Membujuk Haruka

1147 Kata
"Ayolah, Haruka. Katakan kau mau melakukannya, ya?" bujuk Sakura setengah merengek. Padahal, pria yang ia mintai sesuatu terus berjalan menyusuri lorong tanpa sepatah katapun. Namun bukan Sakura namanya jika akan diam begitu saja. Gadis itu terus mengekor, sesekali mencegat Haruka, meski pada akhirnya tetap diacuhkan oleh pria itu. Kali ini Sakura tak hanya berhenti tepat di depan Haruka, tangannya membentang dengan tatapan mata yang seperti menantang. "Kau harus mengiyakannya," ungkap gadis itu. Mendapati hal seperti itu untuk kesekian kalinya selama menaiki tangga, Haruka hampir menyerah. Ia hanya bisa menatap gadis yang menghalangi sekilas, lalu menghela napas panjang dan berlalu membuka pintu teratas. Atap sekolah, adalah tujuan Haruka hampir di setiap jam istirahat. Sakura yang merasa belum mendapatkan jawaban yang memuaskan terus mengekor. Bahkan jika ia harus menghabiskan waktu istirahat yang berharga di atap sekolah yang tidak ada apapun di sana. Kecuali beranda luas seperti lapangan tanpa penutup. "Haruka. Kali ini saja, ya?" Gadis itu masih terus berusaha untuk membujuk. Sementara Haruka, ia langsung menghempaskan tubuh di tepi atap. Matanya menatap ke hamparan udara yang luasnya melebihi seisi kota. Bagaimanapun, ia tidak bisa mengabaikan gadis yang terus merengek, meskipun sebenarnya ia sangat ingin melakukannya. Sakura meraih lengan baju pria yang sedari tadi tak menjawab. "Ayolah, Haruka. Aku sangat ingin tampil di festival," ucap gadis itu dengan nada memohon. Lagi-lagi, Haruka membuang napas sangat panjang. Ia yang sudah tidak tahan segera menoleh, menghadiahi Sakura dengan tatapan tajam. "Kenapa terus merengek padaku? Ajaklah orang lain, aku tidak tertarik," ungkap pria itu, acuh. Lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan. Namun gadis yang sudah terlanjur mengekor ke atap tidak mau usahanya sia-sia. Ia memajukan langkah, menyamai posisi dengan tempat prianya. Jika Haruka sibuk menatap ke depan, Sakura justeru mengambil kesempatan untuk memandangi wajah Haruka. Beberapa saat gadis itu hanya tersenyum. Hingga akhirnya menjawab, "Karena aku hanya ingin tampil dengan," ucap Sakura dengan senyum yang sengaja dimaniskan untuk menggoda. Benar saja, begitu mendengar kalimat barusan, Haruka hampir tersedak oleh udara. Ia terhenyak. Meski bukan hal asing jika gadis di sebelahnya bertingkah seperti tadi. Namun tetap saja, hal itu sangat tidak terduga. Haruka menelan ludah dengan susah. Wajahnya dibuang ke sembarang arah, mencoba menutupi pipi yang sedikit memerah. Namun meski ia sedikit tersipu, Haruka bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Setelah beberapa detik terdiam, ia kembali menoleh, menatap Sakura sejenak. Sakura yang merasa percaya diri akan keberhasilan penggoda tadi balas menatap, ia hanya tinggal menunggu pria di sampingnya mau tidak mau mengiyakan permintaan. Akan tetapi, yang terjadi tidak seperti apa yang Sakura bayangkan. Bukannya mengangguk atau setuju, satu pukulan justeru mendarat di kepalanya. Haruka memukulnya. "Hentikan itu. Aku tidak akan berubah pikiran," ucap Haruka dengan datar. Tentu saja, kepercayaan diri Sakura hancur seketika. Seperti dinding beton yang dirasa cukup kuat, nyatanya roboh hanya dengan satu kali dorongan. Gadis itu memonyongkan bibir kesal. "Kau! Jangan menyesal kalau aku mencari orang lain," ujar Sakura terdengar seperti ancaman. Namun Haruka tetap tidak peduli. Alih-alih menjawab, pria itu hanya mengangkat bahu, mengisyaratkan jika Sakura bebas melakukan apapun. Merasa tak akan ada cara yang berhasil untuk merayu Haruka, akhirnya mau tidak mau Sakura menyerah. Ia menuruni tangga dengan tangan mengusap kepala bekas pukulan pria tadi. "Dasar pria tidak peka!" keluhnya kesal seraya menuruni satu demi satu anak tangga. Hingga tanpa sadar, kakinya melangkah ke arah yang salah. Ruang kelasnya berada di lantai dua, tetapi Sakura malah berbelok ketika baru tiba di lantai tiga. "Lihat saja, aku pasti akan membuatnya menyesal," gerutu Sakura seraya terus berjalan, tapi tanpa memerhatikan