Sakura terdiam dengan tubuh membeku. Pertanyaan yang terdengar seperti tuduhan menghentikan gadis itu bahkan untuk sekadar bernapas. Napasnya tertahan, mematung dengan pergelangan tangan dicekal.
"Kenapa harus bertindak sejauh ini, Sakura?" ucap pria di belakangnya.
Tidak ada yang bisa dikatakan dalam beberapa saat. Lidah gadis di sana terasa beku, padahal musim dingin hampir berakhir. Padahal dalam kepalanya, Sakura ingin bertindak meluruskan semuanya. Haruka tidak sepenuhnya salah, dan ia juga ingin meminta maaf. Namun yang terjadi adalah perasaan yang tak bisa diajak kompromi.
Detik berganti tanpa ada pergantian kalimat di antara keduanya. Sakura yang masih bergeming tanpa berusaha melepaskan cengkeraman, dan Haruka yang tetap menatap gadis di depan dengan mata putus asa.
Sampai sebuah helaan napas panjang terdengar dari belakang. Haruka, pria itu perlahan melepaskan tangan dari lengan Sakura. Ia tak lagi sanggup melakukan hal yang mungkin akan lebih menyakiti gadis di sana.
Haruka terdiam, wajah yang awalnya menatap garang, kini berganti dengan sendu lalu menunduk. Entah apa yang coba ia tenangkan, tapi sepertinya bukan hal yang buruk.
Selang beberapa waktu, tiba-tiba pria itu bangkit. Ada senyum yang dilontarkan setelahnya, meski sangat kentara jika dipaksa. "Lupakan perkataan ku. Kita harus segera menyelesaikan misi satu tahun. Bukankah sebentar lagi?" tanyanya, yang belum dijawab langsung melenggang pergi meninggalkan seorang gadis yang masih membeku.
Sementara Sakura, kepalanya masih belum bisa mencerna dengan benar tentang apa yang terjadi, dan apa yang seharusnya dilakukan. Haruka sudah melenggang dengan biasa saja, bisakah ia melakukan hal yang sama meski hanya berpura-pura? Gadis itu termenung beberapa saat.
Akhirnya seperti tidak memiliki pilihan lain, Sakura memutuskan untuk mengekor pria yang sudah lebih dulu keluar dari kelas. Hatinya belum bisa diajak tenang, meskipun berkali-kali ia coba menarik napas dalam untuk mengurangi kecanggungan.
Musim dingin sebentar lagi berakhir. Setelah salju mencair, benarkah musim semi akan tiba seperti biasa?
Sementara setelah keduanya tiba di sungai, tanpa basa-basi atau mengulur waktu, perahu kertas langsung dilayarkan begitu tiba di sana. Air yang tidak terlalu deras cukup untuk membuat perahu berlayar, meski tidak secepat biasanya.
Di sana, sepasang remaja saling menunggu dalam keheningan. Walaupun Haruka terlihat bersikap biasa, akan tetapi jauh di dalam hati pria itu masih menyimpan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan. Sebuah perasaan yang tertahan, lalu tertolak. Bagaimana cara mendeskripsikannya, bahkan ia sendiri tidak tahu.
Sedangkan Sakura, gadis itu tenggelam lebih dalam lagi daripada pria di sampingnya. Wajahnya tertunduk, sementara bibirnya terasa kelu hingga tak bisa mengeluarkan barang satu kata.
"Jadi, kamu masih mau tampil di festival bersamaku?" ucap Haruka tiba-tiba. Tanpa angin dan hujan, seketika pertanyaan itu membuat gadis di sampingnya tertegun.
Belum ingin menoleh, Sakura hanya membulatkan mata menatap arus yang tidak terlalu deras. Ia tidak yakin dengan pengertian atas apa yang Haruka katakan. Mungkinkah pria itu berubah pikiran tentang festival?
Namun belum sampai pada jawaban Sakura, Haruka sudah lebih dulu menyela. "Kamu boleh memikirkannya lagi. Aku tidak akan memaksa," ungkapnya seraya melempar kerikil kecil ke sungai.
Gadis yang awalnya menunduk perlahan mengangkat kepala. Ia menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya.
Beradu tatap dengan Sakura, Haruka tersenyum. "Jangan dipaksa jika itu membuatmu tidak nyaman," lanjut pria itu.
Tetapi Sakura masih bergeming. Seketika terpikirkan tentang apa yang dikatakan oleh pria di sampingnya. Mempertimbangkan tampil di festival bersama, seolah mengingatkannya pada kejadian di ruang musik beberapa waktu lalu. Lalu tentang ketidaknyamanan, mungkinkah Haruka mengarah ke sana?
"Haruka!" panggil Sakura dengan suara sedikit keras, tetapi langsung ia menutup mulut sebab apa yang ia lakukan tidak sesuai dugaan.
Gadis itu kembali terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu yang cukup sulit untuk dikatakan. Sedangkan Haruka, tentu ia hanya menyimak, menanti Sakura melanjutkan kalimat.
Sakura meremas jari jemari dalam keheningan dan bola mata yang berputar ke sembarang arah. Ia terlihat sangat gugup, bahkan dari napas yang keluar kegugupan jelas terdengar.
Setelah beberapa saat mengumpulkan keberanian, akhirnya Sakura mengatakan apa yang selama ini dipendam. Tentang hal-hal yang membuat dadanya sesak akhir-akhir ini, lalu tentang kesalahpahaman yang ingin segera diluruskan.
"Kau ..." Sakura berhenti, napasnya serasa tertahan sebelum keluar. Setelahnya ia kembali menatap Haruka. "Apa kau marah padaku?" tanyanya dengan ragu.
Mendengar itu, kedua alis Haruka menyatu. Ia tidak begitu paham untuk beberapa saat, meski akhirnya sedikit mengira dan tersenyum penuh ketidakjelasan.
Haruka menarik napas dalam seraya mengarahkan pandangan ke atas. Sementara bibirnya masih mengurai senyum. Kedua tangan ditarik ke belakang, menyangga tubuh yang masih terduduk di tepian.
"Entahlah apakah aku marah atau tidak," ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangan dari langit. "Aku ditampar, lalu diabaikan tanpa kejelasan. Beberapa hari disiksa oleh rasa bersalah. Jadi, apakah aku marah?" lanjut Haruka.
Sedangkan di sebelahnya, Sakura semakin menunduk. Gadis itu merasa bersalah, terlebih setelah mendengar Haruka memperjelas apa yang telah ia lakukan.
Sakura ingin menyela dan meluruskan. Namun sebelum itu terjadi, Haruka sudah lebih dulu memotong pembicaraan.
"Namun, Sakura," ucapnya lalu berhenti. Wajah yang semula menengadah, kini menoleh dan kembali berkata, "Bukankah aku yang lebih jahat di sini? Aku memaklumi sikapmu terhadapku. Justeru aku lega jika kamu merasa marah atas apa yang sudah ku perbuat."
Usai kalimat Haruka selesai, tidak ada jawaban langsung yang terdengar. Sakura terdiam dengan hati yang sulit dipahami. Kenapa justeru pria itu yang disalahkan?
"Aku tidak bermaksud menamparmu, Haruka. Semua terjadi begitu saja dan tanpa aku sadari," ungkap gadis itu dengan lirih, terdengar perasaan bersalah di dalamnya.
Namun Haruka hanya tersenyum dan menggeleng kecil. Seolah atas apa yang terjadi, hanya dirinyalah yang patut disalahkan.
Sadar dengan penolakan Haruka, Sakura segera meluruskan. Ia terlihat panik dan salah tingkah, tapi tetap memberanikan diri untuk mengungkapkannya.
Dengan wajah malu, gadis itu berkata, "Sebenarnya, aku menyukainya," ucapnya lirih, sedangkan tomat matang sudah mewarnai kedua pipi.
Haruka yang mendengar hanya bisa menatap heran. "Jadi kau menyukai menamparku seperti itu?" tanyanya memastikan.
Dengan cepat Sakura menggeleng. "Bukan seperti itu," ungkapnya, "Aku menyukai saat kamu melakukan itu."
Perlahan wajah gadis itu terangkat, dengan wajah yang sudah merah, ia menatap Haruka dengan lekat.
"Aku menyukaimu, Haruka."
Deg! Seketika darah terasa mengalir sangat deras dalam diri Haruka. Ia tidak salah dengar, kan? Setelah segala prasangka yang ada, mengapa tiba-tiba Sakura mengungkapkan perasaannya. Ini tidak masuk akal.
Namun saat kedua tatapan mereka bertaut, Haruka merasakan adanya ketulusan di mata Sakura. Apa yang diungkapkan gadis itu barangkali benar, meski masih terasa tidak benar.
Setelah beberapa saat dilanda keterkejutan, Haruka menarik napas dalam, menunduk dengan senyum yang melebar.
"Kamu telah mencuri kalimatku, Sakura."