Kedua mata Sakura membola. Perkataan Nami yang barusan terdengar membuatnya hampir kehilangan kata-kata. Apa maksud dari Nami? Mungkinkah gadis itu mengetahui semuanya? Tapi dari siapa, tidak mungkin Haruka.
Sakura masih mencoba menyangkal. Ia harus bersikap biasa, daripada langsung menunjukkan kesedihan, meski sebenarnya ia hampir tidak bisa menahan air mata.
"A-apa maksudmu, Nami?" tanyanya sedikit gugup, tapi tetap bisa mengatasinya.
Cukup lama ia hanya mendengar keheningan dari seberang. Jantung berdebar cukup keras, ia khawatir dan cemas, bagaimana jika sebenarnya Nami sudah tahu kondisinya? Itu bukan hal baik, setidaknya untuk Skaura yang sekuat tenaga menutupi selama ini.
Hingga setelah terdengar helaan napas panjang dari ujung telepon, sebuah kalimat kembali terdengar. Sakura menyimak dengan seksama. Setelahnya ia tersenyum.
"Tenang saja, Nami. Besok aku sudah berangkat. Tidak usah khawatir," ucap Sakura dengan helaan napas lega.
*
Salju benar-benar sudah berhenti.
Sakura turun dari ranjang dengan semangat yang sudah kembali. Udara tidak terlalu dingin jika dibandingkan dengan semalam. Salju juga tak lagi terlihat, seolah semuanya sudah mengering. Hal itu membuat kondisi Sakura sedikit lebih baik.
Setelah mencuci muka dan bersiap, Sakura berdiri di depan cermin. Memeriksa penampilan agar patut sebelum berangkat ke sekolah.
Namun saat ia melihat dengan jeli, wajahnya menampilkan ekspresi tidak suka. Terlebih saat melihat bagian bibir yang terlihat kering dan pucat.
"Apa yang harus aku lakukan dengan bibir yang mengerikan ini?" gumamnya seraya berpikir.
Tak lama matanya melihat sesuatu yang berdiri di sudut meja. Sebuah pelembab bibir berwarna yang sangat jarang ia gunakan.
Diambilnya pelembab bibir dengan rasa strawberry. Sakura segera membuka, lalu membalurkan di seluruh bibir. Mengecap sekilas kemudian memeriksa di depan cermin.
"Ini lebih baik," ucapnya dengan senyum puas.
Jarum yang berputar di dalam jam menunjukkan waktu yang masih pagi. Belum saatnya untuk berangkat, tapi Sakura terlalu bersemangat hingga ia sudah menuruni tangga ketika sarapan belum siap.
"Kau terlihat sangat bersemangat," ujar Hana yang hampir menyelesaikan omelette buatannya.
Sakura mengangguk seraya mengambil satu potong roti di atas meja. "Aku senang salju tak lagi turun," ucap gadis itu.
Tak berselang lama, Hana meletakkan omelette di atas roti yang belum Sakura makan. "Kau harus memakan yang ini juga," ujarnya.
Seketika wajah Sakura merajuk. Matanya menatap sang ibu yang tersenyum tanpa rasa bersalah. Semakin ia memohon, semakin besar pula paksaan untuk memakannya.
Akhirnya dengan sedikit berat, gadis itu melipat roti berisi omelette. "Tapi aku lebih suka roti dengan selai cokelat," gumamnya lirih, meski tetap memasukannya ke dalam mulut.
Namun tidak masalah. Omelette tidak mengubah mood Sakura yang sedang sangat baik. Buktinya, ia tetap berangkat ke sekolah dengan semangat. Meski selama musim dingin ia harus sepakat agar diantar oleh sang ibu. Itu lebih baik daripada tidak keluar sama sekali. Meskipun ia tidak bisa menemui Haruka di penyeberangan.
Sakura menarik udara dengan dalam begitu ia tiba di depan sekolah. Baru beberapa hari ia tidak masuk, tapi rasanya sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di sana.
"Akhirnya aku bisa ke sekolah di musim dingin," ucap gadis itu terlihat senang.
Tak ada yang Sakura tuju selain ruang kelas dengan teman-teman yang menyenangkan. Sebuah ruangan di lantai dua yang sangat ia rindukan.
"Sakura!" Seorang gadis berlari dan memeluk Sakura begitu tiba di kelas. Ialah Nami, satu-satunya yang terlihat sangat senang saat temannya datang. Untuk pria yang menatap sekilas dari tepi jendela, entahlah apakah ia senang atau tidak.
"Kau benar sudah sehat?" tanya Nami, matanya menelisik wajah Sakura, memastikan keadaan gadis di depannya.
Dengan senyum tulus, Sakura mengangguk. "Tentu. Aku sangat sehat. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Nami," ucapnya senang.
Nami mengangguk, jelas sekali kelegaan yang tergambar di wajahnya. Meski entah sadar atau belum, jika Sakura masih menyimpan sakit di d**a yang sedikit terasa sesak.
"Syukurlah. Aku sangat khawatir kemarin," lanjut Nami.
Usai saling sapa di depan kelas, Nami menuntun Sakura untuk masuk. Wajahnya sumringah, seperti musim semi yang baru datang. Entah apa yang sudah terjadi, tetapi Sakura menyadari jika temannya sedang berbahagia.
"Katakan jika kamu bahagia bukan karena aku yang berangkat sekolah," ujar Sakura menggoda.
Nami berdiri di samping kursi Sakura dengan senyum yang belum ditanggalkan. Ia jelas sedang gembira. Bahkan belum berniat duduk di kursinya.
"Kau kenapa?" tanya Sakura diulang. Tentu cukup aneh melihat senyum Nami yang tidak biasa lagi ini. "Kau mimpi indah semalam?"
Dengan gembira Nami mengangguk. "Bukan semalam, tapi kemarin," ujarnya.
Mata Sakura menelisik. "Sesuatu terjadi kemarin?"
Seketika wajah Nami memerah. Gadis itu tidak pandai menutupi sesuatu. "Kau pasti akan terkejut saat mendengarnya," ungkapnya.
Sakura masih menyimak. Sepertinya ada kabar besar yang akan Nami sampaikan. Mungkinkah seseorang menyatakan cinta pada gadis itu?
Namun belum sempat Sakura bertanya, Nami sudah lebih dulu menjelaskan kenapa ia sangat bahagia pagi ini.
"Kemarin, Kak Takei mengajakku berbicara. Bahkan ia berharap jika kami bertemu lagi!" ungkap Nami dengan pelan, tapi hampir tidak bisa ditahan karena saking gembiranya.
Mendengar itu, Sakura berpura-pura terkejut. Meski itu adalah kabar yang sedikit berbeda dari apa yang ia pikirkan. "Benarkah?" ucapnya dibuat antusias.
Nami mengangguk cepat. "Tentu saja! Bukankah itu sebuah takdir? Aku merasa menjadi gadis paling beruntung di sekolah ini!"
Sakura hanya bisa tersenyum dengan penuh dukungan. Ia bisa melihat jika Nami sangat mengagumi sosok bernama Takei. Tentu, hal itu membuatnya semakin tidak bisa mengatakan jika ia diajak duet dengan pria itu di festival sekolah nanti.
Usai bercerita panjang lebar tentang kebahagiaannya, Nami memutuskan untuk kembali ke kursi. Gadis itu masih tersenyum bahkan saat sendiri.
Kini Sakura yang beralih menatap ke depan. Haruka yang masih terlihat tidak peduli. Itu sudah biasa, jangan terlalu diambil pusing, Sakura.
Akan tetapi hal yang sangat mengejutkan terjadi. Tiba-tiba tanpa kata dan sapa, sebuah hotpack diletakkan begitu saja di meja Sakura. Sedangkan Haruka yang memberikannya tidak mengatakan apapun.
Sakura terdiam mengambil penghangat tubuh dengan pelan. "Untukku?" tanyanya.
Haruka menoleh sekilas, lalu mengangguk. "Pakai itu. Udara masih terasa dingin," ucap pria itu pelan, terdengar sangat malu-malu.
Mendengar itu, Sakura merasa gembira. Pipinya sedikit merona, sungguh kalimat yang manis di tengah wajah yang terlihat tidak peduli.
Sakura menatap pemberian Haruka dengan senyum yang terus mengembang. Ia tidak menyangka jika Haruka bisa bersikap manis seperti itu.
Sesaat kemudian, sebuah ide usil muncul di kepala Sakura. Ia menarik kursi di depan agar mendapatkan perhatian dari Haruka.
"Hei, Haruka. Apa kamu sengaja menyisakan ini untukku?" tanyanya dengan nada menggoda. Tentu, ia senang saat melihat pria di depannya malu-malu.
Namun Haruka tidak menjawab. Ia masih pasrah meski Sakura terus mengganggu. Telinganya hampir merah sepenuhnya karena ucapan Sakura. Bukan hanya karena kalimatnya, tapi sekadar mendengar suara gadis itu saja ia sudah merasa senang.
"Kau pasti mengkhawatirkanku, kan?" tanya Sakura lagi. Sedangkan kali ini kakinya yang mendorong kursi Haruka.
Haruka masih diam. Ia tidak boleh menunjukkan rasa senang di hadapan gadis itu. Bersikap biasa adalah sesuatu paling wajar yang harus ia lakukan.
Hingga gangguan yang Sakura berikan semakin besar. Haruka tak bisa lagi tinggal diam. Ia menoleh, menatap Sakura dengan tajam, lalu menyentil' dahi gadis itu dengan telunjuk.
"Aku senang kamu sudah sehat," ucap Haruka dengan tersenyum. Meski hanya sekilas, sebab di detik berikutnya pria itu kembali ke posisi awal, tidak peduli dengan Sakura yang masih memegang dahi di bekas pukulan jarinya tadi.
Seharusnya pukulan itu tidak sakit. Sebab Haruka melakukannya dengan hati, Sakura.