"Menurutmu tidak aneh?" Nami, gadis itu mengawali pembicaraan.
Haruka yang awalnya menatap langit seketika menoleh. Ia tidak paham arti dari pertanyaan yang Nami berikan. Tiba-tiba datang, dan bertanya hal yang terdengar tidak masuk akal.
Tetapi di saat berikutnya, gadis itu melanjutkan, "Sakura." Satu kata terhenti di nama itu, "bukankah ini sedikit aneh? Apa dia baik-baik saja?" lanjut Nami.
Langit yang nampak kelam seolah menyampaikan berbagai perasaan. Salju masih turun, bahkan semakin menumpuk menutup jalan.
Mendengar pertanyaan Nami barusan, membuat Haruka terdiam. Mungkin akan terasa aneh bagi orang yang tidak tahu seperti Nami. Namun untuknya, semua yang terjadi sangat masuk akal. Tentang seorang gadis yang harus mencoba berdamai dengan keadaan, dengan musim yang sama sekali tidak berbaik hati menawarkan kehangatan.
"Entahlah." Akhirnya hanya kata itu yang bisa Haruka keluarkan. Lagipula, tidak ada apapun yang bisa ia jelaskan saat ini.
Nami membuang napas dengan berat. "Sudah kuduga kamu akan mengatakan hal semacam itu," ucapnya, cukup kecewa atas jawaban yang Haruka berikan.
Namun Haruka tak lagi menjawab. Ia ingin tenang, duduk sembari menatap luasnya langit yang terlihat suram, sama seperti dirinya. Sudah dua hari sejak ia bertemu dengan Sakura di rumah sakit, dan hingga sekarang gadis itu belum juga datang.
"Ah, sepertinya sia-sia aku datang kesini," ungkap Nami tiba-tiba dengan kedua tangan menyelinap di jaket.
Haruka menoleh, menatap gadis yang nampak kecewa di antara salju yang bersih. "Tidak ada yang menyuruhmu datang kesini," timpal pria itu, tak kalah dingin dengan butir es di sana.
Kedua bahu Nami terangkat. "Kau benar. Aku tidak seharusnya ke atap di musim salju seperti ini," ujar gadis itu.
Tak perlu menunggu jawaban apapun, sepertinya apa yang akan dilakukan Nami sudah jelas. Gadis itu berbalik, beranjak meninggalkan Haruka yang masih nyaman dengan beranda yang atapnya terbuka. Entah apa yang menarik, tetapi pria itu lebih bisa berbaur dengan salju daripada yang lain.
Namun saat langkah kaki di tumpukan salju belum banyak, tiba-tiba Nami berhenti. Ekor matanya menoleh, memandang pria yang masih sibuk dengan dunianya.
"Jangan sampai sakit, aku tidak mau Sakura khawatir." Setelah mengatakan hal itu, Nami benar-benar pergi dari tempat tertinggi di sekolah. Meninggalkan Haruka yang tanpa sadar membulatkan mata.
Haruka terhenyak. Bagaimana bisa ia mendengar kalimat seperti itu untuk saat ini. Dia tidak sakit, Sakura yang sakit. Bukankah seharusnya yang dikhawatirkan adalah gadis itu? Namun jika benar jika ia akan dikhawatirkan, berarti ada yang salah.
Salju yang turun dengan tenang menyapu wajah Haruka yang menengadah ke langit. Pria itu menerawang sangat jauh, hingga ia sendiri tidak bisa menjangkaunya.
"Dia seharusnya tidak mengatakan hal itu," gumamnya lirih. Sedangkan wajahnya sudah dikembalikan ke posisi semula, memandang luasnya udara di depan.
Haruka, seorang pria yang menyukai salju daripada hujan. Baginya, musim dingin adalah wujud dari emosi yang jujur. Salju turun dengan tenang, tidak riuh seperti yang dilakukan oleh sang hujan.
Namun sekuat apapun ia menyangkal pernyataan Nami yang terakhir, Haruka tetap tidak bisa lari darinya. Dengan sadar, kakinya berbalik, pergi meninggalkan atap dengan salju yang semakin tebal. Benarkah ia tidak boleh sakit?
Sementara itu, di sebuah rumah yang penuh dengan kehangatan. Di mana bunga musim semi terlahir di sana.
Tik, tik. Bunyi keheningan air mata yang jatuh seperti salju yang turun semalaman di luar. Seorang wanita paruh baya menangis, menahan suara justeru membuatnya semakin merasa sesak.
Hana duduk di tepi ranjang dengan kepala yang terasa sangat berat. Kedua tangan menopang, menjaga agar dia tetap terjaga.
Wanita itu menangis bukan tanpa sebab. Air mata yang berharga harus kembali terjatuh sebab lagi-lagi keadaan terdengar sangat menyesakkan.
Ia ingat betul apa yang dikatakan dokter tentang keadaan Sakura. Setelah gadis itu selesai diperiksa, sebuah kabar yang sama sekali tidak ramah kembali disampaikan tanpa memikirkan bagaimana luka yang akan terus bertambah.
Sakura, seharusnya gadis itu terbaring di rumah sakit saat ini. Menghabiskan musim dingin di atas ranjang dengan infus yang terpasang. Menyedihkan, hanya membayangkannya saja membuat hati merasa pilu. Namun memang begitulah seharusnya. Gadis yang sangat malang.
Akan tetapi, nyatanya gadis itu tidak tertahan di rumah sakit saat ini. Bukan secara cuma-cuma ia bisa bebas keluar. Hana, wanita itu menerima syarat dan resiko yang harus ia tanggung tanpa pertanggungjawaban dari rumah sakit atas apa yang akan terjadi setelah ini.
Hana ingat betul, bagaimana dokter di depannya bersikukuh merayu agar ia tidak mau melakukannya. Membiarkan Sakura keluar hanya akan menambah parah keadaan gadis itu. Hati wanita itu juga mengatakan hal yang sama. Namun entah dari sisi mana, ada bagian yang menyudutkannya untuk membebaskan gadis itu, dari segala ketidaknyamanan di rumah sakit.
Hingga setelah berpikir cukup lama, sebuah keputusan paling berani diambil. Dengan tangan gemetar, Hana menandatangani surat pemutusan tanggungjawab jika sesuatu terjadi pada Sakura. Wanita itu menangis, tak tahu apa yang dia lakukan sudah benar, atau justeru kesalahan besar.
Berkali-kali dokter menawarkan pembatalan, dan menyarankan Sakura agar tetap tinggal. Namun Hana tetap menolak. Wanita itu tidak ingin melihat mata yang kecewa dari putrinya.
Lalu sekarang, apakah Hana sedikit menyesal telah mengambil keputusan atas dasar kebahagiaan sang anak? Sakura memang tidak pernah menunjukkan rasa sakit, tapi apakah ia tahu jika itu benar? Sakura, ia sangat pandai menyembunyikan luka.
Dada Hana terasa semakin sesak. Namun semua sudah terjadi. Tidak ada yang bisa ia ubah, kecuali hal-hal yang mengait dengan perasaan. Ia percaya dengan Sakura. Bahwa gadis itu akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Lantas sangat tidak pantas baginya jika menyerah, padahal sang anak terus berjuang.
Hana mengelap wajah dengan kasar saat sebuah ketukan terdengar. Itu Sakura, dan ia tidak boleh terlihat sedih di hadapan anak yang sangat rapuh.
"Sebentar, Sayang. Mama sedang ganti baju," ujar Hana, berbohong. Tentu ia tidak bisa menemui Sakura dengan wajah dan mata yang basah. Setidaknya ia harus menutupinya.
Hingga sesaat kemudian, Hana membuka pintu kamar. Seorang gadis terlihat dari balik pintu, tersenyum dengan membawa secangkir cokelat panas di tangan.
"Mau minum cokelat panas bersama?" tanya gadis itu dengan senyum khas miliknya.
Namun entah mengapa, justeru senyum yang terlihat dari sang anak membuat hati Hana semakin terluka, semakin merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi menimpa putrinya.
Dengan air mata yang ditahan, wanita itu mengangguk. "Ya. Cuaca saat ini sangat cocok untuk minum cokelat panas," ucapnya dengan senyum, mencoba menutupi apa yang tidak seharusnya terlihat.
"Benar, kan? Aku akan membuatkannya satu untuk Mama," ungkap Sakura dengan semangat.
Sakura. Luka adalah alasan yang paling tepat untuk merasa sedih. Kepergian adalah sebab yang paling tepat untuk sebuah rasa takut. Jangan membohongiku diri sendiri hanya untuk terlihat baik-baik saja.