Menyakitkan

1040 Kata
Menyakitkan melihat orang lain bahagia atas apa yang membuat kita terluka. "Musim dingin sebentar lagi selesai," gumam Sakura dengan tatapan sendu ke udara kosong di hadapannya. Haruka menoleh. Ia mengangguk setuju. "Kau benar. Semua terjadi begitu tiba-tiba," ujarnya. Tanpa disadari, waktu berjalan sangat cepat. Kaki melangkah tanpa berpikir jika semua akan berakhir. Musim dingin, siapa yang menyangka akan dilalui selayaknya hujan yang tiba-tiba reda. Salju mencair begitu saja. Mata Sakura terpejam. Napas ditariknya sangat dalam. Sebuah senyum tergambar, setelah akhirnya kedua mata gadis itu kembali terbuka. "Kau tahu, Haruka?" tanya Sakura tanpa menoleh. Sementara pria di sampingnya hanya menatap tanpa kata. Namun matanya sangat jelas menampilkan kalimat tanya. Sesaat kemudian, Sakura melanjutkan, "Ini adalah kali pertama aku menghabiskan musim dingin di luar rumah," ungkapnya. Ada air yang menggenang di sudut mata. Benar, kalau dipikir, masuk akal rasanya jika gadis dengan kondisi seperti Sakura menghabiskan musim dingin di dalam ruangan. Bahkan jika malang, mereka harus rela menunggu waktu di rumah sakit. Sangat menyedihkan. Hati Haruka terasa sakit bahkan hanya ketika membayangkannya. Haruka masih bergeming. Ia belum menemukan jawaban yang kiranya pas untuk Sakura. Benarkah senyum di wajah gadis itu adalah perasaan yang sebenarnya? Mungkinkah ada luka yang sebenarnya disembunyikan dengan baik? Haruka tidak bisa menerkanya. Hingga, gadis yang masih tersenyum tiba-tiba menghilangkan sabit manis di bibir. Mata sendu terlihat semakin layu. Sakura menunduk, kedua tangan mencengkeram pembatas atap dengan kuat. "Kau tahu, Haruka. Aku sangat bahagia bisa merasakan hal seperti ini sebelum aku pergi," lirih gadis itu. Haruka terkejut. Tentu hal demikian yang Sakura pikirkan. Sebuah kebahagiaan dan kekhawatiran yang berada di titik sama. "Tentu kau bisa merasakan kembali tahun depan. Jangan khawatir," ungkap Haruka dengan hati-hati. Entah itu kalimat yang dapat menghibur Sakura, atau malah lebih menyakiti gadis di sampingnya. Namun Sakura hanya menoleh, dan tersenyum. Ia mengangguk mengiyakan perkataan Haruka yang terdengar seperti harapan baginya. Sebuah cahaya di antara langit yang kelam. "Kau benar. Aku berharap hal itu akan terjadi," lirih Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Akan tetapi, Haruka. Sebenarnya anggukan setuju dari Sakura adalah sebuah kebohongan yang terbalut dengan sisa harapan. Bahkan saat gadis itu berharap, kemungkinan terburuk lebih mendominasi bayangan. Sakura siap dengan kepergian, dan ia tidak yakin saat memberikan anggukan. Atap sekolah di saat pelajaran sudah usai terasa semakin hening. Entah apa yang membawa kedua remaja itu memilih tempat tertinggi siang ini. Mungkin karena matahari yang mulai percaya diri tampil? Entahlah, tapi mereka terlihat sangat menyukainya. Terutama Sakura. Gadis itu kali ini lebih memilih diam daripada banyak mengeluarkan kata seperti biasa. Lalu Haruka, ia hanya bisa mengikuti, meski sesekali menatap gadis yang terlihat semakin mendebarkan hati. Di sela hening yang mendera, tidak sengaja tatapan Sakura menangkap segerombolan siswa yang baru memasuki lapangan. Dengan bola yang dibawa, bisa ditebak mereka akan bermain sepak bola di sana. Tangan Sakura menunjuk segerombolan anak yang mulai menyebar di masing-masing posisi. "Apa yang akan mereka lakukan di musim dingin seperti ini?" tanyanya. Haruka mengamati sebentar. Lalu berucap, "Bermain sepak bola. Mereka berada di klub olahraga sepertinya," jawab pria itu. Sakura terdiam, tetapi matanya terus menatap bola yang mulai dioper dan dibawa. Sementara wajah-wajah yang terlibat tidak jelas terlihat, hanya suara teriakan