jalan. Sampai tidak sengaja, tiba-tiba seseorang menabraknya. Sakura yang tengah kesal segera mendongak, berniat memaki orang lain yang berjalan sembarangan. Lagipula pikirnya sama-sama kelas satu jika berada di lantai yang sama. Namun begitu ia melihat siapa yang berada di depan, seketika niat untuk memarahi hancur lebih seperti debu tertiup angin. Itu bukan teman seangkatan, melainkan seorang siswa di tingkatan terakhir. Ada garis tiga di dasinya. Terlebih, Sakura sangat mengenali pria yang kini berdiri di hadapannya. "Kak Takei," pekik gadis itu terkejut, "saya benar-benar minta maaf," lanjutnya setelah sadar dan membungkuk sopan. Kesampingkan dulu bagaimana ia bisa bertemu dengan kelas tiga. Namun bukannya marah, Takei justeru tersenyum ramah. "Sakura. Kenapa kamu bisa ada di sini" tanyanya, sangat masuk akal. Sakura terdiam sejenak. Setelahnya menjawab dengan ragu, "S-saya ingin ke kelas," ungkapnya. Kedua alis Takei menyatu. "Di lantai ini?" tanya pria itu memastikan. Akan tetapi seorang gadis yang belum mengecek kebenaran segera mengangguk. "Ya. Kelas saya berada di lantai dua. Jadi ...." "Tapi ini lantai tiga, Sakura," jelas Takei sebelum gadis di hadapannya menjelaskan lebih lanjut. Mendengar itu, tentu saja berhasil membuat mata besar Sakura membulat sempurna. Apakah ia tengah dikerjai? Tidak mungkin, gadis itu sangat yakin jika berbelok di lorong yang benar. Namun saat matanya ingin memastikan, tiba-tiba Sakura kembali terhenyak. Tulisan di papan kecil atas pintu menjelaskan semuanya. Fakta bahwa deretan kelas tiga berada di hadapan mata membuatnya hampir kehilangan kata-kata bahkan wajah. Wajah putihnya memerah, bagai tomat yang sudah sangat masak. Sakura sangat malu. Bahkan jika ada lubang, ia ingin masuk saat itu juga, menyembunyikan wajahnya. Takei yang melihat Sakura salah tingkah tertawa kecil. Gadis di depannya terlihat sangat menggemaskan. "Sepertinya saya salah belok," ucap Sakura lirih. Ia benar-benar ingin menghilang dari sana saat itu juga. Akan tetapi itu bukan masalah bagi Takei. Ia menatap gadis yang terus menunduk. Menunggunya sedikit tenang, lalu berujar, "Ah, iya. Mumpung kamu ada di sini, aku ingin memastikan sesuatu." Mendengarnya, Sakura mengangkat wajah sedikit. Menunjukkan jika ia tidak keberatan dengan apa yang ini Takei pastikan. Setelahnya pria itu melanjutkan, "Aku melihat formulir pendaftaran yang kamu serahkan. Di sana tertulis jika kamu pandai bernyanyi?" Ia memberi jeda untuk Sakura menjawab. Gadis yang masih bingung harus menjawab apa segera mengelak. Sakura menggeleng. "Sebenarnya tidak tepat jika disebut pandai, Kak. Saya hanya gemar," ungkapnya merendah. Takei mengangguk-angguk. "Begitu," ucapnya, "kami sedang mencari vokalis perempuan untuk tampil di festival nanti. Sebenarnya aku sangat senang jika kamu mau mengisi posisi itu, Sakura," lanjut pria itu penuh harap. Sesaat setelah ucapan Takeru berhenti, sontak Sakura mengangkat wajah dengan semangat. Matanya nampak berbinar. Ini seperti takdir yang Tuhan kirimkan untuknya. Sakura ingin segera mengiyakan. Tampil di festival adalah keinginannya. Namun gadis itu segera tersadar. "Tapi, saya tidak sepandai itu untuk tampil di festival dengan band Kakak," ucapnya tanpa percaya diri. Namun Takei segera menyangkal. Ia menggeleng. "Jangan mengambil keputusan secepat itu. Pikirkanlah dulu, Sakura. Aku berharap kamu mau." Sementara itu, langkah kaki lain menuruni tangga setelah terdengar bel masuk berbunyi. Haruka turun dengan langkah lebar. Ia ingin cepat sampai di kelas, sebelum matanya tidak sengaja menangkap Sakura di lantai tiga. Langkah Haruka berhenti sejenak. Memastikan jika gadis di sana adalah Sakura. Namun sedang apa Sakura di sana? Dan siapa yang sedang berbicara dengannya? Itulah pertanyaan yang muncul begitu saja. Akan tetapi, berpura-pura tidak peduli, Haruka kembali melangkah. Lebih tepatnya setelah ia mendapati Sakura berbalik. "Katakan aku tidak peduli dengan gadis itu dan apapun tentangnya," lirih Haruka seraya meremas perahu kertas di tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN