"Kau tahu sesuatu, Haruka?"
Haruka yang tengah mengelap kaca jendela seketika menoleh ketika mendengar suara yang ia kenal.
Dahi pria itu mengernyit. "Tentang apa?" tanyanya memastikan.
Nami terhenti beberapa saat. Ditariknya napas dalam sebelum akhirnya dikeluarkan sedikit berat. "Sakura," ucapnya seraya menatap ke luar jendela.
Selang beberapa detik, gadis itu menoleh pada pria di sampingnya. "Kau tahu sesuatu tentang Sakura?" tanyanya diulang, kali ini lebih jelas.
Mendengar itu membuat Haruka terdiam. Tentu ia tahu tentang gadis yang Nami maksud. Namun ia tidak bisa mengatakan apapun. Lebih tepatnya tidak ada yang bisa ia katakan.
"Entahlah. Aku tidak tahu banyak tentangnya." Akhirnya jawaban itu yang dipilih oleh Haruka. Bukan kali pertama Nami menanyakan hal yang sama. Tetapi berapa kali pun, jawaban pria itu tidak akan berubah.
Nami tak lagi menimpali. Tatapannya terlihat kosong, tapi penuh dengan dugaan yang tidak bisa diungkapkan. Salju hampir berakhir setelah tiga hari turun. Ia harusnya beberes di lantai dengan yang lain, tapi memilih mengelap kaca jendela sebab ada yang ingin ia pastikan dengan Haruka. Sayangnya, tidak ada jawaban yang ia inginkan. Percuma, semua akan selalu berakhir sama.
Namun, tidak seperti sebelumnya. Pertanyaan Nami kali ini membuat Haruka sedikit berpikir. Aneh rasanya jika temannya menanyakan hal yang sama sepanjang hari.
Haruka menghentikan tangan dari kaca. Dengan ragu ekor matanya menoleh, bertanya kepada gadis di sampingnya. "Ini bukan kali pertama kamu menanyakan kabar Sakura padaku," ujarnya.
Mendengarnya membuat Nami menoleh. Dahinya mengerut, ia tidak terlalu paham dengan perkataan Haruka barusan. Apakah mungkin ia membuat pria itu merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang berulang akhir-akhir ini?
Namun belum sampai Nami mencerna kalimat, Haruka sudah lebih dulu menjelaskan. "Maksudku, apakah kamu menyadari sesuatu dari Sakura?" ungkapnya dengan hati-hati.
Nami mengangguk paham, meski setelahnya ia kembali terdiam. Benarkah jika gadis itu menyadari sesuatu yang selama ini ia pendam.
Akan tetapi setelah terdiam beberapa detik, Nami mengelak. Dengan tawa canggung ia berkata, "Tidak. Aku hanya beberapa kali melihatnya seperti merasa kesakitan. Mungkin hanya perasaanku saja," lanjutnya.
Seolah tidak ingin membahas apapun lagi, Nami beranjak dari sebelah Haruka. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan saat ini. Meski ingin sekali memastikan, tapi sepertinya belum ada orang yang tepat untuk membantunya. Haruka, pria itu juga terlihat tidak terlalu peduli.
Namun yang Nami mungkin belum sadari, persis setelah dugaannya tentan rasa sakit Sakura, Haruka terdiam cukup lama di tepi jendela. Pria itu paham, tidak aneh jika harusnya Nami menyadarinya. Mungkinkah selama ini gadis itu memperhatikan Sakura? Tapi kenapa tidak ia tanyakan langsung dengan yang bersangkutan?
Haruka menoleh saat Nami sudah berada di ambang pintu. Ia ingin memanggil dan berbicara lebih banyak. Akan tetapi sayangnya gadis yang ingin ia ajak bicara sudah lebih dulu tidak terlihat di balik dinding. Nami sudah keluar kelas.
"Dia menyadarinya," ujar Haruka lirih. Setelahnya kembali menatap ke luar jendela. Salju mulai menipis. Meski suhu masih di bawah, tapi sudah cukup baik untuk berkeliaran di luar.
Melihat salju yang perlahan menghilang, Haruka teringat dengan ungkapan yang Sakura katakan beberapa waktu lalu saat berada di rumah sakit. Gadis itu berucap, jika akan kembali datang ke sekolah jika salju sudah berhenti turun.
"Kuharap besok dia datang," ujar Haruka melanjutkan. Ya, salju harus berhenti hari ini.
Pelajaran dimulai dengan ketidaksiapan, dan berakhir begitu saja tanpa pemahaman bagi Haruka. Pria itu bagai raga kosong yang duduk di kelas, tetapi jiwanya melayang bebas. Kemana lagi jika bukan menuju gadis yang sejauh ini memenuhi kepalanya. Entah sejak kapan, tapi ia baru menyadarinya akhir-akhir ini. Meskipun terkadang enggan mengakui.
Langkah kaki membelah sisa salju di tanah. Dua tangan yang dimasukkan ke dalam saku dengan wajah menatap udara dengan kosong menandakan bahwa ada yang mengambil perhatian daripada jalanan. Berkali-kali Haruka membuang napas, mengeluarkan asap dingin setelahnya.
Kakinya melangkah berlawanan arah dengan jalan pulang. Kemana Haruka akan pergi dengan perahu kertas yang ia genggam sejak keluar dari kelas?
Tepi sungai yang berseberangan dengan rumah Sakura.
Haruka berhenti di seberang rumah dengan warna bernada krem. Ia menatap salah satu jendela di lantai dua. Di mana dari yang diingat, seorang gadis kerap menatap ke luar jendela saat salju turun. Seperti yang ia lihat sepuluh tahun lalu. Gadis itu adalah Sakura.
Namun setelah beberapa saat hanya menatap, Haruka tidak mendapati tanda-tanda tirai akan dibuka. Memanggil bukan pilihan yang tepat. Lagipula ia khawatir akan menggangu Sakura.
Dengan sedikit perasaan kecewa, Haruka beranjak dari perhatiannya terhadap rumah gadis itu. Berjalan Pelang menuju sungai yang tidak lagi beku.
Bukan tanpa alasan pria itu memilih sungai yang cukup jauh dari rumahnya hanya untuk menghanyutkan perahu kertas. Namun ada harapan lain, yakni barangkali bisa bertemu dengan gadis yang ingin sekali ia temui. Katanya, Sakura tetap akan melepas perahu kertas, dan besar kemungkinan gadis itu akan melakukannya di tempat yang paling dekat.
"Mungkin dia sudah melakukannya pagi ini," ujar Haruka dengan nada sedikit kecewa. Setelahnya, ia turun, merendahkan tubuh seraya meletakkan kertas berwarna merah di atas arus.
"Aku tidak tahu kenapa mau melakukan hal seperti ini, sangat kekanak-kanakan," ujar Haruka setelah perahu kertas melenggang menjauh.
Namun setelahnya ia tersenyum kecil. "Sangat kekanak-kanakan sampai-sampai aku menuliskan harapan dengan serius di sana," lanjutnya, membiarkan perahu kertas sampai di tujuan dengan selamat.
Sementara itu di dalam kamar, Sakura tengah berbaring dengan kondisi yang kurang baik. Suhu di tubuhnya naik sedangkan angka di luar terus menurun. Namun sesuai kesepakatan, sang ibu tidak membawanya kembali ke rumah sakit.
Beruntung, keadaannya tidak begitu parah. Sakura masih bisa tersenyum ketika Hana masuk, dan sesekali berjalan meski harus dipapah.
Saat Sakura tengah merenung menatap langit-langit kamar, tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di samping ranjang bergetar. Suara yang cukup panjang, bisa dipastikan ada seseorang yang menelepon.
Nama Nami tertera di layar begitu Sakura mengusap layar ke atas. Ia tersenyum samar, lalu memutuskan untuk mengangkat panggilan yang diterima.
Namun sebelum itu, Sakura harus berusaha berpura-pura baik-baik saja.
"Nami," ucapnya begitu telepon terhubung.
Tak lama terdengar sahutan dari seberang, sebuah tanya yang dibalut dengan keceriaan. Menanyakan kabar, meski terdengar dengan jelas ada kecemasan yang ditutupi.
"Bagaimana, kau liburan lagi kali ini?" tanya Nami dari ujung telepon.
Sakura tersenyum miris mendengar pertanyaan itu, meski ia sedikit lega sebab tidak ada yang tahu keadaannya kecuali Haruka.
"Ya. Sangat menyenangkan liburan di musim dingin," ujar Sakura membalas pertanyaan Nami.
Beberapa saat terasa hening. Nami terdiam di ujung telepon. Ada sesuatu yang tertahan dan sepertinya tidak bisa lagi disimpan.
Hingga sebuah kalimat yang Skaura dengar membuatnya terhenyak.
Dari seberang, Nami berkata dengan nada serius. "Sampai kapan kamu akan terus berpura-pura seperti ini, Sakura?"