yang kerap terdengar. "Mereka terlihat bersenang-senang," ungkap Sakura tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan. Haruka segera mengiyakan. "Tentu. Akhir musim dingin menjadi waktu yang terbaik untuk bermain," jawabnya. Namun setelah jawaban Haruka berakhir, tidak ada lagi kalimat dari Sakura. Gadis itu terdiam. Hanya saja, tatapannya sudah beralih dari lapangan ke ubin atap yang terlihat masih dingin. Beberapa saat, Haruka memperhatikan gadis di sampingnya. Tidak ada yang lain, selain aura kesedihan yang melilit tubuh Sakura. Sampai akhirnya pria itu menyadari satu hal. Haruka terdiam, merenungi jawaban yang bisa saja membuat hati Sakura semakin terluka. Bagaimana bisa ia berkata tanpa dipikir terlebih dulu? Mungkin jika ia berbicara dengan orang biasa, kalimatnya akan terdengar tidak masalah. Namun, yang ia hadapi adalah orang yang tidak pernah bermain di musim dingin seumur hidup. "Pasti menyakitkan, ya?" tanya Haruka dengan pelan. Sakura yang masih menunduk tiba-tiba menoleh, memastikan jika pria itu sedang berbicara padanya. Tentu saja, dengan siapa lagi Haruka berbincang jika bukan dengannya? Setelah beberapa detik memberi jeda, pria itu melanjutkan, "Pasti sangat menyakitkan, melihat orang lain bahagia atas apa yang membuat kita terluka." Haruka menoleh, menatap gadis yang terlihat terhenyak. "Aku minta maaf sudah berbicara tanpa memikirkan perasaanmu," lanjut Haruka. Penyesalan benar-benar tergambar di matanya. Meski Sakura sedikit terkejut saat mendengarnya, akan tetapi gadis itu segera menutupi. Ia justeru tersenyum, walaupun air mata justeru luruh dari kedua sudut matanya. "Apakah menyakitkan?" tanya gadis itu yang entah ditujukan untuk siapa. Setelahnya ia menyambung kalimat, "Aku selalu menepis perasaan itu selama ini. Namun saat kau bertanya apakah sakit, tentu sangat sakit. Aku bahkan ingin menangis saat salju turun, memaki setiap anak yang membuat mainan dengan salju di seberang rumah," ungkap Sakura sedikit mengejutkan. Gadis itu menangis. Tangisan yang belum pernah didengar oleh siapapun. Bahkan ibunya sendiri. Selama ini Sakura hanya menyimpan dan memendam. Lalu sekarang, mungkinkah larva di dalam sudah tidak bisa lagi ditampung? Ia harus segera meledak untuk perasaan yang lebih baik. "Aku selama ini mencoba menerima keadaan, menunjukkan bahwa aku selalu baik-baik saja, tanpa ada yang tahu bahwa sebenarnya ada luka yang membesar saat salju datang. Aku sakit, sakit sekali," ujar gadis itu melanjutkan. Sedangkan Haruka, ia hanya bisa menyimak setiap keluh kesah yang Sakura katakan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memberikan telinga dan perasaan untuk mengerti gadis itu. Tiba-tiba Sakura terduduk. Ia masih menangis meski sesekali berusaha menyeka air mata. "Ini selalu menyakitkan, Haruka. Kenapa orang-orang bisa tersenyum sementara aku harus terbaring dengan obat sepanjang hari? Itu menyakitkan bahkan hany untuk mengingatnya," lanjut Sakura. Haruka masih bergeming. Ia hanya bisa meletakkan tangan di pundak Sakura, dan mencoba menenangkannya. Hingga setelah beberapa saat, gadis itu mulai tenang. Meski isakan masih sesekali terdengar. Namun Sakura sudah lebih bisa mengatur napas. "Namun meski aku merasa sakit, tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan agar merasa baik-baik saja? Meski sebenarnya aku semakin rapuh saat menyimpannya," lanjut Sakura. Tak ada jawaban, sampai Sakura selesai dengan kalimatnya. "Aku hanya bisa mengeluh seperti ini," ungkap gadis itu. Seketika, Haruka merengkuh tubuh rapuh Sakura. Terdiam dalam dekapan yang dalam. Tidak ada kata yang menggambarkan kepeduliannya saat ini. "Katakan semuanya, Sakura. Aku ada di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN