalu berganti menatap kursi kosong di depannya. Sekali lagi napas dikeluarkan dengan kasar.
Namun setelah beberapa saat, wajah kesal yang tadi ia tampilkan berubah seketika menjadi raut yang tengah mencemaskan sesuatu. Sakura tidak bisa berbohong, bahwa ia sejujurnya sangat mengkhawatirkan keadaan Haruka.
Setelah memeriksa ponsel untuk yang terakhir, gadis itu segera bangkit dan beranjak meninggalkan kelas yang sudah sepi.
Sakura berjalan di antara dedaunan yang gugur. Matanya memandang ranting-ranting yang hampir gundul. Di sela jalan yang ramai, gadis itu tersenyum. "Daun-daun yang sangat cantik," lirihnya.
Awalnya ia ingin menunggu Haruka membalas pesan sebelum pergi ke sungai seorang diri. Namun jika dipikir, rasanya tidak mungkin. Bahkan pesan yang dari pagi dikirimkan belum terbaca sampai sekarang.
Gadis itu membuang napas panjang. "Sepertinya aku harus melakukannya sendiri kali ini," gumamnya.
Tanpa menunggu lebih lama, Sakura segera beranjak menuju tempat di mana ia dan Haruka biasa menghanyutkan perahu kertas bersama.
Sungai sedikit berbeda dari kemarin. Jika sebelumnya perahu akan melenggang di antara arus yang tenang, kini sepertinya akan dibersamai oleh daun-daun yang turut hanyut.
Sakura berjongkok di tepian, dengan senyum yang sesekali mengembang terlihat samar dari pantulan air sungai.
"Ya. Akan kubuat Haruka merasa berhutang padaku. Siapa suruh menghilang tanpa kabar," ujar Sakura setelah mengeluarkan dua buah perahu kertas dari dalam tas. Satu miliknya, dan yang lain ia buat untuk temannya.
Diletakkannya dua perahu kertas yang siap dilepas di atas aliran air. Mata gadis itu terpejam, seolah tengah melantunkan harapan sebelum mengirimkannya. "Aku tidak tahu harapan apa yang biasanya Haruka tulis. Tapi aku tetap berharap harapan ini bisa terdampar dengan baik," lirih Sakura sebelum melepaskannya.
Namun belum sempat perahu-perahu lepas landas, tiba-tiba seseorang mengambil salah satu perahu dari tangan Sakura.
Tentu saja, hal itu membuat Sakura menoleh. Ia hampir mengomel, tapi segera bungkam setelah melihat siapa yang datang.
"Jadi kamu mau mengirimkan sembarang harapan di perahu kertas milikku?" Dia Haruka. Entah darimana ia tiba-tiba sudah datang.
"Kau?" Sakura berhenti di satu kata. Ia hampir tidak bisa mempercayai mata dan apa yang sedang dilihat.
Tak peduli kebingungan Sakura, Haruka segera berjongkok, lalu mengganti perahu kertas yang dibuat oleh Sakura menjadi lipatan yang ia bawa.
"Lagipula, aku tidak mau berhutang padamu," lanjut pria itu.
Sakura terdiam beberapa saat. Ia cukup terkejut, tapi merasa senang di saat bersamaan. Hingga seulas senyum muncul di wajah gadis itu.
"Apapun. Syukurlah kamu datang. Aku hampir menghapusmu dari daftar," ujar Sakura, setelahnya ia tertawa.