Keputusan yang Mengejutkan

1232 Kata
Sakura berjalan lima langkah di depan. Wajahnya kusut, atau sengaja dibuat-buat untuk menunjukkan jika dirinya sedang sebal. Kepada siapa? Tentu dengan pria di belakang yang sedari tadi mengekornya. Mungkin lebih tepat jika dikatakan terpaksa mengekor mengikuti Sakura. Langkah yang sebenarnya bisa dibuat lembut, kini sengaja dihentakan cukup keras. Sakura benar-benar ingin memberi tahu Haruka jika ia tidak menerima penolakan dari pria itu. Sedangkan di belakang, Haruka hanya bisa menatap gadis di depannya dengan heran. Ia tidak cukup peka untuk memahami tingkah Sakura yang berbicara tanpa kata. Pria bukanlah dukun yang bisa mengerti tanpa diberitahu dengan jelas. Haruka sengaja berjalan menjaga jarak dengan gadis itu karena sudah diperingatkan di awal. Sakura berkata, jika mereka hanya akan menunaikan janji yang sudah disepakati. Yakni melepas perahu kertas bersama. Meski sebenarnya ia cukup bingung kenapa harus bersekat seperti ini. Namun pria itu tidak terlalu memikirkannya. Sebab dalam otak Haruka terpatri jika perempuan memang suka berbuat sesuka hati dan sulit dimengerti. Ia hanya bisa pasrah dengan janji yang sekarang ia sesali. Daun yang gugur di sungai semakin banyak. Sementara ranting dan dahan semakin botak. Sakura turun lebih dulu ke tepian, disusul oleh Haruka yang mengikuti jalan yang sama dengan gadis itu. "Dengar. Aku melakukan ini hanya karena kita sudah membuat kesepakatan. Bukan berarti karena aku ingin," ucap Sakura tiba-tiba tanpa menoleh. Mendengarnya membuat dahi Haruka mengerut. "Seharusnya aku yang berbicara seperti itu," ucapnya sangat lirih, entah gadis di depannya bisa mendengar atau tidak. Namun sepertinya Sakura tidak bisa mendengar. Buktinya ia segera melanjutkan, "Dan aku belum memaafkanmu!" ujarnya masih enggan menoleh, padahal ekor matanya bertindak sebaliknya. Haruka yang semakin dibuat bingung menarik napas dalam. Ia bahkan tidak tahu apa kesalahan hingga membuat Sakura semarah itu dengan dirinya. Apa sebab penolakan di atap tadi siang? Tapi pria ini menganggap jika itu bukan hal yang patut untuk dipermasalahkan seperti ini. "Kau dengar, Haruka?" Kali ini Sakura menoleh, memastikan setelah tidak ada jawaban yang didengar dari belakang. Pria yang masih berdiri membuang napas panjang, lalu ikut duduk di samping gadis yang sudah lebih dulu merendahkan badan. "Apapun maumu, Sakura," ucap Haruka pasrah. Ingin menentang juga sepertinya percuma, gadis di sebelahnya seperti singa yang kelaparan. Sedangkan dirinya bagai rusa yang tidak bisa berlari menghindar. Untuk semakin menunjukkan rasa kesalnya terhadap Haruka, Sakura kembali terdiam. Dipasangnya wajah segarang mungkin. Lalu mengambil perahu kertas berwarna hijau, dan langsung meletakkannya di atas air, tanoa mengajak pria di samping seperti biasanya. Tanpa menunggu instruksi, Haruka juga secara spontan turut meletakkan perahu miliknya di atas air. Namun saat diperhatikan, ada sedikit keanehan di kertas yang ia letakkan. Perahu kertas berwarna merah itu nampak sangat kusut, bahkan lipatan nampak lebih banyak dari seharusnya. Sejenak Haruka terdiam. Teringat bagaimana perahu kertas miliknya bisa menjadi seperti baju yang tidak pernah disetrika setelah dilipat tanpa aturan. Ya, itu terjadi saat ia meremasnya di tangga. Pria itu merasa malu dengan dirinya sendiri. Kenapa sampai melakukan hal itu hanya karena melihat Sakura berbicara dengan pria lain? Ah, tidak mungkin seperti itu. Perahu di tangan Haruka masih berdiam di tempat. Sementara milik Sakura sudah melenggang menjauh setelah dilepas. Menyadari temannya hanya menatap tanpa berniat melepaskan perahu kertas dari tangan, Sakura segera menegur, "Kau akan menggenggamnya sampai petang?" ujarnya dengan nada mengejek. Sadar dengan kalimat Sakura, Haruka segera melepaskan perahu kusut miliknya. Menatap hingga melenggang di belakang kertas berwarna hijau yang sudah lebih dulu terlepas. "Lihat, perahu milikmu sangat menyedihkan," ucap Sakura saat menyadari betapa kusutnya perahu kertas milik Haruka. Namun pria itu tidak menanggapi. Ia juga sadar jika kertas yang dilepas benar-benar tidak indah dipandang. Tetapi mau bagaimana lagi, Haruka malas menuliskan harapan secara berulang. Lagipula, meski kusut perahu itu tetap bisa berlayar dengan baik. Sepertinya kali ini Sakura benar-benar ingin menunjukkan betapa kesalnya ia. Jika sebelumnya gadis itu akan mengajak Haruka berkeliling setelah melepas perahu kertas, kali ini ia langsung memutuskan untuk pulang. Haruka yang heran refleks bertanya tumben langsung pulang, tapi gadis itu menjawab jika ada hal yang perlu dikerjakan. Awalnya Haruka merasa senang, sebab ia bisa datang ke rumah lebih awal dan beristirahat. Namun saat mendengar alasan lain setelah ia bertanya, tiba-tiba perasannya seperti sumbu yang disulut api. Terbakar. "Aku akan latihan untuk tampil di festival besok," ucap Sakura. Kadua alis Haruka menyatu. "Kau tidak akan memaksaku untuk melakukannya, kan?" tanyanya memastikan. Ia cukup khawatir jika gadis itu benar-benar memaksa. Namun Sakura segera menggeleng. "Tentu. Tenang saja. Seseorang telah mengajakku untuk tampil bersama," ungkap gadis itu. Mendengarnya membuat Haruka merasa lega dan kesal di saat bersamaan. Ia penasaran siapa seseorang yang Sakura maksud, tapi pria ini enggan untuk menanyakannya atas alasan gengsi. Hingga egonya membuat Haruka bersikap tidak peduli meski sebenarnya ia cukup khawatir. "Syukurlah. Aku tidak perlu melakukan hal-hal merepotkan semacam itu." * Sakura duduk di depan nakas dengan mata menatap kotak diary yang Nami hadiahkan padanya. Tatapannya menunjukan keraguan yang besar. Ia tahu betul bagaimana Nami mengagumi sosok bernama Takei Sato, yang justeru mengajaknya untuk bergabung dengan band. Jika temannya tahu, mungkin ia akan dibenci saat itu juga. Namun bagaimana, Sakura juga sangat ingin tampil di festival, setidaknya mumpung dia masih bisa melakukannya. Belum tentu tahun depan ia masih berada di sana. Sakura termenung, meraih kotak merah muda dan menekannya untuk merekam seluruh kegundahan. "Ah, padahal aku ingin tampil dengan orang lain," lirih gadis itu setelah selesai merekam. Selanjutnya, merebahkan tubuh pada kasur, dan terlelap hingga matahari mengetuk jendela, menyelinap dari celah tirai. Pagi datang tanpa banyak yang berubah. Sakura bersiap ke sekolah seperti biasa. Membawa bekal yang sudah ibunya siapkan, lalu bergegas keluar. Jika biasanya ia akan girang melihat Haruka di seberang penyeberangan, kali ini Sakura mencoba menahan diri dengan melewati pria itu tanpa memanggil. Sengaja melakukannya meski ia sangat ingin menyapa. Sedangkan Haruka yang dilewati begitu saja terkejut seketika. Ia heran, pagi ini tidak mendengar namanya diteriakkan dari jauh oleh Sakura. Apakah ini salah satu awal kemujuran baginya? Namun tetap saja, aneh rasanya jika hal seperti ini terjadi. Meski terkesan tidak peduli, Haruka tetap menyeimbangkan langkah agar berada di belakang Sakura. Hingga tiba-tiba seorang pria dengan garis tiga di dasi datang menghampiri Sakura. "Sakura." Rupanya Takei. Sakura berhenti, ia tersenyum dan membungkuk kecil. "Kak Takei," balasnya ramah. "Bagaimana. Kau sudah memutuskan?" tanya Takei tanpa basa-basi. Mendengar itu, Sakura nampak berpikir sejenak. "Tentang tampil di festival dengan band Kakak?" tanyanya ragu. Takei segera mengangguk. "Ya. Aku harap kamu akan menerimanya," ujar pria itu penuh harap. Akan tetapi Sakura masih diliputi kebimbangan yang besar. Ia berada di antara keyakinan dan keraguan. Gadis itu ingin, tapi tidak begitu yakin. Beberapa saat dihabiskan untuk berpikir. Meski sudah diberi waktu sehari semalam, nyatanya Sakura belum bisa mendapatkan jawaban. Sakura meremas jari jemari, tanda ia cukup gugup. "Itu ..." ucapnya ragu untuk disambung. Namun belum sempat gadis itu menjawab, tiba-tiba seseorang menyela dari belakang. "Maaf, Kak. Tapi Sakura akan tampil di festival bersamaku," ucap Haruka penuh dengan keyakinan, "benar, kan, Sakura?" tanyanya seraya menatap gadis yang hampir tidak bisa berkata karena saking terkejutnya. Otak Sakura seketika dingin. "Eh?" ucapnya belum bisa mencerna kalimat Haruka. Namun setelah beberapa detik, ia tersadar. "A-ah, benar." Sakura menatap Haruka dengan bimbang, meski ia tetap mengikuti cara yang temannya lakukan. "Maaf, Kak Takei. Tapi aku sudah berjanji akan tampil di festival bersama Haruka," ucap Sakura menolak dengan halus. Takei yang awalnya tidak yakin akhirnya menerima. "Benarkah? Sayang sekali," ungkapnya. Setelah Sakura menolak, sang kakak kelas segera berpamitan. Lalu dia dan Haruka masih mematung di tempat yang sama. "Kau harus memegang ucapan, Haruka!" lirih Sakura penuh dengan penekanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN