Salju Datang

1173 Kata
Salju turun sesaat setelah daun-daun gugur. Seorang gadis menghela napas usai mengenakan jaket tebal. Rintik putih yang jatuh belum seberapa, tapi sesaknya sudah terasa dari semalam. Setiap kali ia bernapas, uap selalu keluar meski gadis itu berada di dalam rumah. Sakura, ia duduk di depan meja belajar. Mengemasi beberapa buku yang akan ia bawa ke sekolah. Meski kecemasan datang bersama dengan salju uang turun, tetapi gadis itu tetap ingin berpikir bahwa ia akan baik-baik saja. Ya, setidaknya pikirannya akan baik-baik saja. Usai dengan buku pelajaran, mata Sakura beralih pada kotak merah muda yang sudah menjadi temannya untuk waktu yang cukup lama. Sebuah diary yang dihadiahkan, seolah mereka sudah ditakdirkan. "Pagi ini salju turun. Kuharap tidak ada yang berubah," ucap Sakura setelah menekan tombol pada kotak. Setelahnya gadis itu tersenyum. Namun jelas ada kekhawatiran yang nampak dari kedua matanya. Segaris perasaan takut yang terus berulang jika salju datang. Meskipun berkali-kali ia menegaskan semua akan baik-baik saja, tapi nyatanya masih ada ragu yang semakin membesar. Sakura beralih menatap ke luar sebentar. Salju memang belum turun lebat, tapi ia yakin tak lama lagi rintik putih itu akan memenuhi jalan. "Sejujurnya aku sedikit takut. Tapi tidak masalah, aku hanya perlu melaluinya," ujar Sakura melanjutkan berbincang dengan kotak perekam. Jantung yang berdetak di dinding hampir menunjuk pukul tujuh. Sakura harus bergegas jika tidak ingin terlambat. Beruntung, semua sudah siap dan hanya tinggal berangkat. Sakura menuruni tangga dengan hati-hati. Sebenarnya tergesa-gesa, tapi baru beberapa langkah ia pasti sudah kehabisan napas. Tidak masalah mengulur waktu sebentar. Ia harus memperhatikan kondisi kesehatan. Terlebih di musim salju turun. Sementara di dapur, Hana yang tengah menyiapkan sarapan refleks menoleh saat mendengar derap langkah mendekat. Wanita itu tersenyum. "Duduklah. Sarapan sebentar lagi siap," ujarnya seraya membawa satu mangkuk sup ke meja makan. Sedangkan gadis yang baru saja tiba menurut, meski sebenarnya ia merasa waktunya tidak cukup untuk tiba di sekolah tepat waktu. Lagipula, kenapa tumben sekali sang ibu menyiapkan sarapan cukup siang? Itulah yang dipikirkan Sakura. "Pagi ini Mama bangun terlambat?" tanya Sakura saat hidangan sudah siap di atas meja. Dahi Hana mengerut, setelahnya menggeleng. "Tidak. Mama bangun seperti biasa. Kenapa memangnya?" tanya wanita itu. Mendengarnya Sakura menggeleng dengans senyum yang mengembang. "Tidak, Ma," ucapnya, lalu menyuapkan makanan dengan buru-buru. Benar, ia harus bergegas. Namun akibat sup yang masih panas, gadis itu tersedak. Hana yang panik segera menyodorkan segelas air pada sang anak. Menepuk pundak putrinya dengan cukup kuat. "Pelan-pelan. Kenapa buru-buru seperti itu?" tanyanya setelah Sakura tenang. Usai menghabiskan separuh air di gelas, Sakura mengurut d**a pelan. "Aku hampir terlambat, Ma," ucapnya seraya mengelap bibir yang cukup berantakan karena tersedak. Namun saat mendengar alasan gadis itu, kedua alis Hana menyatu. "Terlambat kemana? Kamu tidak ke sekolah hari ini, kan?" tanyanya. Tetapi tak lama ia terhenyak. "Jangan bilang kamu mau berangkat ke sekolah, Sakura?" Matanya memicing saat menanyakannya. Sakura terdiam. Tidak ada jawaban yang bisa ia diberikan selain sebuah senyum dengan gigi terlihat. Ya, harusnya ia membicarakan hal ini lebih dulu dengan sang ibu. Meskipun hasilnya sudah dipastikan sebelum dirundingkan. Hana menggeleng, ia menatap Sakura dengan tegas. "Apa kamu lupa jika hari ini ada jadwal periksa ke rumah sakit?" tanya wanita itu. Gadis dengan tas yang sudah digendong terdiam. Ia ingat, tidak mungkin ia lupa. Terlebih, sudah sangat rutin jadwal ia periksa ke rumah sakit. Bagaimana bisa ia tidak ingat. Namun meski begitu, bukankah tidak masalah melakukannya selepas pulang sekolah? Wajah Sakura terangkat, kembali memandang wanita yang menatap tegas di depannya. "Bukankah aku bisa melakukannya sore hari seperti biasa, Ma?" tanyanya dengan mata besar. Satu tarikan napas dalam diambil oleh Hana. Ia mengerti bagaimana perasaan Sakura. Akan tetapi ia juga tidak bisa terus membiarkan gadis itu berlaku semaunya. Setidaknya ada beberapa hal yang harus ditegaskan. Wanita itu menarik kursi dan duduk di samping putrinya. Dengan lembut ia berkata, "Sayang. Salju di luar akan semakin dingin. Keadaanmu harus segera diperiksa, oke?" Namun Sakura masih tidak mengerti. Bukankah ada obat yang bisa meredakan sakit dan membuatnya bertahan hingga sore nanti? "Apa tidak cukup hanya dengan meminum obat tambahan, Ma? Aku ingin pergi ke sekolah di musim dingin." tanyanya. Terdengar sangat polos untuk anak jenjang SMA. Tetapi lagi-lagi Hana harus bersikap tegas. Ia menggeleng. "Tidak, Sakura. Kita periksa dulu. Tunggu apa kata dokter. Jika keadaanmu baik, mungkin besok bisa ke sekolah." Ungkapan Hana barusan sedikit memberikan ketenangan untuk putrinya. Sakura terdiam sejenak. Mungkin apa yang dikatakan ibunya benar. Tidak masalah jika tidak berangkat satu hari, kan? Akhirnya, gadis itu mengangguk. Meski ada sedikit kekecewaan di wajahnya. Melihat putrinya menurut membuat Hana merasa sedikit lega. Ia membelai rambut Sakura dengan lembut, tersenyum penuh makna. Sementara di sudut kota yang lain. Seorang pria berjalan dengan jaket seadanya. Tanpa penutup kepala maupun sarung tangan tambahan. Alhasil, tangannya sedingin es dengan salju memenuhi rambut seperti ketombe. Pria itu Haruka. Anak yang harusnya lahir di musim semi, tapi begitu akrab dengan musim dingin. Mungkin, trauma masa lalu membuat salju di dalam dirinya tidak akan pernah mencair, meski musim semi telah tiba secara berulang. Haruka tiba di penyebrangan dengan ekor mata mencari seseorang. Biasanya akan ada gadis yang memanggilnya cukup keras. Awalnya memalukan, tapi lama-lama pria itu mulai terbiasa. Dan terasa aneh jika tidak mendengarnya barang satu kali. Namun musim dingin sudah tiba. Salju baru saja turun, dan itu membuat Haruka teringat dengan musim dingin tahun lalu, atau sepuluh tahun sebelumnya. Salju bukan sesuatu yang bisa akrab dengan gadis itu. "Dia tidak datang lagi," lirih Haruka saat ia tidak mendapati Sakura bahkan ketika tiba di kelas. Dengan langkah lemas, ia berjalan menuju kursi. Sedangkan di belakangnya, satu meja kosong seperti biasa. Haruka meletakkan kepala di atas meja. Kaca jendela yang buram semakin membuat suasana hatinya tidak baik. Ini aneh. Rasanya sangat sepi meski keadaan sangat ramai. Hingga tiba-tiba seorang gadis mendekat. "Kau tidak datang dengan Sakura?" Rupanya Nami. Kepala Haruka terangkat. Ia menggeleng pelan. Menunjukkan rasa seolah tidak peduli, padahal dalam hati ada yang tidak pasti. Melihat gelengan kepala Haruka, Nami menghela napas sedikit panjang. Wajahnya nampak berpikir. "Ini aneh," ucap gadis itu setelah beberapa saat. Haruka menoleh. Ia penasaran dengan apa yang barusan Nami sadari. Namun belum sempat Haruka bertanya, gadis di sampingnya sudah lebih dulu menyela. "Musim dingin tahun lalu ... bukankah Sakura juga tidak masuk?" tanyanya pada Haruka. Benar, hal seperti itu sangat mudah disadari. Namun Haruka belum berniat menjawab. Ia tak bisa berkata banyak dengan kondisi Sakura yang sebenarnya. "Jangan-jangan ..." Kedua mata Nami membulat. Sedangkan di depannya, Haruka sudah sedikit cemas. Mungkinkah Nami menyadari jika ada tidak beres dengan Sakura? Haruka menatap Nami dengan sangat hati-hati. Jantungnya cukup khawatir, meski hal itu sama sekali tidak menyangkut dirinya. Hingga Nami kembali berucap, "Jangan-jangan dia liburan lagi kali ini?" Itulah yang dipikirkan olehnya. "Jika benar, Sakura pasti sangat menyukai salju." Mendengarnya membuat Haruka membulatkan mata sempurna. Bibirnya menganga tapi tidak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa Nami berpikir Sakura tidak masuk sekolah karena liburan? Siapa siswa malas yang melakukan hal semacam itu? Namun terlepas dari asumsi konyol Nami, Haruka merasa sedikit lega untuk Sakura. Setidaknya gadis itu bisa menutupi apa yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Sakura, kuharap kamu segera datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN