"Hujan datang lebih cepat dari yang kuduga." Sakura membaca selarik lirik dari kertas yang ada di tangan. "Tapi ingat, bahwa jika matahari berbaik hati akan ada pelangi setelahnya. Tetaplah hidup, meski harus bersusah payah untuk bertahan," ujar gadis itu melanjutkannya.
Beberapa saat Sakura terdiam. Ia menyelesaikan lirik dari lagu yang Haruka tulis. Benar, pria itu yang menulisnya. Namun memilih menyimpan untuk waktu yang cukup lama.
Setelah selesai menamatkan satu lembar lirik, wajah Sakura nampak berpikir. Tulisan di dalam lagu yang ia baca mengandung banyak diksi dan perumpamaan yang manis, tapi cukup sulit untuk ia mengerti.
Gadis itu menoleh, menatap Haruka yang masih sibuk mengatur senar gitar. "Kamu bilang aku cocok menyanyikan lagu apapun. Tapi kenapa kamu akhirnya memilih lagu ini, Haruka?" tanyanya.
"Aku hanya menyarankan, dan kamu langsung setuju," timpal Haruka tanpa mengalihkan pandangan dari gitar.
Sakura terdiam. Yang dikatakan Haruka benar. "Ah, kau benar," ucap gadis itu.
Mendengarnya membuat Haruka mengalihkan pandangan dari gitar. Ia mencoba membaca garis wajah gadis di depannya. "Kau tidak suka?" tanyanya memastikan.
Namun dengan cepat Sakura menggeleng. "Aku suka," ungkapnya, "lagipula ada beberapa lirik yang cukup manis di sini," lanjut gadis itu.
Haruka kembali mengatur gitar. Tanpa menoleh ia bergumam, "Aku menulisnya karena teringan dengan seseorang." Akan tetapi sepertinya Sakura tidak mendengarnya. Baguslah, lebih baik seperti itu. Pikirnya.
Meski mengatakan jika ia tidak masalah, tapi wajah Sakura mengatakan sebaliknya. Ada banyak ragu dan pertanyaan yang masih menggantung di sana. Ada apa, Sakura?
"Begini ..." Gadis itu berhenti di satu kata. Setelah Haruka menoleh, ia melanjutkan, "Bukannya aku tidak menyukai lagu ini. Hanya saja, kenapa kamu menyarankan saat kita sudah latihan setengah jalan?" Akhirnya Sakura menanyakannya.
Haruka terdiam. Gitar yang sudah selesai diatur disenderkan ke tepi dinding.
"Aku baru memikirkannya belum lama ini. Dan sepertinya lagu ini sangat cocok untukmu," ujar pria itu menjelaskan.
Sakura tersenyum. "Kau benar. Lagu ini seperti ditulis untukku. Tapi itu tidak mungkin, kan?" ungkapnya bergurau, ada tawa yang mengakhiri kalimat itu.
Namun, apa yang dikatakan Sakura adalah benar. Haruka memang menuliskan lirik demi lirik dengan memikirkan gadis yang akan menyanyikannya. Meski tentu ia tidak akan berterus terang.
Alhasil, Haruka tetap bersembunyi di balik bayang kekhwatiran dan peduli. Tanpa berani menunjukan betapa besar perasaan tersebut.
"Haruka. Apa maksud dari jika kau tidak bisa menjadi mawar bagi seseorang, kau tetap bisa menjadi dirimu sendiri. Apa yang dimaksud dengan menjadi mawar?" tanya Sakura yang masih belum paham dengan salah satu penggal lirik.
"Kalimat itu, bergandeng dengan kalimat setelahnya," ungkap Haruka singkat.
Sakura kembali terdiam. Ia membaca satu penggal kalimat yang Haruka maksud. Lalu bergumam, "Tidak masalah jika mawar atau yang lain. Akan ada seseorang yang memandang dengan penuh perasaan. Seseorang yang tepat, seperti musim semi yang akan selalu menerima mekar sakura." Wajah gadis itu nampak semakin berpikir.
Hingga saat tidak bisa memahami makna dari penggalan lirik yang ia baca, akhirnya Sakura menyerah.
"Kenapa kamu menuliskan lirik yang sulit dipahami seperti ini? Beberapa terdengar manis, tapi beberapa yang lain membuatku cukup berpikir," ungkap gadis itu sedikit protes.
Entah bagaimana mulanya, tetapi rengekan Sakura yang seperti itu kini seperti menjadi penghibur sendiri bagi Haruka. Pria itu tersenyum, meski harus berusaha menyembunyikannya di balik wajah yang dibuang ke sembarang arah.
Sampai setelah semua terkondisikan, Haruka beranjak, menyentil dahi gadis yang ditutup poni. "Kau saja yang kurang pintar tidak bisa memahami kalimat sederhana seperti itu," ungkapnya. Lalu beralih mengambil gitar dan memasang tali di pundak. "Sudahlah. Apa kau hanya akan membaca lirik seperti itu?" lanjutnya.
Sakura menghela napas sedikit panjang. Tidak menyenangkan rasanya saat tidak mengerti makna dari lagu yang dinyanyikan. Namun mau bagaimana lagi, ia harus tetap berlatih. Lagipula, ia yakin makna yang terkandung sama baiknya.
Akhir musim gugur menjadi awal bagi musim semi menyampaikan perasaannya pada kelopak sakura.
*
Waktu berlalu lebih cepat dari yang diharapkan. Musim dingin datang tepat sebelum seseorang hampir bersiap.
Sakura berdiri di depan jendela kamar. Kaca di hadapannya sudah berembun, itu berarti awal musim dingin benar-benar sudah terjadi. Ada kekhawatiran yang sangat jelas terlihat di wajah gadis itu. Seperti ketakutan, juga kecemasan jika keadaan sebelumnya terjadi, atau bahkan memburuk.
Suhu baru turun beberapa derajat, tapi rasa sesak di dalam d**a sudah mulai terasa. Meskipun ia sudah bertekad untuk tetap kuat.
Di tengah lamunan yang menerawang musim dingin, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Siapa lagi yang datang kalau bukan Hana.
"Kau menikmati pemandangan pagi ini, Sakura?" tanya Hana dengan pakaian tebal yang dikenakan.
Mendengar suara wanita itu, Sakura berbalik. Ia tersenyum dan mengangguk. "Kaca sudah berembun. Tapi aku senang melihat keluar. Semua terlihat samar, seperti masa depan," ucapnya.
Hana tersenyum. Apapun yang keluar dari bibir putrinya, adalah sesuatu yang akan ia rekam dengan baik.
Namun sesaat sepertinya Sakura menyadari sesuatu. "Mama akan pergi?" tanyanya ketika melihat sang ibu berpakaian tebal.
Wanita di depannya mengangguk. "Mama akan ke rumah sakit sebentar," ungkapnya.
"Mengambil obat untukku?"
Hana tersenyum dan mengangguk.
Namun Sakura sedikit menunduk. "Maafkan aku, Ma. Mama harus repot bolak-balik ke rumah sakit," ucapnya penuh menyesal.
Akan tetapi itu bukanlah kalimat yang ingin Hana dengar. Ia mendekat, mengelus puncak kepala Sakura dengan lembut.
"Mama akan sangat senang jika harus melakukannya seumur hidup," ucap wanita itu. Mengecup pipi putrinya lalu bergegas keluar kamar. Waktunya tidak banyak.
Sementara Sakura, gadis itu hanya bisa menatap punggung sang ibu dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Ia tahu betul maksud dari perkataan Hana yang terakhir. Yakni berarti mengharapkan gadis itu untuk hidup lebih lama.
"Maka aku akan merepotkan selamanya, Ma," lirih Sakura dengan mata yang mulai basah.
Akan tetapi, Sakura juga berharap ia bisa hidup lebih lama lagi. Ia belum pernah merasakan cinta pertama, atau berkencan. Banyak hal yang ingin ia coba di usia remaja. Namun ia segera sadar, jika keinginannya cukup berlebihan. Bisa menghabiskan sisa waktu dengan gembira saja seharusnya sudah lebih dari cukup untuknya.
"Aku harus mensyukuri semuanya, kan?" ucap gadis itu di hadapan kotak diary yang sudah menjadi teman baiknya cukup lama.
Hidup adalah siklus kelopak bunga yang hidup dari tanah dan akan kembali ke tanah. Terganti dengan yang baru, lalu layu dan kembali patah.
Bunga tidak sama dengan musim. Jika musim akan selalu datang dengan wujud yang sama, bunga tidak. Mereka tetap mekar, tapi dengan kuncup dan kelopak yang berbeda dari sebelumnya.
"Dan aku adalah bunga yang sebentar lagi akan berakhir," ucap seorang gadis dengan tatapan menuju jendela yang semakin samar.