Kotak Diary

1024 Kata
"Sakura. Aku harap kotak diary ini bisa menjadi teman yang baik untukmu. Dia penjaga rahasia yang sangat baik." Nami * "Kau membeli kotak cantik ini?" tanya Hana seraya memegang sebuah kotak berwarna merah jambu di atas nakas di kamar sang anak. Sakura yang tengah asyik menatap keluar jendela segera menoleh. Lalu menggeleng saat benda yang dimaksudkan sang ibu adalah hadiah yang Nami berikan waktu lalu. "Temanku memberikannya untukku, Ma," ungkapnya. "Haruka?" Mata Hana memicing, menggoda putrinya yang akhir-akhir ini merona ketika nama pria itu disebut. Benar, wajah gadis remaja itu memerah. Namun segera dialihkan. Sakura menggeleng cepat. "Bukan. Tapi dari Nami. Hadiah oleh-oleh dari luar negeri." Ia menjelaskan secara terperinci. Mendengar itu, Hana terkekeh kecil. Putrinya sungguh menggemaskan. "Baiklah, mama mengerti," ucapnya mengakhiri godaan kali ini. Sakura yang sudah terlanjur tersipu hanya bisa menyembunyikan pipi merahnya di balik bantal yang tengah ia pegang. Ibunya benar-benar pandai membaca perasaan. Namun gadis itu masih malu-malu mengakui apa yang terjadi di dalam sana. Seperti kupu-kupu yang kerap terbang, juga dengan jantung yang berdegup kencang. "Tidak mungkin aku suka dengan pria dingin itu, kan?" lirih Sakura setelah sang ibu keluar dari kamar. "Meskipun akhir-akhir ini dia nampak manis," lanjutnya. Tetapi dengan segera gadis itu menggeleng. Menepis segala perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan. Tak ingin pikirannya semakin tenggelam dengan hal itu, Sakura memutuskan untuk mengalihkannya pada hal lain. Sebuah kotak diary berwarna merah muda menjadi tujuan pengalihan pertama. "Kotak diary?" gumam gadis itu seraya mengamati setiap detail dari kotak yang belum sempat ia coba. Sebuah tombol terlihat begitu mencolok di tepi kotak. Sepertinya itu adalah kunci utama untuk menyalakan benda tersebut. Benar saja, setelah Sakura menekannya, sebuah suara musik dan sapaan rekaman terdengar. Membuat Sakura terhenyak, dan terkagum di waktu yang sama. "Wah, dia bisa merekam suaraku?" kagum Sakura setelah membaca petunjuk yang tertempel di belakang kotak. Sejenak gadis itu mengamati petunjuk yang tertulis lengkap. Ia memang belum sempat membacanya setelah mengeluarkan dari bungkus hadiah. "Selain bisa merekam, ternyata aku bisa mengatur kata sandi juga. Coba," ujar Sakura seraya memutar beberapa sandi. Ternyata berhasil. Ia telah melakukannya. Iseng ingin mencoba, Sakura mulai merekam kalimat pertama. Sebuah perkenalan klasik sebagai uji coba. Namun setelah selesai, suaranya benar-benar terekam dengan sempurna. Ia bisa mendengar, jika menarik pita di sebelah kotak. "Benar-benar menarik. Nami sungguh tahu apa yang ku butuhkan," lanjut gadis itu mengagumi hadiah yang diberikan oleh temannya. Sakura adalah gadis yang beruntung di tengah kemalangan. Setelah ini, ia tidak akan pernah merasakan kesepian lagi saat sendiri. Semua yang ada dalam hati bisa diluangkan, dan disimpan dengan baik seorang diri. Awalnya, Sakura memang ingin menjadikan kotak itu sebagai wadah curahan hatinya. Baik itu hal kecil, ataupun sebuah rahasia yang paling besar. Namun saat ia melihat kalendar yang semakin banyak coretan, gadis itu berubah pikiran. "Waktuku hampir habis. Mungkin ini saatnya aku jujur pada teman-teman." * Sementara di tepi kolam ikan, seorang pria tengah duduk dengan makanan di tangan. Bukan untuknya, melainkan akan dilemparkan dan disantap oleh mereka yang berenang di dalam kolam. Haruka, entah sudah berapa lama ia hanya duduk di sana, padahal pakan di tangan sudah hampir habis. Raganya memang berada di waktu yang sekarang, tapi angannya mengembara cukup jauh pada beberapa waktu silam. Saat ia berada di rumah sakit dengan nenek yang dirawat. Ia ingat betul, bagaimana seulas senyuman yang neneknya berikan pada lelaki yang awalnya sangat ia benci. Lalu tentang cara mereka saling menyapa menanyakan kabar. Bukankah tidak wajar jika keduanya terlibat perselisihan seperti yang Haruka pikirkan. Namun semua pertanyaan itu segera terjawab. Sang nenek yang terbaring lemah di atas ranjang mulai menceritakan apa yang terjadi, sesuatu yang sudah Haruka salah pahami selama ini. "Jadi ayah tidak bersalah?" gumamnya seraya melempar pakan terakhir. Benar, neneknya menceritakan semuanya. Bahwa nyatanya sang ibu tidak meninggal karena dibunuh, melainkan menghabisi nyawa sendiri karena merasa menderita dengan penyakit yang menahun tak kunjung sembuh. Kebetulan, Taguchi ada di sana saat itu. Lalu Haruka yang tidak sengaja melihat, menganggap lelaki itulah yang menyebabkan kematian sang ibu. Mengingat kebenaran itu membuat Haruka meras frustasi. Ia mengacak rambut berkali-kali. Perasannya perlahan berganti terhadap lelaki yang kini sudah kembali. Ia yang awalnya marah, kini malah merasa bersalah. Bukankah kata-kata yang ia lontarkan sudah terlampau kasar? Namun bagaimana, neneknya tidak berani meluruskan segera karena Haruka yang sudah terlanjur benci dengan Taguchi. Bukan hal yang mudah menjelaskan hati yang sudah tertutup. Beruntung, saat-saat lalu adalah waktu yang tepat untuk mengatakan kebenarannya. "Benar. Masalah orang dewasa sangat rumit," ucapnya setelah membuang napas kasar. Meski begitu, tidak banyak yang berubah dari kehidupan Haruka selain perasaannya. Ia masih tinggal dengan sang nenek, dan Taguchi yang sudah kembali. Meski katanya lelaki itu berjanji akan mengunjungi mereka sesekali. Haruka menatap ikan-ikan yang berenang dengan tatapan kosong. Tidak banyak yang ia pikirkan, tapi tetap membuatnya tak bisa mengalihkan perhatian. Fakta bahwa ibunya menghabisi nyawa sendiri sudah membuatnya sangat terkejut. Lalu sekarang, ia harus menanggung maaf atas sikapnya terhadap sang ayah. Habis pakan tinggal kerikil yang dilempar. Haruka benar-benar sedang melamun. Memikirkan apa yang salah dengan dirinya selama ini. Namun percuma, tidak ada yang bisa dilakukan selain memaafkan dan menerima diri sendiri. Lagipula, sanga ayah juga tidak mempermasalahkannya. Di sela angan yang tak kunjung kembali, tiba-tiba suara ponsel menyadarkan Haruka. Pria itu tersadar, lalu segera mengambil benda pipih di saku yang masih bergetar. Sebuah gelembung pesan muncul di layar begitu ia menekan tombol di samping ponsel. Pesan dari seseorang yang seketika memunculkan senyum di wajah sendunya. "Musim semi yang dingin. Aku tunggu di sungai seperti biasa." Begitulah kira-kira pesan yang Haruka baca dari Sakura. Entah sejak kapan, tapi akhir-akhir ini ia merasa senang ketika mendapati pesan dari gadis itu. Mungkinkah karena terlalu sering bersama hingga sudah terbiasa, ataukah ada perasaan lain yang enggan Haruka akui? Entahlah, pria itu segera menggeleng. "Dia gadis yang suka memerintah," ucapnya terdengar malas, tapi tetap beranjak dari kolam dan bergegas dengan semangat. Tanpa membuang waktu, Haruka segera menuju tempat yang sudah disepakati dengan Sakura. Tentu tidak lupa ia membawa kertas yang sudah terlipat seperti biasa. Sementara dari balik jendela kamar, seorang wanita tua mengamati cucunya yang baru saja keluar dari gerbang. Ia tersenyum di balik wajah keriput yang nampak cantik. "Aku ingin bertemu dengan gadis itu sebelum pergi dari sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN