Pria Idaman Nami

1177 Kata
"Aku senang salju sudah berhenti," ucap Sakura yang setelahnya mengigit sandwich dengan gigitan besar. Nami yang duduk di depannya mengangguk setuju. Meski ia tetap bertanya, "Kau tidak suka dengan salju?" Sakura terdiam sebentar. Mengunyah roti isi yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulut. Menelannya, kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Sedikit," ucap Sakura pelan, lalu kembali memakan roti di tangan. "Ngomong-ngomong, ternyata sandwich di sini enak juga," ujarnya mengalihkan pembicaraan. Mendengar itu, Nami mengangguk. Matanya berbinar seperti berhasil menyarankan sesuatu yang berharga. Padahal itu hanya sebuah roti isi. "Benar, kan? Roti di sini sangat enak," ucap gadis di depan Sakura. Langsung setuju dengan Nami, Sakura mengangguk. Benar, sepertinya ia jarang sekali mau makan siang di kantin. Mungkin bisa dihitung jari sepuluh semenjak ia masuk ke sekolah ini. Beberapa saat setelahnya mereka terdiam. Membiarkan keheningan menyelinap, sementara keduanya asyik menghabiskan sisa makanan. Kantin selalu ramai, terlebih saat jam makan siang. Inilah salah satu alasan Sakura sedikit enggan ke tempat tersebut. Selain terbiasa membawa bekal, gadis itu juga belum terbiasa dengan keramaian. Roti di hadapan Nami sudah habis, begitu juga dengan satu botol es teh yang hanya menyisakan sari gula yang tidak larut. Usai dengan makanannya, ia menatap Sakura yang masih berusaha menghabiskan sandwich, masih separuh. Gadis itu memang sangat pelan untuk urusan makan. "Ngomong-ngomong, Sakura," ujar Nami berhenti, memberi waktu bagi gadis di depannya untuk merespon. Setelah Sakura membalas tatapan, ia melanjutkan, "Tumben kamu mau makan di kantin. Tidak membawa bekal?" tanyanya penasaran. Sakura mengangguk cepat. "Ya. Aku ingin makan di kantin sekali-kali," ucapnya, "lagipula, aneh rasanya jika tidak pernah pergi ke kantin sekolah." Ia mengatakan itu dengan bubuhan tawa di akhir. Benar, Nami setuju. Ia ikut tertawa menanggapi perkataan Sakura. Syukurlah, ia ikut senang melihat keceriaan dari temannya. Namun yang Nami tidak tahu, bahwa di dalam hati Sakura ada alasan lain yang ingin disimpan dengan rapat. Tidak ada yang boleh tahu, kecuali dirinya dan kotak diary yang selalu ia ajak bicara. Alasan kenapa Sakura akhirnya memutuskan untuk makan di tempat seramai kantin. Rela berdesakan meski terkadang membuatnya sesak. Ada sesuatu yang tidak ingin ia lewatkan. Mungkin sebelum ia pergi, tidak ada salahnya mencoba hal yang dilakukan kebanyakan siswa. Gadis itu juga sempat berpikir untuk terlambat sesekali, meski nyatanya sampai sekarang belum berani. Beberapa saat kemudian, Sakura selesai dengan makan siang. Waktu istirahat yang tersisa masih cukup banyak, membuat dirinya dan Nami untuk tinggal sebentar lagi. Sebuah pesan masuk di ponsel Nami menghentikan perbincangan mereka berdua. Gadis itu mengusap layar ke atas, membaca pesan dari nomor tidak dikenal, setelahnya membulatkan mata sangat lebar. "Ini sungguhan, kan?" pekik Nami hampir tidak bisa ditahan. Saat sadar suara yang dikeluarkan cukup keras, ia segera menutup mulut, lalu menatap Sakura dengan mata berbinar. Sakura yang penasaran segera memastikan. "Ada apa?" tanyanya. Selanjutnya Nami mendekatkan wajah, memberi isyarat jika ia ingin membisikkan sesuatu pada Sakura. Setelah Sakura memasang telinga, barulah Nami memberitahu tentang pesan yang ia terima. "Kak Takei mengajakku bertemu sepulang sekolah!" bisiknya dengan senang. "Ini." Ia menunjukkan pesan yang tertera di layar ponsel. Menimpali kesenangan Nami, Sakura membaca pesan yang ditunjukkan padanya. Meski dari nomor tidak dikenal, tapi jelas sekali ada nama Takei di sana. Usai membaca, ia mengangguk. Turut senang dengan kebahagiaan yang menimpa sahabatnya. "Bagaimana ini?" ujar Nami dengan gugup, padahal ia belum bertemu dengan pria yang mengirim pesan. Nami menatap Sakura, meminta pendapat dari gadis itu. Namun bagi Sakura yang merasa biasa saja, ia menyarankan agar Nami menyanggupi pertemuan sepulang sekolah. Terlebih ia tahu jika temannya ini sangat mengagumi sosok kakak kelas bernama Takei. "Kau benar. Aku harus menemuinya, bukan?" tanya Nami, masih terlihat gugup. Sakura segera mengangguk. "Bukankah itu hal baik?" tanyanya seraya menyeruput tegukan teh terakhir dari botol. Setelah ditunggu dengan hati yang berdegup kencang, akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Jika bisa didengar, mungkin jantung Nami berbunyi lebih keras dari lonceng yang ditabuh. Sementara Sakura, ia yang tahu bagaimana gugupnya Nami segera menoleh. Memastikan jika temannya masih bernapas di sana. Memang terlihat masih bernapas, tapi seolah tidak ada kehidupan di sana. Jiwa Nami seperti meninggalkan raganya. "Kau tidak langsung pulang?" Haruka menghentikan kekhawatiran Sakura terhadap Nami sejenak. Benar, ia harusnya menyelesaikan daftar keinginan bersama Haruka. Akan tetapi Sakura tetap khawatir dengan Nami. Bagaimana jika gadis itu pingsan saat bertemu dengan pria yang selalu ia impikan. Sejenak Sakura menimbang ajakan Nami untuk menemaninya pulang sekolah. Mungkin tidak masalah jika hanya sebentar. Sakura menatap Haruka, mungkin sedikit memohon. "Haruka. Aku tidak enak mengatakan ini. Tapi maukah kamu menemani kami sebentar?" tanyanya berharap. Mendengarnya membuat dahi Haruka mengerut. Ia belum menjawab sampai gadis di belakangnya menjelaskan lebih detail. Paham dengan kebingungan Haruka, Sakura segera melanjutkan, "Jadi Nami akan menemui seseorang siang ini. Aku khawatir dia tidak bisa bicara karena sangat gugup. Jadi aku berencana menemaninya." Kali ini kedua alis Haruka yang menyatu. "Lalu apa hubungannya denganku?" Itu adalah penolakan yang sangat jelas. Sakura meraih lengan Haruka. "Tolong temani kami, ya. Bukankah kita juga harus ke sungai?" Ia memohon, bahkan bisa dibilang setengah merengek. Haruka bergeming, menatap Sakura dengan tajam. Itu bukanlah hal yang biasa ia lakukan. Menemani Nami menemui seseorang, lalu apa yang akan ia lakukan di sana nanti? Namun saat melihat mata Sakura, entah kenapa membuat Haruka kesal karena tidak bisa menolak permintaan gadis itu. Setelah beberapa saat, akhirnya Haruka mengangguk, meski sebelumnya ada helaan napas panjang yang dibuang. Sakura memekik girang, ia segera menghampiri Nami yang tengah mematut wajah di depan cermin kecil. Pasti sangat mendebarkan bertemu dengan sosok yang selalu diimpikan. Setelah dirasa siap, ketiganya memutuskan untuk segera menemui pria yang Nami maksud. Keduanya sepakat untuk bertemu di taman sekolah. Meski di antara mereka bertiga ada yang terlihat sangat malas, yakni Haruka. Saat tiba di samping taman, sosok pria yang ingin ditemui Nami sudah duduk di kursi panjang. Gadis itu semakin tertekan, jantungnya tidak bisa diajak bekerjasama. "Tenang saja, Nami. Kamu pasti bisa berbicara normal dengannya," ujar Sakura menghibur. Nami menarik napas panjang sebelum akhirnya membuangnya perlahan. "Kau benar. Kamu mau menemaniku ke sana, kan?" tanyanya memastikan. Sakura mengangguk. "Aku akan menemanimu, Haruka juga." Namun dengan cepat pria itu menolak. "Aku tunggu di sini," ujarnya cuek. "Kalau begitu aku saja yang menemani ke sana," lanjut Sakura mencoba menenangkan Nami. Setelah sepakat, kedua gadis itu segera menuju kursi panjang dengan seorang pria yang sudah menunggu. Takei berbalik, tersenyum saat melihat dua adik kelas berjalan mendekat. "Aku tidak tahu jika kamu akan membawa teman," ujar Takei begitu Sakura dan Nami sampai. "Maaf, Kak. Perkenalkan ini teman sekelas ku, Sakura," ucap Nami memperkenalkan temannya. Dengan senyum ramah, Takei mengangguk. "Ya. Aku mengingatnya." Setelah itu, Nami tak tahu lagi apa yang akan dia katakan. Wajahnya menunduk gugup, tak berani menatap pria yang selalu ia dambakan. Sedikit menyia-nyiakan kesempatan. Akan tetapi, entah kenapa, pandangan Takei justeru tak bisa lepas dari gadis yang Nami bawa. Pria itu menatap Sakura dengan senyum yang tak biasa. Membuat gadis yang ditatapnya merasa sedikit tidak enak. Sedangkan di tepi taman, Haruka yang memperhatikan ketiga orang di taman memiringkan bibir, meremehkan pria yang ia lihat tidak biasa. Ya, bagi sesama lelaki, tentu ia sangat paham tatapan seperti apa dan maknanya. "Tidak seharusnya Nami menyukai pria seperti dia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN