"Maafkan nenek, Haruka. Karena terus merepotkanmu," ujar seorang wanita dengan rambut yang hampir memutih semua. Seharian duduk di atas ranjang bukanlah hal yang ia inginkan. Namun suhu yang semakin turun memaksanya untuk tetap tinggal, di dalam selimut dengan penghangat ruangan yang tidak pernah cukup.
Namun, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang merepotkan bagi Haruka. Ia tersenyum, menghampiri meja di sebelah ranjang sang nenek. "Istirahatlah dengan baik, Nek. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu," ucapnya sembari mengambil sesuatu dari dalam kotak yang ada.
"Aku akan mengambil di rumah sakit. Nenek tidak masalah ditinggal sendiri?" tanya Haruka.
Dengan senyum yang mengembang di antara keriput di wajahnya, wanita tua itu mengangguk. Tentu, ia tidak ingin lebih merepotkan Haruka dengan keadaannya yang sekarang. Dulu ia masih bisa ke rumah sakit sendiri barang untuk mengambil obat, tapi sekarang agaknya usia mempengaruhi kondisi yang lain.
Tak ingin membuang waktu, Haruka keluar rumah dengan mantel tebal. Kali ini lengkap dengan penutup kepala dan sarung tangan. Ia suka salju, tapi sore ini bulir putih itu turun cukup tebal. Melawannya dengan tangan kosong hanya akan menyakiti. Untuk itu, ia pergi dengan pakaian musim dingin yang lengkap.
Beruntung, jarak rumah sakit tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal. Hanya beberapa saat sepertinya, kini Haruka sudah tiba di tujuan.
Hampir setiap bulan mengunjungi rumah sakit, membuat pria itu sangat hafal kemana ia akan melangkah begitu masuk ke lobi rumah sakit. Tak banyak bertanya, bahkan sempat hanya menyapa pegawai di sana. Dia cukup terkenal, meskipun tidak ada kenangan yang baik dari rumah sakit.
"Ambil obat untuk nenek, Haruka?" tanya seorang apoteker rumah sakit yang berjaga.
Haruka tersenyum dan mengangguk. Ia lalu menyerahkan secarik kertas yang berisi resep obat dari dokter.
Setelah pegawai dengan baju putih itu membaca dengan seksama, ia meminta Haruka untuk menunggu sebentar. Sebab obat akan disiapkan lebih dulu. Tentu, remaja itu langsung mengangguk setuju. Memang sudah biasanya seperti ini.
Rumah sakit masih ramai. Bahkan terlihat semakin sesak saat salju turun. Sepertinya, banyak orang yang mendapat kemalangan seperti sang nenek, juga Sakura. Benar kata orang, rumah sakit adalah tempat yang bagus, bersih dengan pelayan yang terbaik. Namun bagaimanapun, tidak ada tempat yang nyaman di sana.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya nama nenek Haruka dipanggil. Obat yang diresepkan sudah siap.
"Obat untuk nenek ditambah dosisnya, ya?" tanya apoteker yang sama dengan sebelumnya.
Haruka mengangguk. "Sepertinya ini terjadi setiap musim dingin," ujar bocah itu jujur. Benar, ini terjadi bukan hanya sekali atau dua kali. Namun selalu setiap salju akan turun.
Wanita di hadapan Haruka mengangguk prihatin. "Kau benar. Banyak yang seperti ini," ucapnya. Lalu menyerahkan satu kantong berisikan obat yang sudah disiapkan.
Meski pegawai rumah sakit sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, akan tetapi rasanya tetap menyedihkan jika menghadapi seseorang dengan kondisi yang tidak baik. Terlebih, seringkali kematian datang tanpa permisi.
Namun meski begitu, mereka tetap harus memberikan pelayanan terbaik. Menekan perasaan untuk pekerjaan yang profesional. Seperti sekarang, wanita itu tahu betul bagaimana perjuangan nenek Haruka selama ini. Beruntung, beliau berumur lebih panjang, hingga ia bisa bertemu dengan Haruka, atau neneknya.
Apoteker itu tersenyum seraya menyerahkan obat. "Kuharap nenek selalu sehat. Kau harus menjaganya dengan baik, Haruka," ucapnya, seperti seorang kakak perempuan yang peduli terhadap adiknya.
Mendengar kalimat yang begitu tulus, membuat Haruka tersenyum. Ia tersentuh, meski tidak mudah baginya untuk merasakan hal-hal seperti itu sebelumnya.
"Baiklah. Terima kasih banyak," ucap Haruka dengan sopan.
Akan tetapi, sepertinya senyum yang mengembang di bibir Haruka adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Melihat bocah dingin yang sudah tumbuh dengan sangat cepat itu tersenyum, membuat pegawai di hadapan Haruka sedikit terkejut. Matanya membesar dengan binar. "Syukurlah kamu terlihat lebih bahagia akhir-akhir ini, Haruka," ucap wanita itu.
Tentu saja, kali ini Haruka yang terhenyak. Pernyataan barusan sangat tiba-tiba. Benarkah jika ia lebih bahagia setelah apa yang terjadi selama ini? Entahlah, bahkan ia sendiri tidak paham.
Namun belum sempat wanita di sana mengucap kata lebih banyak, kedatangan seseorang membuat perhatiannya dari Haruka teralihkan.
Mata wanita itu kembali berbinar. "Sakura! Kau datang sendiri?" sapanya ramah, seolah bertemu dengan seseorang yang sudah akrab.
Mendengar nama itu disebut, Haruka segera menoleh. Mungkinkah Sakura yang dimaksud adalah gadis yang sama dengan yang ia kenal.
Gadis yang baru saja datang membungkuk sopan, setelahnya menggeleng pelan. "Tidak. Mama sedang ada urusan dengan dokter. Jadi aku yang mengambil obat sendiri," timpalnya dengan keceriaan yang tak pudar.
Tetapi yang belum gadis itu sadari, jika pria yang berdiri di sebelahnya dengan penutup kepala adalah seseorang yang ia kenal.
"S-sakura?" pekik Haruka tanpa sadar.
Sakura terhenyak. Begitupula dengan wanita yang berada di balik meja.
"Kalian saling kenal?" tanya wanita yang lebih dewasa, sang apoteker.
Berbeda dengan Haruka yang masih larut dalam keterkejutan, Sakura dapat dengan cepat membaca kondisi. Gadis itu mengangguk. "Kami teman sekelas," ujarnya.
Salju yang turun di luar menjadi jeda. Tak butuh waktu lama, Sakura sudah selesai dengan obat-obat yang lagi-lagi harus ia terima.
Sembari menunggu sang ibu selesai urusan dengan dokter, gadis itu memutuskan untuk duduk di kursi panjang menghadap jendela. Namun kali ini ia tidak sendiri, Haruka ada di sana.
"Mengambil obat untuk nenek?" tanya gadis itu mengawali pembicaraan.
Seharusnya situasi di antara mereka sudah tidak canggung lagi, tapi sepertinya Haruka belum bisa menampik keterkejutan bertemu dengan gadis yang ia cemaskan seharian ini.
Dengan gugup Haruka menjawab, "Ah, iya. Di luar terlalu dingin untuk nenek keluar," ucapnya.
Sementara Sakura, gadis itu hanya mengangguk paham. Tidak tahu apa yang ingin ia katanya meski hanya untuk berbasa-basi.
Hingga akhirnya Haruka membuka suara. "Kau, baik-baik saja?" tanyanya ragu.
Beberapa saat pertanyaan itu hanya dibalas dengan senyum kecil. Meski akhirnya Sakura menoleh dan mengangguk dengan mantap. "Ya. Kau lihat, aku baik-baik saja meski hujan turun cukup lebat," ungkap gadis itu.
Kali ini Haruka yang mengangguk kecil. Ia paham sekaligus lega dalam waktu bersamaan.
Namun tak lama, gadis di sampingnya terdengar menghela napas. Setelahnya melanjutkan kalimat, "Sayangnya aku belum bisa masuk sekolah beberapa hari ini," ucapnya lesu.
Haruka terhenyak. "Kau sakit lagi?"
Dengan cepat Sakura menggeleng. "Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja aku harus menyesuaikan dengan udara musim dingin. Beberapa hari ke depan mungkin salju akan turun lebih lebat, jadi dokter menyarankan untuk beristirahat sampai salju sedikit reda," jelas gadis itu.
Haruka terdiam. Ia paham betul dengan keadaan Sakura. Bagaimanapun, harusnya bersyukur sebab gadis itu tidak perlu dirawat seperti tahun lalu. Namun tetap saja, sakit adalah hal yang terdengar sangat menyakitkan.
Setelah beberapa saat keduanya saling terdiam. Sakura tiba-tiba mengalihkan pandangan dari jendela, menatap pria di sebelahnya. "Untuk perahu kertas ..." ucapnya terhenti, sedangkan Haruka masih menyimak.
Di detik berikutnya gadis itu tersenyum ceria. "Kita akan melakukannya secara terpisah. Hanya untuk beberapa hari hingga aku masuk sekolah, oke?"
Haruka setuju. Namun entah mengapa, seperti ada kebohongan di kalimat Sakura.