"Mungkin aku tidak bisa terbang seperti mereka yang memiliki sayap. Namun aku tetaplah sakura, yang mana angin akan membawaku terbang ke suatu tempat, meski hanya sebagai kelopak." Mizuno Sakura
*
Kunjungan ke rumah terakhir ibu Haruka hanya berlangsung singkat. Matahari yang perlahan menghilang membuat keduanya harus segera beranjak dan pulang. Padahal, mereka baru sampai, dan berbincang belum sampai lima menit.
"Tidak masalah walau hanya sebentar. Setidaknya aku bisa mengunjungi ibu, aku bisa kembali kapanpun," ucap Haruka saat gadis di sebelah bertanya bagaimana perasaan pria itu.
Mendengarnya membuat Sakura mengangguk setuju. "Kau benar. Setidaknya kau memiliki tujuan yang jelas di sini," ungkapnya.
Jalan yang mereka lewati semakin ramai di penghujung petang. Aspal dipadati oleh orang-orang yang pulang kerja awal, atau beberapa pasangan muda yang baru keluar sekadar mencari makan malam.
Begitupun dengan Haruka dan Sakura. Keduanya baru keluar dari tempat peristirahatan terakhir yang nampak indah saat malam. Berjalan beriringan dengan kisah masa lalu yang dibawa oleh pundak masing-masing. Namun sebab itulah, mereka mulai bisa membuka diri dan memahami satu sama lain.
"Oh, apa tidak apa-apa untukmu pulang malam?" tanya Haruka setelah tersadar akan kondisi Sakura. Sepertinya apa yang terjadi beberapa waktu ini membuatnya lupa dengan hal-hal penting di sekitar. Seperti pantangan bagi gadis untuk pulang terlambat.
Akan tetapi Sakura segera menenangkan kekhawatiran Haruka. Ia menggeleng. "Tidak masalah. Aku sudah mengirim pesan pada mama tadi," ujarnya.
Mendengar itu, Haruka merasa lega. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang mereka lakukan mungkin akan berdampak kurang baik. Tetapi tidak jika hanya sekali.
Bukan di langit menggantung sangat cantik. Lampu-lampu yang berjajar di sepanjang jalan juga menambah keelokan malam ini. Haruka dan Sakura masih berjalan, mengukur aspal di bawah pekatnya langit sang malam.
Ada banyak hal ringan yang mereka bicarakan. Setelah beberapa obrolan cukup berat, rasanya gurauan akan sedikit meredakan perasaan yang tercampur aduk.
Hingga saat keduanya tiba di tepi taman, getaran disusul suara dari dalam tas Sakura menghentikan keduanya.
"Seseorang menelepon mu," ujar Haruka setelah mendengar suara ponsel yang tak kunjung berhenti.
Namun sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tas, Sakura menggeleng. "Bukan telepon. Ini pengingat," ungkapnya setelah mematikan alarm pada ponsel.
"Sudah saatnya aku minum obat," lanjut gadis itu seraya mengedarkan pandangan mencari sesuatu.
Haruka yang menyadarinya segera bertanya, "Ada yang sedang kau cari?"
Sakura mengangguk. "Ah, aku hanya sedang mencari penjual minuman. Takut air yang kubawa tidak cukup," ujar gadis itu.
Mendengar itu, Haruka langsung paham. Ia menarik Sakura untuk duduk di salah satu kursi panjang di tepi taman. "Kau tunggu sebentar di sini. Ada mesin minuman di ujung taman," ujarnya, yang tanpa membuang waktu langsung bergegas menuju mesin yang dimaksud.
Sebuah benda di sudut taman yang akan mengeluarkan botol air hanya dengan memasukkan uang sesuai harga minuman yang tertera.
Tak lama, Haruka kembali dengan dua botol air mineral di tangan.
"Tidak masalah menunggu?" tanyanya khawatir dengan keadaan Sakura.
Gadis yang duduk di kursi panjang mengangguk. "Ya. Tidak masalah," ucapnya.
Tanpa membuang waktu, Haruka segera membuka tutup botol, menyerahkan pada Sakura sementara gadis itu memasukkan beberapa obat sekali ke dalam mulut.
Hanya dalam hitungan waktu kurang dari satu menit, semua obat yang Sakura bawa sudah raib, berpindah dari luar ke dalam pencernaan.
Haruka hanya bisa melihat Sakura dengan perasaan iba. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya mengkonsumsi obat sebanyak itu setiap hari. Pasti sangat melelahkan.
Namun nampaknya bayangan Haruka segera dipatahkan oleh Sakura yang justeru tersenyum setelah meminum beberapa butir obat dengan ukuran beragam. Gadis itu terlihat tidak memiliki masalah sama sekali dengan hal itu.
"Haruka. Boleh aku minta tolong sesuatu?" tanya Sakura setelah menenggak habis sisa air di dalam botol.
Tentu Haruka akan dengan mudah meng-iya-kan. Sekarang ia bukanlah pria yang dingin, sepertinya bunga musim semi benar-benar meluluhkan es di dalam dirinya. Rasa khawatir dan peduli semakin hadir setiap bertemu dengan Sakura.
Gadis itu mengeluarkan sebuah suntikan dari kotak obat di dalam tas. "Aku sebenarnya tidak enak meminta bantuan seperti ini. Tapi, bisakah kau menyuntikkannya pada lengan kirinya?" tanya Sakura seraya menyerahkan benda berjarum itu pada Haruka.
Haruka menerima suntikan dengan ragu. Jujur, ia belum pernah melakukannya. Apakah boleh sembarang menusuknya ke kulit?
"Kau bisa meletakkannya di titik itu," ujar Sakura yang seolah paham dengan kebingungan pria di sampingnya.
"Ah, baiklah." Di detik yang sama, Haruka segera melaksanakan apa yang Sakura instruksikan. Sebuah titik terlihat sangat jelas di lengan gadis itu, dan beberapa titik nampak samar di sekitarnya.
Haruka mulai memasukkan jarum dengan hati-hati. Sesekali ia melihat ekspresi Sakura, takut kalau-kalau gadis itu merasa kesakitan. Akan tetapi sepertinya tidak. Jarum suntik sudah menjadi teman akrab bagi gadis di sebelahnya.
"Apakah menyakitkan?" tanya Haruka setelah ia berhasil mencabut jarum dari lengan Sakura.
Sakura melebarkan mata. Ia belum paham, meski akhirnya menduga. "Maksudmu disuntik seperti ini?" tanyanya memastikan.
Pria di sampingnya mengangguk. "Juga dengan obat-obat yang kau tekan setiap saat. Bukankah terasa sangat menyakitkan?" tanya Haruka diulang.
Mendengar itu, Sakura terdiam. Sebuah senyuman tiba-tiba muncul. "Apa kau mengkhawatirkanku?" tanyanya. Tetapi belum sempat dijawab, gadis itu melanjutkan, "Tenang saja. Aku sudah berteman baik dengan mereka. Dengan jarum dan obat-obatan ini. Mereka seperti saudara yang akan selalu ada," ungkapnya.
Kali ini Haruka yang dibuat terdiam. Apa yang Sakura katakan dengan ringan nyatanya berhasil menyampaikan kesakitan yang amat dalam. Siapa yang bisa menjadikan jarum dan obat sebagai saudara? Bahkan jika mereka menyembuhkamu, bukankah lebih baik tidak pernah bertemu dengan mereka lagi?
Namun tidak untuk Sakura yang sudah bisa berdamai dengan diri sendiri. Jika tidak bisa melawan, menerima adalah satu-satunya pilihan. Dan gadis itu berhasil melakukannya.
Haruka masih bergeming. Ia tidak tahu bagaimana harus menunjukkan sikap yang tepat. Ada rasa iba, tapi tidak bisa ditunjukkan dengan kata-kata. Juga kalimat penyemangat yang takut justeru akan melukai Sakura jika dikatakan.
Hingga sebelum Haruka berhasil memutuskan, gadis di sebelahnya lebih dulu membuka bibir. Ada kalimat yang jelas akan keluar setelahnya.
"Mungkin aku memang tidak seperti anak-anak yang lain. Lahir dengan kebebasan tanpa batasan. Aku mungkin tidak seperti mereka yang memiliki sayap, bebas terbang tanpa takut terjatuh," ujar Sakura mengawali.
Sedangkan di sampingnya, seorang pria seumuran tengah menyimak dengan seksama.
Sakura melanjutkan, "Namun, bukankah tidak akan mengubah apapun bahkan jika aku memikirkannya seumur hidup? Itu justeru akan membuatku semakin terpuruk." Setelahnya gadis itu menoleh, mengadu tatap di antara keduanya. "Jadi aku memutuskan untuk menerima diriku apa adanya. Aku memang tidak bisa terbang dengan sayap, tapi aku yakin jika angin akan tetap membawaku terbang sebagai bunga yang memiliki kelopak. Lalu aku tetap bisa mengangkasa bersama sayap-sayap yang lain."
Mendengarnya, membuat hati Haruka membeku seketika. Ia terhenyak, bahkan dia yang sehat tidak pernah memikirkan kalimat positif seperti itu.
Pria itu tersenyum. "Kalau begitu, aku yang akan menjadi angin itu."