Di sebuah ruang dengan beberapa alat musik yang terlihat sedikit berdebu. Sakura dan Haruka duduk saling berhadapan dengan peran masing-masing.
Haruka dengan tangan yang lihai memetik setiap senar gitar, serta Sakura yang juga tak mau kalah dengan menarik suara sebegini indah. Jika boleh dikatakan, mereka hampir sempurna dengan latihan yang sempat tertunda di musim dingin.
Satu nada berakhir dengan apik. Sakura tersenyum puas saat dirinya berhasil menyelesaikan satu lagu dengan sempurna. Ia yang awalnya cukup kesulitan, akhirnya bisa menuntaskannya tanpa hambatan.
Begitupun Haruka, pria itu terlihat cukup senang saat akhirnya merek berhasil membawakan satu buah lagu dengan baik. Terlebih, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menggunakan lagu yang ia buat.
"Bukankah tadi sangat bagus?" tanya Sakura dengan senyum yang belum bisa ditenggelamkan.
Haruka turut mengangguk, sangat setuju dengan pendapat gadis di depannya. "Lumayan. Kamu bernyanyi dengan baik," ucapnya.
Mendengar kalimat sederhana itu membuat mata Sakura berbinar. Gadis itu mendekat. "Apa ... kau baru saja memujiku?" tanyanya dengan semangat.
Dahi Haruka mengernyit. "Benarkah aku melakukannya?" Ia sendiri bahkan tidak sadar jika apa yang dikatakan barusan adalah pujian.
Tiba-tiba mata Sakura memicing. Senyum maka diberikan kepada pria di hadapannya. "Kau baru saja memujiku, Haruka," ujarnya menggoda.
Namun Haruka yang memang tidak bermaksud memuji semakin dibuat heran dengan tingkah Sakura. Terlebih saat gadis itu mulai memicingkan mata dengan senyum yang awalnya mengganggu, tapi sekali terlihat menggemaskan.
Satu dua detik berlalu dengan kedua tatapan yang saling beradu. Haruka terdiam, wajah Sakura yang cukup dekat membuatnya hanya bisa menahan napas dengan saliva yang susah ditelan.
Hingga setelah Haruka tersadar, ia segera menarik pandangan. Mengalihkannya pada udara hampa di samping. Lalu berkata, "Tidak usah GeEr. Aku tidak bermaksud memujimu," ungkapnya, sedangkan telinga perlahan memerah.
Saat mendengarnya, sontak membuat Sakura memundurkan tubuh. Menarik wajah dari hadapan Haruka dengan bibir mengerucut kesal. Ia sebal, padahal bukan hal memalukan jika pria itu mengakui saja. Lagipula, apa salahnya karena saling memuji sesama teman?
Akan tetapi, ada yang mengganggu Haruka setelah tidak ada suara lagi dari gadis di sana. Ia yang awalnya sempat malu dan enggan menoleh, perlahan mengembalikan pandangan ke arah Sakura. Lalu ia dapati jika teman gadisnya itu tengah melipat wajah menjadi beberapa bagian. Kesal.
Sadar akan hal itu, Haruka memutar otak. Ia bisa saja tidak peduli dengan kekesalan Sakura, hanya saja entah sejak kapan ia cukup khawatir dengan perasaan gadis itu. Tentang kecewa, sedih, atau bahkan luka yang coba disembunyikan. Haruka peduli akan itu semua.
"Aku memang tidak memujimu," ucap pria itu lagi. Namun di detik berikutnya dilanjutkan, "Aku hanya berbicara fakta. Jadi berhenti memasang wajah seperti itu."
Satu detik setelah mendengar kalimat barusan, tentu tidak ada yang lebih baik dari mata Sakura yang berbinar. Terdengar sedikit menyebalkan memang, tapi bisa dirasakan jika Haruka mengatakannya dengan tulus.
Sakura tak dapat menyembunyikan senyum di bibir. Wajahnya kembali mendekat, mengamati tiap inchi dari wajah Haruka.
"Kau juga, ternyata cukup tampan, Haruka," ungkap gadis itu pelan, tapi kata perkata berhasil membuat jantung berdebar kencang.
Sementara Haruka, ia hanya bisa mematung di tempat. Otaknya berkata jika harus mendorong gadis yang tiba-tiba menggoda, tapi hatinya berkata lain. Tidak bisa dipungkiri jika pria ini tersipu.
Namun bukan Haruka namanya jika tidak mengedepankan gengsi. Sejenak memang terhenyak dan bisa dibilang kehilangan perkataan. Akan tetapi begitu ia bisa mengontrol perasaan, segera ditarik wajahnya menjauh. Memasang ekspresi seolah geli dengan pujian yang Sakura berikan.
"Aku tidak memujimu. Aku hanya berbicara fakta," ucap Sakura yang belum mengalihkan wajah dari hadapan Haruka. Gadis itu semakin berani akhir-akhir ini.
Perasaan tetap yang terdepan. Meski Haruka ingin segera menepis gadis di depannya, tapi tetap saja hatinya enggan melakukan. Ia justeru sangat menikmati wajah Sakura dari jarak yang sangat dekat. Walaupun sejujurnya ia sangat menyayangkan sikap berani Sakura yang mengalahkan dirinya.
Dua tatapan kembali beradu. Perlahan, Sakura memajukan bibir, memangkas jarak di antara mereka hingga masing-masing dapat merasakan napas satu sama lain.
Pelan tapi terlihat pasti. Wajah Sakura semakin mendekat. Saat jarak semakin singkat, ia tiba-tiba memejamkan mata. Sedangkan Haruka, ia hanya bisa menunggu dengan tidak sabar. Ingin sekali rasanya segera meraih dagu gadis itu, lalu mengecup bibir merah muda yang sedari tadi mengganggu akalnya. Namun bagaimanapun, ia harus menahan dan bersabar akan apa yang akan Sakura lakukan.
Sampai saat kedua hidung hampir bersentuhan, tiba-tiba Sakura berhenti. Perlahan matanya terbuka, lalu tersenyum di hadapan Haruka. Ia menatap pria yang masih membeku di tempat. Memandang bola mata yang baginya sangat indah.
Haruka sempat kecewa. Ia tidak menyangka jika apa yang sudah dibayangkan dibatalkan begitu saja. Padahal, ia sudah siap. Tetapi malah dipermainkan.
"Apa kamu terkejut?" tanya Sakura tanpa mengalihkan wajah dari Haruka.
Pria yang merasa sedikit kesal hanya bisa mengangkat kedua alis. Seolah bertanya apa maksud dari perkataan Sakura.
Namun bukannya menjawab, gadis itu malah menarik tubuh menjauh, lalu kembali duduk di kursi semula.
Sakura tertawa kecil yang berhasil membuat Haruka merasa semakin dipermainkan. Bagi seorang pria, bermain-main dengan hal seperti itu bukanlah sebuah hal yang pantas dijadikan candaan. Terlebih, ia sudah merelakan diri untuk menunggu gadis melakukannya. Akan tetapi yang terjadi justeru melukai harga diri.
"Kamu pasti terkejut dengan keberanianku melakukan hal seperti itu," ucap Sakura masih dengan tawa yang menyertai.
Di depan gadis itu, Haruka masih terdiam. Menatap Sakura dengan tatapan kecewa bercampur kesal.
Haruka belum ingin menjawab, ia masih berusaha mengendalikan perasaan yang digoncang beberapa detik lalu.
"Hei, Haruka. Apa kau akan membenciku jika aku benar-benar melakukannya?" tanya gadis itu lagi. Bedanya kali ini tidak ada tawa, justeru kalimatnya terdengar sendu.
Beberapa detik terdiam, Sakura melanjutkan, "Tentu aku tidak boleh melakukan hal seperti itu, kan?" tanyanya, entah ingin dijawab atau tidak.
Sementara Haruka masih mematung, menatap gadis di depannya tanpa berkedip. Bibir merah muda yang terus mengoceh membuatnya semakin tak bisa mengalihkan pandangan dari sana.
"Meski aku ingin sekali melakukannya, tapi aku tidak bisa. Jahat sekali mengawali tanpa persetujuan, kan? Walau--"
Cup! Sebuah kecupan lembut membungkam mulut gadis yang belum sempat menyelesaikan kalimat.
Haruka seolah kehilangan kontrol atas dirinya. Tanpa berpikir panjang, kalimat yang Sakura lontarkan seolah menuntunnya untuk melakukannya. Ia benar-benar mengecup bibir gadis itu.
Selaras dengan hal itu, kedua mata Sakura membulat sempurna. Kini giliran gadis itu yang membeku, terkejut dengan perlakuan Haruka yang sangat tiba-tiba.
Sesaat kemudian, Haruka melepaskan kecupan. Ia sendiri terkejut, tapi segera sadar. Telinganya merah, sementara mata bersalahnya tidak sanggup menatap gadis yang masih mematung di tempat.
Namun setelah beberapa saat, Haruka kembali menoleh. Ia harus menghadapinya dengan berani.
Ditatapnya Sakura dengan tegas. "Kalau begitu biar aku saja yang jahat."