Berbahagialah

1085 Kata
Perahu kertas, hari ke-201. "Seratus enam puluh empat hari lagi." Sakura mencoret satu angka lagi di kalendar. Musim semi hamparan mencapai akhir, tidak disangka ia sudah melewati banyak hari semenjak kabar besar yang mengguncang. Gadis itu tersenyum di depan kertas yang berisi angka-angka di setiap bulan. Entah apa yang patut disyukuri atas kemalangan yang mengelilinginya. Namun, Sakura tetap tersenyum, bersyukur seolah ia harus bahagia atas apa yang telah datang padanya. "Sudah separuh lebih. Kuharap kami bisa melewatinya tahun ini," gumam Sakura, "Tuhan, kumohon untuk yang terakhir kali sebelum aku pergi," lanjutnya sembari mengalihkan pandangan keluar jendela. Hidup adalah perputaran musim yang tidak pernah berhenti. Seperti bulan yang selalu berputar mengitari bumi, menciptakan siang dan malam, juga salju serta musim panas yang cukup membakar. Ya, tidak ada yang bisa menghentikannya, meski seringkali kehidupan seseorang harus datang dan berakhir. "Semoga musim dingin mau sedikit berbaik hati." Sakura beranjak menuju depan cermin. Akhir pekan membuatnya sedikit santai, tapi bukan berarti ia hanya duduk dan berbaring di dalam kamar. Terlebih, akhir-akhir ini ada yang sedang ia kerjakan. Apalagi jika bukan kesepakatan bersama Haruka. Juga hari ini, gadis itu sudah bersiap untuk pertemuan satu jam lagi. Bukan kencan atau hal yang istimewa, tapi menghanyutkan perahu kertas di sungai seperti biasa. "Apa aku perlu memakai ini?" gumam Sakura saat mematut diri di depan cermin. "Atau yang ini?" lanjutnya menimbang seraya memasang penjepit pada rambut depan. Sepertinya, beberapa hal telah mengubah perasaan Sakura. Tidak biasanya ia akan bimbang memilih aksesibilitas kecil yang bahkan mungkin tidak terlalu diperhatikan oleh orang lain. Seperti penjepit rambut, atau memilih perhiasan lain yang akan dipakai. Namun beberapa hari terakhir, agaknya gadis itu lebih memperhatikan penampilan daripada sebelumnya. Hingga sebuah jepit rambut berbentuk kelopak daisy terpasang, kedua mata Sakura berbinar. "Ah, ini sangat cantik. Baiklah, aku putuskan untuk memakai ini," ujar gadis itu. Senang akhirnya menemukan aksesoris yang menurutnya pas. Merasa sudah cukup untuk berhias, Sakura memutuskan untuk turun, menemui wanita yang sudah menunggu di meja makan. Pukul satu siang, harusnya ia bisa datang lebih awal. "Sudah selesai? Makanlah sebelum mereka benar-benar dingin," ucap Hana, wanita yang sudah memanggil putrinya untuk turun sejak lima belas menit yang lalu. Mengiyakan perkataan sang ibu, Sakura mengangguk, lalu bergegas duduk di kursi dengan meja yang sudah penuh dengan makanan. "Mama masak banyak sekali siang ini," ucap gadis itu dengan mata yang membesar. Namun sepertinya makanan yang terhidang belum semua, tak lama Hana kembali dengan satu piring ebi tepung yang disajikan. "Ada apa, Sakura? Kamu tidak menyukainya?" tanya wanita itu seraya meletakkan piring terakhir. Kemudian ikut duduk di kursi bersebrangan dengan sang anak. Dengan cepat Sakura menggeleng. "Bukan. Aku sangat menyukainya, Ma," ucapnya girang. Tanpa menunggu disuruh, piring miliknya yang awalnya kosong kini menjadi sangat penuh. Hana yang melihat putrinya makan dengan lahap tanpa sadar tersenyum. Ia sangat senang, gadis yang sejak kecil sangat lemah, kini terlihat lebih bersemangat. Akan tetapi, di antara senyum yang ia tampilkan, ada kesedihan besar yang mengisi celah di sana. Perasaan yang hanya bisa dirasakan oleh seorang ibu. Sakura terlihat lebih bisa menikmati hidup, setelah dokter mengatakan kenyataan pahit tentang hidup. Ya, Hana memikirkannya sepanjang waktu, jika senyum yang selalu putrinya tampilkan adalah proyeksi dari caranya menikmati sisa waktu sebelum habis. Namun itulah yang membuat Hana merasa semakin terluka. Sedangkan di saat yang sama, Sakura masih makan dengan lahap. Ia memang sangat menyukai makanan, terutama apapun yang ibunya hidangkan. Terlebih semenjak ia bebas memakan apapun, rasanya tidak ada rasa makanan yang tertolak oleh lidah maupun perutnya. Namun di tengah suapan yang lahap, tiba-tiba gadis itu berhenti. Ia menatap wanita yang sedari tadi hanya diam tanpa menyentuh makanan. "Kenapa Mama tidak ikut makan?" tanyanya memastikan. Piringnya hampir kosong, tapi piring milik wanita di hadapannya justeru masih sangat kosong. Hana yang tengah bergelut dengan pikiran segera sadar. "Ah, mama hanya senang melihatmu makan dengan baik," ucapnya, terdengar menyentuh tapi menyayat di sisi yang sama. Mendengar itu, Sakura berhenti sesaat. Kalimat yang ia dengar seperti ungkapan kasih sayang dan juga perasaan takut. Entah ketakutan seperti apa, gadis itu juga tidak paham. Namun ia sangat yakin bisa merasakannya dari wanita di depan sana. Akan tetapi, apapun yang ibunya takutkan, mungkin itu berkaitan dengan dirinya. Wanita itu sangat mengkhawatirkannya. Dan Sakura harus bisa membiasakan diri secepat mungkin. Sakura tersenyum. Bagaimanapun ia sangat senang dengan perkataan sang ibu barusan. "Kalau begitu, maukah Mama melakukan hal yang sama untukku?" tanyanya. Di detik berikutnya, Sakura mengambil tamagoyaki dan meletakkannya di piring sang ibu. "Mama juga harus makan dengan baik. Karena aku juga akan senang saat melihatnya." Satu benang merah kembali membentang di antara perasaan yang akhir-akhir ini menjadi semakin rumit. Kalimat barusan membuat Hana semakin terluka. Ia tak bisa menerimanya, bahkan jika Sakura berniat untuk menghibur. Ada sesuatu yang Hana cemaskan daripada rasa takut itu sendiri. Wanita itu sadar, jika waktu terus berjalan, sementara ia belum bisa berbuat banyak untuk Sakura. Ia ingin lebih banyak menikmati momen bahkan dari hal kecil. Seperti menatap putrinya ketika makan maupun terlelap. Hana sadar, jika tidak lama lagi perpisahan pasti akan terjadi. Kepergian Sakura seolah sudah terlihat jelas di depan mata. Namun kendati begitu, mengisi waktu yang tersisa adalah langkah yang paling bijak untuk menghadapinya. Hana tersenyum, lalu mengangguk. "Baiklah. Mama akan makan dengan baik," ucapnya, lalu mulai menyuapkan satu sendok makanan dengan tatapan yang tidak beralih dari putri kecilnya. Berbahagialah. Meski ketika kebahagiaan itu sudah pergi. Makan siang berakhir seperti biasa. Sakura yang selesai dengan buru-buru sebab ada janji dengan seseorang. Kemudian sang ibu yang akan dengan senang melepas putrinya berpamitan. Akhir musim semi membawa suhu yang cukup dingin. Meski tidak serendah musim salju, tapi untuk Sakura mengenakan pakaian hangat sangat perlu untuk saat ini. Setidaknya ia harus paham akan alarm tubuhnya sendiri. Sementara itu, di tepi sungai seperti biasa. Tidak biasanya Haruka sudah sampai dan mau menunggu. Ia duduk di tepian, dengan tangan terlentang ke belakang. Keheningan seolah menjadi teman setianya. Setidaknya sampai suara langkah berhenti tepat di sebelah. "Sudah lama menunggu, Haruka?" Sakura tersenyum. Entah kenapa, tapi semakin waktu berjalan, senyuman gadis itu semakin lebar. Ada yang berbeda. Haruka menoleh. Ia menggeleng pelan. "Belum. Aku baru saja sampai," ucapnya dingin. Sedangkan Sakura hanya mengangguk, lalu ikut duduk di samping pria yang masih berada di posisi sama. Meski musim semi hampir berakhir, tapi masih menyisakan angin yang cukup kuat. Seperti semilir yang bisa mengibaskan anak rambut seorang gadis yang tergerai. Lalu Haruka tidak sengaja memperhatikannya. "Cantik." "Kau mengatakan sesuatu?" Sakura menoleh memastikan. Tiba-tiba telinga Haruka memerah. "T-tidak," ucapnya berusaha mengelak. Meski pada akhirnya ia tak bisa selalu berbohong dengan diri sendiri. "Jepit daisy itu sangat cocok untukmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN