Setelah Es Mencair

1066 Kata
Di sebuah ruangan musik yang tidak terlalu lengkap. Bukan, lebih tepatnya sebuah ruangan kosong yang disulap menjadi tempat bermusik. "Menurutmu kita akan membawakan lagu apa, Haruka?" tanya Sakura dengan buku di tangan. Dari nada bicaranya, terdengar gadis itu sangat bersemangat. Sakura membalik halaman. "Bagaimana tentang friends?" tanyanya masih dengan tatapan yang sama. "Oh, bagaimana dengan lagu hana-hana? Bukankah terdengar indah? Seperti nama mama," lanjut gadis itu. Namun sangat berbanding terbalik dengan Sakura, Haruka justeru nampak tidak begitu tertarik dengan pembahasan yang sedari tadi ditanyakan padanya. Pria itu masih diam di sudut, dengan gitar usang yang juga dimainkan. Sedangkan tatapannya seperti biasa, menerawang ke luar jendela. Seolah mengabaikan seseorang yang tengah berbicara adalah kewajiban. "Haruka!" Mendapati pria yang diajak berbicara tidak menyimak sana sekali, sebuah spidol terlempar begitu saja. Beruntung, tidak sampai mengenai wajah Haruka. Melihat spidol yang jatuh di kaki, membuat Haruka sedikit menaruh perhatian. Ia menoleh, mengambil benda itu dan menatap gadis yang perlahan mendekat. Satu pukulan keras mendarat di bahu Haruka. "Kau tidak mendengarkan ku!" protes gadis yang hampir kehilangan wajah tenang. Tentu, ia sangat kesal. Tetapi Haruka tetaplah Haruka. "Ah, kau mengatakan sesuatu dari tadi?" tanyanya. Mendengar itu, membuat kesabaran yang awalnya tipis semakin terkikis. Sakura hampir meledak. Bola matanya seperti api yang berkobar, sementara tangannya mengepal seperti meriam yang siap ditembakkan kapan saja. Satu tarikan napas diambil begitu dalam. Setelah membuangnya perlahan, Sakura berujar, "Kenapa kamu melakukannya jika tidak tertarik sama sekali?" ucapnya dengan nada sedih, tapi tidak bisa ditutupi ada kekesalan yang sangat besar di sana. Haruka terdiam. Tatapan tidak peduli yang sedari tadi memenuhi kedua mata, kini berganti dengan garis yang sulit diterka. Ia berpikir sejenak, apa alasannya memutuskan untuk mengiyakan perkataan Sakura yang jelas-jelas sudah ditolaknya dengan tegas. Apa karena ia tidak mau jika gadis itu tampil dengan pria kelas tiga tadi? Tidak. Ia membuang napas panjang. "Kau bilang ingin tampil denganku. Jadi, ya ... mau bagaimana lagi," ucap pria itu. Mencoba memberi alasan yang terdengar kurang masuk akal. Padahal ia jelas-jelas menolak, dan sekarang? "Jadi kamu terpaksa?" Sakura tidak terima, "setelah kau menarik diriku di hadapan Kak Takei, dan sekarang kamu mau bilang jika terpaksa?" lanjut gadis itu, menemukan kesalahan yang mungkin tidak akan ia maafkan. Namun dengan cepat Haruka menyadari zona tidak aman yang Sakura bawakan. Ia segera mengelak, melindungi diri lebih utama untuk saat ini. "Tidak. Bukan begitu maksudku," ucap pria itu panik. Tetapi di detik berikutnya, ia kembali tenang. "Jadi namanya Takei?" gumamnya pelan. Sakura yang masih kesal tak bisa dibujuk hanya dengan pengalihan topik. "Tidak penting nama seseorang untuk sekarang!" Ia meradang. Kedua tangan sudah berkacak di pinggang. Sadar jika gadis di depannya semakin marah. Tidak ada cara lagi selain ... "Ah, sebenarnya aku tidak masalah kamu mau menyanyikan lagu yang mana. Semua akan terdengar bagus jika dinyanyikan olehmu." Yap, merayu meski dengan sedikit kebohongannya yang dilebihkan. Setidaknya itu upaya terakhir yang Haruka punya. Satu detik, dua detik, beberapa saat hanya ada keheningan yang menyelinap. Wajah Sakura memerah, sedangkan Haruka sudah lebih dulu menyembunyikannya di balik gitar usang. Hingga setelah beberapa detik, Sakura mengalihkan wajah. Sepertinya gadis itu mengalah dengan rona merah di wajah. Ia tersipu. "Baiklah. Aku memaafkanmu," ucapn Sakura pada akhirnya, "tapi bukan berarti alasanmu barusan bisa kuterima. Hanya saja kita sudah tidak punya banyak waktu," lanjutnya, terdengar gengsi padahal terlihat jelas sekali jika ia senang dengan apa yang Haruka katakan. Namun ungkapan seperti itu sudah lebih dari cukup untuk Haruka. Setidaknya ia aman oleh amukan Sakura untuk saat ini. Meski sebenarnya dari kebohongan di kalimat barusan, tetap menyimpan kejujuran yang tulus. Benar, apapun yang dinyanyikan Sakura pasti akan terdengar indah. Meski jika hanya berlaku untuknya. Di tengah pemikiran itu, Haruka tersenyum tipis. Meski ia harus segera menyembunyikan dan bersikap biasa saja. Musim gugur berjalan perlahan. Seperti daun yang tertiup angin dengan lembut. Pelan tapi tetap akan gugur. Hari berlalu, Sakura dan Haruka semakin sering menghabiskan waktu bersama. Melepas perahu kertas sebagai rutinitas, ditambah latihan untuk tampil di festival. Perlahan tapi bisa dijelaskan, perasaan keduanya saling berbicara. Dua pasang langkah berjalan di bawah dahan yang hampir gundul. Daun-daun berserak di jalanan, dan udara terasa semakin dingin. "Kabarnya festival diundur hingga musim semi?" Sakura mengawali pembicaraan. Wajahnya menunduk, seperti ada perasaan yang disembunyikan. Haruka mengangguk samar. "Aku juga mendengarnya," jawabnya singkat. Sakura tak lagi menimpali. Ia sibuk membelah daun-daun di tanah dengan kaki. Apakah kabar itu yang membuatnya merasa sedih? Atau ada kekhawatiran yang gadis itu rasakan? "Kau mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Haruka yang sadar dengan sikap gadis di sebelahnya. Sebuah senyum tampil di wajah Sakura. Ia menggeleng pelan. "Tidak. Kita pasti bisa tampil dengan baik, kan?" tanyanya tanpa mengangkat kepala. Mendengar itu menyadarkan Haruka akan sesuatu. Kali ini ia yang terdiam. Musim gugur hampir berakhir, itu berarti salju akan turun tak lama lagi. Mungkinkah ... tidak! Singkirkan kecemasan yang akan membuat hati tidak nyaman. Haruka mengangguk mantap. "Tentu saja. Lagipula sekarang kita memiliki waktu latihan yang lebih banyak," ucapnya terdengar menghibur. Namun justeru terdengar lebih menyakitkan bagi Sakura. Gadis itu berhenti. Tidak melanjutkan langkah dengan pandangan yang masih lekat ke bawah. Sadar dengan itu, langkah Haruka ikut terhenti. Ia berbalik, menatap gadis dengan cengkeraman erat pada tali tas. Ada yang disembunyikan oleh gadis itu. "Haruka," panggil Sakura pelan. Haruka terdiam, memberi kesempatan bagi Sakura untuk segera melanjutkan perkataan hingga selesai. "Menurutmu, apa yang akan terjadi jika salju mencair?" sambung Sakura. Mendengarnya membuat Haruka terlibat dalam pikiran yang sebenarnya tidak dia inginkan. Bukan tentang pertanyaan yang sulit, melainkan jawaban apa yang tepat untuk diberikan pada gadis yang tengah dilanda rasa cemas. Haruka bisa saja menjawabnya asal. Seperti es yang mencair akan menjadi air, tentu saja. Namun pria ini berasumsi jika itu bukanlah jawaban yang benar. "Jika es mencair?" gumam pria itu setengah berpikir. Sementara di belakangnya, Sakura mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diulang. Setelah cukup lama memikirkan jawaban, Haruka menoleh. "Maka musim semi telah datang." Akhirnya satu jawaban itu yang ia berikan. Belum sempat Sakura bertanya tentang maksud dari jawaban Haruka, pria itu sudah lebih dulu menjelaskan. "Jika salju mencair, musim semi akan datang. Itu berarti, akan tetap ada musim semi meski musim dingin datang begitu kelam," lanjut Haruka. Sakura terdiam. Ia tidak menyangka jika jawaban seperti itu yang akan Haruka berikan. Setelahnya pria di depannya tersenyum. "Itu berarti juga, musim semi akan selalu datang. Kau juga, harus tetap datang saat musim semi itu tiba, Sakura." Angin yang berhembus di antara daun mengantarkan perasaan yang selama ini terpendam. Sudut mata Sakura basah. "Kau benar, Haruka."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN