"Festival? Di sekolah ini?" gumam Sakura saat melihat sebuah poster di papan pengumuman.
Entah gadis itu yang terlambat tahu, atau memang poster yang baru dipasang. Namun dari arah belakang, tiba-tiba seseorang menimpali.
"Ya. Sekolah kita selalu mengadakan festival," ujar seseorang dengan suara yang tidak Sakura kenal.
Mendengar itu, Sakura refleks berbalik. Seorang pria dengan dasi garis tiga. Ah, kakak kelas rupanya. Menyadarinya, gadis itu segera membungkuk sopan, menyapa dan tersenyum dengan benar.
"Jadi kau siswi kelas satu?" tanya pria yang belum Sakura ketahui namanya.
Sakura segera mengiyakan. "Iya, Kak. Saya kelas satu sains-B," ungkap gadis itu.
Pria di sampingnya mengangguk. "Ah, pantas saja aku jarang sekali melihatmu," lanjutnya.
Tak ada jawaban yang dapat Sakura berikan. Ia canggung, baru pertama kali berinteraksi dengan kakak kelas seorang diri. Ingin mencoba akrab, tapi gadis itu tidak bisa.
Mendapati Sakura hanya diam, sang kakak kelas kembali berujar, "Kamu tidak mengingatku? Kita pernah bertemu sebelumnya." Ia mencoba mendapatkan ingatan dari gadis di sampingnya.
Namun bagi Sakura yang tidak terlalu pandai mengingat seseorang apalagi yang baru satu kali bertemu hanya bisa tersenyum canggung dengan ekspresi bingung. Ia coba mengingat, tapi sayangnya tidak ada sosok yang berhasil diingat.
"Di depan ruang musik. Waktu pendaftaran ekstrakurikuler vokal," ungkap pria itu kembali menjelaskan.
Mendengarnya membuat Sakura sedikit mengingat. Kedua matanya membesar. "Ah, kakak yang waktu itu?" ucapnya setelah sadar, "maaf, Kak. Aku tidak terlalu ingat."
Akan tetapi sepertinya pria di sana tidak terlalu peduli. Wajar bagi seseorang untuk tidak mengingat orang yang baru ditemui pertama kali. Meski sebenarnya, ia sangat paham dengan gadis bernama Sakura yang menyerahkan formulir pendaftaran dengan senyum paling berbeda. Gadis yang menggambarkan musim semi.
Tidak masalah jika gadis di sampingnya harus dipancing untuk mengingat, setidaknya ia tidak benar-benar dilupakan.
Dijulurkan tangan ke hadapan Sakura. "Aku Takei Sato, bisa dipanggil Takei," ucap pria itu memperkenalkan diri. Sakura hanya mengangguk canggung, hingga Takei melanjutkan, "Kau, Mizuno?"
Sakura mengangguk. "Mizuno Sakura. Bisa dipanggil Sakura," ungkapnya, lengkap dengan senyum yang selalu gadis itu berikan.
Mendengarnya, Takei merasa senang. Usai menarik tangan dari jabatan, pria itu memindahkannya ke dalam saku. Pandangannya mengedar, seperti ingin bertanya tapi sedikit malu.
Hingga akhirnya pria itu kembali mengeluarkan suara. "Kenapa kau tidak jadi ikut ekstrakurikuler vokal?" tanyanya basa-basi.
Sakura menunduk sekilas. Memikirkan kenapa ia tidak jadi ikut ekstrakurikuler tersebut. Padahal, vokal adalah salah satu yang sangat gadis itu sukai. Namun seketika ia teringat, jika seleksi masuk saat itu ketika musim dingin. Sedangkan ia tidak bisa datang karena harus menginap di rumah sakit dan menghabiskan pekan di sana.
"Ah, aku tidak bisa ikut seleksi waktu itu." Akhirnya alasan itulah yang digunakan oleh Sakura.
Takei paham, ia mengangguk. "Kau bisa masuk kapanpun jika mau."
Setelah mendapatkan anggukan dari Sakura, keduanya berpisah. Takei memutuskan untuk kembali ke aula, ada urusan katanya. Sementara gadis di sana masih berdiri di depan papan pengumuman. Ada sesuatu yang tertulis di ujung poster yang membuatnya tertarik.
Sakura tersenyum girang sebelum akhirnya beranjak dari sana menuju kelas.
Pagi hari yang cukup ramai jika dibandingkan dengan biasanya.
Suasana di dalam kelas terdengar sangat ramai bahkan ketika seseorang tengah berada di luar. Entah apa yang sudah terjadi, tetapi sepertinya ada hal yang menarik untuk dibahas.
