Pertemuan

1040 Kata
"Hei. Kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini?" Sakura mengawali pembicaraan setelah dua perahu melenggang di antara dedaunan yang hampir memenuhi sungai. Beberapa detik tidak ada jawaban dari pria di sampingnya. Mata gadis itu juga masih menatap arus yang menuju hilir, sementara siswa yang lain kini beralih memainkan daun di atas air. Merasa Haruka hanya akan diam tanpa jawaban, Sakura menoleh, dan didapati temannya itu sedang menunduk dengan air yang diaduk. "Kau mendengarkan ku?" tanya gadis itu diulang, memastikan jika selama ini ia tidak diabaikan. Masih dalam pandangan yang sama, Haruka mengangguk. "Ya. Tidak usah khawatir," ucapnya. "Jadi kenapa kamu tidak masuk? Sakit?" Sakura mengulang pertanyaan. Namun bukannya tidak mendengar, tapi pertanyaan itu sepertinya membuat Haruka tidak nyaman. Haruka terus bergeming. Ia paham jika gadis di sebelahnya akan terus bertanya jika dia tidak menjawab. Akan tetapi, memberitahunya juga bukan keinginan Haruka. Setelah beberapa saat bermain dengan air, pria itu berhenti. Pandangan beralih pada pohon di seberang sungai. Tatapannya menerawang di antara celah ranting, meski sejujurnya pikirannya tidak berada di sana. Ditariknya napas dengan dalam. "Aku hanya masih ingin libur," tuturnya sembari menoleh, menatap Sakura dengan wajah meyakinkan. Mendengarnya membuat Sakura tidak kuasa menahan pukulan. Gadis itu memukul lengan Haruka dengan kesal. "Kalau begitu tidak usah sekolah!" Akan tetapi, apa yang Sakura tidak tahu ialah bahwa Haruka hanya mengatakan alasan yang asal, tentu sangat tidak masuk akal. Bukan sebab seorang siswa tidak ingin masuk sekolah hanya karena tidak ingin, tapi ada alasan yang lain. Haruka bukan seseorang yang akan melakukannya. Alasan sebenarnya dimulai dari semalam, saat daun-daun yang menguning mulai berguguran di halaman. "Nenek!" pekik Haruka keras, "Apa yang terjadi?" lanjutnya, sementara kedua tangan sudah sibuk menggoyangkan tubuh wanita tua yang sudah tergolek lemah di atas ubin. Namun upaya untuk membangunkan wanita itu nampaknya sia-sia. Tidak ingin membuang waktu dan memberi kesempatan bagi kemungkinan terburuk, Haruka segera meraih tubuh sang nenek. Mengangkatnya dan berniat membawa ke rumah sakit. Beruntung, jarak dari rumah menuju tempat penyembuhan itu tidak terlalu jauh. Hanya perlu berjalan sebentar, lalu menyeberang dan sampai. Akan tetapi, baru saja Haruka menggendong tubuh wanita tua yang terasa berat beberapa langkah dari rumah, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti. Lalu di detik berikutnya seorang lelaki paruh baya keluar. "Apa yang terjadi? Cepat bawa nenek masuk," ujar lelaki yang baru saja tiba. Haruka mematung. Lelaki yang tidak ia sangka akan muncul kembali di hadapannya. Taguchi. Sebenarnya Haruka sudah mendapat pesan jika lelaki itu tengah berada di kotanya, tapi ia tidak pernah mengiyakan Taguchi boleh menginjakan kaki di rumah, atau sekitarnya. Namun sekarang, lelaki itu benar-benar berada di sana. "Apa kau tidak mendengarkan?" lirih Haruka, tapi penuh dengan penekanan. Taguchi yang tengah panik berhenti membuka pintu belakang mobil. Ia menatap sang anak yang masih erat menggendong wanita tua. "Sudah kubilang jangan pernah datang. Kenapa malah tiba-tiba berada di sini?" lanjut Haruka. Sedangkan tatapannya sudah tajam membelah rasa bersalah lelaki di tepi mobil. Mendengar itu, Taguchi terdiam. Ia tidak menyangka kata-kata seperti itu masih terlontar dari putranya setelah kejadian di rumah sakit waktu itu. Saat ia menemani Haruka menunggu Sakura. Namun sekarang bukan saatnya untuk berdebat tentang hal yang tidak akan pernah selesai. Wanita di gendongan Haruka harus segera ditolong. Tanpa menjawab, Taguchi meraih tubuh sang nenek dan segera membaringkannya di kursi penumpang. Meski Haruka terus menolak, tapi pria itu tak bisa apa-apa. Setelah pintu tertutup, Taguchi beralih menatap putranya. "Simpan itu untuk nanti. Apa kau akan tetap berdiri di sana?" tanyanya saat melihat Haruka hanya diam di tempat. "Baiklah. Tetaplah berdiri. Aku akan membawanya ke rumah sakit." Lalu lelaki itu beralih ke kursi kemudi. Haruka yang sedari tadi hanya diam kini segera melangkah. Membuka pintu penumpang, dan masuk tanpa sepatah kata. Ia tidak akan sudi jika sang nenek hanya bersama lelaki yang telah menoreh luka trauma padanya. "Apa kau tahu jika nenek menderita asma?" tanya lelaki dari belakang kemudi. Tidak ada jawaban dari belakang. Haruka membuang wajah menatap ke luar jendela. Baginya tidak penting apapun yang lelaki di depan sana katakan. Beruntung, tidak butuh waktu lama mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Di menit yang sama, tubuh tua seorang wanita dibawa masuk untuk mendapat pertolongan pertama. Haruka menatap pintu ruang perawatan darurat yang tertutup. Sedangkan Taguchi, wajah panik lelaki itu juga masih jelas. "Ceritakan bagaimana nenek bisa seperti itu," ujar Taguchi dengan d**a naik turun. Namun Haruka masih bergeming. Ia justeru mengira jika dalang dari kambuhnya penyakit sang nenek adalah lelaki di sampingnya. "Katakan. Apa nenek keluar tanpa jaket tebal? Atau obat yang tidak rutin diberikan?" tanya lelaki itu lagi. Mendengarnya membuat Haruka sontak menoleh, dihadiahkannya tatapan tajam pada ayahnya. "Tidak usah pura-pura peduli dengan kami," ujarnya, lirih tapi lengkap dengan penekanan. Taguchi membuang napas kasar, mengacak rambut sekilas lalu beralih membalas tatapan. "Kau tidak boleh seperti ini, Haruka. Bagaimanapun nenek juga ibuku, dia--" "Ibumu?" potong Haruka cepat. Kedua matanya membulat. "Nenek adalah ibu dari ibuku! Seorang wanita yang dulu sangat kau benci. Lalu sekarang, kau ingin mengakui nenek sebagai ibumu?" Ia menggeleng cepat. Nampak garis kecewa juga marah di saat yang sama. Mendengarnya Taguchi terdiam. Lagi-lagi ia tidak sanggup meluruskan apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Apa yang Haruka rekam di memori tidak sepenuhnya benar. Tetapi mau bagaimana lagi, bocah yang dulu belum mengerti apapun kini tumbuh dengan luka dan kesalahpahaman. "Haruka. Dengarkan ayah--" Namun belum selesai Taguchi berbicara, pintu ruang darurat lebih dulu dibuka. Seorang perawat dengan baju biru laut tersenyum menyapa. "Keluarga pasien sudah boleh masuk," ucapnya ramah. Mendapat kabar seperti itu, Haruka tak lagi memperdulikan lelaki yang tengah mencoba menjelaskan sesuatu. Ia segera mengangguk, lalu bergegas masuk. Sementara Taguchi, usai mengucapkan terima kasih, ia mengekor sang anak, menemui wanita tua yang masih terbaring dengan selang pernapasan yang terpasang. "Nenek!" lirih Haruka begitu ia masuk. Wanita yang terbaring menoleh, nampak senyum dari balik selang oksigen yang menutup hidung. "Nenek baik-baik saja?" tanya Haruka yang langsung dibalas anggukan oleh wanita di hadapannya. Namun tiba-tiba pandangan wanita itu beralih pada seseorang yang baru saja masuk. Menyadari jika ada yang datang, Haruka segera berbalik. Rahangnya mengeras saat mendapati lelaki yang ia benci sudah berjalan mendekat. "Ibu, bagaimana keadaanmu?" tanya Taguchi. Haruka yang tidak suka segera berdiri. "Kau!" Namun dengan cepat lengannya diraih oleh sang nenek. Remaja itu menoleh, dan terdiam setelah mendapati neneknya tersenyum ke arah lelaki yang baru datang. "Taguchi. Sudah lama sekali."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN