"Masih ada yang belum?" tanya Nami di depan kelas. Beberapa saat tidak ada yang menjawab, gadis itu melanjutkan, "Kalau sudah semua aku akan mengantarnya ke ruang guru."
Nami mengangkat tumpukan buku yang terkumpul dari seisi kelas. Guru yang mengajar biologi hari ini tidak masuk, jadi beliau mengirimkan tugas dan harus dikumpulkan di akhir pelajaran.
Sebenarnya gadis itu sedikit malas menuju ruang guru utama yang letaknya di lantai tiga. Meski hanya harus menaiki satu tangga, tapi tetap saja hal itu membuat Nami enggan. Terlebih ia harus melewati lorong kelas tiga.
Namun karena hari ini adalah paketnya, mau tidak mau Nami melakukannya. Sedikit harapan bisa melihat Takei cukup menenangkannya.
"Ah, kenapa guru biologi jarang sekali masuk," keluh Nami saat melewati anak tangga terakhir.
Kini ia sudah berada di lorong dengan beberapa kelas yang berjajar. Beruntung, sepertinya kelas tiga sedang ada kelas tambahan, jadi tidak ada satupun yang keluar. Lorong sepi, Nami menghela napas lega.
Akan tetapi baru dua kelas ia lewati, tiba-tiba seseorang mendorong pintu cukup keras. Nami melonjak kaget, hampir-hampir buku di tangannya terjatuh jika tidak segera distabilkan.
"Astaga!" pekik gadis itu seraya membenarkan buku yang ia bawa. Sementara matanya belum bisa memastikan siapa pria yang tiba-tiba membuka pintu di depannya.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu jika ada orang yang lewat. Kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang yang baru keluar. Jika didengar dari suaranya bisa dipastikan jika ia seorang pria.
Masih membenarkan buku, Nami mengangguk. "Tidak masalah," ujarnya. Padahal ia ingin memaki, tapi karena gadis itu tahu jika sudah pasti kakak kelas yang berada di sana, ia harus menekan emosi atau masalah akan bertambah besar.
Beberapa saat pria di hadapan Nami terdiam. Lalu setelah gadis itu selesai menata buku dan bersiap jalan, rupanya pria itu tengah menatapnya.
"Mau kubantu bawakan?" tanya pria dengan senyum yang tidak akan pernah Nami lupakan.
Mata Nami membulat sempurna. Bibirnya menganga tanpa suara. Pemandangan di depannya adalah hal yang paling indah sejauh ini. Pangeran yang selalu ia impikan ada di hadapannya. Lalu lihatlah senyuman itu, bukankah terlalu indah untuk sebuah kenyataan.
Nami mematung di tempat. Seketika dunianya beralih. Di dalam pandangan hanya ada pria yang berdiri di depan. Tidak ada yang lain, bahkan ia hampir lupa jika tugas para siswa harus segera diantar ke ruang guru.
Tanpa sadar, Nami menatap pria di depannya dengan lekat. Sementara senyuman aneh muncul begitu saja. Entah apa yang tengah gadis itu bayangkan. Akan tetapi semua berakhir ketika lamunannya dihentikan.
"Halo. Kamu baik-baik saja?"
Sebuah tangan melambai di depan wajah Nami. Segera gadis itu tersadar, pipinya memerah sementara tingkahnya menjadi salah.
"Ah, iya, Kak," ucap Nami gugup, senyum yang tidak bisa ditahan ia sembunyikan di balik tundukan.
Pria yang masih berdiri di sana mengangguk kecil. "Kau mau ke ruang guru? Biar aku bantu bawakan," ujarnya ramah.
Dengan cepat Nami menolak. "Tidak usah, Kak Takei. Aku bisa membawanya sendiri," ucap gadis itu cukup keras. Ia tidak bermaksud membentak, tetapi perasaan gugup mendorongnya melakukannya.
Takei sedikit terkejut, tapi ia segera mengerti dan mengangguk. Ia tahu jika gadis di depannya bukan seorang pemarah, gadis itu hanya pemalu.
"Kalau begitu. Mau ke ruang guru bersama? Kebetulan aku juga ada urusan di sana." Takei mengajak gadis yang baru ia temui dengan mudah. Tentu saja, siapa yang akan menolak ajakan idola sekolah? Meski itu hanya untuk sebuah jarak yang sangat dekat.
Meski ingin sekali, Nami tetap malu mengangguk. Tanpa kata ia mengiyakan ajakan Takei, pria yang hampir menjadi mimpi bisa berbicara dengannya.
Mimpi apa Nami semalam. Atau apa sarapan yang tadi pagi ia makan, hingga satu mimpi terindah bisa menjadi kenyataan. Bunga seakan mekar dengan kupu-kupu yang sangat banyak. Perasaannya membuncah sepanjang lorong yang tidak terlalu panjang.
Nami tidak bisa menahan senyum sampai akhirnya mereka tiba di depan ruang guru.
Dengan perasaan yang masih gugup, gadis itu pamit akan ke meja guru biologi, sedangkan pria yang bersamanya sepertinya ada urusan dengan guru yang lain.
Nami melangkah menuju meja yang dituju. Sebuah tempat yang ternyata kosong. Dengan hati-hati ia meletakkan tugas-tugas yang sudah dikumpulkan.
"Aku letakkan di sini saja?" ujarnya sembari meletakkan buku di tengah meja. Sesaat gadis itu masih menimbang, tapi jika melihat ruang kosong di meja, sepertinya tengah adalah pilihan terbaik.
"Ya. Setidaknya bu guru bisa melihatnya jelas saat kembali," ucap Nami seraya mengangguk senang.
Ia ingin segera kembali ke kelas, meski langkahnya sengaja dipelankan karena ingin menunggu Takei yang belum selesai. Nami sengaja memutar jalan di ruang guru, masuk dari pintu ujung dan keluar di ujung yang lain. Setidaknya ia bisa melihat pangeran sebelum keluar.
Namun saat ia melewati satu ruangan lain di ruang guru, samar telinganya menangkap dua orang yang tengah berbincang. Suara wanita yang terdengar parau dan satu lagi lelaki. Awalnya Nami tidak peduli, akan tetapi saat mendengar satu nama yang disebut, seketika langkahnya terhenti.
Nami mematung, berdiri dengan telinga terpasang tajam. Di dalam sana terdengar dua orang itu tengah membicarakan Sakura. Semua ia tidak paham, tapi sesegera mungkin ia yakin jika temannya tidak masuk sekolah karena alasan yang lain.
Kedua mata Nami membulat. "Jadi Sakura selama ini sakit?" gumamnya lirih.
Gadis itu terlalu fokus dengan obrolan di dalam, sampai lagi-lagi ia tidak sadar jika tiba-tiba seseorang keluar dari dalam.
Nami terkejut, begitu juga dengan Takei yang baru saja keluar.
"Kau membuatku kaget," ucap Takei saat ia keluar.
"Maafkan aku." Nami membungkuk meminta maaf. Namun matanya masih mencoba melihat siapa yang tengah mengobral di dalam. Itu lebih penting daripada sang pangeran.
Melihat Nami mencoba mengintip, membuat dahi Takei menyatu. "Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya penasaran.
Nami menoleh. "Ah, tidak ada," ucapnya gugup, tapi matanya tidak bisa beralih.
"Kamu mendengarnya?" Takei kembali memastikan.
Mendengar itu, Nami semakin gugup. Ia tahu jika tidak seharusnya menguping. Namun apa yang ia dengar sangat mencuri perhatian. Gadis itu ingin mengelak, tapi sudah terlanjur tertangkap basah. Akhirnya, Takei mengajaknya keluar.
Keduanya berjalan di lorong dengan pelan. Nami gugup, ia khawatir jika akan dipandang tukang kuping oleh Takei. Tentu itu bukan hal baik untuknya.
"Sakura yang mereka maksud apakah temanmu?" Takei mengawali pembicaraan.
Nami mengangguk pelan. "Ya. Dia sudah tidak masuk sejak awal musim dingin. Untuk itu aku ingin tahu kabar tentangnya," jawabnya, "tapi bukan berarti aku sengaja menguping. Aku secara tidak sengaja mendengarnya," lanjut gadis itu.
Takei terdiam beberapa saat. Ia percaya jika gadis di sampingnya tidak mungkin menguping. Lagipula, ia juga sama. Tidak sengaja mendengar obrolan saat tengah mengisi sesuatu di bilik sebelah.
Mereka berjalan tanpa kata lagi, hingga Takei tiba di depan kelas. "Semoga kita bisa mengobrol lagi," ujar pria itu.
Seketika wajah Nami memanas. Pipi hingga telinga menjadi merah. Astaga, ada apa dengan pria itu?
*
Sepulang sekolah, Nami berdiri di depan nakas dengan ponsel yang ia genggam. Wajahnya menggambarkan keraguan yang sangat besar. Ada seseorang yang ingin ia hubungi, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Dengan tarikan napas dalam, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menekan tombol panggilan. Terhubung, meski beberapa saat belum dijawab.
Beruntung, tak lama terdengar sapaan dari seberang. Nami mematung. Ia harus bersikap biasa terlebih dahulu.
Setelah saling sapa, Nami berbasa-basi. Ia ingin seseorang di seberang jujur, tapi tidak mungkin, sebab dari tadi hanya bualan yang ia dengar.
Hingga Nami tak lagi bisa menahan diri. Kedua matanya memanas sebelum akhirnya berkata dengan tegas.
"Sampai kapan kamu akan berbohong seperti ini, Sakura?"