Seorang gadis yang baru saja pergi dari papan pengumuman memasuki kelas dengan sedikit heran. Biasanya hanya beberapa anak yang akan ramai di pojokan kelas. Akan tetapi pagi ini, lihatlah, hampir seluruh siswi berkumpul di meja tengah.
Belum ingin bergabung meski sangat penasaran, Sakura memutuskan meletakkan tas di tempat duduk. Kemudian memasang tubuh dengan tatapan penuh tanya ke gerombolan teman perempuan di meja sebelah.
"Apa yang sedang mereka ributkan?" tanya gadis itu pada pria di depannya. Haruka yang nampak sama sekali tidak tertarik dengan apapun.
Benar saja, tanpa menoleh Haruka mengangkat kedua bahu, acuh. "Kalau penasaran datang saja sendiri," ucapnya.
Mendengar itu, bibir Sakura maju beberapa senti. Ia memukul kursi Haruka dengan kesal. Benar, harusnya ia paham jika percuma menanyakan hal seperti itu pada pria dingin yang tidak peduli dengan sekitar. Bahkan jika ada kebakaran di depannya, sepertinya Haruka hanya akan beralih tanpa melakukan hal lain.
Namun keberuntungan sepertinya tengah menyambangi Sakura. Belum sempat ia bertanya dan bergabung dengan kerumunan, Nami sudah lebih dulu keluar dari sana dan menghampirinya.
Nami menarik kursi miliknya dan meletakkan tepat di samping Sakura. Sedangkan di tangan gadis itu terdapat poster yang sama dengan yang ada di papan pengumuman.
"Sakura, lihat!" pekik Nami dengan semangat, "sekolah kita akan mengadakan festival akhir musim semi ini," lanjutnya. Nampak mata berbinar di wajah gadis itu.
Mengiyakan laporan yang temannya berikan, Sakura segera melihat poster yang Nami letakkan di atas meja. Rupanya sama dengan apa yang ia baca barusan di papan pengumuman.
"Ah, kau benar," ucap Sakura, "kau akan ikut berpartisipasi dalam festival ini, Nami?" lanjutnya bertanya.
Namun dengan cepat Nami menggeleng. "Tidak. Bukan itu," ungkapnya.
Di detik selanjutnya, Nami menunjuk salah satu kalimat yang ditulis cukup mencolok di poster.
"Lihat. Band sekolah ini akan tampil!" Nami terlihat sangat antusias sangat mengatakannya.
Sakura mengangguk. Akan tetapi ia belum paham kenapa temannya sangat senang dengan band sekolah.
"Apakah mereka sebagus itu?" tanya Sakura memastikan.
Mendengar pertanyaan Sakura, kedua mata Nami membesar. "Kau benar-benar tidak tahu?" tanyanya heran.
Namun Sakura yang memang tidak tahu hanya bisa menggeleng dengan tatapan penuh tanya.
Nami menarik napas panjang, seolah ada berita besar yang akan ia katakan. Selanjutnya, gadis itu berkata, "Itu berarti Kak Takei Sato akan tampil, Sakura!" Benar, suaranya terdengar sangat kencang.
"Takei Sato? Kau mengenalnya?" Sakura masih melayangkan tanya.
Gadis yang masih bersemangat itu mengangguk. "Tentu saja. Semua gadis di sini mengenalnya. Bisa disebut, dia pria paling terkenal di sekolah ini," ujar Nami menjelaskan. Akan tetapi ketika melihat temannya hanya mengiyakan tanpa antusias, ia segera sadar
Mata Nami kembali membulat. "Jangan bilang mau tidak tahu Kak Takei, Sakura?"
Sakura terdiam sejenak. Ia melayangkan senyum dengan gigi terlihat. Namun tidak ingin membuat Nami kecewa, ia segera mengalihkan pembicaraan.
Ditunjuknya sebuah kalimat di ujung poster. "Lihat. Apakah ini berarti semua siswa bisa berpartisipasi dalam festival ini?" tanyanya sedikit tertarik.
Nami membaca kalimat itu sejenak. Lalu mengangguk. "Ya. Sepertinya begitu," ucapnya.
Mendengarnya membuat Sakura menjadi bersemangat. Entah apa yang gadis itu pikirkan, tapi di detik yang lain ia langsung memanggil pria di depannya.
"Tidak tertarik." Sayangnya, itulah jawaban yang Haruka berikan. Bahkan saat Sakura hanya memanggil namanya.