"Jadi, sekarang kita berkencan?" tanya seorang gadis tiba-tiba, setelah keduanya terdiam cukup lama.
Sedangkan di sampingnya, Haruka terdiam dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan barusan.
Setelah Sakura mengatakan jika menyukai Haruka, pria itu secara refleks membalas ucapan yang sebenarnya belum ingin ia katakan. Perasaan yang seharusnya ia simpan sampai waktu yang tepat tiba.
Namun yang terjadi sudah tidak bisa ditarik, waktu tak bisa diputar. Perasaannya sudah terlanjur diungkapkan. Lalu sekarang, lihatlah mata berbinar dari gadis yang awalnya tersipu sangat malu.
"Haruka!" panggil Sakura berusaha menghentikan pria yang masih berdebat dengan diri sendiri.
Tak bisa mengelak, akhirnya Haruka menoleh. Menatap gadis di sebelah dengan wajah bimbang tak bisa diuraikan.
Mendapati Haruka mau menatap, Sakura tersenyum. "Jadi kita sekarang resmi berkencan?" tanyanya senang.
Raut bimbang di wajah Haruka masih belum berubah. Pria ini benar-benar belum memikirkan apapun. Pikirannya berputar hanya sebatas apa yang ia katakan dan didengar dari Sakura. Sementara untuk berkencan, ia bahkan sama sekali tidak tahu seperti apa cara melakukannya.
"Oh, apakah seseorang berkencan hanya dengan kalimat seperti itu?" Dengan sangat hati-hati Haruka mengatakannya.
Mendengar itu, Sakura mengangguk tanpa ragu. "Ya. Dari yang k****a, orang-orang akan mulai berkencan saat mereka saling mengungkapkan perasaan," jelas gadis itu. Namun setelah beberapa detik terdiam, tiba-tiba wajahnya tersipu. "Kita bahkan sudah berciuman," ungkapnya dengan malu.
Tentu saja, Haruka yang mendengarnya langsung salah tingkah. Bagaimana gadis itu mengatakan tentan ciuman dengan sangat mudah? Sedangkan untuk dirinya, membayangkan hal itu saja membuat telinga memerah malu tidak terkira.
"Apa kamu tidak ingin berkencan denganku?" tanya Sakura setelah tak mendapat jawaban dari Haruka.
Dengan cepat Haruka menggeleng. "B-bukan begitu," ucapnya dengan gugup.
Tiba-tiba mata Sakura berbinar. "Jadi kamu mau?" Gadis itu bertanya dengan penuh semangat. Sepertinya ia tidak terlalu peka dengan apa yang Haruka rasakan.
Haruka menatap Sakura dengan wajah penuh kebimbangan. Ia memang benar menyukai gadis itu, tapi apakah berkencan sekarang tidak terlalu cepat? Bagaimana jika ia tidak sengaja menyakiti perasaan Sakura?
Namun pada akhirnya, pria yang sedari tadi bimbang mengangguk dengan ragu. Ia berkata, "Ya. Jika itu yang biasa terjadi. Mari berkencan," ucapnya jantan, padahal dalam hati berkecamuk keraguan yang besar.
Mendengarnya membuat mata besar Sakura semakin membulat penuh binar. Setelah penarikan diri beberapa hari lalu, ia tidak menyangka jika ujungnya akan memulai hubungan dengan pria yang ia sukai.
Sakura hampir melompat senang kalau-kalau ia tidak ingat dengan jantung yang tak bisa diajak bekerja keras. Dengan menahan diri, gadis itu hanya berteriak lirih penuh perasaan senang.
Sementara itu, tanpa sadar seulas senyum juga muncul dari bibir Haruka. Melihat gadis yang ia suka bertingkah demikian sudah cukup membuatnya ikut merasa senang. Mungkin mencoba berkencan bukan pilihan yang buruk.
Usai dengan perahu di sungai, keduanya memutuskan untuk segera beralih. Namun ada yang sedikit berbeda dari mereka. Biasanya Sakura akan dengan tenang bertanya maupun berkata, tapi sekarang lihatlah, gadis itu bahkan salah tingkah sebelum mengatakan apapun. Semua terlalu tiba-tiba.
Hingga keduanya tiba di persimpangan jalan dengan keheningan yang mengantar.
Sakura berhenti disusul oleh Haruka. Tetapi mereka masih saling diam, padahal biasanya akan saling melambai karena arah yang berlawanan.
"Pulanglah," ucap Haruka dengan gugup yang disembunyikan.
Dengan tingkah yang sama gugupnya, Sakura mengangguk. Senyum senang belum bisa disembunyikan dari wajahnya. "Kau juga pulang," ujar gadis itu.
"Baiklah. Aku akan menghubungi lagi nanti," kata Haruka lagi.
Sakura mengangguk senang. Meski terasa sedikit aneh, tetapi entah kenapa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam sana. Apalagi ketika mendengar perhatian kecil dari pria di hadapannya.
Dengan lambaian kecil, akhirnya keduanya memilih jalan berbeda. Walaupun sesekali mereka saling memutar badan, tersenyum ketika menatap dan melambai dengan langkah kecil yang masih berjalan.
Sampai sebuah belokan memisahkan pandangan mereka. Selaras dengan itu, Sakura sudah tiba di depan rumah. Ia segera masuk, dan tak lama kembali keluar dengan wanita paruh baya di depan.
"Masuk, Sayang," ucap wanita itu setelah dirinya masuk ke dalam mobil.
Sakura segera menurut. Membuka pintu depan dan langsung duduk memasang sabuk pengaman.
"Mama pikir kamu lupa jika ada jadwal kontrol hari ini," ucap Hana seraya mengemudi mobil.
"Tentu aku mengingatnya, Ma," ucap Sakura cepat, "lagipula aku sangat senang bisa bertahan sejauh ini," lanjutnya.
Hana menatap putrinya sekilas sembari tersenyum. Daripada Sakura, mungkin dirinya yang lebih merasa lega. Kekhawatiran yang mendera selama musim dingin benar-benar membuatnya sulit untuk terlelap, tidak enak makan, dan hampir menyita seluruh perhatian. Lalu sekarang, melihat gadis kecil di sampingnya masih bisa tersenyum, ia merasa sangat bersyukur.
Akan tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba Sakura terlihat memukul d**a pelan berkali-kali. Jika sudah seperti itu, ada sesuatu yang tengah dirasakan.
Hana yang menyadari segera bertanya, "Merasa tidak baik?"
Sakura menoleh, ia tersenyum menyembunyikan kesakitan. "Hanya sedikit tidak nyaman, Ma," ucapnya mencoba menenangkan wanita yang pasti sudah merasa panik.
"Bertahanlah sebentar. Kita akan segera sampai." Setelah mengatakan itu, Hana menginjak pedal gas dengan cukup kuat. Beruntung, jalanan tidak terlalu ramai.
Dengan kecepatan yang ditambah, akhirnya mobil memasuki halaman rumah sakit. Bergegas Hana turun dan membantu Sakura, membawa gadis itu ke tempat pemeriksaan segera.
Sakura benar-benar gadis yang beruntung di tengah kemalangan. Ia hampir tak bisa menahan rasa sakit, tetapi dokter segera memberinya pertolongan pertama dan oksigen yang membuatnya merasa lebih baik.
Pemeriksaan berjalan cukup lama dengan pemantauan sesak yang Sakura rasakan. Setelah beberapa saat selesai, gadis itu diizinkan untuk pergi. Beruntung kondisinya stabil meski tadi sedikit mengalami penurunan.
Sementara Hana berbincang dengan dokter, seperti biasa Sakura akan menawarkan diri untuk mengambil resep obat ke bagian farmasi. Bukan hal berat untuk remaja seusianya.
Setelah selesai mengambilnya obat, gadis itu duduk di tepian jendela. Menatap luar sembari menunggu sang ibu selesai dengan dokter.
Namun saat Sakura tengah menikmati pemandangan di luar, tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sedikit asing, tapi ia kenal. Seorang pria dengan jaket hitam tengah menatap ke arahnya.
"Kak Takei?" gumam Sakura saat menyadari siapa yang berdiri di depan sedari tadi.
Sadar jika gadis di dalam melihat, pria di luar segera melambaikan tangan. Setelah lambaiannya dibalas, ia bergegas masuk dan menemui Sakura.
"Kak Takei kenapa ada di sini?" tanya Sakura spontan saat pria itu sampai.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Takei tanpa basa-basi.
Kedua alis Sakura menyatu. Tentu hanya dari ekspresinya saja sudah bisa mengatakan jika ia bertanya.
Namun belum sempat Takei mengatakan maksud, seorang wanita sudah lebih dulu menyela. Mengajak putrinya untuk segera pulang karena mereka sudah selesai.
Melihat Hana, Takei membungkuk sopan. Dengan berani ia berkata, "Mohon maaf sebelumnya, tapi bolehkah saya yang mengantar Sakura, Bu?" tanyanya, entah apa yang pria itu pikirkan.
Sakura terkejut sebentar, ia berharap sang ibu akan menolak, sebab ia sendiri tidak enak jika mengatakannya.
Akan tetapi yang terjadi adalah Hana sepenuhnya memberikan keputusan kepada Sakura.
Pada akhirnya dengan rasa tidak enakan, Sakura mengiyakan ajakan Takei. Dengan persetujuan mereka hanya akan berbincang di taman lalu pulang.