Tidak ingin terlibat dalam perasaan yang tengah ia coba tenangkan, Sakura bergegas pergi dari kamar mandi. Meninggalkan Nami yang segala pertanyaan yang mungkin saja bakal terlontar jika ia tetap berada di sana.
Hati yang belum siap dengan apa yang terjadi di ruang musik masih sangat mengganggu. Sakura tidak tahu kenapa ia harus kabur, dan sekarang sulit rasanya untuk memulai pembicaraan setelah apa yang ia lakukan.
"Kenapa aku harus menamparnya?" gerutu Sakura lirih begitu keluar dari toilet.
Sementara kedua kakinya melangkah cukup cepat. Ia tidak bisa kembali ke ruang musik, meski sadar jika tas tertinggal di sana. Namun jika tidak ke sana, ke mana Sakura harus pergi?
Gadis itu menggeleng cepat. "Aku bisa mengambilnya setelah pulang sekolah," ucapnya terhadap diri sendiri. "Mungkin lebih tepatnya setelah Haruka tidak ada di sana." Sakura melanjutkan.
Langkah tanpa tujuan membawa Sakura menyusuri lorong tanpa berpikir. Ia kira akan melangkah menuju kelas atau setidaknya tempat yang jauh dari Haruka. Akan tetapi, karena pikiran yang terlalu memikirkan banyak hal, gadis itu justeru tidak sengaja melangkah di lorong sebelumnya, menuju barisan ruang musik.
Hingga ketika ia belum sadar, tiba-tiba seseorang membuka pintu tepat di depannya.
Sakura terdiam, mematung seperti es yang membeku. Napas gadis itu tertahan, sedangkan kedua matanya tak bisa lepas beberapa saat dari sosok pria yang juga masih berdiri di ambang pintu dengan keadaan yang sama.
Pria yang barusan membuka pintu adalah Haruka. Ia juga membeku di tempat yang sama.
Tiga detik dibiarkan berlalu begitu saja. Tak ada kata ataupun sapa di antara mereka. Setelah apa yang terjadi beberapa saat lalu, agaknya hubungan keduanya menjadi sangat canggung.
Sampai tiba-tiba Sakura tersadar. Wajahnya memerah saat mengingat penyebab ia harus menghindar dari Haruka. Lalu sekarang, kenapa ia justeru kembali ke ruang musik yang jelas-jelas sangat dihindari?
Tanpa ucapan apapun, Sakura segera berbalik. Tanpa tujuan, tapi ia harus segera pergi dari sana. Jantung yang berdetak saat berhadapan dengan Haruka sungguh membuatnya tidak aman. Terlebih setelah apa yang ia perbuat. Menggoda, lalu menampar dan pergi begitu saja. Gadis itu harus menyembunyikan wajah di lubang paling kecil agar tidak bisa ditemukan.
Sakura benar-benar beranjak dengan gugup. Tubuhnya seakan bergerak sendiri, tidak peduli bahkan jika kepalanya memaksa untuk meluruskan kejadian. Tidak peduli, ia ingin segera menghilang dari hadapan Haruka.
Namun baru dua langkah gadis itu beranjak, tiba-tiba suara yang tidak ingin ia dengar justeru terdengar sangat jelas. Haruka memanggilnya.
Mendengar namanya disebut, sontak membuat Sakura berhenti. Meski sebenarnya ia ingin mengabaikan apapun bentuk pembicaraan.
Sakura terdiam, ia belum ingin menoleh. Seketika rasa takut dan khawatir menjalar. Mungkinkah pria di belakang akan menghukumnya? Memarahi sebab sikap kurang ajar yang sudah ia lakukan. Membayangkannya saja membuat gadis itu semakin ingin terbang dan menghilang.
Beberapa saat tak ada kalimat lanjutan dari Haruka. Sedangkan Sakura masih bergeming di posisi yang tidak berubah sama sekali.
"T-tas ..." Haruka memberanikan diri menyambung kalimat. "Tasmu tertinggal," lanjutnya seraya menyodorkan tas punggung pada gadis yang membelakangi sedari tadi.
Mendengar hal itu, membuat napas Sakura yang sempat tertahan bisa dilepas perlahan. Ia merutuki bayangan yang mengira Haruka akan menuntut penjelasan. Tetapi saat sadar jika pria itu ingin mengembalikan tas miliknya yang tertinggal, sepertinya gadis itu harus mengubah pandangan.
Namun tetap saja, Sakura tidak berani berbalik.
"A-ah, benarkah?" ucap gadis itu masih dalam posisi yang sama. Hanya ekor mata yang menoleh, sementara wajahnya tidak.
"K-kalau begitu, letakkan saja di sana," lanjut Sakura. Sama sekali tidak ingin berbalik.
Diperlakukan seperti itu membuat Haruka semakin merasa dipojokkan. Tanpa perlu bertanya, ia segera menuruti perkataan Sakura. Diletakkannya tas di depan sedikit terlempar. Entah apa yang harus dilakukan, tapi memaksa gadis itu menjelaskan justeru membuatnya khawatir jika hubungan mereka akan semakin tidak baik.
Setelah memastikan tasnya dilepas, Sakura perlahan berjalan mundur. Tubuhnya merendah, sedangkan tangannya meraba ke belakang. Hal yang terlihat lucu ialah, gadis itu sama sekali tidak berbalik barang sekadar untuk melihat benda di belakang. Hanya meraba, dan sebuah keberuntungan saat ia berhasil meraihnya.
Sakura segera berdiri setelah tas diambil. Dengan perasaan yang semakin canggung, ia berjalan cepat. Meninggalkan Haruka yang bahkan belum sempat meminta maaf, atau sekadar bertanya. Gadis itu sudah hilang di balik dinding.
Penghindaran terhadap Haruka terus berlanjut. Bukan hanya saat Sakura menampar, tapi di hari berikutnya juga terjadi.
Sakura akan menghindar saat berpapasan. Ketika bertemu di jalan, ia akan memilih memutar jalan lain. Tidak masalah jika lebih jauh, yang penting wajahnya bisa disembunyikan dari Haruka.
Juga saat di dalam kelas. Sakura yang biasanya menarik kursi ke depan agar bisa lebih dekat dengan Haruka, kini berbalik dengan memundurkan hingga mentok ke meja belakang. Ia benar-benar ingin pindah, jika saja ada kursi lain yang kosong. Sayangnya semua sudah terisi.
Lalu ketika pulang sekolah, keduanya tetap akan melepas perahu kertas. Akan tetapi, Haruka harus menjaga jarak cukup jauh darinya. Itu sebuah perjanjian sepihak. Bahkan bisa dibilang, jika Sakura melepas di hulu sungai, Haruka harus berada di hilir. Cukup merepotkan untuk pria yang sebenarnya tidak ingin hal seperti itu terjadi.
Sampai tiga hari berlangsung dengan penghindaran yang tidak selesai, justeru semakin parah karena kini Sakura tidak lagi mau hanya sekadar menatapnya.
Sakura merasa semakin kesulitan memperbaiki hubungan, sementara Haruka semakin dirundung rasa bersalah karena sudah mencium gadis itu.
Hingga setelah semua yang terjadi, Haruka tak bisa lagi menahan diri. Puncaknya adalah saat Sakura memutuskan untuk berpindah kelompok di pelajaran bahasa. Gadis itu bertanya pada guru, apakah bisa kelompok kembali dibentuk. Padahal awalnya ia yang memaksa Haruka untuk satu kelompok dengannya.
Sayangnya, kelompok yang sudah ditetapkan tidak bisa diubah.
Bel pulang berbunyi seperti biasa setelah pelajaran bahasa berakhir. Sakura yang masih menghindari Haruka bergegas meninggalkan kelas sebelum ruangan itu sepi. Namun ketika tiba di samping kursi depan, tiba-tiba tangan gadis itu dicekal.
Haruka mencegah Sakura untuk beranjak. Wajah yang semula menunduk kini menatap gadis yang berdiri takut.
Tubuh Sakura gemetar hebat, jantungnya berdetak kencang saat Haruka memegang lengannya. Ia tak sanggup bertanya, apalagi menepis pria itu.
"Kenapa kamu berbuat sejauh ini?" tanya Haruka dengan suara berat lengkap dengan penekanan.
Mendengar itu membuat Sakura merasa semakin takut. Ia sadar jika sudah keterlaluan, tapi untuk memulai seperti biasa jujur ia tidak bisa melakukannya.
Sakura masih bergeming tanpa kata. Sampai Haruka menyambung kalimat. "Apa kamu begitu marah kau aku mencium mu? Bukankah kamu sendiri yang bilang jika menginginkannya?" Ia menatap gadis yang matanya mulai memerah.
"Jangan terus menyiksaku seperti ini, Sakura."