Luka yang Salah

1172 Kata
"Kau melamun!" protes Sakura saat pertanyaan terakhirnya tidak ditanggapi. Haruka yang tengah sibuk dengan pikiran semalam segera tersadar. Pria itu menoleh. "Apa?" tanyanya singkat. Sebuah helaan napas dihadirkan oleh Sakura. "Kau melamun sedari tadi. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya gadis itu. Namun pertanyaan terakhir tidak langsung mendapatkan jawaban. Haruka justeru terdiam. Ia yang sedang berusaha mengalihkan sesuatu selama seharian ini kembali dipaksa untuk mengingat karena gadis di sebelahnya yang terus bertanya. Pria di samping Haruka masih bergeming. Daun yang satu persatu jatuh menimpa air seolah menjadi jeda di antara keduanya. Hingga setelah beberapa saat, Haruka menoleh, menatap gadis di sampingnya dengan tatapan ragu, seperti ada yang ingin ia sampaikan. "Menurutmu ..." Kalimat pria itu terhenti. Bola matanya menepi, lalu kembali berputar menghadap gadis di sebelahnya, kemudian melanjutkan, "Ah, tidak. Lupakan." Setelahnya Haruka kembali memainkan daun yang mengambang di permukaan sungai. Sakura yang mendengarnya seketika menautkan kedua alis. Ia sudah serius menyimak apa yang ingin Haruka dengar, tapi nyatanya berakhir tanpa apapun yang dikatakan. Gadis di sana membuang napas panjang. Matanya beralih menatap pohon plum di seberang sungai. Menerawang berapa daun lagi yang tersisa di sana. Sampai sepertinya ia menyadari sesuatu. "Hei, Haruka," panggil Sakura tanpa menoleh. Haruka mengalihkan pandangan, menanti kalimat apa yang akan Sakura lanjutkan. Beberapa saat tak ada kata yang terlontar. Sampai gadis di sana menunduk, menerawang bayangan samar di antara permukaan. "Tentang ayahmu. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya. Jadi aku ingin meminta maaf dengan benar soal itu," lanjut Sakura. Matanya tak bisa memandang pria di sampingnya. Tetapi belum sempat Haruka menanggapi, gadis itu sudah lebih dulu mendahului. "Aku hanya berpikir, pasti menyenangkan masih memiliki ayah yang peduli. Bahkan sampai menemui di pantai kemarin. Sampai aku tidak berpikir bagaimana latarbelakang hubungan kalian berdua," lanjutnya dengan menyesal. Haruka tak segera menjawab. Ia menatap Sakura dengan cermat. Entah bagaimana, tapi pria ini tahu jika ada hal lain yang selama ini belum nampak, atau memang sengaja tidak dinampakkan. "Kau tahu?" Benar, setelahnya gadis itu melanjutkan. Mendengar kalimat yang belum lengkap, Haruka semakin menatap. Ia tidak tahu, tapi tanpa menjawab pun harusnya gadis di sampingnya paham. "Aku merasa bersalah karena papa tak lagi tinggal bersama kami," ujar Sakura mengawali penjelasan. Sedangkan pria di sampingnya masih diam, menyimak kalimat yang mungkin akan panjang setelahnya. Sesaat setelah detik beralih, Sakura menyambung kalimat. "Papa pergi setelah tahu mama akan melakukan apapun untuk membuatku hidup lebih lama. Dan benar, ternyata papa benar-benar melakukannya setelah aku menjalani operasi yang ketiga." Gadis itu tersenyum, tapi nampak sedih. Beberapa saat Sakura terdiam, matanya menerawang ke atas seolah tengah mengingat sesuatu. "Mungkin itu terjadi saat aku berusia sembilan atau sepuluh tahun?" ucapnya berpikir. Namun tak lama gadis itu menggeleng pelan. "Entahlah. Yang jelas aku tidak ingat betul apa yang terjadi saat itu. Aku pergi ke meja operasi diantar papa, dan saat terbangun hingga sekarang, aku tidak pernah lagi melihat sosoknya." Ada luka menganga yang nampak darinya saat mengatakannya. Haruka semakin tenggelam dalam diam. Ia tidak tahu, jika Sakura sudah tidak tinggal dengan sang ayah. Selama ini, ia pikir gadis itu adalah cerminan dari keluarga yang sangat peduli. Terlihat dari penyakit yang bisa dihadapi dengan baik. Bukankah peran keluarga sangat penting untuk hal itu? Namun nyatanya, apa yang terlihat tidak sebagus yang nampak. Ada lumut yang bersarang di dasar air dengan indahnya ikan dan karang. Sakura adalah air yang bisa menutupinya. Terdengar tawa kecil dari Sakura. Gadis itu menoleh, ada air yang nampak di sudut mata. "Jika dulu mama menyerah, mungkin papa masih tinggal di keluarga kami, kan?" tanyanya dengan senyum yang dipaksa. "Meski itu berarti kau mungkin yang akan pergi?" Kali ini Haruka menimpali. Sakura mengangguk semangat. "Ya. Meski aku yang harus pergi. Namun, bukankah itu lebih baik?" Meski begitu, ada kesedihan yang tak bisa lagi disembunyikan. Haruka termenung. Apa yang ia pikirkan sangat terbalik dengan apa yang baru saja ia dengar. Berpikir seperti Sakura, sepertinya gadis itu tumbuh dengan luka yang selalu dibawa. Merasa bersalah, dan menanggung semuanya sendiri. Terlebih, harus menutupinya dengan keceriaan. Benar kata orang, bahwa luka dan tawa adalah dua yang saling berganti, tapi tak bisa dipisahkan. "Kurasa kamu bukan satu-satunya alasan bagi papamu untuk pergi," ujar Haruka setelah terdiam beberapa saat. Mendengarnya, Sakura menoleh heran. Sungguh, ia tidak perlu kalimat penghibur saat ini. Namun Haruka harus mengatakan apa yang mengganjal. Mencoba memvalidasi perasaan bersalah Sakura, tapi pria itu tidak bisa. Ada yang salah dengan perasaan itu. Haruka menatap Sakura dengan lekat. "Urusan orang dewasa lebih rumit dari apa yang terlihat," ujar pria itu melanjutkan. Kali ini gantian Sakura yang terdiam, menyimak setiap kalimat yang Haruka lontarkan. Ia belum sepenuhnya paham, tapi akan tetap mendengarkan. "Apa menurutmu mamamu akan bahagia jika dahulu kamu yang pergi?" tanya pria itu lagi. Sakura menggeleng pelan. "Entahlah. Kurasa begitu." "Kamu salah, Sakura," ujar Haruka sembari menggeleng cepat. Lalu melanjutkan, "Lalu kenapa mamamu ingin terus mengupayakan kesembuhanmu, meski kalian tahu jika itu hal yang sedikit mustahil?" Gadis di sebelahnya kembali menggeleng. "Itu karena kamu sendiri adalah kebahagiaan. Mungkin jika dulu orangtuamu merelakan, tidak akan ada lagi kebahagiaan di tengah keluarga itu," lanjut Haruka dengan nada meyakinkan. Namun Sakura belum yakin. Rasa bersalah masih melekat kuat dalam hati. "Lalu kenapa papa pergi? Kudengar, aku hanya beban daripada kakak laki-lakiku yang terlahir sehat." Sedih di wajahnya semakin kentara. Haruka membuang napas panjang. "Entahlah," ucapnya setelahnya, "tapi jika begitu, kenapa papamu pergi mengantar operasi saat itu?" Sakura terdiam. Ia bahkan sudah mempertanyakan itu selama ini, tapi belum bisa menemukan jawabannya. Gadis itu menunduk. "Aku tidak tahu. Papa hanya menangis saat itu." Mendengarnya Haruka menarik tangan ke belakang, menyangga tubuh dengan pandangan menerawang awan. "Kalau begitu, jangan pernah merasa bersalah atas perpisahan orangtuamu, Sakura." Angin yang membawa daun untuk gugur menjadi jeda yang cukup lama. Sakura masih belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang Haruka katakan. Sementara pria di sana pun sama, masih diam tanpa sepatah kata. Hingga setelah cukup lama saling berbincang dengan hening, Haruka kembali menoleh. Lalu berkata, "Mamamu ingin kamu terus hidup. Maka kamu harus melakukannya. Jangan pernah berpikir untuk pergi, Sakura." Ia mengatakan dengan nada yang sangat menyentuh. Entah bagaimana, tapi Sakura sungguh merasakannya. Sakura menunduk. Ia mulai mengerti, bahwa rasa bersalah selama ini hanya menambah luka di tubuhnya. Ia sadar, bahwa ada orang lain yang setiap detik memikirkannya, tapi ia justeru hidup memikirkan kepergian orang lain. Haruka benar, ia harus hidup untuk seseorang yang berusaha sangat keras untuk membuatnya tetap hidup. "Maafkan aku," ucap gadis itu lirih. "Untuk apa?" "Untuk masalah ayahmu, dan tentang keputusasaan dalam hidup." Haruka tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia menyentuh puncak kepala Sakura. Membelainya pelan sembari berujar, "Lupakan tentang ayahku. Kami sudah berbaikan hari ini." Seketika mata besar Sakura membulat. "Benarkah?" Pria di sebelahnya mengangguk. "Ya ... walaupun aku juga belum yakin sepenuhnya. Tapi aku akan berusaha menutup luka yang salah selama ini. Jadi, aku ingin kamu juga melakukan hal yang sama." Mendengarnya membuat senyum manis mampir di wajah Sakura. Meski masih ada keraguan, tapi gadis itu mengangguk penuh keyakinan. "Ah, aku jadi rindu dengan ibu. Kamu mau datang menemuinya?" tanya Haruka setelah menarik napas dalam. Tentu saja, tanpa ditanya Sakura langsung setuju menganggukkan kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN