Ada yang Lebih

1074 Kata
Sebuah tamparan berhasil menyentuh pipi Haruka dengan cukup keras. Suara yang diciptakannya memberitahu jika ada sensasi perih yang ditinggalkan. Pipi kiri pria itu memerah, sedangkan gadis yang melakukannya sudah menunduk tanpa berani menatap. Mendapatkan tamparan secara tiba-tiba, membuat Haruka terhenyak di tempat. Mungkinkah mencium Sakura adalah hal yang salah? Padahal gadis itu sendiri yang bilang jika menginginkannya. Lalu sekarang setelah ia ditampar, rasa-rasanya betul jika ia tengah dipermainkan. Namun Haruka tidak berani langsung menyalahkan. Ia hanya bisa menatap Sakura sembari memegang pipi kiri yang tertampar. Wajahnya menampilkan pertanyaan yang banyak, berharap segera dijawab tanpa menanyakannya. Sedangkan di hadapannya, gadis yang memberikan tamparan masih menundukkan dalam. Keheningan menyelimuti beberapa saat, mengubah atmosfer yang awalnya ringan seketika menjadi berat. Entah apa yang sedang terjadi, akan tetapi rasanya Haruka telah melakukan kesalahan yang fatal. Beberapa saat berlalu tanpa ada kata yang terlontar di antara mereka. Sakura, tubuh gadis itu perlahan bergetar. Suara tangis samar terdengar. Sementara Haruka, ia semakin tak bisa menentukan sikap, ia bingung harus berbuat apa terhadap gadis yang menangis setelah menamparnya. Perlahan air mata yang luruh dari kedua mata Sakura semakin banyak. Gadis itu menangkup wajah dengan tangan, menutupi mata yang basah dengan tubuh yang bergetar. Akan tetapi, iba tetaplah iba meski dia sendiri sakit hati. Walau sebentar ia cukup kecewa dengan apa yang telah diterima dalam waktu singkat, Haruka tetap merasa tidak tega melihat gadis di depannya menangis sendiri. Tangisan yang terdengar memilukan, membuatnya menepikan sejenak perasaan. Tanpa diduga, Haruka menjulurkan tangan. Hendak meraih pundak Sakura dengan harapan bisa menenangkan. Ia menepis segala tanda tanya dan perasaan. Memupuk rasa bersalah atas apa yang ia lakukan terhadap gadis itu. "Saku--" Namun belum sampai tangan Haruka menyentuh pundak gadis yang tengah menangis, tiba-tiba saja sudah ditepis. Bahkan sebelum ia menyelesaikan satu kata pertama. Sakura menghalau tangan Haruka. Padahal ia masih menangis, tapi nampaknya sama sekali tidak ingin ditenangkan. Sesaat kemudian, gadis itu bangkit. Berlari meninggalkan ruang latihan dan seorang pria yang terdiam seperti orang kehilangan akal di dalamnya. Entah apa yang terjadi, semua begitu tiba-tiba tanpa permisi. Melihat Sakura keluar ruangan tanpa sepatah kata yang terlontar, membuat Haruka hanya bisa menatap punggung dengan pertanyaan yang ditelan. Kebingungan semakin mendera, ia bahkan tidak bisa memikirkan bagaimana sebenarnya perasaan gadis yang meninggalkannya dengan tangis yang belum berhenti. Harusnya ia disalahkan, dimaki, ditampar berkali-kali, daripada hanya ditinggalkan dengan kesalahan yang tak bisa ia bayangkan. Begitulah Haruka berpikir setelah ia termenung cukup lama di dalam ruangan. Jika ia salah, harusnya dipukul, bukan ditinggalkan begitu saja seperti ini. Ruangan yang terlihat sangat kosong meski nyatanya penuh, menggambarkan isi kepala Haruka saat ini. Ia masih hidup dengan otak yang lengkap, tapi justeru tidak bisa berpikir satupun sekarang. Sepertinya pria itu telah lancang mencium bibir seorang gadis secara sembarangan. Sementara itu, seorang gadis masih tergugu di depan cermin kamar mandi. Ia tidak terlalu paham kenapa berlari dari ruangan. Tubuhnya reflek bergerak tanpa persetujuan. Bahkan sebuah tamparan dan tepisan tidak benar-benar ia inginkan. Sakura menangis tanpa suara. Mencoba bertanya pada diri sendiri kenapa ia melakukannya. Pria yang ia tampar tidak sepenuhnya salah. Ia memang menginginkannya, tapi setelah Haruka memberikannya, kenapa justeru ia menampar pria itu? Gadis itu menggeleng keras di depan cermin. Ia sadar ini tidak benar. Namun lagi-lagi, tidak ada yang bisa dijelaskan atas apa yang sudah terjadi. Lalu sekarang, menemui Haruka rasanya akan sangat sulit. Ia tidak akan bisa. Semua salahnya, tapi dirinya sendiri bahkan tidak mau mengakui. Di sela tangis yang belum kunjung selesai, tiba-tiba terdengar pintu toilet di belakang terbuka. Dengan buru-buru Sakura menyalakan keran air, lalu membasuh wajah untuk menyamarkan air mata yang belum juga mau berhenti. Sakura terus membasuh wajah secara berulang. Ia ingin berhenti menangis, tapi justeru semakin ia menekan, air mata semakin banyak keluar. Ia tak bisa mengontrol diri sendiri. Hingga seseorang yang baru keluar dari toilet berdiri di samping Sakura. Turut membuka keran air dan mencuci tangan, sebelum akhirnya menyadari satu hal. "Saku ... ra?" panggil gadis yang berdiri dan mendapati Sakura tengah membasuh wajah. Sedangkan Sakura saat mendengar namanya disebut dari suara yang dikenal, ia menghentikan basuhan wajah. Itu suara Nami, tidak salah lagi. Tidak ingin diketahui jika ia sedang menangis, dengan cepat ekspresi Sakura berganti. Ia mencoba tersenyum, dan menyapa. "Ah, ternyata kamu, Nami," ujarnya dengan suara yang dibuat seringan mungkin. Nami mengangguk kecil. "Kau sedang apa di sini?" tanyanya, sedikit kurang tepat untuk ditanyakan di dalam kamar mandi. "Aku sedang membasuh wajah. Memangnya apalagi?" Jawaban Sakura yang harusnya sudah jelas tanpa dikatakan. Mendengar itu tentu Nami hanya bisa mengiyakan. Sebenarnya ia sudah tahu, tadi hanya berbasa-basi. Namun hanya perasaan Sakura, atau memang ada yang ingin disampaikan oleh Nami. Meski sepertinya sudah selesai mencuci tangan, tapi Nami tak kunjung keluar dari sana. Ia terus memperhatikan Sakura dengan mata seolah ingin menyampaikan sesuatu. "Menurutmu ..." Benar saja, Nami mengawali perkataan meski berhenti di kata pertama. Merasa gadis di sampingnya hendak berbicara, Sakura segera menoleh, menyimak dengan seksama barangkali ada kalimat yang akan didengar. Setelah memberi jeda beberapa detik, Nami melanjutkan, "Tentang Kak Takei, bagaimana menurutmu?" tanyanya dengan sedikit keraguan. Mendengar itu, kedua alis Sakura menyatu. "Bagaimana apanya maksudmu?" tanyanya tak paham dengan pertanyaan random Nami. "Kak Takei. Apa kau tertarik padanya?" tanya Nami, kali ini tanpa basa-basi. Namun entah apa yang lucu, pertanyaan barusan malah memunculkan tawa Sakura. Gadis itu terkekeh sebentar, meski akhirnya meminta maaf karena tertawa secara tiba-tiba. "Nami," ucap Sakura, "apa kau pikir semua gadis di sekolah ini tertarik dengannya?" tanya gadis itu setelahnya. Tanpa berpikir Nami segera mengangguk. "Tentu. Kak Takei pria terbaik di sekolah ini," ucapnya dengan bangga. Akan tetapi Sakura justeru menggeleng. "Kurasa tidak. Dia memang tampan, tetapi ada yang lebih menarik untukku," lanjut gadis itu. Mendengarnya membuat dahi Nami mengernyit. Ia sedikit tidak terima Takei dikatakan kurang menarik. Namun di saat yang sama ia merasa lega dengan jawaban dari Sakura. "Jadi kau sama sekali tidak tertarik?" tanya Nami memastikan. Dengan cepat Sakura mengangguk. "Ya," jawabnya tegas. Di detik berikutnya matanya memicing. "Apa kamu khawatir mendapatkan saingan?" tanya gadis itu menggoda. Jelas saja, Nami segera menepis. Meski jelas sekali gadis itu salah tingkah. "T-tidak. Aku tidak berpikir seperti itu," ucapnya dengan mengalihkan pandangan. Hal itu membuat tawa Sakura semakin kencang. Jelas sekali jika mata Nami mengatakannya meski bibirnya mengelak. "Kau!" Nami mencoba mengalihkan pembicaraan. "Jadi siapa yang membuatmu lebih tertarik dari Kak Takei?" Sesaat setelah mendengarnya, tiba-tiba tawa Sakura berhenti. Ingatannya kembali berputar pada sosok pria yang mungkin telah ia sakiti. Namun tak ingin Nami curiga, Sakura segera tersenyum dan berkata, "Rahasia." Lalu bergegas pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN